Sinopsis Aku Bukan perempuan

 

Sinopsis

Aku bukan perempuan

 

Tingkahnya yang tomboy membuat teman kelasnya yang mayoritas laki-laki sedikit risih melihatnya, mereka menginginkan jika rena menjadi seorang perempuan feminin,   seperti gadis kelas lainnya yang lembut, anggun dan pengertian dengan pakaian ala perempuan lainnya. Saking kesalnya,-karena tak pernah digubris- mereka (teman laki-lakinya) sepakat merencanakan sesuatu demi merubah perilaku dan cara berpakaian rena menjadi seorang perempuan feminin.

Rena tetap tak peduli dengan rencana mereka 

Namun mereka berprasangka jika itu membuat rena kesal hingga beberapa hari tak masuk kuliah, mereka mendelegasikan hayes –teman paling dekatnya- sekedar minta maaf sambil menyodorkan sepucuk surat yang berisi tantangan membuat sebuah novel romantis. 

Hal ini sempat terfikir oleh rena berhari-hari.

“bagaimanapun aku tidak pernah jatuh cinta bagaimana mungkin aku bisa membuat novel tentang cinta?” Fikirnya suatu waktu. Hal ini terfikir olehnya berhari-hari. “benarkah aku ini perempuan normal, jika normal kenapa aku tidak pernah memiliki rasa suka pada lawan jenis?” Begitu fikirnya berhari-hari.

Di satu malam ia mimpi bertemu dengan sosok lelaki aneh yang tak asing lagi baginya, lelaki itu adalah lelaki yang sering muncul dalam tidurnya beberapa tahun silam.  

Mimpi seperti itu bukan yang pertama kalinya muncul, sementara perasaan-perasaan aneh yang dulu sering muncul kini kembali bersemi menggelayuti fikirnya seiring berjalannya waktu. Memang dulu ia merasakan ada sesuatu yang aneh di balik perasaannya waktu duduk di bangku sd, dan kelulusan itu membuat hari-harinya kian menderita karena harus pisah dengan anak lelaki tersebut. Sebagai seorang gadis kecil ia tidak tahu sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan perasaan itu, sejak itu hari-hari yang dilewatinya menjadi lebih mengerikan ketimbang keadaan sakit bagaimanapun.

Perasaan sakit, perih dan rindu terus menggerogoti hari-harinya yang kian kelabu. Awalnya ia tetap memilih menahan perasaan dan rasa sakit itu dan berusaha menguburnya dalam-dalam, namun suatu ketika ia tak tahan, karena keadaannya yang mirip dnegan orang gila, 

Dimanapun-kapanpun ia berada, dirinya selalu merasa dihantui wajah lelaki itu samar dan tak jelas, yang ia tahu pasti bahwa ia merasa benar-benar tak tahan karena selain mimpi-mimpi aneh itu bermunculan, perasaan rindu dan sakitnya semakin tak terobati.

Hayes yang dulu pernah memendam rasa suka kepadanya seketika luluh dan hancur mendengar pengakuan rena yang demikian, namun sebagai seorang sahabat, ia  tetap bersikap baik dan mengurungkan egonya untuk terus maju, apalagi sampai mengungkapkan perasaannya, meski sakit dan hancur hayes tetap bersikap baik, dan menemani hari-harinya yang kian kelabu.

Atas anjuran hayes, rena-pun memberanikan diri mengirim surat pada salah seorang teman yang tahu alamat lelaki itu, meski ia tahu jika hal itu akan membuat temannya terheran-heran dengan pernyataan surat itu.

Hari demi hari rena melewati dengan ke-pasrahan dan tetesan air mata yang selalu membuat mata membengkak, namun hayes selalu menghiburnya.

Kurang lebih satu bulan surat balasan dari lelaki itu datang dengan gaya bahasa singkat dan datar, namun keyakinannya begitu kuat jika suatu saat laki-laki itu akan menyambut cintanya, meski rena tak akan menyatakan secara lisan, namun perhatiannya terus menjerat.

Rena kaget bukan kepalang saat bertemu dan melihat keadaan fisik lelaki tersebut, tubuhnya yang kurus dan mata bulat nan keruh, tak seperti beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di bangku sd. 

