Mencintai lelaki dalam mimpi, ilusi alam nyata
lelaki dalam mimpi itu selalu indah, namun misterius. Ialah teman lelaki beberapa puluh tahun yang lalu, saat masih memakai baju merah putih yang tak tahu dimana keberadaannya. Bermacam cara ia mendapatkan kontak kembali, namun kenyataan pahit, tidak se tampan dalam mimpinya. Lalu siapakah lelaki dalam mimpi itu???
Dialah lelaki yang ternyata adalah mantan kekasihnya di masa sebelum dia terlahir kembali ke dunia ini. Dia membutuhkan pertolongan sang gadis untuk dipulihkan dari kehidupan gelapnya hingga menjadi manusia baik dan kembali cerah
Chapter I
Aku Bukan Perempuan
Gundukan tanah ditumbuhi rerumputan dengan batu nisan melingkar
besar persis seperti kuburan orang cina. Lelaki bertudung topi para pendaki itu
berdiri menghadap seberkas cahaya di ujung sana membelakangi keberadaanku., namun belum sempat
didekati ia-pun terbangun.
Selesai membasuh wajahnya ia duduk di depan meja, bolpoint-nya
terhenti lama di atas lembaran kertas buram.
Mimpi itu muncul akhir-akhir ini, mata itu tertuju hanya pada
satu deretan kalimat.
Kosong.
Sunyi, detak suara jam weker terus berputar
dari kanan ke kiri.
“Hakh!!”
Bolpoint itu terpelanting di atas lantai,
sementara buntalan-buntalan kertas bersebaran di sudut-sudut kamar.
Suara tangis mulai terdengar lirih.
Memang mungkin benar apa kata Ade kemarin, aku
curiga dengan diriku, jangan-jangan aku tidak normal. Tapi masalahnya beda, aku
tetap tidak bisa menyukai kak Hayes bukan berarti aku tidak normal, perasaanku
seperti ini karena ada sesuatu yang selalu menarik perasaan ini, tidak tahu
siapa dia. Sepertinya perasaanku mengenali seseorang, tapi siapa…? Siapa?!
Kepalanya berdenyut-denyut, ia menghambur
di atas kasur.
Sesaat wajah samar muncul, Rena tak tahu
persis seperti apa rautnya, namun yang jelas lelaki itu adalah teman es-de
dulu, sebagian rautnya tenggelam dalam tudung topi seolah menunggu waktu
eksekusi. Ia duduk di antara dua orang temannya di depan pintu sel LP. Seorang
pengawal bersepatu lars berdiri di sebelah kanan mereka, dari wajahnya
sepertinya orang itu kurang bersahabat.
Tiba-tiba saja terbangun oleh suara
kresek-kresek radio yang belum dimatikannya sejak sore tadi.
Ditariknya selimut tebal menekuk kedua lutut
itu ke dada, pandangan menghujam tiap sudut ruangan “topi! ya topi hitam” pikirnya keras.
Sunyi.
Dipejamkannya mata itu dalam-dalam dan
menghempaskan nafas panjang-panjang “ya, hanya itu!, aku tak ingat lagi.
Apapun!!”
“Allahu akbar!, allhu akbar!” Suara weker
melengking memecah keheningan.
Setengah tiga tepat “saatnya sholat dan
baca buku” pikirnya cepat
Seketika udara dingin menyergap ruangan
saat pintu kamar dibuka. Rena berdiri di ambang pintu, matanya melirik diatas
meja duduk.
Sebuah
buku dengan cover putih merah jambu, bergambar siluet kepala seorang
anak dengan bagian dua belah otak, hemisfer kanan dan hemisfer kiri, ia
tersenyum tipis.
Sesuatu tengah menarik perhatiannya,
matanya melirik kosong ke arah samping, tapi apa?, hampir…, hampir saja ingat!
Dan blas… hilang.
Siapa sebenarnya dia, ada apa dengan dia,
dimana saat ini, sedang apa, bagaimana kondisinya…!! benar-benar membuatnya
pusing.
Namun dari mimpi-mimpi yang selalu hadir akhir-akhir
malam ini membuatku semakin tahu siapa dia. Sebenarnya mimpi itu adalah
mimpi-mimpi yang seringkali muncul ketika ia masih duduk di bangku SMA kelas
tiga juga SMP kelas dua.
