Perbukitan Kaliurang
Setelah bertarung mati-matian mempertahankan laporan pertanggung jawaban semalam. Dian tertidur pulas. Selesai subuh cepat-cepat ia naik ke ranjang bertingkat yang berjejer di kamar dan meringkuk dalam selimut. Tak peduli genjrengan gitar, serta suara teman-temannya bernyanyi teriak-teriak di ruang depan bawah sana.
Terdengar
alarm jam bergerit.
Sedikit
malas ia menarik selimut, mengucek-ucek matanya melongok-longok ranjang bawah. Sepi, tak ada seorangpun. Selimut dan bantal tertata
rapi di atas ranjang. Sementara barang-barang nampaknya sudah dijejalkan dalam ransel
masing-masing di atas ranjang. Hanya beberapa baju yang masih tergantung di
atas cantelan samping pintu yang sedikit terbuka.
Entah
berapa lama ia tidur, yang jelas suara gitar dan lagu-lagu pop yang mereka nyanyikan
itu lenyap. Senyap, kecuali sayup-sayup suara lelaki dan cewek di lantai bawah
terdengar lirih. Dibukanya tirai jendela balkon yang berdempetan dengan ranjang,
menjulurkan kepala keluar memastikan keberadaan orang di bawah. Tak ada
seorangpun di luar sana.
Titik-titik
air berselaput kabut tipis menempel pada kaca jendela persegi. Tampak kabut
tipis masih, Daun-daun tampak basah, meski jalanan basah Kabut tipis
menyamarkan semak-semak di luar sana, sementara daun dan rerumputan di halaman
samping rumah basah, entah embun atau
hujan, karena jalan hotmit di depan itu masih kering, meski
Cepat-cepat
ia menuruni ranjang susun itu dan keluar.
“Pagi
Nona…, baru bangun??” sapa dua cewek anak buahnya
“Iya
Nih! Gara-gara si gendut Abe itu…?! Awas loh ya… besok lagi aku tak mau datang
kalau kalian belum menyerahkan laporan itu ke aku”
“
lho, kok begitu?”
Sadar
keberadaan Kak Alfin, Dian kaget.
“Eh…
kakak…”
“Sebentar
lagi kita berangkat lho?” kata laki-laki berpawakan kurus lencir itu
“Pulang,
maksudnya…” Dian nyengir masih malu dengan seniornya. Tanpa berkata-kata lagi,
cepat-cepat ia ngeluyur masuk “Sebentar… aku ke kamar mandi dulu” Dian
garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
Langit
biru berselaput awan putih tipis benar-benar terlihat cerah. Daun-daun terlihat
basah oleh guyuran hujan semalam. Entah
berapa lama kemudian, tiba-tiba saja Dian lari tunggang langgang keluar dari
dalam.
“Brak!!”
dua daun pintu itu terdobrak.
Sepi.
Tak ada siapapun di luar.
Lagi-lagi
bulu kudu Dian merkidik seperti waktu di kamar mandi tadi. Andai saja
teman-teman cewek tak bergosip tentang keadaan villa ini semalam, pasti tak
se-takut ini.
Nafasnya
tersengal-sengal berdiri di tengah jalanan. Sepi.
Sorotan
matanya tajam, seolah menguliti tiap jengkal rumah besar itu dengan tatapan
menakutkan. Rumah berlantai dua dengan cat putih mengelupas di sana-sini, lebih
mirip rumah hantu yang tanpa berpenghuni. Pantas saja rumah sebesar ini harga
penyewaan benar-benar murah di bawah standar harga.
“Ada
sesuatu yang janggal” pikirnya mengamati lekat-lekat beberapa jendela balkon
yang terbuka, tempat di mana ia tidur semalam.
“Ah!
bodoh” pikirnya lagi mengalihkan pandangan pada perbukitan hijau kokoh
menjulang di depan mata dengan ditumbuhi semak belukar, kira-kira 25 meter dari
tempatnya berdiri, tepatnya ujung jalan ini. Lengkaplah sudah kesenyapan
beraroma misteri menyelimuti suasana pagi itu.
Sepi.
Tak ada seorangpun melewati jalan ini, karena memang jalan buntu. Dan wisma ini
adalah wisma paling ujung di antara deretan wisma lain.
Terlihat
di ujung bawah sana seorang nenek-nenek berjalan beriringan anjing berbulu
coklat lucu.
“Sudah
selesai mandinya?!”
“Dug!”
hampir saja jantungnya copot.
“Di
mana teman-teman kak?”
