Teka Teki Bahasa II


“Kenapa orang bisa berbicara, ma?”
“Apa yang terjadi seandainya orang tidak berbicara?” tanya Luch tiba-tiba
“Pertanyaan sederhana tapi rumit,” pikir ibunya menghentikan bacaannya

Mata bening gadis kecil dengan badan terlalu ramping itu masih terang benderang meskipun jarum jam menunjukkan pukul 00.30.
“Orang berbicara itu karena kebutuhan dia untuk berkomunikasi dengan orang lain” 
“Kenapa?”
“Ya karena Manusia itu makhluk sosial, dia butuh kawan untuk berteman. Seperti halnya Luch yang membutuhkan adik untuk bermain bersama. Kan nggak enak toh.. kalau main sendiri terus?”
Gadis usia 5tahun dengan rambut yang selalu terurai pendek itu tidak mengiyakan, melainkan matanya kembali menerawang jauh, seakan melihat film dalam pikirannya.

Matanya kembali tertuju pada pemandangan di luar kereta yang bergerak cepat seperti bayangan kilat saat melintasi perkotaan di tengah malam. 
Seperti ada yang terselip dalam benak pikirannya, ia kembali memandang wajah ibunya yang tertuju pada sebuah buku kecil.
“Lalu siapa orang pertama kali yang mengajarkan orang bicara, Ma?”
“Kenapa orang-orang di dunia itu nggak bicara sama saja dengan bahasa Indonesia? Kenapa mesti ada bahasa inggris dan bahasa arab?” 

Di tengah gencarnya dunia Internet dan melubernya informasi lewat dunia maya, si ibu memang sengaja membatasi ketiga putra putrinya dengan gadget dan tv. Mereka memiliki tv, tapi smart tv dengan tayangan anak-anak yang selalu di remote oleh ibunya. Sementara keseharian mereka lebih banyak bermain melakukan sesuatu, dari mengaduk-aduk seluruh ruangan rumah sampai halaman rumah dan belakang yang tidak berpagar itu yang ditemani si ibu sepanjang hari.

Kini pandangan matanya terhenti seperti tengah berpikir menyiapkan jawaban gadis mungilnya yang baru belajar mengenal dunia yang serba baru ini. Sementara pasangan suami-istri di depannya mulai senyum-senyum melihat pertanyaan Luch yang menggelitik.
“Itu sama halnya seperti Luch tanya, siapa yang mengajarkan nabi Adam itu bicara. Begitukah?”
“Ya!!!” teriaknya seperti tengah menemukan sesuatu dalam benak pikirannya
“Siapa Ma?”
“Ada satu ayat yang bilang begini, nih Kak…”
(2/31)
Wa Allama Aadam al asma’a kullaha