“Apakah benar itu yang namanya firasat
buruk? tak mengerti, aku tetap tak mengerti!!”
Sesaat
seorang pemuda muncul di balik kabut tipis membelakangi cahaya di ujung itu,
wajah-nya terlihat murung, namun sebelum Rena berjalan mendekatinya, tiba-tiba saja ia terbangun oleh
suara adzan, kedua lututnya tertekuk ke dada, matanya menyorot lepas ke
langit-langit kamar.
“Apa maksud mimpi itu…” piker Rena terbawa
mimpi.
Lagi-lagi angannya terbawa ke beberapa
tahun silam.
Sunyi, Sesekali dihirupnya udara
dalam-dalam, Harapnya pagi itu adalah
nuansa baru dalam hidupnya untuk mendapatkan sesuatu yang baru (ilmu).
Miris, melihat kondisi sekolahnya yang
sering terendam air bah saat musim penghujan datang. Tanah becek kecoklatan
melapisi lantai kelas dengan ubin lantai pecah-pecah.
Sengaja Rena kecil berangkat pagi, hari itu
adalah jadwal piketnya. Ruangan harus bersih saat mereka sudah datang, jika nggak
ingin tidak kena semprot teman-temannya.
Pagi itu kelas masih kosong. Seorang anak
lelaki duduk di deretan bangku paling belakang, hem putihnya disetrika licin.
Ia adalah anak pindahan dari SD lain. Rambutnya yang hitam mengkilat tersisir
rapi. Namun sesaat dua mata itu berpapasan, seketika anak lelaki itu pergi
meninggalkan ruang kelas, seperti menyimpan rasa malu.
Rena meletakkan tas-nya dan mulai menyapu.
Anak laki-laki berhidung tinggi itu berdiri
di ujung halaman sekolah, ia memperlihatkan wajahnya pada genangan air hujan.
Sorot matanya mengatakan sesuatu telah terjadi pada dirinya, tapi apa Rena tak
begitu peduli.
Teman-teman kelasnya mulai berdatangan,
mereka asyik berceloteh sepanjang jalan menuju kelas mengenakan topi merah
putih, dengan tudung mulai mbrudul.
Ibu Crist, guru muda -dengan kaca mata
bergaris hitam- baru 2 bulan mengajar di SD Inpres ini, ia menggantikan pak Agie
-guru tertua yang telah pensiun- guru tersabar dan pengertian, lebih banyak cerita
daripada pelajaran, lebih membosankan lagi jika ceritanya diulang-ulang. “Kamu harus
selalu mematuhi kata-kata gurumu” begitu salah satu pesannya terakhir sebelum
beliau meninggalkan bangku kelas. Dan sampai kini kata-kata itu masih terngiang di telinganya.
Sesaat Rena menghapus wajah, mengaburkan
lamunan sepuluh tahun yang lalu.
Sebuah foto sederet anak berpakaian merah-putih
dengan raut cerah, tergeletak di atas rak buku.
Lagi-lagi lamunan itu membawanya ke masa
silam. Penyekat kelas antara satu dengan yang lainnya telah terbuka
lebar-lebar, kursi-kursi tertata rapi dan meja-meja di depan terbungkus kain
batik dengan bunga plastik menjuntai di tengahnya, sementara musik terus
mengalun meramaikan suasana hati saat itu
Perpisahan angkatan 1994.
Meski tak mengatakannya namun terlihat
jelas kecemasan pada raut seorang gadis kecil berpakaian putih-putih yang duduk
di satu sudut ruang kelas. Matanya selalu menyorot ke luar. Sesekali ia menoleh
ke belakang dan melongok-longok ke luar jendela.
Suasana makin dipadati adik-adik kelas,
serta beberapa wali murid yang duduk di bangku deretan belakang guru.
Gelisahnya menjadi-jadi, bahkan sedikitpun tak menghiraukan teman-temannya yang
duduk berderet yang diliputi gelak tawa riang.
“Saat inilah detik-detik terakhir aku
bertemu dengannya” matanya kian teliti mengamati satu persatu wajah temannya
yang duduk berderet di sebelah. Satu persatu wali muridnya memasuki ruangan,
tapi hampir semua wajah sudah dikenalinya.
Acara telah dimulai, kepala sekolah mulai membuka acara dengan
tiga kali ketukan palu di atas bangku kecil depan panggung.
Cemas dan gelisah.