Kiki, begitu panggilan akrab lelaki tersebut. Awalnya ia bersikap beku  dan sedikit geram seolah tak senang atas kehadiran dirinya, meski begitu rena tetap sabar menyelami kehidupan lelaki tersebut dan mimpi yang sering menghantuinya pun kini semakin terlihat aneh dengan segala kejadiannya.

Suatu saat rena shock mendengar pengakuan Kiki yang nadanya menantang, dan mengakuinya bahwa ia masih sering menenggak minum-minuman keras. Rena masih sabar dan terus bersabar. 

Sementara kepeduliannya pada masalah lingkungan tersebut, rena terjerat dengan keadaan keluarganya yang mengira ia  serius menjalani hubungan dengan lelaki tersebut.

Sikap Kiki yang sering kasar dan aneh pada dirinya memaksa rena untuk terus bersabar dan mencoba mengerti apa yang dialaminya “mungkin memang seperti inilah psikologi orang-orang mantan morfinis” fikirnya bersabar, dan ia berharap jika suatu saat Kiki akan benar-benar menjadi orang, dengan harapan jika suatu kelak ia menjadi suaminya akan benar-benar menjadi lelaki yang bertanggung jawab dan mampu membina keluarganya dengan baik dan menunjukkan keluarganya pada jalan yang benar.

 Meskipun seorang anak bangsawan ia lebih memilih tinggal di rumah-rumah temannya yang reyot dan kotor, karena dengannya ia akan mendapatkan ketenangan hati dan fikiran meski sejenak-sejenak masalah keluarganya akan menggelantungi fikirannya kian runyam,

Namun kini sejak kedatangan rena, Kiki tak lagi melarikan diri untuk mencoba bunuh diri dengan over dosis.

Hal ini  membuat hari-hari rena kian menderita, meski begitu ia tetap sabar dan tabah menghadapi sikap Kiki yang sering aneh dan sulit dipahami.

Teman-teman kelasnya sedikit aneh melihat gejala perubahan yang dialami pada diri rena, ia benar-benar mejadi seorang perempuan yang anggun, dewasa, sabar dan pengertian. Hal ini menjadikan beberapa temannya yang dulu sering mengolok-olok dengan ke-tomboi-annya jatuh cinta padanya. Namun rena tetap bersikukuh pada pendiriannya meskipun ia sendiri sakit dengan mencintai Kiki.

Suatu ketika Kiki jatuh sakit, dokter memvonisnya telah mengidap virus hiv positif, umurnya diperkirakan tinggal beberapa minggu, hati rena kian hancur. Sebagai anak kesayangan, ibunya meminta rena untuk tetap di sisi Kiki dan mendukung   semangatnya  menjalani hidup.

Namun Kiki sering marah-marah dan membentak-bentak rena untuk pergi dari hadapannya, karena ia tidak ingin jika masa depannya akan direnggut oleh keadaan dirinya kian tak menentu.

Kerapkali rena sakit hati dengan perkataan kasar dan menyakitkan, namun ia terus bersabar menghadapi sikapnya.

Di balik itu ternyata rena juga memiliki masalah keluarga yang cukup serius, hal ini yang membuatnya stress berat.

Awalnya ia bersikukuh untuk terus melanjutkan hubungan itu tanpa melirik sedikitpun pendapat hayes untuk mengehntikan hubungan itu, namun kini di saat masalah keluarganya meledak, ia-pun menyerah dan memutuskan untuk menghentikan hubungannya dengan Kiki.

Sejak itu ia memutuskan untuk hidup sendiri dan berteman hanya pada tuhan. 

Pagi hari rena berjalan lemah membawa sejuta roman luruh dan lelah

“aku nggak mau jadi perempuan!!” Teriak rena keras di ambang pintu kelas, semua mata tertuju padanya, mereka memandang aneh melihat penampilan rena yang berubah tomboy seperti sedia kala.

 

 

 

 

Pesan yang ingin di sampaikan:

Bahwasannya seorang perempuan tidak selamanya harus bersikap lemah lembut dalam menghadapi segala susuatu, namun bukan berarti sosok perempuan harus mampu mengalahkan segalanya termasuk menerjang kodratnya sebagai seorang perempuan. Karena sebagai manusia derajat perempuan sama dengan laki-laki, karena di sisi tuhan (sebagai sang pencipta makhluk termasuk manusia) perbedaan itu hanyalah dilihat dari sisi ketakwaan pada-nya.

 

 

Komentar