“Lalu bagaimana caranya Allah mengajarkan nama-nama itu, bagaimana kata pesawat terbang muncul, bukankah waktu itu katanya belum ada pesawat?”
“Pertanyaan yang cerdas!” cletuk ibunya yang hanya disenyumi dua orang sepasang suami istri di depannya melihat Chika senyum-senyum.
Perempuan yang masih tergolong muda itu seperti tengah mencari ide baru untuk menjawab pertanyaan itu agar mudah dicerna.
“Menurutmu, kenapa?”
“Kenapa orang bisa menyebutnya ini buku? Dan kenapa orang bisa menyebutnya ini kereta?”
“Kalau menurutmu, kira-kira apakah Allah mengajarkan semua kosa-kata itu sementara nabi Adam yang hidup di jaman itu belum mempunyai kawan lain selain pasangannya?”
“Siti Hawa?”
“Kata siapa Hawa?”
“Memangnya Allah pernah? Menyebutkan kata Hawa dalam Al Qur’an?”
“Okey… kita simpan dulu pembahasan kata Hawa, satu saat kita akan membahasnya lebih jauh”
Lagi-lagi gadis cilik dengan rambut tipis hitam itu seperti tengah ingin menemukan jawabannya di luar jendela sana yang lagi-lagi menampakkan kerlap-kerlip lampu kota dengan jalanan yang lengang. 
Sementara dari mulutnya, laki-laki di depannya seakan ingin menjawab pertanyaan ibunya Luch yang tengah menunggu jawaban darinya.
           “Bahasa itu bersifat manusiawi ya Ma?”
“Hm!” perempuan itu mengangguk dan spontan Luch berpaling kepadanya seolah ingin menyimak mengikuti percakapan itu
“Dan karena manusia itu juga memiliki akal pikiran yang terus berkembang makanya sifat bahasa juga dinamis”
“Lalu dengan burung Beo?”
“Bahasa binatang bersifat statis. Ia tidak berkembang pesat seperti manusia”
“Coba, pernah perhatikan burung Beo kan?”
“Jika dia tidak diajarkan ngomong “Kereta”, sampai kapanpun dia nggak akan mengucapkan kata itu, kan”
“Nah, kasusnya pada bayi, bukankah anak-anak juga demikian?”
“Artinya jika anak itu tidak pernah mendengar kata “kereta” dia nggak akan mengucapkan kata itu?”
“Iya, memang… itu di tahap-tahap awal”
“Tapi bagaimana coba munculnya kata “Komputer”, misal”
Entah kenapa, dialog itu berubah menjadi tiga arah antara ibu Luch dan dua pasangan suami istri di depannya. Sementara Luch kali ini hanya berusaha menyimak diskusi yang beberapa kata membuat dia agak bingung.
“Ketika ada orang yang menciptakan “Komputer” muncullah kata itu, kira-kira menurutmu darimana kata itu bisa keluar”
“Ya karena manusia punya akal pikiran, kan?! Untuk menamakan kata itu”
“Itulah yang saya tanyakan pada anakku tadi,”
“Ketika kata itu muncul dalam benak pikiran manusia, dan manusia lain meresponnya menjadi sebuah kesepakatan akan penamaan sebuah benda. Muncullah kosa kata baru, lagi dan lagi…”
Tiba-tiba Luch nyletuk,
“Jadi, menurut Mama ayat Wa’allama al adam al asmaa kullaha itu artinya bahwa Allah mengajarkan semua nama-nama itu karena dengan memberikannya bekal Akal pikiran?”
“Hm!”
“Kok??”
“Iya, karena dengan akal pikiran inilah manusia bisa menamakan semua benda-benda yang ia lihat dan yang ia ciptakan sendiri (di suatu saat kelak)”
“Kalau menurut ibu, akal pikiran itu letaknya ada dimana?” Tanya perempuan di depannya
“Otak?” tanyanya lagi
“Lalu apa bedanya otak manusia dengan otak binatang?”
“Ya Beda lah, volume otak manusia lebih besar dibanding otak binatang. Dan jaringannya lebih kompleks dan lebih rumit dibanding otak hewan” clutuk Luch sigap
“Gimana?”
Tiba-tiba saja terdengar suara petugas dari balik pengeras suara di dinding-dinding gerbong yang menadakan akan adanya pemberhentian Stasiun di depannya.
“Okey-okey! Kita akan bahas itu lagi nanti di rumah?” kata perempuan itu segera bergegas dari tempat duduknya dan menyalami kedua orang di depannya yang diikuti Luch.
Saat itulah kereta bergerak mulai lamban dan lamban hingga akhirnya mengeluarkan suara deritan panjang dan berhenti tepat di sebuah stasiun. Orang-orang mulai meninggalkan tempat duduknya dengan menjinjing barang bawaannya menuju pintu keluar. Sementara orang-orang di luar sana telah antri di depan pintu masuk gerbong menunggu para penumpang keluar dari pintu-pintu gerbong berwarna biru.
Luch yang berjalan di depan ibunya sesekali mengamati tiga orang turis di depannya dengan sesekali obrolan dengan khas gaya mereka. Begitu mereka keluar, Luch baru bisa mengamati dengan jelas ketiga orang itu dari jarak beberapa langkah darinya. Satu orang lelaki berkulit hitam legam berpotongan plontos dengan bibirnya yang sedikit agak lebar, satu lelaki bermata sipit berkulitan putih, dan satunya lagi lelaki berhidung bengkok dengan kulitnya yang putih kemerah-merahan.
Perlahan langkah kakinya mulai lambat dan tertinggal oleh ibunya yang kini telah berdiri di depan pintu keluar. Perempuan itu baru sadar jika Luch tak ada di sisinya saat ponsel nya berbunyi.
“Iya, tunggu. Kita sudah di depan pintu keluar” katanya dengan sorot matanya memburu keberadaan gadis kecil dengan jaket tebal itu.
Saat jemari mungil itu ditarik ibunya, Luch seperti baru bangun dari tidurnya. Ia tergeragap dengan sorot matanya masih terus mengawasi kepergian ketiga bule itu yang semakin menjauh pergi dengan obrolan bahasa yang tidak ia mengerti.
“Mulai lagi deh…” ujar ibunya yang sepertinya hafal dengan kebiasaan Luch yang suka berimajinasi sendiri saat melihat sesuatu yang menarik
Saat mereka keluar, seorang lelaki sudah menyambutnya dengan dua anak kecil.
“Ayah!!” seru Luch merangkul lelaki itu
Dua adiknya ini rupanya masih ngantuk, hingga keduanya hanya terdiam melihat Luch yang masih terkesiap.
@@@

