Luch anak cerdas
“Berarti Pithecantropus itu sama
dengan nabi Adam ya Bu?,
“Kalau
begitu, masa nabi Yusuf yang katanya nabi paling tampan sama dengan manusia
purba seperti ini? Ah! tidak benar itu, ya
Perempuan
itu diam tersenyum
Oleh
Amien
Putri
Sejak beberapa menit yang lalu, Luch bocah gadis tujuh tahun itu sibuk menyusuri gerbong kereta. Dari
menghitung jumlah kursi, botol-botol yang berdiri di atas meja gerbong,
sampai jumlah orang. Entah yang ke berapa kalinya ia berjalan menyisir gerbong
itu, namun kali ini ia diam
memperhatikan wajah orang satu persatu, sesekali ia menawarkan senyuman pada
orang-orang yang memperhatikan dirinya. Seorang kakek tua yang murung tiba-tiba saja menawarkan senyum sembari menawarkan sebungkus roti cokelat untuknya.
“Terima
kasih Kek,” ujarnya membuat kakek itu tersenyum cerah.
Sesaat
langkahnya terhenti menyimak gerak kereta yang sedikit miring ke kanan,
beberapa saat ia mencoba berdiri dengan kaki melebar dan melipat badannya hingga
posisi kepala tepat di antara dua kaki, lalu mencoba menilik pemandangan
langit-langit gerbong kereta dan orang-orang di sekitarnya.
Entah
kenapa tiba-tiba saja ia tersenyum geli “Hmm… Dunia ini terasa seru kalau seperti ini melihatnya" pikirnya
sesaat dan melotot saat kedua matanya menangkap sosok lelaki hitam legam dengan
di sampingnya lelaki berhidung bengkok berkulit putih kemerah-merahan, keduanya
terlihat lebih tinggi ketimbang lelaki di depannya berkulit putih halus dengan kacamata
frame hitam tebal. Rasa penasarannya tak lagi terbendung, ia cepat-cepat menarik
badannya berusaha melihat lebih dekat, namun kereta lagi-lagi bergerak terlalu miring ke
kanan hingga ia kehilangan keseimbangan.
“Bug!” tubuhnya tersungkur ke lantai gerbong
Sontak
disambut teriakan ibu-ibu di depannya, hingga beberapa orang hendak
menolongnya. Tapi cepat-cepat Luch menghindar pertolongan dan lari ke
tempat ibunya yang menarik perhatian semua orang pada gadis kecil.
“Ibu...” peluknya hendak menangis mengusap-usap kepalanya yang terbentur
“Ah,
tidak apa-apa” katanya sambil memangku bocah berambut
lurus kemerah-merahan.
Pemandangan
dari luar kini nampak kian gelap, hanya beberapa saat saja terlihat terang oleh
pemandangan sebuah perkotaan dengan gemerlap lampu. Sementara Luch terdiam agak
lama dalam rengkuhan ibunya.
“Ibu..”
sapanya mendongakkan wajah pada perempuan muda itu. “Tadi kakak lihat tiga
orang laki-laki aneh”
“Aneh?”
“Ehm!”
angguknya cepat “Lelaki hitam pekat dan tinggi, tak pikir kalau dalam gelap pasti
cuma kelihatan giginya saja. Lalu di sebelahnya orang putih
kemerah-merahan, aku rasa, orang di depannya itu lebih baik, dibanding
keduanya. Kulitnya lebih putih dan mulus, berbadan ramping, dan bermata ‘kecil’”
ujarnya sambil menyipitkan mata
“Sipit?”
“Ehm!”
angguknya pelan “Tapi lebih anehnya lagi, mereka juga berbicara dengan bahasa aneh, Bu”
“Aneh?”
"Bahasa Inggris?"
"Bukan, pokoknya aneh"
"Lha iya anehnya kenapa?"
“Karena aku nggak paham” spontan dua pasangan suami istri di depannya tersenyum geli
“Bahasa di dunia ada banyak sekali, sayang"
“Memangnya
ada berapa. Bu?”
“Menurut UNESCO sekitar 6700 bahasa tutur yang digunakan masyarakat di dunia"
“Tapi kenapa mesti ngomongnya harus banyak, begitu? Kan pakai satu bahasa saja cukup?” protesnya lagi dengan mata sarat keluar jendela seakan tengah memikirkan sesuatu.
“Sebenarnya
awal mula yang mengajarkan orang berbicara itu siapa ya Bu?" pikirnya kembali bengong "Kenapa mereka ngomongnya mesti pakai banyak bahasa?"
"Andaikan semua orang di dunia itu bicara dengan satu bahasa saja kan enak" katanya sambil bengong
Perempuan muda itu hanya diam tersenyum menyimak raut sulungnya yang saat ini
nampaknya tengah berdialog dengan dirinya sendiri.
"Katanya nenek moyang manusia itu nabi Adam? Kenapa kok bahasanya jadi berbeda-beda?" tanyanya lagi seakan menyimak pikirannya sendiri dengan informasi dari buku-buku yang ia baca di rumah saat jelang tidur
"Kemarin kakak baca ensiklopedia, kalau katanya nenek moyang kita itu berasal dari manusia sejenis monyet"
"Lalu monyet sama nabi Adam itu itu siapanya?"
"Kalau benar nabi Adam itu dari golongan seekor monyet, lalu bagaimana dengan nabi Yusuf yang katanya lelaki paling tampan?"
Lelaki yang duduk di seberang seat mereka seperti terkejut mendengar penuturan Luch yang masih berdiri di antara seat. Sementara pasangan muda yang duduk di depannya hanya tertawa geli.
"Cerdas ya bu, anaknya"
"Kakak kelas berapa?"
"Kelas berapa aku, Bu?" tanyanya polos
"Loh, kok tanya Ibu?" tawa perempuan cantik itu lagi
"Aku nggak sekolah tante,"
"Katanya aku disuruh belajar sama Ibu di rumah"
"Loh? kenapa Bu?"
