Bayi Ical

Kehamilan kedua bagi Arin sungguh terasa berat. Tapi setidaknya saat swami sudah punya pekerjaan tetap, ia memiliki harapan besar hanya sekedar untuk menyambung kehidupan mereka sekeluarga, dibanding awal-awal pernikahannya.

Aura gadis kecil yang baru berusia 1,5tahun itu sering mengalami bullying teman-temannya yang rata-rata sudah pintar berkata-kata. Karena tidak tega melepas, Arin menunggu sepanjang hari selama di tempat penitipan anak. Ia mengira, Penitipan Anak di bawah naungan Dinas Sosial itu jauh lebih aware pada anak-anak, namun kenyataannya beberapa kali Arin melihat Aura kena pukul, bahkan ditendang oleh temannya, guru-gurunya menganggap itu hal wajar yang biasa dilakukan anak-anak. 

Melihat kenyataan pendidikan semacam itu, dengan senang hati Arin menarik Aura dari penitipan anak. Ia bisa berargumen pada swaminya yang nyaris saja tidak pernah di rumah. Bahwa program Homeschooling yang sejak pertama kali menikah digadang-gadang pada akhirnya benar-benar akan bisa ia terapkan pada anak-anaknya. 

Hari berlalu begitu saja, persalinan berjalan lancar dengan didukung bidan yang baik hati mau menjemput di rumahnya ke tempat persalinan.
Dimulailah hari-hari kelahirannya yang sangat melelahkan. 
Hakim terlahir dengan bobot yang cukup, tapi tangisan pertamanya membuat kami semua tertawa karena tiap kali ia menangis nyaris seperti menjerit kesakitan. Dan di hari-hari belakangan, tangisan yang menjerit seperti digigit semut ini membuat Arin mulai shock, tegang dan kelelahan. Karena tiap satu jam sekali ia selalu terjaga dan minta susu.
Ini menjadikan produsen susu makin titips
Hampir satu jam sekali ia terbangun dan nangis menjerit di saat ia tidak segera ditolong. 


@@@

Saat itu di sebuah pintu gang pinggiran jalan raya pantura yang tengah menyengat panasnya. Seorang bayi laki dengan kaos oblong merangkak dengan cepatnya menuju ke jalan raya. Saat itu hari jumat di mana kaum Adam berlalu lalang cepat menuju masjid.
Seorang ibu dengan memboncengkan anaknya usia 4tahun mendadak menekan rem motor begitu melihat bocah bayi yang dengan semangatnya merangkak cepat menuju jalan raya.

Nyaris saja ia tidak peduli dengan anaknya yang masih di atas motor. Secepat itu ia meraihnya  khawatir ketabrak kendaraan yang tengah berlalu lalang.

"Ya Allah... kok ada orang tua kejem banget meninggalkan bayinya di pinggiran jalan" seru seorang ibu di depan pintu rumah sembari terbakar emosi menggendong bayi gembul yang cukup berat
"Bayinya lucu begini, kok ya tega benar orang tuanya!!"
Mendengar keributan di luar, seorang nenek keluar. 
"Lihat ini bu, kejem banget orang tuanya. Ada bayi ditinggal begitu saja di jalanan. Nyaris saja ini lari ke jalan raya. Gimana nanti?!!"
Si nenek melotot kaget, "Lha itu kan keponakanmu?"
"??!?"
"Itu kan Hakim"
"Masa iya bu?" Ibu muda itu kembali menatap bayi dengan seksama. Si bayi itu pun kembali melotot dengan mata bulat dan pipi gembulnya yang lucu. 
Tak lama kemudian Mama Hakim pun keluar dari dalam.
"Loh? Bukannya baru berapa menit tadi dia mainan sepeda kecil di belakangku?"
"Iya, kan Bu?!"
"Iya!!"

Insiden hari itu seperti meruap begitu saja bagi Arin, si Mama Hakim. Ia belum begitu "ngeh" mengapa bayinya bisa merangkak begitu cepat.
Meski sebenarnya ini adalah masalah utama hari-hari di rumahnya yang mengatasi dua balita sekaligus dengan gerak yang luar biasa gesit di usia terbilang sangat muda.

Awalnya ia beranggapan bahwa memang begitulah bayi lelaki, dibanding bayi perempuan. Tapi makin hari Arin makin terasa berat mengasuhnya. Karena selain jam tidur yang lebih sedikit, ia memiliki gerak lebih  banyak di saat ia mulai menginjak usia 7bulan. Dimana ia sudah bisa merangkak cepat, namun tidak dengan lutut melainkan dengan menyeret kaki.

