Luch anak cerdas

 



 

 


“Berarti Pithecantropus itu sama dengan nabi Adam ya Bu?, kan sama-sama manusia pertama?” tanyanya meluncur tiba-tiba saat membuka-buka ensiklopedi manusia Purba

“Kalau begitu, masa nabi Yusuf yang katanya nabi paling tampan sama dengan manusia purba seperti ini? Ah! tidak benar itu, ya kan Bu?”

Perempuan itu diam tersenyum

 

 Oleh

Amien Putri

Sejak beberapa menit yang lalu, Luch bocah gadis tujuh tahun itu sibuk menyusuri gerbong kereta. Dari  menghitung jumlah kursi, botol-botol yang berdiri di atas meja gerbong, sampai jumlah orang. Entah yang ke berapa kalinya ia berjalan menyisir gerbong itu, namun kali ini ia diam memperhatikan wajah orang satu persatu, sesekali ia menawarkan senyuman pada orang-orang yang memperhatikan dirinya. Seorang kakek tua yang murung tiba-tiba saja menawarkan senyum sembari menawarkan  sebungkus roti cokelat untuknya.

“Terima kasih Kek,” ujarnya membuat kakek itu tersenyum cerah.

Sesaat langkahnya terhenti menyimak gerak kereta yang sedikit miring ke kanan, beberapa saat ia mencoba berdiri dengan kaki melebar dan melipat badannya hingga posisi kepala tepat di antara dua kaki, lalu mencoba menilik pemandangan langit-langit gerbong kereta dan orang-orang di sekitarnya.

Entah kenapa tiba-tiba saja ia tersenyum geli “Hmm… Dunia ini terasa seru kalau seperti ini melihatnya" pikirnya sesaat dan melotot saat kedua matanya menangkap sosok lelaki hitam legam dengan di sampingnya lelaki berhidung bengkok berkulit putih kemerah-merahan, keduanya terlihat lebih tinggi ketimbang lelaki di depannya berkulit putih halus dengan kacamata frame hitam tebal. Rasa penasarannya tak lagi terbendung, ia cepat-cepat menarik badannya berusaha melihat lebih dekat, namun  kereta lagi-lagi bergerak terlalu miring ke kanan hingga ia kehilangan keseimbangan.

“Bug!” tubuhnya tersungkur ke lantai gerbong

Sontak disambut teriakan ibu-ibu di depannya, hingga beberapa orang hendak menolongnya. Tapi cepat-cepat Luch menghindar pertolongan dan lari ke tempat ibunya yang menarik perhatian semua orang pada gadis kecil.

“Ibu...” peluknya hendak menangis mengusap-usap kepalanya yang terbentur

“Ah, tidak apa-apa” katanya sambil memangku bocah berambut lurus kemerah-merahan.

Pemandangan dari luar kini nampak kian gelap, hanya beberapa saat saja terlihat terang oleh pemandangan sebuah perkotaan dengan gemerlap lampu. Sementara Luch terdiam agak lama dalam rengkuhan ibunya.

“Ibu..” sapanya mendongakkan wajah pada perempuan muda itu. “Tadi kakak lihat tiga orang laki-laki aneh” 

“Aneh?”

“Ehm!” angguknya cepat “Lelaki hitam pekat dan tinggi, tak pikir kalau dalam gelap pasti cuma kelihatan giginya saja. Lalu di sebelahnya orang putih kemerah-merahan, aku rasa, orang di depannya itu lebih baik, dibanding keduanya. Kulitnya lebih putih dan mulus, berbadan ramping, dan bermata ‘kecil’” ujarnya sambil menyipitkan mata

“Sipit?”

“Ehm!” angguknya pelan “Tapi lebih anehnya lagi, mereka juga berbicara dengan bahasa aneh, Bu”

“Aneh?”

"Bahasa Inggris?"

"Bukan, pokoknya aneh"

"Lha iya anehnya kenapa?" 

“Karena aku nggak paham” spontan dua pasangan suami istri di depannya tersenyum geli

“Bahasa di dunia ada banyak sekali, sayang"

“Memangnya ada berapa. Bu?”

“Menurut UNESCO sekitar 6700 bahasa tutur yang digunakan masyarakat di dunia"

“Tapi kenapa mesti ngomongnya harus banyak, begitu? Kan pakai satu bahasa saja cukup?” protesnya lagi dengan mata sarat keluar jendela seakan tengah memikirkan sesuatu. 

“Sebenarnya awal mula yang mengajarkan orang berbicara itu siapa ya Bu?" pikirnya kembali bengong "Kenapa mereka ngomongnya mesti pakai banyak bahasa?" 

"Andaikan semua orang di dunia itu bicara dengan satu bahasa saja kan enak" katanya sambil bengong

Perempuan muda itu hanya diam tersenyum menyimak raut sulungnya yang saat ini nampaknya tengah berdialog dengan dirinya sendiri. 

"Katanya nenek moyang manusia itu nabi Adam? Kenapa kok bahasanya jadi berbeda-beda?" tanyanya lagi seakan menyimak pikirannya sendiri dengan informasi dari buku-buku yang ia baca di rumah saat jelang tidur

"Kemarin kakak baca ensiklopedia, kalau katanya nenek moyang kita itu berasal dari manusia sejenis monyet"

"Lalu monyet sama nabi Adam itu itu siapanya?"

"Kalau benar nabi Adam itu dari golongan seekor monyet, lalu bagaimana dengan nabi Yusuf yang katanya lelaki paling tampan?"

Lelaki yang duduk di seberang seat mereka seperti terkejut mendengar penuturan Luch yang masih berdiri di antara seat. Sementara pasangan muda yang duduk di depannya hanya  tertawa geli.

"Cerdas ya bu, anaknya" 

"Kakak kelas berapa?"