Tiba-tiba Luch kembali menyela "Bu, aku boleh kenalan nggak sama om-omnya yang aneh tadi"
Ibunya berkerut jidat yang spontan paham
"Boleh, tapi yang baik ya sayang,"
"Okey"
"Hati-hati..."
"Iya," ujar Luch sambil berjalan cepat kembali menyusuri gerbong kereta hingga gadis kecil itu hilang dari pandangan
"Sengaja saya keluarkan dia untuk menemani adiknya homeschooling"
"Oh??? loh? kenapa?"
Sampai di detik ini rasanya perempuan muda ini malas menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa dimanapun ia berada ketika mengajak anaknya. Ia malas menjawab pertanyaan itu yang kadang ujungnya hanya untuk dikomentari, atau sengaja dipandang buruk sebagai seorang ibu yang terlalu memproteksi anaknya.
"Banyak alasannya mbak,"
"Tapi dia ini kan cerdas Bu, kasihan kalau tidak disekolahkan"
Ibu muda itu hanya tersenyum tenang, namun di balik itu ia seperti sedang menarik nafas kesabaran.
"Iya, biar saja mbak... Bagus juga belajar di Rumah karena lebih bebas mau belajar apa saja, tidak ada yang menekan"
"Tapi kan, anak-anak juga butuh sosialisasi Bu," suara perempuan muda itu agak nyolot yang langsung di kode suami di sebelahnya dengan menyikut siku istrinya
"Andai kalian tahu, betapa aku ingin memiliki anak yang baik-baik saja seperti anak-anak pada umumnya. Sementara aku bisa kembali berkarir atau jika pun di rumah bisa kembali menjadi journalist freelancer"
Tiba-tiba gadis kecil dengan mata cekung dan bertubuh sangat kurus itu kembali lagi.
“Lalu Bu, bagaimana dengan adik bayi? kenapa dia hanya bisa senyum dan ketawa saja kalau kita ajak bicara”
"Kenapa dia nanti tiba-tiba bisa bicara? sementara bayi monyet tidak”
Gerrrrr...!! spontan ketiga orang dewasa itu tertawa cekikian membuat Luch bingung melihat orang tertawa yang disambut jawaban seorang bapak-bapak dengan kaca mata frame bening memakai topi di seberang jok mereka.
"Karena monyet kan bukan manusia dek, jadi nggak bisa bicara seperti adek bayi"
"Tapi kan katanya nenek moyang manusia itu dari monyet"
Spontan semua terdiam seperti tengah berpikir kembali pada diri sendiri. sementara
"Nenek moyang manusia itu ya nabi Adam, sayang" jawab lelaki di depannya
"Terus yang ada di museum Sangiran siapa Om?" tanyanya polos penasaran dengan matanya yang bulat seakan menunggu-nunggu jawaban dari bibir lelaki di depannya.
Sesaat rautnya terlihat cerah dan teriak histeris, sampai-sampai orang di depannya terbangun “Iya benar! Kalau begitu bahasa itu diajarkan oleh orang tuanya ya Ma?!"
"Ssssttt..! Jangan keras-keras, Kak"
"Eh," Luch clingukan menutup mulut
Tapi tiba-tiba saja ia terdiam memainkan
jari-jemarinya yang mungil “Kalau benar yang mengajarkan bicara itu orang tua mereka, lalu yang mengajarkan bahasa pada manusia pertama Adam itu siapa Ma?" suaranya lirih seakan menanyakan keresahan dirinya pada jendela kereta yang
kian berembun.
Malam itu seperti menjadi titik balik putrinya yang selama ini banyak bengongnya, kini mulai banyak mengutarakan gagasannya lewat bahasa verbalnya.
@@@
Sore masih
nampak cerah, namun kabut tipis mulai menyembul di balik semak-semak ladang
belakang rumah kaki bukit. Kali ini Mbok Yem belum memanggilnya untuk mandi,
namun cepat-cepat Luch pulang meninggalkan dua orang adik kembarnya yang masih
asyik berkejaran dengan seekor kucing.
Melihat Luch cepat-cepat masuk kamar mandi, mbok Yem sedikit heran "Tumben, Bu"
Perempuan muda yang tengah mengiris bawang di dapur itu hanya tersenyum menggelengkan kepala isyarat tidak mengerti.
Lima menit belum berlalu, tiba-tiba saja gadis dengan tubuh yang sangat kurus dan bermata bulat itu keluar dari kamar mandi "Sore Ma, komputer Luch sudah diperbaiki belum?"
"Sudah,"
Dari balik jendela dapur, terlihat dua adiknya sedang bermanuver dengan Mbok Yem. Ini seperti pemandangan wajib di sore hari saat keduanya disuruh mandi, dan tak jarang berakhir dengan tantrum.
Sementara
Luch yang sudah rapi dengan kaos dan celana panjang kuning polosnya telah siap
di salah satu sudut ruang kerja ayahnya yang menyatu dengan perpustakaan
keluarga “Assalamuálaikum Ayah, aku sudah siap …!” serunya memencet tuts
keyboard hingga muncullah wajah laki-laki muda.
"Waálaikum
salam, sayang" jawab sosok lelaki muda di balik layar monitor
“Kamu sudah baca buku apa untuk diskusi sama Papa?” tawa lelaki muda itu terkekeh
“Banyak,”
tandasnya yakin
"Oh, ya?"
"Coba lihat gambar ini Pa"
https://www.kompasiana.com/menggelinjang/54f82fb5a33311ce5d8b46ca/teori-darwin-kera-berawal-dari-manusia
"Nah, itu Teori Darwin, kakak..."
"Apa itu Teori Darwin?"
"Teori yang mengatakan bahwa semua makhluk hidup itu bermula dari satu asal"
"Padahal ayatnya kan berkata bahwa Allah menciptakan makhluk itu satu utuh," (ayat)
"Tapi memang dalam ayatnya dikatakan bahwa segala sesuatu yang hidup itu bersumber dari air" (ayat)
"Nah, coba kamu cari dulu deh, manusia kera paling modern itu hidup di tahun berapa dan Adam itu hidup di tahun ke berapa?"