Sesaat namanya terdengar dari pengeras suara. Sebelum mengucap
salam matanya cepat menyapu ruangan kelas memburu anak lelaki itu.
Kegelisahan kian membuncah saat ia membackan pertengahan baris puisi.
Gelisah dan makin gelisah…
Kadang ia berpikir, jika sekolah libur seharipun rasanya setahun
tidak bertemu, bagaiamana ini rasanya nanti… tentu saja aku akan berpisah
dengan anak lelaki itu. Apalagi ia tidak satu desa denganku, cerita cinta
tertutup dan terpendam hanya sampai di sini. Ya! di detik-detik acara
perpisahan ini selesai… lamunannya sesaat.
Hari berlalu terasa sepi dan menyakitkan, ia tak tahu entah apa
namanya perasaan yang ia pendam, ia menganggap perasaan itu adalah perasaan
diluar batas kewajarannya sebagai seorang gadis yang baru menyelesaikan bangku
Sekolah Dasar. Yang ia tahu hanyalah jika suatu saat ia teringat anak lelaki
kecil itu jantungnya berdetak cepat.
Awal tahun masuk SMP.
Pertama kali masuk MOP ( masa orientasi pelajar) Rena duduk di
bangku pojok paling belakang dekat denagn jendela.
“Rena, dipanggil Kiki”
suara gaduh anak-anak lelaki terdengar dari luar, sekilas mereka menghilang di balik dinding.
Sesaat tubuhnya mendadak gemetar, berdebar-debar, ditambah
fikiran kacau. “apa dia tahu kalau aku disini?” Fikirnya cepat “apa diam-diam
dia juga suka padaku? dan membuntutiku sampai dia masuk sekolah ini juga” fikirnya kian melambung.
Diantara sekian ratus anak baru yang berbaju hijau putih, hanya
dua orang yang memakai baju merah putih, adalah anak lelaki dan dirinya, tapi
sekalipun ia tak pernah melihat jelas wajah itu.
Semakin hari namanya sering disebut oleh teman-teman lelaki, dan
suara gaduh itupun sering terdengar dari luar. Buntalan-buntalan kertas yang
sering dilempar dari arah deretan anak lelaki sering terbaca oleh teman-teman
perempuan, tentu saja mereka akan tersenyum pada Rena dan berkenalan dengannya,
dan ini yang membuat namanya melejit se-
almamater sekolah.
Suatu hari dengan terpaksa ia membaca salah satu buntalan kertas
itu. Kaget bukan kepalang ketika melihat sebuah nama tercetak Erick, dan bukan Kiki.
Semangat sekolah serasa berguguran dan perasaan yang melambung kini meluntur.
Setelah kejadian itu, ia berniat untuk menutup diri dari pergaulan teman
laki-laki -alias berpacaran.
Tahun-tahun berikutnya ia merasakan sesuatu aneh terjadi pada dirinya, rasa sakit dan
kangen yang begitu dalam sering datang tiba-tiba.
Kabar burung mengatakan jika anak laki-laki
itu satu almamater dengan tetangganya –yang dulu satu kelas-. Bulan-bulan
berikutnya, jika perasaan aneh itu datang, ia
akan datang ke tempat temannya itu hanya sekedar meminjam buku atau
keperluan lain, ia berharap temannya akan menceritakan kabar anak lelaki itu,
namun sedikitpun tak pernah terucap dari bibir mereka kabar tentang Kiki. Meski
demikian ia akan merasa lega meski hanya bertemu dengan mereka, dengan harapan
suatu saat akan mendengar kabar tentangnya entah kapan…,
Semenjak itu, anak lelaki tersebut selalu
muncul di tiap tidur Rena. Kata orang mimpi adalah bunga tidur, meski demikian
ia tetap berfikir jika mimpinya itu aneh. Meski begitu, ia sendiri tak pernah
tahu apa maksud mimpi-mimpi tersebut dan tak pernah tanya karena malu menceritakan
pada siapapun.
Awal SMU kelas satu, Rena hengkang ke Solo,
perasaannya semakin sakit dan mengerikan. Ia melampiaskan-nya dengan
konsentrasi pada studi. Awal masuk itu pula ia sering mendapat surat dari teman
lelaki yang se-asrama yang tak pernah dikenalinya.
Di penghujung kelas 2, Riki si teman lelaki
yang kebetulan menjadi cover boy sekolah itu sering menitipkan surat untuk Rena.