"Kelas berapa aku, Bu?" tanyanya polos

"Loh, kok tanya Ibu?" tawa perempuan cantik itu lagi

"Aku nggak sekolah tante,"

"Katanya aku disuruh belajar sama Ibu di rumah"

"Loh? kenapa Bu?"

Tiba-tiba Luch kembali menyela "Bu, aku boleh kenalan nggak sama om-omnya yang aneh tadi"

Ibunya berkerut jidat yang spontan paham

"Boleh, tapi yang baik ya sayang,"

"Okey"

"Hati-hati..."

"Iya," ujar Luch sambil berjalan cepat kembali menyusuri gerbong kereta hingga gadis kecil itu hilang dari pandangan

"Sengaja saya keluarkan dia untuk menemani adiknya homeschooling"

"Oh??? loh? kenapa?"

Sampai di detik ini rasanya perempuan muda ini malas menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa dimanapun ia berada ketika mengajak anaknya. Ia malas menjawab pertanyaan itu yang kadang ujungnya hanya untuk dikomentari, atau sengaja dipandang buruk sebagai seorang ibu yang terlalu memproteksi anaknya.

"Banyak alasannya mbak," 

"Tapi dia ini kan cerdas Bu, kasihan kalau tidak disekolahkan"

Ibu muda itu hanya tersenyum tenang, namun di balik itu ia seperti sedang menarik nafas kesabaran.

"Iya, biar saja mbak... Bagus juga belajar di Rumah karena lebih bebas mau belajar apa saja, tidak ada yang menekan"

"Tapi kan, anak-anak juga butuh sosialisasi Bu," suara perempuan muda itu agak nyolot yang langsung di kode suami di sebelahnya dengan menyikut siku istrinya  

"Andai kalian tahu, betapa aku ingin memiliki anak yang baik-baik saja seperti anak-anak pada umumnya. Sementara aku bisa kembali berkarir atau jika pun di rumah bisa kembali menjadi journalist freelancer"

Tiba-tiba gadis kecil dengan mata cekung dan bertubuh sangat kurus itu kembali lagi.

“Lalu Bu, bagaimana dengan adik bayi? kenapa dia hanya bisa senyum dan ketawa saja kalau kita ajak bicara” 

"Kenapa dia nanti tiba-tiba bisa bicara? sementara bayi monyet tidak”

Gerrrrr...!! spontan ketiga orang dewasa itu tertawa cekikian membuat Luch bingung melihat orang tertawa yang disambut jawaban seorang bapak-bapak dengan kaca mata frame bening memakai topi di seberang jok mereka.

"Karena monyet kan bukan manusia dek, jadi nggak bisa bicara seperti adek bayi"

"Tapi kan katanya nenek moyang manusia itu dari monyet"

Spontan semua terdiam seperti tengah berpikir kembali pada diri sendiri. sementara 

"Nenek moyang manusia itu ya nabi Adam, sayang" jawab lelaki di depannya

"Terus yang ada di museum Sangiran siapa Om?" tanyanya polos penasaran dengan matanya yang bulat seakan menunggu-nunggu jawaban dari bibir lelaki di depannya.  

Sesaat rautnya terlihat cerah dan teriak histeris, sampai-sampai orang di depannya terbangun “Iya benar! Kalau begitu bahasa itu diajarkan oleh orang tuanya ya Ma?!"

"Ssssttt..! Jangan keras-keras, Kak"

"Eh," Luch clingukan menutup mulut

Tapi tiba-tiba saja ia terdiam memainkan jari-jemarinya yang mungil “Kalau benar yang mengajarkan bicara itu orang tua mereka, lalu yang mengajarkan bahasa pada manusia pertama Adam itu siapa Ma?" suaranya lirih seakan menanyakan keresahan dirinya pada  jendela kereta yang kian berembun.

Malam itu seperti menjadi titik balik putrinya yang selama ini banyak bengongnya, kini mulai banyak mengutarakan gagasannya lewat bahasa verbalnya.


@@@


Sore masih nampak cerah, namun kabut tipis mulai menyembul di balik semak-semak ladang belakang rumah kaki bukit. Kali ini Mbok Yem belum memanggilnya untuk mandi, namun cepat-cepat Luch pulang meninggalkan dua orang adik kembarnya yang masih asyik berkejaran dengan seekor kucing.

Melihat Luch cepat-cepat masuk kamar mandi, mbok Yem sedikit heran "Tumben, Bu" 

Perempuan muda yang tengah mengiris bawang di dapur itu hanya tersenyum menggelengkan kepala isyarat tidak mengerti. 

Lima menit belum berlalu, tiba-tiba saja gadis dengan tubuh yang sangat kurus dan bermata bulat itu keluar dari kamar mandi "Sore Ma, komputer Luch sudah diperbaiki belum?" 

"Sudah," 

Dari balik jendela dapur, terlihat dua adiknya sedang bermanuver dengan Mbok Yem. Ini seperti pemandangan wajib di sore hari saat keduanya disuruh mandi, dan tak jarang berakhir dengan tantrum. 

Sementara Luch yang sudah rapi dengan kaos dan celana panjang kuning polosnya telah siap di salah satu sudut ruang kerja ayahnya yang menyatu dengan perpustakaan keluarga “Assalamuálaikum Ayah, aku sudah siap …!” serunya memencet tuts keyboard hingga muncullah wajah laki-laki muda. 

"Waálaikum salam, sayang" jawab sosok lelaki muda di balik layar monitor

“Kamu sudah baca buku apa untuk diskusi sama Papa?” tawa lelaki muda itu terkekeh

“Banyak,” tandasnya yakin

"Oh, ya?"

"Coba lihat gambar ini Pa"


https://www.kompasiana.com/menggelinjang/54f82fb5a33311ce5d8b46ca/teori-darwin-kera-berawal-dari-manusia


"Nah, itu Teori Darwin, kakak..."