“Kenapa ya Ma, orang di seluruh dunia itu ngomongnya berbeda-beda?”
“Hm?”
“Karena bangsa mereka juga berbeda-beda”
“Iya, tapi kenapa?!” suaranya agak ngotot
“Ya karena alamnya juga berbeda,”
“Iya, tapi kenapa??” kali ini nada suaranya agak ditekan
“Coba bayangkan kita yang tinggal di Negara dengan dua musim; yakni penghujan dan kemarau, Lalu dengan orang yang tinggalnya di kutub utara sana yang hanya mengenal salju, lalu beda lagi dengan orang yang tinggalnya di daerah dengan empat musim; ada musim hujan, musim salju, musim semi dan musim gugur”
“Masing-masing dari mereka mengenal benda alamnya yang berbeda. Di eropa ada banyak kata untuk salju, tapi di Indonesia hanya ada kata salju. Begitu juga di Timur tengah, mungkin ada banyak kata untuk menyebut macam-macam jenis Kurma dan Unta, tapi di Indonesia tidak”
“Bukan itu maksudku,,”
“Lalu?”
“Bukankah katanya nenek moyang manusia itu adalah Adam?”
“Harusnya kan semua orang di dunia ini akan berbicara dengan satu bahasa saja”
“Oh… itu??”
“Berarti bahasanya nabi Adam itu bahasa Surga ya Ma? Aku pernah dengar seperti itu,”
“Benarkah Surga?”
“Ehmm…?” Luch tampak sedang berpikir keras menggoyang-goyangkan kakinya di bawah meja
“Okey… kita akan bahas soal Surga nya Adam, dimana ia memakan buah khuldi dan bertemu dengan pasangannya kapan-kapan,”
“Istrinya kan? Siti Hawa ya?”
“Benar Hawa??”
“Dalam ayatnya Cuma disebutkan pasangannya saja lho… disana dikatakan zaujaha… bukan zaujatuhu”
“Okey? Kita singkirkan dulu pembahasan soal ini nanti”
“Sekarang kita bahas soal kenapa bahasa di Bumi itu jadi berbeda-beda padahal dulunya dari satu keturunan, yakni nabi Adam”
Luch mulai siap menyimak
“Masih ingat cerita banjir nabi Nuh?”
“Hm! ”