"Nanti akan ketemu, seberapa benar teori Darwin"
"Atau jangan-jangan yang dikatakan malaikat dalam surat Al Baqoroh ayat 30 itulah manusia kera"
"Memangnya seperti apa bunyinya?"
"Coba deh, buka Al Qurannya"
(Surat Al Baqoroh ayat 30)
"Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana"
"Kata Ja'ala (menjadikan), itu beda dengan kholaqo (menciptakan)"
"Kalau menciptakan itu artinya sebelumnya belum pernah ada, tapi kalau menjadikan itu artinya sebelumnya sudah ada lalu diramu lagi menjadi sesuatu yang baru"
"Itu artinya Malaikat sudah tahu bahwa sebelumnya pernah ada makhluk yang menyerupai manusia"
"Bisa jadi benar teori Darwin, tapi perlu kamu tahu, bahwa campur tangan Allah sudah masuk di dalamnya. Bukan semata-mata proses alam sperti yang dikatakan Charles Dickens Darwin"
Saat itu adzan maghrib terdengar, dari PC tabungnya.
"Okey, kita lanjut besok lagi saja"
"Kapan? Papa selalu sibuk"
"Coba tanya Mama" muncullah wajah perempuan muda
Terdengar keributan dari dapur, cepat-cepat Luch turun dan lari ke dapur. Melihat Mbok Yem menyuapi mereka berdua Luch langsung melongok piring mereka.
Sementara di ruang baca perempuan itu duduk menghadap wajah suaminya
"Bagaimana hasil Diagnosa Hakim kemarin?"
"Autis Pa,"
Lelaki itu menarik nafas dalam "Coba sering diamati tatapan matanya waktu dia bicara"
"Kadang memang ada kontak mata, tapi seringnya kan dia sibuk sendiri maunya lari atau mainan apapun yang bisa dipegang"
"Ini saja kalau tv mati, bukan main capek dan pusingnya. Dia selalu menghilang"
"Kenapa nggak dikunci saja?"
Perempuan itu menarik nafas lelah.
"Pa, kalau aku kunci, rumah bakalan berantakan bukan main karena semua bakal dikeluarkan buat mainan"
"Termasuk lemari dia"
"Ini sekarang lagi suka pakai baju berlapis-lapis"
Spontan lelaki itu tertawa ngikik terbayang video Hakim memakai baju dan celana berlapis-lapis.
"Bagaimana dengan jam tidurnya?"
"Masih sama, selalu di atas jam 10"
"Coba biarkan siang nggak usah tidur, biar malamnya Mama bisa istirahat"
"Ah... sama saja Pa. Kadang, karena aku nggak kuat aku tinggal tidur saja di kamar. Tapi ya tetap saja dia mulai loncat-loncat dari lemari"
"Kapan Papa pindah ke kota ini lagi, aku benar-benar nggak kuat"
"Coba nanti Papa bilang ke Pak Ketua, siapa tahu..."
@@@
Saat sore tiba
"Tunggu Luch, kalau kamu mau membicarakan soal Teori Darwin bahwa manusia kera itu adalah nenek moyangnya manusia itu sama halnya kamu harus belajar teori Biologi secara keseluruhan. Karena nanti akan saling berkaitan bagaimana perubahan alam yang mempengaruhi proses perubahan makhluknya yang ada saat itu"
"Dan lagi bandingkan dengan usia manusia kera modern yang berhasil ditemukan di Ethiopia itu
“Coba kita lihat surat Al Baqarah ayat 30 ini”
وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰئِكَةُ إِنِّى
جَاعِلٌ فِى اْلأَرْضِ خَلِيْفَةَ. قَالُوا(الْمَلٰئِكَةُ): أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ
يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ, وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ
لَكَ؟! قَالَ (الله): إِنِّى أَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُوْن.
Ingatlah,
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat; “Sesungguhnya Aku (akan)
menjadikan khalifah di muka bumi”. (Para Malaikat) Berkata; “Akankah Engkau
jadikan di dalamnya (Bumi) orang yang (akan membuat) merusak padanya dan
menumpahkan darah, seangkan kami (senantiasa) bertasbih dengan memuji Mu dan
mensucikan bagi Engkau?” (Allah) Berfirman; “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui
apa-apa yang tidak kamu ketahui”
“Kenapa
Malaikat berkata seperti itu, padahal kau tahu, bahwa Malaikat itu adalah
makhluk yang paling tunduk dan patuh kepada Allah”
“Barangkali
saja Allah sudah memberikan gambaran kepada Malaikat ciri-ciri Adam nantinya
seperti apa dan dialog ini tidak diterangkan dalam ayat ini, atau …? Barangkali
saja sebelumnya di Bumi sudah pernah ada makhluk sejenis manusia tapi suka
berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah”
“Nah!
Itulah … yang selama ini jadi perbincangan hangat. Selama ini orang masih
menduga-duga benarkah ada makhluk lain selain manusia di Bumi, lalu fosil
manusia purba seolah-olah datang dan mengatakan, mungkinkah ini manusia yang
dimaksud Malaikat?”
“Tapi
bagaimana mungkin kalau manusia purba seperti manusia homo sapiens itu yang
dimaksud”
“Bisa
jadi,”
“Kalau
begitu, bisa jadi berarti benar bahwa manusia kera itu adalah keturunan nenek
moyang manusia sekarang. Karena pada hakekatnya evolusi juga terjadi pada diri
manusia. Padahal kata ibu, kecerdasan orang-orang dahulu itu
sepuluh kali lipat kecerdasan manusia sekarang … itu dikatakan dalam surat Saba’
ayat 45”
وكَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوْا
مِعْشَارَ مَآ ءَاتَيْنٰهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِى ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ
Dan
orang-orang dari sebelum mereka telah mendustakan, dan tiadalah mereka menerima
sepersepuluh (dari) apa-apa yang telah kami berikan kepada mereka
kemudian mereka mendustakan rasul-rasulKu, maka bagaimanakah (akibat)
kemurkaanKu ??