"Apa itu Teori Darwin?"

"Teori yang mengatakan bahwa semua makhluk hidup itu bermula dari satu asal"

"Padahal ayatnya kan berkata bahwa Allah menciptakan makhluk itu satu utuh," (ayat)

"Tapi memang dalam ayatnya dikatakan bahwa segala sesuatu yang hidup itu bersumber dari air" (ayat)

"Nah, coba kamu cari dulu deh, manusia kera paling modern itu hidup di tahun berapa dan Adam itu hidup di tahun ke berapa?"

"Nanti akan ketemu, seberapa benar teori Darwin"

"Atau jangan-jangan yang dikatakan malaikat dalam surat Al Baqoroh ayat 30 itulah manusia kera"

"Memangnya seperti apa bunyinya?"

"Coba deh, buka Al Qurannya"

(Surat Al Baqoroh ayat 30)

"Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana"

"Kata Ja'ala (menjadikan), itu beda dengan kholaqo (menciptakan)"

"Kalau menciptakan itu artinya sebelumnya belum pernah ada, tapi kalau menjadikan itu artinya sebelumnya sudah ada lalu diramu lagi menjadi sesuatu yang baru"

"Itu artinya Malaikat sudah tahu bahwa sebelumnya pernah ada makhluk yang menyerupai manusia"

"Bisa jadi benar teori Darwin, tapi perlu kamu tahu, bahwa campur tangan Allah sudah masuk di dalamnya. Bukan semata-mata proses alam sperti yang dikatakan Charles Dickens Darwin"


Saat itu adzan maghrib terdengar, dari PC tabungnya.

"Okey, kita lanjut besok lagi saja"

"Kapan? Papa selalu sibuk"

"Coba tanya Mama" muncullah wajah perempuan muda

Terdengar keributan dari dapur, cepat-cepat Luch turun dan lari ke dapur. Melihat Mbok Yem menyuapi mereka berdua Luch langsung melongok piring mereka.

Sementara di ruang baca perempuan itu duduk menghadap wajah suaminya

"Bagaimana hasil Diagnosa Hakim kemarin?"

"Autis Pa,"

Lelaki itu menarik nafas dalam "Coba sering diamati tatapan matanya waktu dia bicara"

"Kadang memang ada kontak mata, tapi seringnya kan dia sibuk sendiri maunya lari atau mainan apapun yang bisa dipegang"

"Ini saja kalau tv mati, bukan main capek dan pusingnya. Dia selalu menghilang"

"Kenapa nggak dikunci saja?"

Perempuan itu menarik nafas lelah.

"Pa, kalau aku kunci, rumah bakalan berantakan bukan main karena semua bakal dikeluarkan buat mainan"

"Termasuk lemari dia"

"Ini sekarang lagi suka pakai baju berlapis-lapis"

Spontan lelaki itu tertawa ngikik terbayang video Hakim memakai baju dan celana berlapis-lapis.

"Bagaimana dengan jam tidurnya?"

"Masih sama, selalu di atas jam 10"

"Coba biarkan siang nggak usah tidur, biar malamnya Mama bisa istirahat"

"Ah... sama saja Pa. Kadang, karena aku nggak kuat aku tinggal tidur saja di kamar. Tapi ya tetap saja dia mulai loncat-loncat dari lemari"

"Kapan Papa pindah ke kota ini lagi, aku benar-benar nggak kuat"

 "Coba nanti Papa bilang ke Pak Ketua, siapa tahu..."


 @@@


Saat sore tiba  

"Tunggu Luch, kalau kamu mau membicarakan soal Teori Darwin bahwa manusia kera itu adalah nenek moyangnya manusia itu sama halnya kamu harus belajar teori Biologi secara keseluruhan. Karena nanti akan saling berkaitan bagaimana perubahan alam yang mempengaruhi proses perubahan makhluknya yang ada saat itu"

"Dan lagi bandingkan dengan usia manusia kera modern yang berhasil ditemukan di Ethiopia itu 






“Coba kita lihat surat Al Baqarah ayat 30 ini”

وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰئِكَةُ إِنِّى جَاعِلٌ فِى اْلأَرْضِ خَلِيْفَةَ. قَالُوا(الْمَلٰئِكَةُ): أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ, وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ؟! قَالَ (الله): إِنِّى أَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُوْن.

Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat; “Sesungguhnya Aku (akan) menjadikan khalifah di muka bumi”. (Para Malaikat) Berkata; “Akankah Engkau jadikan di dalamnya (Bumi) orang yang (akan membuat) merusak padanya dan menumpahkan darah, seangkan kami (senantiasa) bertasbih dengan memuji Mu dan mensucikan bagi Engkau?” (Allah) Berfirman; “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui”

“Kenapa Malaikat berkata seperti itu, padahal kau tahu, bahwa Malaikat itu adalah makhluk yang paling tunduk dan patuh kepada Allah”

“Barangkali saja Allah sudah memberikan gambaran kepada Malaikat ciri-ciri Adam nantinya seperti apa dan dialog ini tidak diterangkan dalam ayat ini, atau …? Barangkali saja sebelumnya di Bumi sudah pernah ada makhluk sejenis manusia tapi suka berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah”

“Nah! Itulah … yang selama ini jadi perbincangan hangat. Selama ini orang masih menduga-duga benarkah ada makhluk lain selain manusia di Bumi, lalu fosil manusia purba seolah-olah datang dan mengatakan, mungkinkah ini manusia yang dimaksud Malaikat?”