@@@




“Coba nih, baca ayat sebelumnya” tunjuk perempuan itu membuka androidnya
(2/30)
“Dan ketika Tuhanmu berkata pada Malaikat, bahwa Aku menjadikan di Bumi, kholifah. Mereka berkata “Apakah akan Engkau jadikan padanya orang yang merusak padanya dan pertumpahan darah? Sedang kami bertasbih untukMu dan mensucikanMu. Dia berfirman, Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui” ”
“Dalam ayat ini, sepertinya Allah tengah merencanakan sesuatu”
“Tapi Malaikat protes, “Kenapa toh, Kamu akan buat makhluk yang hanya bakal merusak dan saling membunuh di muka bumi”? ”
“Itu berarti sebelumnya sudah ada makhluk lain selain manusia yang kerjaannya cuma membuat keonaran dan kerusakan di Bumi. Dan Malaikat tahu itu…”
“Siapa dia?”
“Manusia Homo, Luch pernah tahu kan?”
“Yang ada di Museum Sangiran itu?”
“Ya! Betul. Itu kemungkinan praduganya Malaikat seperti itu, makanya kenapa si Malaikat protes sama Allah”
“Tapi selanjutnya kan Allah bilang tuh…”
Inniy a’lamu maa la ta’ lamuun
“Aku itu Tahu, apa yang tidak kamu ketahui…”
Seperti ada yang ingin dikatakannya gadis itu diam menatap mata ibunya,
“Ma, aku kan Tanya. Siapa yang mengajarkan manusia pertama kali bicara”
“Coba Luch pikir, siapa yang mengajari Luch bicara”
“Mama,”
“Lalu siapa yang mengajari mama bicara?”
“Ibunya Mama,”
“Lalu siapa yang mengajarkan ibunya mama bicara?”
“Ya ibunya, ibunya, ibunya….”
“Kalau begitu, kenapa semua orang di dunia bicaranya berbeda-beda? Bukankah kata Luch dulu, bahwa nenek moyangnya manusia itu Nabi Adam?”
“Ya karena mereka kan punya anak, punya anak dan buanyaakk…”
“Iya, tapi kenapa kok bicaranya berbeda-benda?”
“Ya karena mereka tinggalnya di tempat yang berbeda-beda,”
“Kenapa begitu?”
Sampai di detik itu Luch terdiam, wajahnya melengoskan pada pemandangan di luar jendela yang kini tampak gelap gulita.
“Masih ingat kisah nabi Nuh kan?”
“Hm!” Luch mengangguk
“Kira-kira, apakan nabi Nuh itu dulunya juga anaknya nabi Adam”
“Ya iyalah,”
“Kira-kira, sama nggak bahasanya nabi Adam dan bahasanya nabi Nuh?”
“Sama!”
“Masih ingat nggak, ceritanya nabi Nuh dan Banjir besar selama kurang lebih 300hari?”
“Hm!” Luch mengangguk
“Kan’an yang anaknya tenggelam bareng sama ibu nya itu kan?”
“Ya,”
“Kira-kira apakah seluruh permukaan Bumi itu tertutup sama Banjir waktu itu?”
“Nggak tahu,”
“Okey… kapan-kapan kita akan cari ayatnya yang jelaskan tentang itu ya? Ini buat PR nih,”
“”

Spontan gadis bermata bulat bening itu tertawa terkekeh geli membuat dua orang pasangan suami istri itu tersenyum seakan ingin menimpalinya.
Entah kenapa tiba-tiba ia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu
“Lalu kenapa katanya manusia itu dulunya dari seekor monyet?”
Sampai detik ini wanita dengan kemeja putih kembang itu menutup bukunya menahan kantuk “Kata siapa?” 
“Itu, waktu di museum”
“Itu baru Teori, kakak…”
“Kenapa?”
“Ya teorinya bilang begitu,”
“Ya tapi kenapa? Mereka bilang seperti itu…”
“Itu berdasarkan penemuan fosil, Kakak… mereka menyambungkan potongan tulang-tulang tengkorak, tulang rusuk dan lain sebagainya menjadi satu… lalu dianalisa dengan komputer. Kira-kira bentuk wajahnya seperti itu, jalannya juga seperti itu”
“Lalu nabi Adam?”
Lompatan tanya itu membuat ibunya berhenti berpikir, bahkan kini rasa kantuk itu hilang begitu saja. Dari hasil penelitian itu memang banyak teori berikutnya yang memprotesnya, tapi bukankah manusia Adam itu tidak diciptakan di muka bumi? Melainkan dalam ayatnya di katakan ia diciptakan di Jannah ?
“Masih ingat? Ayah suruh hafalkan ayat ini?” kata wanita itu lagi seakan ingin mengingatkan pelajarannya di rumah
Wa qulna yaa Adam’ skun anta wa zaujuka al jannata wa kula minha roghodan haitsu syi’tuma wa la taqrobaa hadhihi syajarata fatakuuna mina dhoolimiyn
“Nah, yang perlu kita garis bawahi adalah kata Jannata dan Syajarota”
“Kenapa?”
“Untuk mengetahui skenarionya Allah”
Kata Syajarota dengan memakai huruf ta’ marbutoh, itu artinya bukan pohon, melainkan pertumbuhan. Jadi “mungkin” skenarionya Allah bahwa Adam itu tidak dikembangbiakkan di sana “di Jannah” tersebut melainkan dikembangbiakkan di Bumi
“Nah sekarang apa maksud Jannata itu?”
“Benarkah Surga?”
“Coba lihat surat ini:
Qooluu robbana amattana ‘stnatayni wa ahyayna tsnatayni  fa’tarofna bi dzunuubina fahal ilaa khuruuji’ min sabiylin
“Itu yang berkata adalah orang-orang kafir, dalam ayat sebelumnya”
Dengan analisa sebagai berikut;
Analisa Mikro Kosmosnya; Bahwa manusia itu mati, kemudian dihidupkan, lalu dimatikan dan kemudian dihidupkan lagi dalam bentuk yang kekal (dalam alam akhirat)
Analisa Makro kosmosnya; Bahwa alam semesta itu awalnya tidak ada, kemudian diadakan, lalu dihancurkan, kemudian diciptakan lagi dalam bentuk yang terakhir.
“Jadi maksud Mama, bahwa Surga itu sekarang belum ada. Begitukah???”
“Dosa lho Ma…”
“Mama percaya ada Surga dan Neraka, Kak…”
“Kamu kan bisa lihat kata-kata orang kafir itu di ayat sebelumnya, yang artinya kurang lebih berbunyi begini;

Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali…
Itu berarti begini;
Mati (masa sebelum diadakan) è Hidup (Ketika hidup di dunia) è Mati (Ketika di alam kubur) è Hidup (ketika diadakannya yaumul ba’ts dan yaumul qiyamat)
“Mereka berkata seperti itu ketika mereka sudah dalam alam Neraka, sebagai bukti penyesalan ketika mereka di hidupkan. Inilah ayat-ayat futuristik, atau bocorannya Allah”
Begitulah ayat-ayat Allah menjelaskan, antara satu ayat dengan ayat yang lain saling mengunci, saling membatasi.

“Kalau begitu, kata Jannath dalam ayat itu menunjukkan apa?”
“Jannah dengan memakai kata ta’ marbuthoh di belakangnya artinya adalah kebun”
“Kebun?”
“Dimana?”
“Dimana Adam diciptakan dan dilarang mendekati Syajaroh itu dong,”
“Dimana itu?”
“Kira-kira di mana?”
Luch diam tampak berpikir keras,
“Coba lihat ayat ini”
(3/59) Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah itu seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari Turaab, kemudian berfirman kepadanya; “Adalah”, maka dia “Ada”
Lalu penjelasan tentang bagaimana Adam diciptakan;
(4/1) Wahai manusia, takwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang satu. Dan  daripadanya Allah menciptakan pasangannya;  dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan anak laki-laki dan perempuan yang banyak
 (Ayat Proses kenaikan Nabi Isa yang hampir sama dengan kasusnya dengan turunnya Nabi Adam ke Bumi)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

“Apa jangan-jangan Adam di turunkan dari planet lain?”
Ya... Bisa jadi?” kata ibunya
“Di planet mana kira-kira, Ma?”
“Merkurius, Venus, Mars...” Luch berpikir panjang
“Kamu kira, cuman dalam satu tata surya saja?”
Coba lihat surat ini...





“Sudah dulu, Kak… nanti saja di rumah”
“Jangan-jangan, mama nggak tahu ya…” tawa Luch menggelitik
Spontan pasangan suami istri di depannya ikut tertawa mendengar celoteh gadis cilik dengan rambut hitam lurus bermata bulat itu.  
“Pertanyaanmu itu ringan, Kakak… tapi rumit untuk dijawab. Bahkan Om pun nggak tahu jawabannya” jawabnya lelaki di depannya
“Sejak dulu hingga sekarang, orang masih suka memisahkan antara ilmu dengan agama”
“Apa maksudnya?” timpal Luch
“Maksudnya orang masih suka memisahkan antara apa kata Tuhan –yang di tulis lewat Al Qur’an - dengan apa kata Manusia, yang ditulis di buku-buku ilmiah”
“Bukannya ayatnya bilang sebagai petunjuk?”
“Ayatnya bilang; 
Dzalika al kitabu la roiba fiihi hudan lil muttaqin
“Itu artinya Al Qur’an itu petunjuk bagi orang yang yakin saja, kalau enggak ya tidak” jelas ibunya menyitir sebuah ayat
Dalam keseharian, Luch memang suka bertanya berbagai macam tentang hubungan sebab akibat. Bahkan waktu di WC pun akan habis berjam-jam untuk berandai-andai, jika tidak membawa buku, atau saat ibunya mulai marah. 
Begitu pula dengan saat makan dan mandi, itu adalah waktu terpanjang baginya menuntaskan imajinasinya, sebelum akhirnya ibunya mengingatkan atau terkadang saking lelahnya mengingatkan, ibunya teriak. Baru Luch seperti terbangun dari imajinasinya.


Sampai di situ Luch seperti tengah berpikir 

“Jika orang tidak berbicara, dunia bakal sepi”
Spontan Luch tertawa terkekeh menggamit lengan ibunya
“Asyik dong,”




                                                       

Komentar