“Yang
dimaksud dari sepersepuluh dari apa-apa yang telah kami berikan kepada
mereka adalah pemberian Tuhan tentang kepandaian ilmu pengetahuan, umur,
kekuatan jasmani, kekayaan harta benda dan sebagainya.”
“Ingat! Adam juga dilahirkan”
“Benarkah
…?”
“Adam memang
manusia pertama, tapi di Bumi, bukan di alam semesta ini”
“Kalau
begitu berarti …”
“Ada
manusia lain selain Adam”
“Buktinya?”
“Buka
surat Ali Imran ayat 59, sudah siap Al Qur’annya?”
“Yup!”
jari-jarinya sibuk membuka kitab berwarna Cokelat itu
إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ
ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه
مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ (۵۹)
Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah, seperti permisalan Adam, …
“Sebentar, sampai di sini dulu kita
akan bahas” cegah lelaki berhidung tinggi di balik layar monitor “Kau tahu
siapa Isa?”
“Kata ibu, dia itu kan putranya
Maryam”
“Kau tahu siapa Maryam?”
“Perempuan yang belum pernah tersentuh
satupun dari laki-laki pun dengan menikah. Memangnya Al Qur’an pernah menyebutkan
cerita itu, Ayah”
“Yup! Kau pernah membaca surat
Maryam? Bagaimana Maryam berkata kepada Jibril ... Coba buka surat Maryam (19)
ayat 20”
قَالَتْ أََنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلاَمٌ وَلَمْ
يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
Maryam
berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah
seorangpun manusia menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina”
“Kalau
begitu Adam juga dilahirkan? Buktinya apa Ayah?”
“Baca
surat An Nisa ayat 1”
يٰأَيُّهَاالنَّاسُ إِتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً ... (۱)
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan-mu dari Nafsin Wahidah
(jiwa yang satu), dan Allah telah menciptakan daripadanya pasangan (suami)nya,
dan Allah telah mengembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan
perempuan …
“Coba perhatikan 2 kata yaiatu نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ
atau sering diartikan sebagai Jiwa yang satu, padahal
kau tahu? Di sini ada ta’ marbuthoh (ة)
yang menunjukkan jenis perempuan. Kalau seandainya saja ini yang dimaksud
adalah Adam, seharusnya نَفْسٍ وَّاحِدٍ
saja”
“Berarti Adam punya ibu dong?!”
“Ya, tapi coba perhatikan lagi kata ini …”
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًاوَنِسَآءً
Dan Allah telah menciptakan
dari- (هَا) nya (perempuan) yakni; (نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ), (زَوْجَـ) pasangan/suami - (هَا)nya (perempuan) (نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ), dan (مِنْـ) daripada (هُمَا)kedua-nya
(yakni; نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ dan زَوْجَـ), Allah mengembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak
“Jadi
artinya; Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan-mu dari jiwa yang satu,
dan (yang) daripadanya (pula) Allah menciptakan suaminya, (serta) daripada
keduanya (pula, yakni; nafsi wahidah dan suaminya) Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. …”
“Klik” wajah lelaki muda itu kembali muncul setelah beberapa menit
menunjukkan lembar analisa pada layar monitor tersebut.
“Luch
capek?”
“Hmm!!”
gelengnya dengan mata sedikit sayu “Cuma sedikit pusing, tapi aku masih
penasaran dengan penjelasan ayah. Oke, Lanjutkan Ayah!” ujarnya menegakkan
punggung
“Baik,
sebelum kita lanjutkan pada bukti-bukti ayat yang lain, kita lanjutkan tanda koma ini
“Klik!”
sesaat wajah itu lenyap berubah lembar penjelasan beserta sederet huruf
hijaiyyah
إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ
ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه
مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ (۵۹)
“Perhatikan
kata-kata yang Ayah garis bawahi, dan kita perlahan mengartikannya”
Kata خَلَقَ adalah fi’il madhi (kata
lampau) yang diartikan menciptakan, dalam kata ini menyimpan dhomir mustatir
(kata pengganti yang tersembunyi, yakni kata
هُوَاyang artinya Dia;
yakni Allah)
Jadi dari sini kita mendapatkan arti kata خَلَقَه Dia (Allah)
menciptakannya, مِنْ تُرَابٍ dari تُرَابٍ sari pati tanah, ثُمَّ kemudian (kata-kata ثُمَّ ini mengandung pautan waktu, seperti contoh kalimat “Aku pulang sekolah,
kemudian aku makan dan tidur” dalam kalimat seperti ini pasti ketika kamu
pulang sekolah nggak langsung makan, melainkan buka pintu rumah dulu, duduk dan
baru bilang pada mbok Yem jika kamu ingin makan, atau … mesti ganti baju dulu
dan lepas sepatu dan kaos kaki dulu), قَالَ
“Kau
masih ingat fi’il madhi?”
“Ya,
kata kerja lampau, kata قَالَ juga menunjukkan fi’il madhi bukan
Ayah?! Yang di dalamnya tersembunyi dhomir mustatir هُوَ yang artinya dia laki-laki. Jadi ثُمَّ قَالَ لَه artinya kemudian Dia
mengatakan kepada (ُه)
nya (Adam) كُنْ فَيَكُونُ jadilah, maka
jadilah”
“Ingat,
meskipun Allah berkuasa menjadikan Adam dengan sekejap mata, tapi hukum sebab
akibat itu tetap berlaku di jagad raya. Dari itulah, sebenarnya Allah ingin
mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana ala mini berjalan. Coba lihat
surat Al Kahfi ayat 84-85”
إِنَّا مَكَّـنَّالَه
فِى ا ْلأَرضِ وَءَاتَيْنٰـهُ
مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا (۸٤)
Sesungguhnya
Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan
kepadanya suatu sebab (untuk mencapai) segala sesuatu.