“Tapi bagaimana mungkin kalau manusia purba seperti manusia homo sapiens itu yang dimaksud”

“Bisa jadi,”

“Kalau begitu, bisa jadi berarti benar bahwa manusia kera itu adalah keturunan nenek moyang manusia sekarang. Karena pada hakekatnya evolusi juga terjadi pada diri manusia. Padahal kata ibu, kecerdasan orang-orang dahulu itu sepuluh kali lipat kecerdasan manusia sekarang … itu dikatakan dalam surat Saba’ ayat 45”

وكَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوْا مِعْشَارَ مَآ ءَاتَيْنٰهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِى ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ

Dan orang-orang dari sebelum mereka telah mendustakan, dan tiadalah mereka menerima sepersepuluh (dari) apa-apa yang telah kami berikan kepada mereka kemudian mereka mendustakan rasul-rasulKu, maka bagaimanakah (akibat) kemurkaanKu ??

“Yang dimaksud dari sepersepuluh dari apa-apa yang telah kami berikan kepada mereka adalah pemberian Tuhan tentang kepandaian ilmu pengetahuan, umur, kekuatan jasmani, kekayaan harta benda dan sebagainya.”

 “Ingat! Adam juga dilahirkan”

“Benarkah …?”

Adam memang manusia pertama, tapi di Bumi, bukan di alam semesta ini

“Kalau begitu berarti …”

“Ada manusia lain selain Adam”

“Buktinya?”

“Buka surat Ali Imran ayat 59, sudah siap Al Qur’annya?”

“Yup!” jari-jarinya sibuk membuka kitab berwarna Cokelat itu

إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ (۵۹)

Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah, seperti permisalan Adam, …

“Sebentar, sampai di sini dulu kita akan bahas” cegah lelaki berhidung tinggi di balik layar monitor “Kau tahu siapa Isa?”

“Kata ibu, dia itu kan putranya Maryam”

“Kau tahu siapa Maryam?”

“Perempuan yang belum pernah tersentuh satupun dari laki-laki pun dengan menikah. Memangnya Al Qur’an pernah menyebutkan cerita itu, Ayah”

“Yup! Kau pernah membaca surat Maryam? Bagaimana Maryam berkata kepada Jibril ... Coba buka surat Maryam (19) ayat 20”

قَالَتْ أََنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلاَمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorangpun manusia menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina”

“Kalau begitu Adam juga dilahirkan? Buktinya apa Ayah?”

“Baca surat An Nisa ayat 1”

يٰأَيُّهَاالنَّاسُ إِتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً ... (۱)

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu  yang telah menciptakan-mu dari Nafsin Wahidah (jiwa yang satu), dan Allah telah menciptakan daripadanya pasangan (suami)nya, dan Allah telah mengembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan …

“Coba perhatikan 2 kata yaiatu    نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ atau sering diartikan sebagai Jiwa yang satu, padahal kau tahu? Di sini ada ta’ marbuthoh (ة) yang menunjukkan jenis perempuan. Kalau seandainya saja ini yang dimaksud adalah Adam, seharusnya  نَفْسٍ وَّاحِدٍ saja”

“Berarti Adam punya ibu dong?!”

“Ya, tapi coba perhatikan lagi kata ini …”

وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًاوَنِسَآءً

  Dan Allah telah menciptakan dari- (هَا) nya (perempuan) yakni; (نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ), (زَوْجَـ) pasangan/suami - (هَا)nya (perempuan) (نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ), dan (مِنْـ) daripada  (هُمَا)kedua-nya (yakni;  نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ  dan زَوْجَـ), Allah mengembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak

“Jadi artinya; Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu  yang telah menciptakan-mu dari jiwa yang satu, dan (yang) daripadanya (pula) Allah menciptakan suaminya, (serta) daripada keduanya (pula, yakni; nafsi wahidah dan suaminya) Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. …”

“Klik” wajah lelaki muda itu kembali muncul setelah beberapa menit menunjukkan lembar analisa pada layar monitor tersebut.

“Luch capek?”

“Hmm!!” gelengnya dengan mata sedikit sayu “Cuma sedikit pusing, tapi aku masih penasaran dengan penjelasan ayah. Oke, Lanjutkan Ayah!” ujarnya menegakkan punggung

“Baik, sebelum kita lanjutkan pada bukti-bukti ayat yang lain, kita  lanjutkan tanda koma ini

“Klik!” sesaat wajah itu lenyap berubah lembar penjelasan beserta sederet huruf hijaiyyah

إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ (۵۹)

“Perhatikan kata-kata yang Ayah garis bawahi, dan kita perlahan mengartikannya”

 Kata خَلَقَ adalah fi’il madhi (kata lampau) yang diartikan menciptakan, dalam kata ini menyimpan dhomir mustatir (kata pengganti yang tersembunyi, yakni kata    هُوَاyang artinya Dia; yakni Allah)

Jadi dari sini kita mendapatkan arti kata خَلَقَه Dia (Allah) menciptakannya,  مِنْ تُرَابٍ dari تُرَابٍ sari pati tanah,  ثُمَّ kemudian (kata-kata  ثُمَّ ini mengandung pautan waktu, seperti contoh kalimat “Aku pulang sekolah, kemudian aku makan dan tidur” dalam kalimat seperti ini pasti ketika kamu pulang sekolah nggak langsung makan, melainkan buka pintu rumah dulu, duduk dan baru bilang pada mbok Yem jika kamu ingin makan, atau … mesti ganti baju dulu dan lepas sepatu dan kaos kaki dulu), قَالَ 

“Kau masih ingat fi’il madhi?”

“Ya, kata kerja lampau, kata قَالَ juga menunjukkan fi’il madhi bukan Ayah?! Yang di dalamnya tersembunyi dhomir mustatir  هُوَ yang artinya dia laki-laki. Jadi ثُمَّ قَالَ لَه artinya kemudian Dia mengatakan kepada (ُه) nya (Adam)                  كُنْ فَيَكُونُ jadilah, maka jadilah

“Ingat, meskipun Allah berkuasa menjadikan Adam dengan sekejap mata, tapi hukum sebab akibat itu tetap berlaku di jagad raya. Dari itulah, sebenarnya Allah ingin mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana ala mini berjalan. Coba lihat surat Al Kahfi ayat 84-85” 

إِنَّا مَكَّـنَّالَه فِى ا ْلأَرضِ وَءَاتَيْنٰـهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا (۸٤)

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya suatu sebab (untuk mencapai) segala sesuatu.