“Katanya
sih ke gua jepang” kata lelaki berjaket merah
itu melipat kedua tangannya ke dada.
“Jadi,
mereka naik??”
“Sepertinya
begitu,”
“Kakak
tidak ikut?”
“Aku
mengkhawatirkanmu.”
“Dug!”
seketika raut Dian memerah “Terimakasih,”
“Ada
apa tadi lari-lari?” tanyanya penasaran
“Mampus
aku!” Seketika rautnya merah padam, “Ternyata sejak tadi ada yang memperhatikan
gerak-gerikku” batinnya berdecak-decak menahan malu “Dari mana saja tadi kak?”
tanyanya lagi mengalihkan pembiocaraan.
“Kebetulan
ada teman yang nginap di wisma sebelah” nadanya datar “Kau mau menyusul naik?”
“Ehmm…
bolehlah.”
Dian
yang sejak tadi diam, tiba-tiba saja menguap. Melihat reaksi itu Kak Alfin
tersenyum tipis.
“Kenapa?”
Dian
tertawa kecil menyeka matanya yang berair menahan sisa-sisa kantuk.
“Memang
keterlaluan si Abe. Tapi biasanya ia tak sekasar itu, meski dengan teman laki. Kalau
boleh aku berpendapat, sorot matanya beda, ia tidak benar-benar marah. Dan
kabar yang beredar selesai rapat itu, Abe memang sengaja membuatmu marah”
“Apa
manfaatnya?”
“Aku
lihat, kau ini benar-benar not responding dengan teman laki-laki. Jujur
saja, sulit mengajakmu jalan berdua seperti ini”
“Apa
istimewanya?”
Alfin
tersenyum lebar “Aku kira kau ini orangnya asyik”
Dian
tertawa sinis “Memangnya kriteria asyik dan tidak asyik itu yang bagaimana?
Kalau sekedar berteman, kenapa tidak? Aku senang berteman dengan teman lelaki,
sebatas itu kewajaran”
“Maksudnya??”
“Ya…
kakak tahu sendiri hidup di kota sebesar ini memang harus super hati-hati,
apalagi seorang cewek. Aktivis, pula!”
“Tapi
tak seharusnya over protective begitu kan…?”
Dian
hanya tersenyum, senyum yang benar-benar manis “Tapi maaf, bagiku itu perlu
Kak…”
Hening.
Mereka berjalan santai menuruni jalan hotmit, melewati beberapa wisma
yang rata-rata memiliki taman atau sekedar halaman, taman berpagar kawat
persegi di persimpangan jalan, pesanggrahan tempat melihat puncak merapi,
hingga terhenti di depan loket masuk menuju Goa Jepang.
Dian
terdiam duduk di bangku lempengan besi berwarna-warni “Ya…, tolong sampaikan
maafku jika memang itu yang kalian benci dariku”
“Tidak
apa-apa, setidaknya aku paham alasanmu kenapa bersikap seperti itu”
“Perlu
kakak pahami juga, sebenarnya aku juga risih jalan berdua seperti ini. Kalau
tidak kepepet mana mungkin aku mau.” Pikirnya menawarkan senyum
Pengunjung
mulai ramai duduk-duduk di taman. Sebuah keluarga asyik bercakap-cakap di
bangku lempengan besi warna merah dan kuning, dua orang balita menangis di
depan ayunan dengan seorang ibu di depannya menyeka air mata, adapula dua orang
asyik duduk di atas batu besar. Namun semua itu hanya terlintas begitu saja di
mata Dian. Tak ada yang menarik, kecuali perasaannya yang sedang menari-nari.
Jarum
jam menunjukkan pukul 09.13 WIB, perjalanan begitu saja tanpa ada hambatan
berarti selama melewati tangga berbatu. Sedikit licin, sepatu sandal
berlapis karet tipis bermerek itu tak membuat Dian khawatir terpeleset.
Sementara Kak Alfin masih terus mengingatkannya untuk berhati-hati.
Rintik
hujan jatuh seperti rintik salju. Sesekali menggosok-gosokkan dua telapak
tangannya kian membeku. Entah sadar atau tidak perjalanan kian jauh, medan yang
ia lewati kian sulit, jalan berliku, licin dan sempit, sementara kabut kian
tebal menjadikan pemandangan satu meterpun tak nampak. Kiri jurang, dan kanan dinding
tanah menjulang dipenuhi rimbun semak-semak.
“Subhanallah!”