فَأَتْبَعَ سَبَبًا (۸۵)
Kemudian
ikutilah sebab
“Dari ayat
tersebut, Allah hanya ingin menjelaskan kepada kita bahwa segala yang terjadi
di Bumi itu tidak terjadi dengan tiba-tiba, semua ada sebabnya.”
“Kalau begitu
berarti benar dong? kata buku ini bahwa manusia berasal dari kera, dan bahwa
Galaksi alam raya ini dulu berasal dari kabut” ujarnya sambil menunjukkan buku
Ensiklopedi Alam Semesta karya …
“Tidak seperti itu,
semua yang Allah ciptakan itu teratur, dalilnya ada dalam surat Al-Anbiya’ (29) mulai ayat 30 sampai 33. Seperti yang
sudah Ayah jelaskan tadi, bahwa Adam itu juga berasal dari makhluk yang sama,
yakni manusia berjenis muannats (perempuan). Hanya saja ia diciptakan dimana,
dalam arti di planet mana Ayah belum tahu tentang hal itu. Luch sendiri tahu,
bagaimana manusia itu diciptakan, surat Al Hajj ayat 5 menjelaskan tentang itu”
... فَإِنَّاخَلَقْنٰكُمْ
مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ
مُضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَ غَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَ نُقِرُّ فِى ا ْلأَرْحَامِ
مَانَشَآءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمَّى
ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُواْأَشُدَّكُمْ ۖ...
(۵)
Maka (ketahuilah), sesungguhnya Kami telah menjadikanmu dari Thurab, kemudian dari nuthfah, kemudian dari mudghah, kemudian dari mudghah mukhallaqah dan mudghah ghoir mukhlallaqah untuk Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki
sampai waktu yang ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi,
kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan. …
“Ayat
itu masih dijelaskan lagi dalam surat Al Mu’minun ayat 12-14”
وَلَقَدْ خَلَقْنَاا ْلإِنْسَانَ
مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ (۱۲)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِيْنٍ (۱۳)
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا اْلعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنٰهُ خَلْقًاءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ الله ُ أَحْسَنُ
الْخَالِقِيْنَ (۱٤)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (tanah) thin. (12) Kemudian Kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
(13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berhak) lain. Maka Maha Sucilah Allah,
Pencipta Yang Paling Baik. (Surat 23 ayat 12-14)
“Ayah,
sebenarnya Luch hanya ingin tanya siapa yang mengajarkan kata-kata hingga
menjadi sebuah bahasa kepada orang-orang sedunia. Aku pikir kenapa toh
masing-masing Negara meski mempunya bahasa yang berdeda. Aku rasa, bukannya
dengan satu bahasa saja sudah cukup?”
Entah
kenapa tiba-tiba saja lelaki muda berkulitan putih itu hanya tersenyum
mendengar ucapan putranya mengucek-ucek matanya yang mulai memerah dan sesekali
menguap menggaruk-garuk kepala, namun tetap serius di depan monitor flat itu.
Sesaat lelaki itu melirik arlojinya yang melingkar hitam di pergelangan
tangannya.
“Luch
bobok dulu yuk, besok kan masuk sekolah?” tiba-tiba saja sebuah tangan lembut
membelai rambut hitam kemerah-merahan itu.
“Ibu?!
Kapan ibu datang …”
“Ayah
besok juga harus masuk kerja sayang … bagaimana kalau dia ngantuk di kantornya,
sementara kerjaanya menumpuk? Bisa-bisa dia kena semprot pimpinannya”
Lagi-lagi
lelaki itu hanya tersenyum mengangguk, melihat reaksi Luch hendak ngotot
meneruskan diskusi.
“Ayah
janji akan perlihatkan hal-hal menarik untukmu besok. Gimana?”
“Hemmh?”
angguknya
“Assalamu’alaikum,
selamat malam Ayah …”
“Wa’alaiku
salam, mimpi indah anakku,”
“Klick!”
layar itu padam
***
Tak
seperti biasanya, kali ini pagi-pagi sekali Luch duduk di meja makan menunggu
Mbok Yem menyiapkan susu dan sarapan pagi.
“Tumben
kakak sudah bangun?” pikir ibunya mengkirut sesaat
“Assalamualaikum,
pagi Bu”
“Waálaikum
salam, kakak sudah mandi?”
“Belum,
Luch lapar sejak tadi malam Bu” jawabnya mengangkat segelas susu yang baru saja
diletakkan Mbok Yem.
“Apa
mungkin kalau seseorang berpikir terlalu keras itu menjadikan cepat lapar ya
Bu?” ujarnya memandang gelas yang telah kosong.
“Ya,”
“Kalau
begitu berpikir itu obat mujarab bagi orang yang ingin diet bagi orang yang
kegemukan”
Sontak
tawa Mbok Yem terdengar dari balik punggung ibunya.
Sesaat
ia memandang lepas pemandangan di luar jendela yang masih sedikit gelap “Bu,
mulai hari ini Luch nggak usah sekolah ya?”
“Lho
…? Kenapa??”
“Luch
bosan, di kelas cuma diajari nyanyi dan tepuk-tepuk”
Mbok
Yem hanya tersenyum mendengarnya “Justru itu yang disenangi seusiamu …”
“Ah,
kata siapa? Ya Bu??” rajuknya menggamit ujung rok perempuan muda itu
“O
ya, besok ayah pulang lho …”
“Seperti
Hikam aja, alihkan pembicaraan. Ya Bu?”
“Lho,
benar. Ya kan Mbok?”
“Diam
itu tandanya setuju. Kalau ibu nggak jawab pertanyaanku, berarti ibu setuju
kalau aku nggak masuk sekolah lagi” ujarnya melirik raut perempuan dengan rok
putih bercorak kembang-kembang kecil itu, tanpa berkata-kata lagi, bocah
berambut hitam kemerah-merahan itu keluar dari dapur itu.