 فَأَتْبَعَ سَبَبًا (۸۵)

Kemudian ikutilah sebab

“Dari ayat tersebut, Allah hanya ingin menjelaskan kepada kita bahwa segala yang terjadi di Bumi itu tidak terjadi dengan tiba-tiba, semua ada sebabnya.”

“Kalau begitu berarti benar dong? kata buku ini bahwa manusia berasal dari kera, dan bahwa Galaksi alam raya ini dulu berasal dari kabut” ujarnya sambil menunjukkan buku Ensiklopedi Alam Semesta karya …

“Tidak seperti itu, semua yang Allah ciptakan itu teratur, dalilnya ada dalam surat Al-Anbiya’ (29) mulai ayat 30 sampai 33. Seperti yang sudah Ayah jelaskan tadi, bahwa Adam itu juga berasal dari makhluk yang sama, yakni manusia berjenis muannats (perempuan). Hanya saja ia diciptakan dimana, dalam arti di planet mana Ayah belum tahu tentang hal itu. Luch sendiri tahu, bagaimana manusia itu diciptakan, surat Al Hajj ayat 5 menjelaskan tentang itu”

 ... فَإِنَّاخَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَ غَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ   وَ نُقِرُّ فِى ا ْلأَرْحَامِ مَانَشَآءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمَّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُواْأَشُدَّكُمْ ۖ... (۵)        

Maka (ketahuilah), sesungguhnya Kami telah menjadikanmu dari Thurab, kemudian  dari nuthfah, kemudian dari mudghah, kemudian dari mudghah mukhallaqah dan mudghah ghoir mukhlallaqah untuk Kami jelaskan kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan. … 

“Ayat itu masih dijelaskan lagi dalam surat Al Mu’minun ayat 12-14”

وَلَقَدْ خَلَقْنَاا ْلإِنْسَانَ مِنْ سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ (۱۲)

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِيْنٍ (۱۳)

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا اْلعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنٰهُ خَلْقًاءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ الله ُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ (۱٤)   

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati  (tanah) thin. (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berhak) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Surat 23 ayat 12-14)

“Ayah, sebenarnya Luch hanya ingin tanya siapa yang mengajarkan kata-kata hingga menjadi sebuah bahasa kepada orang-orang sedunia. Aku pikir kenapa toh masing-masing Negara meski mempunya bahasa yang berdeda. Aku rasa, bukannya dengan satu bahasa saja sudah cukup?”

Entah kenapa tiba-tiba saja lelaki muda berkulitan putih itu hanya tersenyum mendengar ucapan putranya mengucek-ucek matanya yang mulai memerah dan sesekali menguap menggaruk-garuk kepala, namun tetap serius di depan monitor flat itu. Sesaat lelaki itu melirik arlojinya yang melingkar hitam di pergelangan tangannya.

“Luch bobok dulu yuk, besok kan masuk sekolah?” tiba-tiba saja sebuah tangan lembut membelai rambut hitam kemerah-merahan itu.

“Ibu?! Kapan ibu datang …”

“Ayah besok juga harus masuk kerja sayang … bagaimana kalau dia ngantuk di kantornya, sementara kerjaanya menumpuk? Bisa-bisa dia kena semprot pimpinannya”

Lagi-lagi lelaki itu hanya tersenyum mengangguk, melihat reaksi Luch hendak ngotot meneruskan diskusi.

“Ayah janji akan perlihatkan hal-hal menarik untukmu besok. Gimana?”

“Hemmh?” angguknya

“Assalamu’alaikum, selamat malam Ayah …”

“Wa’alaiku salam, mimpi indah anakku,”

“Klick!” layar itu padam

***

Tak seperti biasanya, kali ini pagi-pagi sekali Luch duduk di meja makan menunggu Mbok Yem menyiapkan susu dan sarapan pagi.

“Tumben kakak sudah bangun?” pikir ibunya mengkirut sesaat

“Assalamualaikum, pagi Bu”

“Waálaikum salam, kakak sudah mandi?”

“Belum, Luch lapar sejak tadi malam Bu” jawabnya mengangkat segelas susu yang baru saja diletakkan Mbok Yem.

“Apa mungkin kalau seseorang berpikir terlalu keras itu menjadikan cepat lapar ya Bu?” ujarnya memandang gelas yang telah kosong.

“Ya,”

“Kalau begitu berpikir itu obat mujarab bagi orang yang ingin diet bagi orang yang kegemukan”

Sontak tawa Mbok Yem terdengar dari balik punggung ibunya. 

Sesaat ia memandang lepas pemandangan di luar jendela yang masih sedikit gelap “Bu, mulai hari ini Luch nggak usah sekolah ya?”

“Lho …? Kenapa??”

“Luch bosan, di kelas cuma diajari nyanyi dan tepuk-tepuk”

Mbok Yem hanya tersenyum mendengarnya “Justru itu yang disenangi seusiamu …”

“Ah, kata siapa? Ya Bu??” rajuknya menggamit ujung rok perempuan muda itu

“O ya, besok ayah pulang lho …”

“Seperti Hikam aja, alihkan pembicaraan. Ya Bu?”

“Lho, benar. Ya kan Mbok?”

“Diam itu tandanya setuju. Kalau ibu nggak jawab pertanyaanku, berarti ibu setuju kalau aku nggak masuk sekolah lagi” ujarnya melirik raut perempuan dengan rok putih bercorak kembang-kembang kecil itu, tanpa berkata-kata lagi, bocah berambut hitam kemerah-merahan itu keluar dari dapur itu.

