Pesta dan Hura-hura

 

Pesta dan Hura-hura

 

“Hahaha…”

Apa kau tahu? Meskipun aku ini gadis yang terkenal sedikit elegan karena sikapku yang terlalu dingin. Dan sering dielu-elukan oleh teman-temanku, terutama teman laki. Kata mereka karena aku ini cantik dan selalu berpakaian rapi.

Tapi aku ini sebenarnya tidak cukup percaya diri ikut ke sebuah Pesta.

“Kenapa?”

Karena aku takut mereka akan mengolok-olokku, baik karena pakaian yang aku pakai, maupun sikapku yang terlalu canggung di tengah keramaian.

Dulu, aku mengira kalau ini adalah hasil didikan keluarga yang sering mengolokku. Lagi-lagi aku baru menyadari, kenapa keluarga bersikap demikian. Itu karena sikap dan tingkah lakuku yang sulit dipahami mereka.

Soal Pesta, lagipula itu juga bukan budayaku. Budaya yang menurutku sekedar hura-hura, sementara banyak orang yang lebih membutuhkan dari mereka semua. Bahkan aku merasa, jika suatu saat aku menjadi orang besar pun tak akan melakukan pesta sekecil apapun hanya untuk kesenangan dan pamer apa yang telah aku punya. Melainkan lebih dari itu, aku ingin mengajak bergabung dan merasakan kesenangan apa yang sudah aku rasakan saat itu.

Untuk itulah, aku selalu mengutuknya habis-habisan acara pesta sekecil apapun.

Entah mengapa, aku selalu berpikiran bahwa acara seperti ini tidaklah cocok dengan situasi kondisi yang sebenarnya. Kondisi klise di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak di bawah garis kemiskinan.

Tapi terkadang aku merasa aneh, dan seringkali ingin berontak dengan kenyataan yang aku lihat sekarang. Dimana orang-orang yang sebenarnya secara ekonomi, kuanggap dibawah kekurangan lebih dan lebih… Tapi mereka masih bisa berhura-hura layaknya anak gedongan.

Yah… lagi-lagi aku baca sebuah penelitian di barat, bahwa masyarakat Indonesia itu lebih bisa menikmati kehidupannya tinimbang orang-orang di luar sana. Dan… “bugh!” Itu membuatku merasa terjawab juga protes dalam diri meskipun protes dalam diri masih selalu bergejolak. 

“Makanya orang Indonesia itu lambat kemajuannya” pikirku lagi

Tidak berhenti sampai di situ, anganku masih melambung kemana-mana…

“Kenapa orang Indonesia itu banyak yang Haji, bukannya masih banyak yang lebih membutuhkan?”

Lagi-lagi aku menemukan jawabannya dari ayat al Qur’an yang intinya berbunyi begini;

“”

“Hahaha….”

Tapi yang jelas aku merasa

Komentar