Rena berusaha kuat untuk menolaknya dan kadang dengan sikap yang sedikit tidak
wajar. Hal ini mungkin karena seringnya dibuntutinya selesai jam pelajaran
sekolah, membuatnya semakin kesal dan kesal…,
Satu saat, saking kesalnya Riki, ia
mengatakan pada salah satu teman perempuan se-asramanya jika Rena adalah
perempuan abnormal yang tidak bisa suka dengan lawan jenis. Kata itu bukannya membuat
Rena semakin lemah, justru sebaliknya ia semakin kuat membentengi diri.
Kesadaran muncul saat ia berdiam diri di
depan kaca, ia tersenyum sambil berkata “Ternyata ada benarnya mereka
menyukaiku jika ternyata aku ini memang
cantik” sejak itu ia sering berdiri di depan cermin. Namun bukannya merubah
sikapnya, ia semakin yakin akan sesuatu, jika suatu saat ia pasti akan bertemu anak lelaki impiannya, tentu saja Kiki akan
menyambut perasaan itu.
“Bum!” Selesai liburan sekolah, kabar Riki
jadian dengan teman dekatnya merebak cepat. Ia adalah Hani, gadis cerdas yang
selalu menjadi acuan teman-teman akrabnya dalam bidang studi sains.
Dan tentu saja nama Rena turun peringkat di
mata teman-teman asrama terutama asrama putri. Pun ia tak begitu peduli dengan
kabar itu, meski sedikit sakit hati karena cemooh beberapa teman perempuannya
yang mengatakan jika ia bukanlah gadis normal alias aneh!. Gimana nggak, ada
cover boy asrama ngejar-ngejar dia, eh… malah dia bersikap dingin.
Bulan demi bulan kini berlalu.
Keduanya sering Nampak asyik di kelas, baik
sekedar ngobrol atau sekedar bikin janji di depan Rena.
Kali ini rasa kangen Rena pada Kiki begitu
kuat. Meski sama sekali ia nggak pernah tahu bagaimana kabar anak itu.
3
@@@
Sepertinya seseorang memperhatikan dirinya, Rena menoleh ke
samping, seseorang menyapanya dengan senyuman tipis datang menghampirinya.
“Kenapa kau?!” tanyanya menyelidik
Rena diam memandang “Masuk apa, Kak?”
Ia tersenyum tipis menilik wajahnya yang terbenam “Hei…!”
“Nggak ada apa-apa!”
Lelaki berhidung tinggi itu tersenyum, senyuman yang tak ia sukai “Masalah apalagi tho…?”
Rena memalingkan muka tak senang, matanya tak menandakan
apa-apa, yang ia tahu hanyalah kebingungan yang entah kapan berakhir.
“Hei!”
Ia membenamkan wajahnya semakin dalam, kirut-kirut di alisnya
semakin jelas “Gadis dingin sepertiku kenapa bisa jatuh cinta dan tergila-gila
pada lelaki yang tak tahu keberadaannya. Aneh bukan?! Kalau saja aku katakan,
pasti dia akan tertawa ngakak” pikirnya melirik lelaki berbadan atlet
bulutangkis “Memalukan!” Teriaknya pahit. “Pasti kalau teman-temanku tahu,
mereka semua akan tertawa!”
Lirik Ebiet G.Ade itu selalu mebuatnya kalah dan semakin lemah,
bibirnya mulai tergerak. Lelaki itu menyambutnya dengan tatapan aneh, perlahan
ia tersenyum tipis. Lagi-lagi ia sangat membenci senyum itu, senyum yang
membuatnya merasa terdakwa dan terkalahkan dalam sebuah moment. Cengeng!.
Rena diam,
Entah darimana dan bagaimana
menceritakannya, semua itu tak pernah terjadi, ini adalah pengalaman pertamanya
yang paling menjijikkan yang membuatnya lemah dan terpuruk.
Sesuatu yang menjijikkan! Yah! membuatku lemah dan terpuruk.
Sekata demi sekata disusunnya dengan nada
suara yang berat dan ambigu, lelaki itu tersenyum melihat wajah Rena memerah
yang disusul bintik-bintik keringat di kening.
“Sejak kapan kau suka dengannya” kata itu meluncur tiba-tiba,
membuat detak jantung Rena kian meledak.
“a’- aku tak tahu”
Kak Hayes tersenyum, Rena merasa bodoh dengan senyuman itu.