Dua orang tua itu kembali saling melirik dan mengernyitkan bibirnya.

***

Jarum jam dinding di atas ruang tamu menunjukkan pukul 11.15, detiknya yang sedikit keras menambah kesenyapan dalam keheningan siang itu, yang kemudian tiba-tiba terpecah oleh  teriakan tiga bocah dari luar halaman yang beriring suara mobil yang baru saja terhenti.

“Assalamu’alaikum …!!!” serentak suara itu membuka pintu kayu yang sedikit berat.

“Wa’alaikum salam, sayangku … gimana tadi di sekolah …” sambut perempuan muda itu membelai rambut si kembar

Tanpa berkata apapun, Luch yang selesai mencium tangan ibunya seketika lari ke ruang kerja ayahnya.

“Halo, bagaimana kabar Ayah hari ini?” serunya lewat sebuah microphone kecil di sisi speaker mini, seketika sosok  lelaki muda itu muncul dengan kemeja putih yang tengah melepas dasinya.

“Ayah sudah pulang?”

“Ya, hari ini ayah pulang lebih cepat”

“O ya, ayah ingin memperlihatkan sesuatu”

                             

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


“Kau paham apa yang Ayah maksud dengan gambar ini? Ini hanya analisa Ayah saja.”

“Klick!” Sesaat wajah lelaki muda itu muncul kembali

“Kemarin Luch pernah berkata pada ibu, bahwa bahasa itu berasal dari satu orang, iya kan?” jelas lelaki itu “Na! sekarang kita akan beranjak dari sana, orang pertama, Adam.”

“Klick!” wajah itu menghilang sesaat berganti lembaran putih berisi sederet huruf hijaiyyah, surat Al Baqoroh ayat 31 

وعَلَّمَ(الله) ءادَمَ اْلأَسْماءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰئكَةِ. فَقَالَ(الله إِلَى الْمَلٰئِكَةِ) أَنْبِؤُنِى بِأَسْمَاءِ هٰؤُلاَءِ إنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ.ٍ

Dan Dia telah mengajarkan Adam nama-nama (kata benda-kata benda) seluruhnya, kemudian memperlihatkannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: “Sebutkalah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”  

“Tapi bagaimana caranya Adam mengajarkan nama-nama benda itu kepada semua manusia seluruh dunia Ayah?” sletuk Hikam yang tiba-tiba muncul di balik punggug kakaknya dengan kaos sport asyik mempermainkan jari dalam mulutnya.

“Yah! Kamu dik, Adam itu kan manusia pertama bagaimana mungkin ada orang selain Adam saat itu”

“Sebentar Ayah, dalam ayat lain dikatakan bahwa Adam itu dulu di Surga dengan istrinya Hawa, berarti bahasanya Adam sama dengan bahasa Surga, benar begitu??” ujarnya menerawang jauh ke sudut-sudut ruang seolah ingin melanjutkan pertanyaannya.

“Al Qur’an tidak pernah menyebut kata-kata Hawa Sayang …, memang di sana dijelaskan bahwa Adam itu diturunkan ke Bumi dengan istrinya, tapi di sana tidak pernah disebutkan siapa nama Istrinya. Dalam kitab Injil perjanjian Lama memang disebut-sebut kata Eva yang penciptaannya diambilkan dari tulang rusuk Adam, tapi sejauh ini Ayah sendiri belum tahu ke-otentikan kitab tersebut. Atau … dalam beberapa hadis sendiri memang disebut-sebut kata Hawa, tapi Ayah sendiri ragu ketika ada beberapa matan Hadis yang ternyata bertentangan dengan Al Qur’an. Ini membuktikan bahwa para penyarah Hadis sendiri kurang teliti, mereka hanya melihat sanad atau siapa perawi hadis tersebut, dan tidak melihat bagaimana isi hadis itu.”

 “Sebentar Ayah, sepertinya ada yang janggal …” Jari-jari Luch tiba-tiba saja nampak sibuk membuka-buka Al Qur’an “Coba deh, lihat surat Al Baqoroh ayat 35, kasusnya saya rasa hampir sama dengan surat An Nisa ayat 1, pada kata-kata زَوْجُكَ  pada surat Al Baqoroh ayat 35, dengan  زَوْجَهَا pada surat An Nisa ayat 1, yang berasal dari kata زَوْجْ yang artinya suami. Kalau begitu berarti Adam itu perempuan, bukan laki-laki, Ayah

Kata-kata itu seolah meledak dalam kepala lelaki di balik layar itu, pandangannya berubah kaku terpaku pada deretan huruf-huruf arab itu, ia tak bisa memungkiri bahwa kata-kata anaknya memang benar, tapi bagaimana mungkin jika Adam itu benar seorang perempuan.

“Maaf sayang, Ayah belum tahu tentang hal itu”

“Tapi itu benar kan?”

“Bagaimana kalau saat ini kita pending dulu diskusinya, kita lanjutkan besok”

“Tapi ini kan masih sore Ayah, PRku sudah aku kerjakan”

“Tapi Ayah pusing sekali sayang …”

“Ayah sakit?” sletuk Hikam di balik punggung kakaknya yang masih asyik mengulum-ngulum jari manisnya.

Lelaki itu tersenyum memandang dua putranya yang masih polos.

“Insya Allah besok Ayah pulang sayang …”

“Hore!!”  teriak Hikam lari kegirangan keluar ruangan dan berteriak-teriak memberitahu kembarannya Hakim

“Baiklah …” raut Luch masih nampak kecewa dengan pertanyaannya yang belum terjawab “Ayah tidak suka dengan pertanyaan Luch tadi?”

