Teka Teki Bahasa I


“Kenapa orang bisa berbicara, dan binatang tidak bisa ya Ma?”
"Dan kenapa juga adik bayi belum bisa bicara?"
"Lalu kenapa bahasa di dunia itu ada banyak?"
"Bukankah katanya manusia itu dari satu nenek moyang, Adam?"
"Satu-satu, Luch..."
Gadis kurus dengan mata bulat itu hanya nyengir menampakkan giginya yang berbaris putih.

"Coba kita bahas pertanyaanmu yang pertama ya..."
"Kenapa orang bisa berbicara?"
"Karena manusia diberikan organ wicara oleh Allah"
"Dari adanya rongga mulut beserta gigi dan lidahnya"
"Bukannya semua binatang juga punya gigi dan lidah?"

"Manusia diberi kemampuan untuk berbicara, karena ada dorongan untuk berinteraksi satu sama lain"
"Mereka saling membutuhkan sesama manusia untuk berinteraksi satu sama lain"
"Kenapa?"
"Apa itu makhluk sosial?"
"Makhluk sosial itu maksudnya makhluk yang selalu hidup bersama-sama"
"Dia nggak bisa berdiri sendiri"
"Aku bisa, tinggal di rumah sendiri"
"Ya... untuk berapa lama?"
"Sehari lah,"

Ibunya senyum-senyum menatap mata si mata bulat yang polos
"Lalu yang membuat rumah, yang membuatkan makanan, mengajak bicara??" pertanyaan ibunya seakan membrondong pikirannya
"Untuk membangun rumah ini, membutuhkan pak tukang kayu, tukang batu, tukang besi"
"Itu baru soal rumah, belum yang membuatkan makanan, misal saja snack ini"
"Coba bayangkan, andai tidak ada gula. Snack ini tidak akan ada rasa manis, tidak akan ada rasa keju. Ketika tidak ada peternak sapi perah" 
"Ketika manusia "
"Apa itu maksudnya makhluk sosial?"
"Makhluk sosial artinya makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri"
"Dia membutuhkan sesama manusia untuk melakukan interaksi, bertukar pikir sehingga menghasilkan sebuah ide baru"
"Nah, kumpulan dari ide-ide itulah akan menghasilkan apa yang dinamakan dengan Budaya"
"Harusnya begitu, Luch. Tapi coba kamu bayangkan, andai Adam manusia pertama kali di Bumi"
"Bukannya manusia satu-satunya di alam semesta ya, Ma?"
"Benarkah begitu??"
"Terus??"
"Coba kamu lihat ini," kata ibunya mulai menyalakan salah satu channel TV yang menyiarkan tentang live Astronot di luar angkasa.

"Alam semesta se luas itu, benarkah cuma di Bumi yang ada kehidupan?" 
"Benar juga ya, Ma?"
"Nah,"
"Terus?"

Adik Hakim dan Hikam satu saat pergi jauh ke seberang pulau. Dan di sana ketemu dengan macam-macam pepohonan dan binatang yang tidak pernah kamu lihat sebelumnya di sini"
"Apa yang pertama kali akan kamu katakan"
"Sesukaku lah,"
"Nah, sama"
"Itulah namanya gejala bahasa"
"Bahasa itu bersifat sewenang-wenang"
"Tapi nanti akan menjadi kesepatakan bersama"
"Misal coba lihat ini" kata ibunya sambil menunjukkan mainann adiknya
"Menurutmu ini namanya apa"