Di detik-detik awal kelahirannya, Hakim memiliki kepala yang lebih besar dibanding porsi badannya, dan bola mata bulat besar dengan kelopak matanya yang tebal. 
Rumah kontrakan dimana ia tinggal, konon dijadikan tempat memandikan benda-benda pusaka semacam keris. Lengkap sudah ketegangan menjadi-jadi saat bayinya memiliki mata yang selalu awas mengikuti gerak-gerik Arin di dalam rumah.

Si sulung yang belum genap usia dua tahun pun belum begitu jelas mengucapkan kata, hanya ada satu kata "Aya" yang menunjukkan kata Ayah.
Dan ini sangat merepotkan semua pekerjaan rumahnya dimana pipis dan pup kadang masih kelewat di celananya di saat ia baru sata mengucapkan kata.

"Oke, kalau begitu sabtu-minggu besok akan aku bawa dia ke kampus" kata swami yang hanya bertemu di saat pagi dan malam hari. 


@@@


@@@


Seorang ibu tercengang lama sepanjang perjalanan di sebelah kaca jendela bus. Satu-satunya anak lelaki balitanya di diagnosa gangguan pendengaran.
Rasanya sulit untuk membendung air mata yang terus berjatuhan. Ia terus mendekap erat bocah kecil itu yang sebenarnya ia tak bisa berhenti bergerak sepanjang hari kecuali saat tidur. Tapi entah mengapa, detik itu rasa-rasanya bocah lelaki usia 1,5tahun itu bisa duduk tenang dalam pangkuan ibunya sepanjang perjalanan Bus. Ia seperti sedang mendengar tangisan ibu dan turut merasakan apa yang dialami ibunya.

Kata-kata dokter tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit yang ia anggap paling hebat saat itu telah mendiagnosanya ada gangguan pendengaran dengan putranya.
Tapi entah mengapa, sebagai seorang ibu ia justru punya firasat bahwa; ia anak hebat, ia anak cerdas luar biasa.
Tapi mengapa yang diekspresikan anak ini ke permukaan justru berbeda dari firasatnya. Inilah titik awal dimana hari-hari sangat melelahkan luar dalam.


@@@


"Sudahlah, tolong antar aku saja ke Gramedia. Daripada tanya dokter dan Psikolog nggak ada yang jelas semua keterangannya" ujar perempuan muda dengan badan yang terlampau kurus dengan wajah yang selalu nampak pucat, layu dan letih.

Bukan karena kurang makan, melainkan kurang istirahat dan me time lebih banyak.
Tapi kata istirahat apalagi me time hanyalah khayalan tingkat dewa bagi dirinya saat ini yang harus berjuang mengurus dua balita yang memiliki jam tidur pendek.

Karena Sabtu Minggu, dimana orang-orang bisa menikmati istirahat di rumah, ia harus berjuang seorang diri tanpa suami yang kembali melanjutkan kuliahnya di Yogya.

Sementara hari Senin hingga Jumat adalah hari kerja, dimana suaminya bekerja dari pagi hingga jelang malam. Begitu terus menerus sepanjang tahun.
Dan itu adalah jadwal wajib yang sebenarnya untuk dilakukan seperti menghadapi teror.

Sejak usia 9bulan, Ical sudah mulai bisa berjalan. Bahkan ia mulai senang sekali menaiki apapun yang bisa ia naiki. Termasuk tangga kontrakan yang saat itu tanpa ada pegangan, namun belakangan si pemilik kontrakan memasang gagang tangga.

Sejak pertama kali lahir, kepala Ical terlampau besar dibanding badannya, demikian juga dengan matanya yang besar. Di minggu-minggu pertama kelahirannya si ibu sering merasa ketakutan saat ia meninggalkan Ical di baby stroller sendiri. Matanya seperti sedang mengawasi kemanapun si ibu bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain.

Bagaimanapun kondisi kontrakan yang kata tetangga terbilang angker, membuat pikiran Ana melayang kemana-mana soal diri balitanya yang sedikit aneh dibanding bayi kakaknya dulu yang terbilang manis.
Atau minimal bayi-bayi lain yang sering ia lihat, tidak begitu intens membangun kontak mata dengan orang di detik-detik pertama kelahirannya.
Karena setahu Ana, bayi akan membangun kontak mata hanya dengan ibunya. Tapi Ana justru merasa ketakutan akan tatapannya yang dalam dan selalu mengawasi gerak geriknya ke segala sisi ruangan. 




Komentar