“Oh! Tidak sayang … seharusnya Ayah katakan kalau ayah benar-benar pusing sejak tadi pagi” sanggahnya berusaha berpura-pura “Besok kita akan piknik, bagaimana?”

“Baiklah, Assalamu’alaikum Ayah”

“Wa’alaikum salam anakku …”

“Klick!” layar itu padam

Di ruang itu Luch masih berdiam diri di depan layar monitor yang telah padam.

“Kalau memang begitu kasusnya, bahwa yang dimaksud  زَوْجٌ  dalam ayat itu suami, berarti ada kemungkinan bahwa yang dimaksud نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ adalah Adam itu sendiri dan Adam berjenis perempuan, bukan laki-laki” sesaat matanya menerawang jauh di balik semak-semak pemandangan di balik jendela kamar itu “Tapi bagaimana dengan surat Ali Imran ayat 59, yang mengatakan bahwa permisalan Isa itu seperti permisalan Adam” seolah matanya menangkap sesuatu “Tapi kan itu persamaan proses penciptaan saja, bukan persamaan jenis yang diciptakan, maksudnya sama-sama lelaki atau perempuan. Aku pikir … ini masalah tanda jeda saja, coba kalau ayat ini tanpa koma  ۖ, tentu akan diartikan lain”

إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ

 Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah itu seperti permisalan Adam, Dia menciptakannya dari Thurab, kemudian Dia mengatakan kepadanya (Adam), Jadilah maka Jadilah

   “Oh! Tidak mungkin kalau tanpa tanda  ۖ, bagaimanapun ini adalah dua kalimat dalam satu ayat. Kalau begitu? … Ah?? Pusing!!” tangannya mengentak seperti orang dewasa dan lari ke kamarnya.

“”

Sampai di sini dulu, bawah ini belum jadi masih tambal sulam

 “Oke!”

“Eit?! Matikan dulu komputernya”

“Baik, Assalamuálaikum…”

“Klik!” bunyi computer di  turn off

Matanya teliti menyapu satu persatu buku-buku yang tertata rapi di atas rak berwarna abu-abu yang ditutupi kaca. Ia tak peduli mendengar tangis keras adik-adiknya bertempur dengan Mbok Yem dan Ibunya yang hendak memandikannya.

“Ah! Lagu wajib sore hari… kenapa pula anak kecil takut dengan mandi” ujarnya lirih mengambil posisi berdiri di atas meja computer berusaha meraih buku tebal dengan hard cover warna putih dan merah hati itu, di punggung buku tertempel kertas kecil berwarna pelangi bertuliskan “Heriyanto Family’s”.

“Dar!! Bug!!” buku itu meluncur membentur kaca pintu rak.

Tiba-tiba saja perempuan muda itu telah berdiri di ambang pintu ruang kerja ayahnya.

“Buku itu jatuh Ibu…” rautnya sedikit takut bercampur rasa salah.

“Kenapa tadi tidak minta ambilkan Ibu sayang…”

“Ibu pasti sedang sibuk dengan adik-adik”

“Tapi tidak seperti ini caranya sayang… bagaimana kalau kamu yang jatuh” ujarnya sambil mengangkat turun si sulung “Lain kali hati-hati…” katanya mengusap kepalanya dan meninggalkan ruangan itu dengan menenteng handuk putih kecil. 

Cepat-cepat Luch mengambil posisi duduk di sudut ruangan di atas karpet berbulu dengan meja persegi yang tak terlalu besar.

Pada halaman pertama sebuah gambar manusia mirip kera, dengan di atasnya bertuliskan Australopithecus.

Alis matanya kian berkirut-mirut saat membuka halaman demi halaman yang hampir semua menjelaskan evolusi manusia purba.

“Lalu bagaimana dengan nabi Adam yang kata ibu, dia adalah manusia pertama, mana mungkin seorang nabi mirip dengan seekor kera berbulu begini? Padahal Nabi itu kan seorang utusan Allah, masa rupanya jelek daripada aku? Ah! Buku ini bohong! Atau …” melingkarkan bola matanya seolah-olah mencari sesuatu.

“Ibu … ibu …” serunya mencari tiap sudut ruangan

“Ada apa Nak…” jawab ibunya dari ruang keluarga

“Ibu pernah berkata kalau Adam itu manusia pertama ya?”

“Ya, manusia pertama di Bumi”

“Itu ada dalam Al Qurán bukan?” 

“Ya, coba deh buka surat al Baqoroh ayat 30”

Cepat-cepat Luch pergi meninggalkan mereka, sementara Mbok Yem hanya menggeleng-gelengkan kepala.

 “Loh, ada apa dengan kata-kata Malaikat? Kenapa dia protes seperti itu? Padahal kata ibu, Malaikat itu kan makhluk yang paling tunduk dengan Allah?”

 

وعَلَّمَ(الله) ءادَمَ اْلأَسْماءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰئكَةِ. فَقَالَ(الله إِلَى الْمَلٰئِكَةِ) أَنْبِؤُنِى بِأَسْمَاءِ هٰؤُلاَءِ إنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ.ٍ

 

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (kata benda-kata benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat. lalu berfirman: “Sebutkalah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”

“Yes! Di sini kuncinya … aku ketemu, kalau begitu berarti yang pertama diajari tentang penamaan nama-nama itu nabi Adam, lalu nabi Adam mengajarkannya kepada para malaikat. Tapi bagaimana caranya nabi Adam mengajarkan semua nama-nama itu kepada manusia sedunia …? berapa tahun yang ia butuhkan untuk mengajari satu persatu orang-orang sedunia… padahal kata ibu, jaman dahulu tidak ada pesawat terbang ataupun sepeda motor …”

Ia tertegun di depan alQuran terjemah memandang lepas huruf-huruf arab yang tersusun berderet.