Dua orang tua
itu kembali saling melirik dan mengernyitkan bibirnya.
***
Jarum
jam dinding di atas ruang tamu menunjukkan pukul 11.15, detiknya yang sedikit
keras menambah kesenyapan dalam keheningan siang itu, yang kemudian tiba-tiba
terpecah oleh teriakan tiga bocah dari
luar halaman yang beriring suara mobil yang baru saja terhenti.
“Assalamu’alaikum
…!!!” serentak suara itu membuka pintu kayu yang sedikit berat.
“Wa’alaikum
salam, sayangku … gimana tadi di sekolah …” sambut perempuan muda itu membelai
rambut si kembar
Tanpa
berkata apapun, Luch yang selesai mencium tangan ibunya seketika lari ke ruang
kerja ayahnya.
“Halo,
bagaimana kabar Ayah hari ini?” serunya lewat sebuah microphone kecil di sisi
speaker mini, seketika sosok lelaki muda
itu muncul dengan kemeja putih yang tengah melepas dasinya.
“Ayah
sudah pulang?”
“Ya,
hari ini ayah pulang lebih cepat”
“O
ya, ayah ingin memperlihatkan sesuatu”
![]() |

“Kau
paham apa yang Ayah maksud dengan gambar ini? Ini hanya analisa Ayah saja.”
“Klick!”
Sesaat wajah lelaki muda itu muncul kembali
“Kemarin Luch pernah berkata pada ibu, bahwa bahasa
itu berasal dari satu orang, iya kan?” jelas lelaki itu “Na! sekarang kita akan
beranjak dari sana, orang pertama, Adam.”
“Klick!” wajah itu menghilang sesaat berganti
lembaran putih berisi sederet huruf hijaiyyah, surat Al Baqoroh ayat 31
وعَلَّمَ(الله) ءادَمَ
اْلأَسْماءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰئكَةِ. فَقَالَ(الله إِلَى الْمَلٰئِكَةِ)
أَنْبِؤُنِى بِأَسْمَاءِ هٰؤُلاَءِ إنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ.ٍ
Dan Dia telah mengajarkan Adam
nama-nama (kata benda-kata benda) seluruhnya, kemudian memperlihatkannya kepada
para Malaikat, lalu berfirman: “Sebutkalah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu memang orang-orang yang benar”
“Tapi bagaimana caranya Adam
mengajarkan nama-nama benda itu kepada semua manusia seluruh dunia Ayah?” sletuk Hikam yang tiba-tiba muncul di balik punggug kakaknya dengan kaos
sport asyik mempermainkan jari dalam mulutnya.
“Yah! Kamu dik, Adam itu kan manusia pertama bagaimana
mungkin ada orang selain Adam saat itu”
“Sebentar
Ayah, dalam ayat lain dikatakan bahwa Adam itu dulu di Surga dengan istrinya
Hawa, berarti bahasanya Adam sama dengan bahasa Surga, benar begitu??” ujarnya
menerawang jauh ke sudut-sudut ruang seolah ingin melanjutkan pertanyaannya.
“Al
Qur’an tidak pernah menyebut kata-kata Hawa Sayang …, memang di sana dijelaskan
bahwa Adam itu diturunkan ke Bumi dengan istrinya, tapi di sana tidak pernah
disebutkan siapa nama Istrinya. Dalam kitab Injil perjanjian Lama memang
disebut-sebut kata Eva yang penciptaannya diambilkan dari tulang rusuk Adam,
tapi sejauh ini Ayah sendiri belum tahu ke-otentikan kitab tersebut. Atau …
dalam beberapa hadis sendiri memang disebut-sebut kata Hawa, tapi Ayah sendiri
ragu ketika ada beberapa matan Hadis yang ternyata bertentangan dengan Al
Qur’an. Ini membuktikan bahwa para penyarah Hadis sendiri kurang teliti, mereka
hanya melihat sanad atau siapa perawi hadis tersebut, dan tidak melihat
bagaimana isi hadis itu.”
“Sebentar Ayah, sepertinya ada yang janggal …”
Jari-jari Luch tiba-tiba saja nampak sibuk membuka-buka Al Qur’an “Coba deh,
lihat surat Al Baqoroh ayat 35, kasusnya saya rasa hampir sama dengan surat An
Nisa ayat 1, pada kata-kata زَوْجُكَ
pada surat Al
Baqoroh ayat 35, dengan زَوْجَهَا pada surat An
Nisa ayat 1, yang berasal dari kata زَوْجْ yang artinya suami. Kalau begitu berarti Adam itu
perempuan, bukan laki-laki, Ayah”
Kata-kata itu seolah meledak dalam kepala lelaki di
balik layar itu, pandangannya berubah kaku terpaku pada deretan huruf-huruf
arab itu, ia tak bisa memungkiri bahwa kata-kata anaknya memang benar, tapi
bagaimana mungkin jika Adam itu benar seorang perempuan.
“Maaf sayang, Ayah belum tahu tentang hal itu”
“Tapi itu benar kan?”
“Bagaimana kalau saat ini kita pending dulu
diskusinya, kita lanjutkan besok”
“Tapi ini kan masih sore Ayah, PRku sudah aku
kerjakan”
“Tapi Ayah pusing sekali sayang …”
“Ayah sakit?” sletuk Hikam di balik punggung
kakaknya yang masih asyik mengulum-ngulum jari manisnya.
Lelaki itu tersenyum memandang dua putranya yang
masih polos.
“Insya Allah besok Ayah pulang sayang …”
“Hore!!”
teriak Hikam lari kegirangan keluar ruangan dan berteriak-teriak
memberitahu kembarannya Hakim
“Baiklah …” raut Luch masih nampak kecewa dengan
pertanyaannya yang belum terjawab “Ayah tidak suka dengan pertanyaan Luch tadi?”