“Kau masih ingat seperti apa wajahnya?”
Rena menggeleng lemah
“Kenapa kau suka dengannya?”
Menggeleng
lemah
“Eeeghf…!!,” menarik-narik bajunya
kesal “Aku kesal, kenapa mesti punya rasa dengan orang yang hanya ada dalam
mimpi”
“Kau ini aneh!” Ujarnya lirih hampir tak terdengar.
“Kapan terakhir kali kau bertemu?”
“Sejak kelulusan itu”
“Hm???” Kak Hayes mengernyitkan
alisnya aneh
“Bagaimana bisa?” kak Hayes masih heran “Dia juga suka kamu?”
Rena menggeleng lemah “Aku tak tahu, kakak jangan mendesakku
lagi!” Teriaknya menutup telinga.
Lagi-lagi ia tersenyum “Belajar mencintai orang lain, aku yakin
kau bisa”
“Andai kak Hayes di posisiku”
Kak Hayes diam tak berkutik
Sunyi…
“Kenapa tidak kirim surat?”
Lagi-lagi Rena menggeleng “Jangankan alamat rumah, kenal saja
tidak”
Riutan wajah kak Hayes semakin aneh “Bagaimana kau mencintainya?”
Ia menggeleng, sebutir bening menetes basah di pipinya
“Kakak jangan memaksaku bercerita…, rasanya sulit kukatakan”
“Hubungi lewat temanmu yang tahu alamat itu”
“Bagi kami, dia itu anak misterius. Teman-teman dekatnya saja yang
tahu alamat rumahnya, dan sekarang, kabarnya dia pindah ke luar kota”
“Kau bisa tanya pada temanmu yang memberi kabar itu, siapa tahu…”
“Memalukan!”
“Kau sendiri?! apa kau akan tetap seperti ini?”
“Perasaaan seperti ini sudah terbiasa sejak dulu”
“Kenapa sekarang tidak bisa melupakannya?”
“Dia sering muncul dalam tidurku akhir-akhir ini. Menurutku itu
mimpi aneh. Bagaimana mungkin dari mimpi-mimpi itu, seolah aku tahu perjalanan
hidupnya yang bermasalah”
“Cobalah berfikir logis, mimpi hanyalah bunga tidur”
“Ini filling Kak, bukan logika! Kenapa kakak selalu berkata
dengan logika!”
“Aku lelah kalau sekedar melupakannya… aku
benci dengan perasaanku, aku benci!!”
Kak Hayes diam menunduk sesekali melirik ke arah Rena
“Doakanlah dia…”
“Itu adalah usahaku saat ini, tapi semakin aku sering mendoakan
dia semakin sering mimpi muncul”
“Belajarlah mencintai seseorang”
“Aku tak mau membuat korban yang kesekian kali sebagai
pelampiasan. Aku tak ingin bohongi diri sendiri! Aku tak bisa menyukai
seseorang kecuali dia”
“Kau pernah curhat dengan temanmu soal ini?”
“Mana mungkin aku cerita, aku sendiri saja tak tahu apa-apa
tentang dia”
“Setidaknya sebagai curahan perasaan saja”
“Apanya yang mau dicurahkan”
Rena diam sejenak menghapus airmata, mengangkat wajah “Apa saran
kakak untukku…”
“Belajar terus menyukai orang lain, hibur pikiranmu”
“Tidak bisa!”
“Kau pasti bisa!”
Rena memalingkan wajahnya “Kau belum tahu
kak… kau belum tahu…” rautnya mendadak dingin “Aku benci lelaki itu!” kepal tangannya
menghempas udara dengan air mata terus
bergulir.
@@@
5 maret 2002
Rena terbangun oleh suara kaset yang diputar sebelumnya,
demamnya kian tinggi, matanya yang merah berair melirik ke segala arah, degup
jantung aneh, sakit dan perih.
“Apa sebenarnya yang terjadi dengan perasaanku dan anak itu… aku
tahu persis dia punya masalah, tapi apa hubungannya denganku…?” kedua lututnya
tertekuk ke dada “Apa?? kenapa?” Sementara melirik pada sepotong kertas di atas
meja.
”Tidak! mana mungkin seorang Rena kirim surat teman laki-laki,
dikata apa nanti?!”
Detak jantung itu kian cepat tak beraturan, nafas
tersengal-sengal, pikiran kacau.