“Tidak seperti itu sayang …” tiba-tiba saja ibunya telah berdiri di ambang pintu dan duduk di sampingnya “Luch tahu? Kecanggihan orang-orang terdahulu itu sepuluh kali lipat orang-orang masa sekarang lho?”

“O ya Bu?”

“Coba  deh buka surat 34 ayat 45”

 

AYAT

 

“Luch bisa bayangkan, bagaimana bahtera nabi Nuh itu dibuat? Coba buka surat … Ayat …, saat terjadi taufan nabi Nuh, air memancar dari bumi, sementara hujan deras mengguyur dari langit, andai saja perahu itu bentuknya seperti perahu-perahu seperti saat ini, pasti sudah tenggelam karena hujan dari langit”

Mulutnya menganga dengan mata menerawang jauh seolah menagkap sesuatu “Pasti bentuknya seperti kapal selam, tapi Bu … kalau seperti kapal Selam mana mungkin? karena kan waktu itu nabi Nuh memanggil-manggil anaknya

"يٰبُنَىَّ إِرْكَبْ مَّعَنَا وَلاَ تَكُنْ مَّعَ الكَافِرِيْن"

Berarti harusnya ada sisi yang terbuka dong? Tidak seperti kapal selam”

“Analisa itu nanti kamu bisa tanya ke Ayah”

“Tapi Bu, sebentar … kalau memang kehebatan umat para nabi dulu itu sepuluh kali lipat dengan umat manusia saat sekarang, kenapa penelitian mengatakan kalau volume otak manusia itu semakin bertambah? Yang artinya berarti volume otak manusia dulu lebih kecil ketimbang manusia sekarang. Apa volume otak itu mempengaruhi kecerdasan?”

“Tentu, tapi untuk masalah itu ibu belum tahu”

“Kembali pada pertanyaan di atas berarti benar dong Bu, kalau nabi Adam itu mengajari umat sedunia dengan naik pesawat ataupun sepeda motor?”

Tiba-tiba saja perempuan itu tertawa lebar membayangkan imajinasi anaknya “Tidak dengan cara seperti itu sayang ...”

“Lalu?”

“Itu prosesnya alamiah ...”

“Maksudnya?”

“Sebentar, jangan kamu bayangkan bahwa pada masa nabi Adam dulu, bumi sudah dipenuhi dengan orang-orang. Karena ingat! bahwa Adam adalah manusia pertama di Bumi, kenapa ibu katakan Adam adalah manusia pertama di Bumi bukan di dunia? Karena ternyata Adam itu dilahirkan”

“Tadi bukannya Luch sudah buka surat al Baqoroh ayat 30? Kenapa di sana malaikat protes?” tambah perempuan muda itu lagi

“Nah! itu yang ingin Luch tanyakan”

“Malaikat bisa protes seperti itu, pertanda sebelumnya sudah ada makhluk yang mirip dengan manusia tapi senantiasa membuat kerusakan bumi dan menumpahkan darah, alias mereka suka berkelahi dan saling membunuh”

“Mirip? Berarti bukan manusia?”

“Yup!”

“Lalu siapa? Manusia purba ya?”

“Ya, ada praduga seperti itu, tapi coba nanti di cros cek saja antara umur dan masa nabi Adam, kemudian masa manusia homo yang moderen, yakni Homo Sapiens”

“Tadi ibu katakan kalau Adam itu dilahirkan ya? Padahal dulu ibu pernah berkata kalau Adam itu manusia pertama”

“Ya, manusia pertama di Bumi, bukan di jagad Raya, coba deh buka surat Ali Imran ayat 59”

Ayat

Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah, sama dengan perumpamaan pada Adam

“Luch tahu? Bagaimana ia diciptakan”

“Dia itu kan putranya Maryam?”

“Luch tahu siapa Maryam?”

“Tentu, kata ibu dulu, dia itu seorang perempuan yang belum pernah bersuami. Kok bisa ya Bu?” ujarnya dengan pandangan menerawang jauh, dan tetawa kecil dan menguap “Seperti cacing, Hermaprodit”

Ibu membalas senyum itu “Kakak sudah ngantuk kan?”

Bocah dengan kaos putih dan celana panjang itu lagi-lagi menguap dengan mata berkaca-kaca.

“Bobok dulu ya?”

“Ehm!” jawabnya mengangguk

Angin di luar nampaknya sedikit kencang, beberapa kali terdengar beburitan angina menghempas pepohonan di halaman belakang. Sementara Luch telah terbaring di atas ranjang, menatap kegelapan kamarnya.

“Bu, besok sebelum tidur Luch ingin dengar cerita nabi Nuh ya? Bareng adik-adik …”

“Ya sayang,”

“Tapi ibu nggak lupa kan, kalau besok ibu mau meneruskan keterangan tentang kelahiran nabi Adam”

Perempuan itu mengangguk seraya mematikan lampu kamarnya dan pergi.

“Assalamuálaikum, selamat malam ibu …”

“Waálaikum salam, selamat malam juga anakku …”

***

 

 

 

 

 

“Coba buka surat An Nisa ayat 1”

Ayat

 

Hai sekalian manusia,bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.


 

Darimana orang bisa mengatakan itu gunung, itu rumah dsb. Kenapa setiap Negara memiliki bahasa yang berbeda, dan Siapa pula yang mengajarkan bahasa-bahasa itu pada orang sedunia?

Berikut perenungan seorang bocah yang dipandu oleh seorang ayah.

Lebih menarik lagi dalam Novel ini adalah jawaban diambil dari ayat-ayat Al Qur’an melalui metode komparasi antara satu ayat dengan ayat yang lain, selain tidak mengesampingkan kamus-kamus arab seperti Lisanul ‘Arab dsb.

Dari wacana ini juga, penulis sangat mengharapkan wacana-wacana baru yang muncul baik yang bersifat menghujat, maupun membangun.

 

 

Komentar