“Apa
Din!!” teriak Alfin cemas
“Tidak,
hanya ular…” lirih menggigit-gigit bibirnya ketakutan
Ular
seukuran pergelangan Dian itu merambat dan melingkar-lingkar pada ranting yang
melintang jalanan di depannya
“Mana?!”
suaranya tegang melongok di balik bahu Dian.
“Bagaimana,
kita lanjut?”
“Iya…
sebentar,” cegah Dian menunggu ular itu melintas pada dinding tanah.
Lagi-lagi
gumpalan kabut melintas menerabas pepohonan menjadikan pandangan sama sekali
tak nampak, bahkan Alfin yang berdiri di belakangnya berjarak lima puluh
centi-pun samar-samar.
Nampak
ujung batang kayu patah bercokol di dinding tanah, “Sepertinya aku butuh ini”
katanya cepat-cepat ditariknya dari akar yang rapuh.
“Sebaiknya
kakak jalan di depan saja.”
“Tidak,
itu terlalu berbahaya”
Dian
mengelilingkan pandangannya. Sepi.
“Aku
rasa, pulangpun tidak mungkin,”
“Apa
kita salah jalan…?” ujar Alfin
Lagi-lagi
Dian menggosok-gosokkan dua tangannya dengan gigi gemelutuk kedinginan
“Pakailah
ini” cepat-cepat Alfin melepas jaketnya bebulu halus.
“Tidak
kak, terimakasih.” Ujarnya sulit menahan giginya kian berbenturan itu.
“Pakai
saja, aku khawatir kau malah sakit nanti”
Pelan
kesunyian merayap belantara. Suara-suara binatang itu berdesing bersahut-sahutan
merebakkan aroma khas hutan tropis.
“Berapa
lama kita akan menunggu kabut ini lenyap”
“Entah,
ketemu orang-pun syukur” jawab Dian memutarkan pandangannya “Ka-k… A-gus…!!,
K-ak… Gun-tu-r…!!!! dimana kalian??!!!”
“Ode…!!!,
Putut…!!! Kau dimana!!”
Sepi.
“Tidak
ada sinyal satupun” ujar Dian menggerak-gerakkan handphone-nya
“Aduh!
hp-ku berembun lagi,” Alfin menggosok-gosok layar kecil itu
Dian
menoleh menatap sekilas wajah Alfin.
“Sepertinya
kabut mulai reda, kita lanjutkan?” katanya menengadahkan wajah, dan
memastikan keadaan sekitar.
“Ya,
tanggung sudah sampai di sini” ujarnya menantang.
“Kau
capek?”
“Tidak,
ayo semangat!” katanya menegakkan punggungnya penuh arti.
“Sebentar,
sepertinya aku perlu di depan” ujar Alfin
“Baik,”
Dian mulai merapatkan ke dinding tanah berpegang erat pada ranting pohon, sementara
Alfin mulai menyilangkan kakinya dan memastikan pijakannya agar tak meleset ke
jurang.
Jalan
itu memang sedikit miring, bahkan beberapa langkah kemudian terdapat longsoran
tanah melubangi jalan setapak. Syukur Alfin menjejakkan batangan kayu terlebih
dulu sebelum dilewatinya, sekedar memastikan jalanan itu baik dilewati.
Rasanya
kepala sedikit mulai berputar-putar, Dian menghentikan langkahnya sejenak
sebelum benar-benar merasa ngliyeng.
“Kenapa
Din,”
“Tidak,
sedikit pusing.”
“Berhenti
saja dulu”
Dian
menundukkan kepala memayungkan kepalanya seolah menyimak sesuatu.
“Kau…”
nada Alfin cemas
“Tidak
apa-apa, ayo kita lanjutkan” katanya menghentak-hentakkan kepalanya
Alfin
melirik arloji hitam yang melingkar di pergelangannya nampak berotot.
“Ah!
Siapa takut… aku pasti bisa!” senyumnya tipis
Diam-diam
sejak tadi Alfin memperhatikan gerak-gerik Dian. Meski dirinya tahu, tetap saja
tak menghiraukan itu.
Awan
gelap berarak-arakan seolah menggelantung di balik rimbunan pohon menjulang,
yang tak lama disusul angin kencang menghempas pohon beriring sentakan tajam air
curahan dari langit. Satu, dua, tiga begitu seolah irama hujan yang jatuh satu
persatu menetes cepat, cepat… dan lebih cepat, hingga seolah semua air dari
langit ditupahkan begitu saja.
“Breiss…!”
suara hujan deras.