“Oh! Tidak sayang … seharusnya Ayah katakan kalau
ayah benar-benar pusing sejak tadi pagi” sanggahnya berusaha berpura-pura
“Besok kita akan piknik, bagaimana?”
“Baiklah, Assalamu’alaikum Ayah”
“Wa’alaikum salam anakku …”
“Klick!” layar itu padam
Di ruang itu Luch masih berdiam diri di depan layar
monitor yang telah padam.
“Kalau memang begitu kasusnya, bahwa yang
dimaksud زَوْجٌ dalam ayat itu suami, berarti ada kemungkinan
bahwa yang dimaksud نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ adalah Adam itu
sendiri dan Adam berjenis perempuan, bukan laki-laki” sesaat matanya menerawang
jauh di balik semak-semak pemandangan di balik jendela kamar itu “Tapi
bagaimana dengan surat Ali Imran ayat 59, yang mengatakan bahwa permisalan Isa
itu seperti permisalan Adam” seolah matanya menangkap sesuatu “Tapi kan itu
persamaan proses penciptaan saja, bukan persamaan jenis yang diciptakan,
maksudnya sama-sama lelaki atau perempuan. Aku pikir … ini masalah tanda jeda
saja, coba kalau ayat ini tanpa koma ۖ, tentu akan diartikan lain”
إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya
permisalan Isa di sisi Allah itu seperti permisalan Adam, Dia menciptakannya
dari Thurab, kemudian Dia mengatakan kepadanya (Adam), Jadilah maka Jadilah
“Oh! Tidak mungkin
kalau tanpa tanda ۖ, bagaimanapun ini adalah dua kalimat dalam satu
ayat. Kalau begitu? … Ah?? Pusing!!” tangannya mengentak seperti orang dewasa
dan lari ke kamarnya.
“”
Sampai di sini dulu, bawah ini belum jadi masih
tambal sulam
“Oke!”
“Eit?! Matikan
dulu komputernya”
“Baik,
Assalamuálaikum…”
“Klik!” bunyi
computer di turn off
Matanya
teliti menyapu satu persatu buku-buku yang tertata rapi di atas rak berwarna
abu-abu yang ditutupi kaca. Ia tak peduli mendengar tangis keras adik-adiknya
bertempur dengan Mbok Yem dan Ibunya yang hendak memandikannya.
“Ah!
Lagu wajib sore hari… kenapa pula anak kecil takut dengan mandi” ujarnya lirih
mengambil posisi berdiri di atas meja computer berusaha meraih buku tebal
dengan hard cover warna putih dan merah hati itu, di punggung buku tertempel
kertas kecil berwarna pelangi bertuliskan “Heriyanto Family’s”.
“Dar!!
Bug!!” buku itu meluncur membentur kaca pintu rak.
Tiba-tiba
saja perempuan muda itu telah berdiri di ambang pintu ruang kerja ayahnya.
“Buku
itu jatuh Ibu…” rautnya sedikit takut bercampur rasa salah.
“Kenapa
tadi tidak minta ambilkan Ibu sayang…”
“Ibu
pasti sedang sibuk dengan adik-adik”
“Tapi
tidak seperti ini caranya sayang… bagaimana kalau kamu yang jatuh” ujarnya
sambil mengangkat turun si sulung “Lain kali hati-hati…” katanya mengusap
kepalanya dan meninggalkan ruangan itu dengan menenteng handuk putih
kecil.
Cepat-cepat
Luch mengambil posisi duduk di sudut ruangan di atas karpet berbulu dengan meja
persegi yang tak terlalu besar.
Pada
halaman pertama sebuah gambar manusia mirip kera, dengan di atasnya bertuliskan
Australopithecus.
Alis
matanya kian berkirut-mirut saat membuka halaman demi halaman yang hampir semua
menjelaskan evolusi manusia purba.
“Lalu
bagaimana dengan nabi Adam yang kata ibu, dia adalah manusia pertama, mana
mungkin seorang nabi mirip dengan seekor kera berbulu begini? Padahal Nabi itu
kan seorang utusan Allah, masa rupanya jelek daripada aku? Ah! Buku ini bohong!
Atau …” melingkarkan bola matanya seolah-olah mencari sesuatu.
“Ibu … ibu …” serunya mencari tiap sudut ruangan
“Ada
apa Nak…” jawab ibunya dari ruang keluarga
“Ibu
pernah berkata kalau Adam itu manusia pertama ya?”
“Ya,
manusia pertama di Bumi”
“Itu
ada dalam Al Qurán bukan?”
“Ya,
coba deh buka surat al Baqoroh ayat 30”
Cepat-cepat
Luch pergi meninggalkan mereka, sementara Mbok Yem hanya menggeleng-gelengkan
kepala.
“Loh, ada apa dengan kata-kata
Malaikat? Kenapa dia protes seperti itu? Padahal kata ibu, Malaikat itu kan
makhluk yang paling tunduk dengan Allah?”
وعَلَّمَ(الله) ءادَمَ
اْلأَسْماءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰئكَةِ. فَقَالَ(الله إِلَى الْمَلٰئِكَةِ)
أَنْبِؤُنِى بِأَسْمَاءِ هٰؤُلاَءِ إنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ.ٍ
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (kata
benda-kata benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat. lalu berfirman: “Sebutkalah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu memang orang-orang yang benar”
“Yes! Di sini kuncinya … aku ketemu, kalau begitu
berarti yang pertama diajari tentang penamaan nama-nama itu nabi Adam, lalu
nabi Adam mengajarkannya kepada para malaikat. Tapi bagaimana caranya nabi Adam
mengajarkan semua nama-nama itu kepada manusia sedunia …? berapa tahun yang ia
butuhkan untuk mengajari satu persatu orang-orang sedunia… padahal kata ibu,
jaman dahulu tidak ada pesawat terbang ataupun sepeda motor …”
Ia
tertegun di depan alQuran terjemah memandang lepas huruf-huruf arab yang
tersusun berderet.