“Apa yang terjadi seandainya orang tidak berbicara?” tanya Luch tiba-tiba
“Pertanyaan sederhana tapi rumit,” pikir ibunya menghentikan bacaannya
Mata Luch yang bening seakan siap menerima jawaban sempurna dari ibunya yang ia pikir tahu segalanya.
“Orang bisa berbicara itu karena kebutuhan dia untuk berkomunikasi dengan orang lain” jawab ibunya
“Kenapa?”
“Ya karena Manusia itu termasuk makhluk sosial, dia butuh manusia lain”
“Kalau begitu, kenapa hewan tidak berbicara?”
Ibunya yang sementara malas berpikir panjang dan yang jelas rumit menyederhanakan sebuah jawaban hanya berkelakar.
“Kalau hewan bisa bicara, nggak ada bedanya Luch dengan seekor lalat”
Spontan gadis bermata bulat bening itu tertawa terkekeh geli membuat dua orang pasangan suami istri itu tersenyum seakan ingin menimpalinya.
Entah kenapa tiba-tiba ia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu “Lalu kenapa katanya manusia itu dulunya dari seekor monyet?”
Sampai detik ini wanita dengan kemeja putih kembang itu menutup bukunya menahan kantuk “Kata siapa?” 
“Itu, waktu di museum”
“Itu baru Teori, kakak…”
“Kenapa?”
“Ya teorinya bilang begitu,”
“Ya tapi kenapa? Mereka bilang seperti itu…”
“Itu berdasarkan penemuan fosil, Kakak… mereka menyambungkan potongan tulang-tulang tengkorak, tulang rusuk dan lain sebagainya menjadi satu… lalu dianalisa dengan komputer. Kira-kira bentuk wajahnya seperti itu, jalannya juga seperti itu”
“Lalu nabi Adam?”
Lompatan tanya itu membuat ibunya berhenti berpikir, bahkan kini rasa kantuk itu hilang begitu saja. Dari hasil penelitian itu memang banyak teori berikutnya yang memprotesnya, tapi bukankah manusia Adam itu tidak diciptakan di muka bumi? Melainkan dalam ayatnya di katakan ia diciptakan di Jannah ?
“Masih ingat? Ayah suruh hafalkan ayat ini?” kata wanita itu lagi seakan ingin mengingatkan pelajarannya di rumah
Wa qulna yaa Adam’ skun anta wa zaujuka al jannata wa kula minha roghodan haitsu syi’tuma wa la taqrobaa hadhihi syajarata fatakuuna mina dhoolimiyn [1]
“Nah, yang perlu kita garis bawahi adalah kata Jannata dan Syajarota”
“Kenapa?”
“Untuk mengetahui skenarionya Allah”
Kata Syajarota dengan memakai huruf ta’ marbutoh, itu artinya bukan pohon, melainkan pertumbuhan.[2] Jadi “mungkin” skenarionya Allah bahwa Adam itu tidak dikembangbiakkan di sana “di Jannah tersebut” melainkan dikembangbiakkan di Bumi.
Nah sekarang apa maksud Jannata itu?
Benarkah Surga?
Coba lihat surat ini:
Qooluu robbana amattana ‘stnatayni wa ahyayna tsnatayni  fa’tarofna bi dzunuubina fahal ilaa khuruuji’ min sabiylin[3]
“Itu yang berkata adalah orang-orang kafir, dalam ayat sebelumnya”
Dengan analisa sebagai berikut;
Analisa Mikro Kosmosnya; Bahwa manusia itu mati, kemudian dihidupkan, lalu dimatikan dan kemudian dihidupkan lagi dalam bentuk yang kekal (dalam alam akhirat)
Analisa Makro kosmosnya; Bahwa alam semesta itu awalnya tidak ada, kemudian diadakan, lalu dihancurkan, kemudian diciptakan lagi dalam bentuk yang terakhir.
“Jadi maksud Mama, bahwa Surga itu sekarang belum ada. Begitukah???”
“Dosa lho Ma…”
“Mama percaya ada Surga dan Neraka, Kak…”
“Kamu kan bisa lihat kata-kata orang kafir itu di ayat sebelumnya, yang artinya kurang lebih berbunyi begini;

Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali…

“Mereka berkata seperti itu ketika mereka sudah dalam alam Neraka, sebagai bukti penyesalan ketika mereka di hidupkan”
“Lalu, kalau kembali ke kata Jannah itu sendiri, apa?”
Jannah dengan memakai kata ta’ marbuthoh di belakangnya artinya[4] adalah kebun
“Kebun?”
“Kebun dimana?”
“Dimana Adam diciptakan dan dilarang mendekati Syajaroh itu dong,”
“Dimana itu?”
“Apa jangan-jangan Adam di turunkan dari planet lain?”
Ya... Bisa jadi?” kata ibunya
“Di planet mana kira-kira, Ma?”
“Merkurius, Venus, Mars...” Luch berpikir panjang
“Kamu kira, cuman dalam satu tata surya saja
Coba lihat surat ini...





“Sudah dulu, Kak… nanti saja di rumah”
“Jangan-jangan, mama nggak tahu ya…” tawa Luch menggelitik
Spontan pasangan suami istri di depannya ikut tertawa mendengar celoteh gadis cilik dengan rambut hitam lurus bermata bulat itu.  
“Pertanyaanmu itu ringan, Kakak… tapi rumit untuk dijawab. Bahkan Om pun nggak tahu jawabannya” jawabnya lelaki di depannya
“Sejak dulu hingga sekarang, orang masih suka memisahkan antara ilmu dengan agama”
“Apa maksudnya?” timpal Luch
“Maksudnya orang masih suka memisahkan antara apa kata Tuhan –yang di tulis lewat Al Qur’an - dengan apa kata Manusia, yang ditulis di buku-buku ilmiah”
“Bukannya ayatnya bilang sebagai petunjuk?”
“Ayatnya bilang; 
Dzalika al kitabu la roiba fiihi hudan lil muttaqin[5]
“Itu artinya Al Qur’an itu petunjuk bagi orang yang yakin saja, kalau enggak ya tidak” jelas ibunya menyitir sebuah ayat
Dalam keseharian, Luch memang suka bertanya berbagai macam tentang hubungan sebab akibat. Bahkan waktu di WC pun akan habis berjam-jam untuk berandai-andai, jika tidak membawa buku, atau saat ibunya mulai marah. 
Begitu pula dengan saat makan dan mandi, itu adalah waktu terpanjang baginya menuntaskan imajinasinya, sebelum akhirnya ibunya mengingatkan atau terkadang saking lelahnya mengingatkan, ibunya teriak. Baru Luch seperti terbangun dari imajinasinya.


Sampai di situ Luch seperti tengah berpikir 

“Jika orang tidak berbicara, dunia bakal sepi”
Spontan Luch tertawa terkekeh menggamit lengan ibunya
“Asyik dong,”




                                                                         


[1] Q.S Al Baqarah (2/35)
[2] Kamus Al Munjid
[3] Q.S Al Mumin (40/11)
[4] Kamus Munjid hal 102.
[5] Al Baqoroh 2/2

Komentar