Medan
kian sulit, jalan yang sempit, miring dan curam menurun kini ditambah licin
dan
Sepanjang
perjalanan sesekali Alfin menyanjung-nyanjung Dian, tapi ia tak ingin
terpengaruh sedikitpun dengan rayuan tersebut. Meski ia tahu, Alfin bukanlah
orang sembarangan. Ia adalah kakak senior paling kharismatik diantara
kakak-kakak senior lainnya.
“Ada
rencana S2 Kak?”
“Doakan
saja… inginnya aku tetap di Yogya, tapi kalau terpaksanya dari pusat ada
panggilan ke sana, apa boleh buat?”
“Jadi
ada rencana meloncat jadi Pengurus Besar…”
“Mohon
doanya saja… memegang amanat itu tidak mudah kok,”
Tiba-tiba
Dian teringat obrolan beberapa teman cewek di kamar semalam, yang membicarakan
hasil keputusan konferensi dua minggu lalu di kota Yogya yang masih ada
hubungannya dengan skandal intern kantor PB (Pengurus Besar) yang mencuat ke
publik, yang mana mengakibatkan harus dilakukan reshuffle kepengurusan.
Sementara dari Yogya terpilih Alfin.
Entah
bagaimana detil ceritanya dan kenapa mesti kak Alfin yang diangkat, bukan Kak
Guntur atau kak Ode yang lebih lihai dalam menganalisa permasalahan wacana
perpolitikan Negara saat ini. Namun yang jelas karena saat itu ia benar-benar
masih jengkel dengan hujatan Kak Abe yang dianggapnya sudah di luar batas
kemanusiaan.
“Awas kalau aku ketemu adikmu, pasti akan
kuhabisi dia!” gerutunya kesal teringat wajah ingar bingar Kak Abe semalam.
“Hei
kau kenapa?!”
“Ha?”
Dian terperanjat nyaris saja meleset
“Itu,
kan…?! kau pasti masih dendam dengan Kak Abe.” ujar Alfin menoleh.
Dian
tersenyum kecut.
Dibanding
kak Guntur dan kak Ode, apalagi kak Abe yang hobi debat. Kak Alfin tidak
seleting dengan mereka. Tapi entah kenapa, selama ini justru kak Alfin yang
dielu-elukan teman-teman organisasi. Bahkan kak Agus yang dijuluki Koran
berjalan dan kak Daeng yang suka mengotak-atik sejarah saat diskusi-pun sempat
memuji kak Alfin waktu diskusi di teras sekretariat. Entah, mungkin hanya Dia
yang tak tahu siapa dan darimana kak Alfin, tapi menurutnya ia biasa-biasa
saja, bahkan saat inipun. Atau… mungkin saja dirinya yang terlalu cuek hingga tak tahu menahu
bagaimana dunia itu menangis atau sekedar berbicara ngalor-ngidul.
Hujan
terlalu deras saat mereka tiba di bawah. Toko-toko sepi, meskipun para
pengunjung sebenarnya belum pada pulang, mereka hanya nampak berlindung di
depan teras kedai-kedai mereka. Berbekal payung daun pisang yang dirobeknya
dari atas tadi. Dian dan Alfin berusaha nekat menerabas hujan, bagaimanapun
keduanya harus sampai di wisma itu sebelum jarum jam menunjukkan pukul 03.00.
Alfin
yang memegangi bongkol pelepah daun pisang sedikit merapatkan badannya dengan
Dian. Sontak Dian tersentak
“Maaf,
tak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kau tidak sakit waktu tiba di kos nanti”
“Tak
apa, nyantai saja”
Terlihat
sebuah bus mini yang mesinnya belum hidup, dan beberapa motor yang terparkir
tak rapi di depan wisma, sepertinya mereka sudah persiapan akan pulang.
“Nah
lho!!! Ketahuan sekarang….!!” Sontak riuh teman-teman menyambut kedatangan
keduanya basah kuyup.
“Abe…!!
Cewekmu diembat orang…!!” teriak salah satu dari mereka, yang tak lama wajah Abe
muncul dari dalam. Ia berdiri di ambang pintu, sambil tersenyum. Entah senyum
apa, ia tak tahu yang jelas roman mukanya jelas berbeda dari biasanya.
Sementara kak Alfin yang langsung disambut omongan ini dan itu langsung
menggabung dengan gerombolan teman-teman lelaki.
Nampaknya
ada beberapa teman cewek yang kurang begitu senag waktu tahu, jaket yang
dipakai Dian adalah milik Kak Alfin.
“Weit??
Jaketnya kak Alfin ni…??”
Komentar
Posting Komentar