“Tidak
seperti itu sayang …” tiba-tiba saja ibunya telah berdiri di ambang pintu dan
duduk di sampingnya “Luch tahu? Kecanggihan orang-orang terdahulu itu sepuluh
kali lipat orang-orang masa sekarang lho?”
“O
ya Bu?”
“Coba deh buka surat 34 ayat 45”
AYAT
“Luch
bisa bayangkan, bagaimana bahtera nabi Nuh itu dibuat? Coba buka surat … Ayat
…, saat terjadi taufan nabi Nuh, air memancar dari bumi, sementara hujan deras
mengguyur dari langit, andai saja perahu itu bentuknya seperti perahu-perahu
seperti saat ini, pasti sudah tenggelam karena hujan dari langit”
Mulutnya
menganga dengan mata menerawang jauh seolah menagkap sesuatu “Pasti bentuknya
seperti kapal selam, tapi Bu … kalau seperti kapal Selam mana mungkin? karena
kan waktu itu nabi Nuh memanggil-manggil anaknya
"يٰبُنَىَّ إِرْكَبْ مَّعَنَا
وَلاَ تَكُنْ مَّعَ الكَافِرِيْن"
Berarti
harusnya ada sisi yang terbuka dong? Tidak seperti kapal selam”
“Analisa
itu nanti kamu bisa tanya ke Ayah”
“Tapi
Bu, sebentar … kalau memang kehebatan umat para nabi dulu itu sepuluh kali
lipat dengan umat manusia saat sekarang, kenapa penelitian mengatakan kalau
volume otak manusia itu semakin bertambah? Yang artinya berarti volume otak
manusia dulu lebih kecil ketimbang manusia sekarang. Apa volume otak itu mempengaruhi
kecerdasan?”
“Tentu,
tapi untuk masalah itu ibu belum tahu”
“Kembali
pada pertanyaan di atas berarti benar dong Bu, kalau nabi Adam itu mengajari
umat sedunia dengan naik pesawat ataupun sepeda motor?”
Tiba-tiba saja perempuan itu tertawa lebar
membayangkan imajinasi anaknya “Tidak dengan cara seperti itu sayang ...”
“Lalu?”
“Itu prosesnya alamiah ...”
“Maksudnya?”
“Sebentar, jangan kamu bayangkan bahwa pada masa
nabi Adam dulu, bumi sudah dipenuhi dengan orang-orang. Karena ingat! bahwa
Adam adalah manusia pertama di Bumi, kenapa ibu katakan Adam adalah manusia
pertama di Bumi bukan di dunia? Karena ternyata Adam itu dilahirkan”
“Tadi bukannya Luch sudah buka surat al Baqoroh
ayat 30? Kenapa di sana malaikat protes?” tambah perempuan muda itu lagi
“Nah! itu yang ingin Luch tanyakan”
“Malaikat bisa protes seperti itu, pertanda sebelumnya
sudah ada makhluk yang mirip dengan manusia tapi senantiasa membuat kerusakan
bumi dan menumpahkan darah, alias mereka suka berkelahi dan saling membunuh”
“Mirip? Berarti bukan manusia?”
“Yup!”
“Lalu siapa? Manusia purba ya?”
“Ya, ada praduga seperti itu, tapi coba nanti di cros
cek saja antara umur dan masa nabi Adam, kemudian masa manusia homo yang
moderen, yakni Homo Sapiens”
“Tadi ibu katakan kalau Adam itu dilahirkan ya?
Padahal dulu ibu pernah berkata kalau Adam itu manusia pertama”
“Ya, manusia pertama di Bumi, bukan di jagad Raya,
coba deh buka surat Ali Imran ayat 59”
Ayat
Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah, sama
dengan perumpamaan pada Adam
“Luch
tahu? Bagaimana ia diciptakan”
“Dia
itu kan putranya Maryam?”
“Luch
tahu siapa Maryam?”
“Tentu,
kata ibu dulu, dia itu seorang perempuan yang belum pernah bersuami. Kok bisa
ya Bu?” ujarnya dengan pandangan menerawang jauh, dan tetawa kecil dan menguap
“Seperti cacing, Hermaprodit”
Ibu
membalas senyum itu “Kakak sudah ngantuk kan?”
Bocah
dengan kaos putih dan celana panjang itu lagi-lagi menguap dengan mata
berkaca-kaca.
“Bobok
dulu ya?”
“Ehm!”
jawabnya mengangguk
Angin
di luar nampaknya sedikit kencang, beberapa kali terdengar beburitan angina
menghempas pepohonan di halaman belakang. Sementara Luch telah terbaring di
atas ranjang, menatap kegelapan kamarnya.
“Bu,
besok sebelum tidur Luch ingin dengar cerita nabi Nuh ya? Bareng adik-adik …”
“Ya
sayang,”
“Tapi
ibu nggak lupa kan, kalau besok ibu mau meneruskan keterangan tentang kelahiran
nabi Adam”
Perempuan
itu mengangguk seraya mematikan lampu kamarnya dan pergi.
“Assalamuálaikum,
selamat malam ibu …”
“Waálaikum
salam, selamat malam juga anakku …”
***
“Coba
buka surat An Nisa ayat 1”
Ayat
Hai
sekalian manusia,bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
Darimana orang bisa mengatakan itu gunung, itu rumah dsb.
Kenapa setiap Negara memiliki bahasa yang berbeda, dan Siapa pula yang
mengajarkan bahasa-bahasa itu pada orang sedunia?
Berikut perenungan seorang bocah yang dipandu oleh
seorang ayah.
Lebih menarik lagi dalam Novel ini adalah jawaban diambil
dari ayat-ayat Al Qur’an melalui metode komparasi antara satu ayat dengan ayat
yang lain, selain tidak mengesampingkan kamus-kamus arab seperti Lisanul ‘Arab
dsb.
Dari wacana ini juga, penulis sangat mengharapkan
wacana-wacana baru yang muncul baik yang bersifat menghujat, maupun membangun.


Komentar
Posting Komentar