“Ya Allah… kenapa perasaanku begini?! Ada apa?! Tolonglah aku
Tuhan!!!” jeritnya berulang-ulang menghentakkan bolpen terpenlanting keras.
Saat ini ia hanya menatap sudut-sudut ruangan yang kian hari
kian kacau. Terkadang adik Kak Hayes, Heni berkunjung ke kamarnya untuk sekedar
merapikan buku-buku yang berhamuran di atas lantai sembari menyalakan kipas
angin dan menambahkannya aroma therapy. Entah karena kakaknya, atau sekedar
keinginannya sendiri. Namun yang ia tahu selama ini Heni adalah anak yang baik.
Lirih syair Ebiet G Ade mengalun di balik gelombang Radio.
Sejak engkau bertemu lelaki bermata lembut
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Kau menyendiri duduk dalam gelap
Jangan hanya diam kau simpan
Dalam duduk termenung
Cinta kasih kadang datang tak terduga
Bersikaplah jujur dan terbuka
“Tidak! Aku tak boleh lemah!, aku tak boleh luluh gara-gara hal
menjijikkan ini” makinya sembari menghujani tepukan dada kuat-kuat.
Barangkali takdir telah bicara
Ia dipertunjukkan buatmu
Dan pandangan matanya khusus buatmu
Sejenak matanya menyapu ke setiap sudut
menyimak perasaannya.
Dari sorot matanya, tingkahnya,
perasaanku…,
“Tidak! tak mungkin aku suka dia, tidak
mungkin!” Teriaknya menghimpit kepala.
Mengapa harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati, kadang datang tak terduga
Bergegaslah, bangun dari mimpi
“Kenapa?! kenapa aku mesti jatuh cinta pada orang yang tak ku
kenal!”
Anggap saja takdir telah bicara
Ia datang dari langit buatmu
Dan pandangan matanya khusus buatmu…
Saat lagu terhenti, ia terdiam sesenggukan.
Perlahan tangannya gemetar menghapus air mata
dengan sedikit rasa kesal dan lemah.
Ia
merebah.
Dihirupnya nafas dalam-dalam, mata itu kembali melirik sepotong
kertas di atas meja, setengah berat diapitnya pena itu.
Berulangkali coretan itu hanya menjadi buntalan-buntalan
sampah di bawah meja. Antara logika dan perasaan terus berkelut.
Pagi hari ia menemukan bolpen itu
tergeletak di atas meja dengan sepotong kertas dan tiga deret paragraph tak
rapi.
Kejadian semalam bukanlah mimpi! Aku berani
pertaruhkan nama –sebagai gadis dingin- yang harus jaga image mau kirim surat dengan
lelaki yang tak dikenal. Dengan berbagai permohonan untuk bisa mendapatkan
alamat anak lelaki yang ada dalam tidurnya,
dengan satu alasan, kangen. Begitu inti bunyi surat.
”Terserah apa kata mereka tentangku!”
Setengah putus asa dilipatnya kertas itu
dan dimasukkannya dalam sebuah amplop putih polos.
”Ini hanyalah tanda persahabatan sejati,
tanpa perasaan apapun” katanya memandangi amplop putih tersebut.
Dilihatnya kotak pos itu lekat-lekat.
Entah apa yang ada dalam fikirannya, sorot
matanya sarat bertautan. Sementara pertarungan pikiran semakin hebat.
“Kenapa aku jadi seperti orang gila,
beginikah rasanya orang jatuh cinta yang dulu sering ku benci dengan curahan
teman-temanku yang sedang patah hati. Benarkah ini?!, benarkah ini yang namanya
jatuh cinta? kenapa mesti dia! kenapa bukan kak Hayes atau Dani?!”
Seperti ada yang menyorong sikuku, amplop tersebut
terdorong dalam lubang kotak bus surat.
Rena menganga,
Cepat-cepat ia lari menuju kantor pos
dengan harapan menghentikan surat itu terkirim, sesaat ia terhenti dengan sorot
batin bertautan.
“Eghf!!”
“Dug!” tonjokan tangannya pada dinding
kesal
@@@
7 maret 2002
“Sampai kapan malam-malam ini akan
berakhir…” lirihnya menyeka air mata
“Dug!!” lagi-lagi tonjokan itu mendarat di
tembok keras
“Kau nggak apa-apa Ren?” dua temannya melongok jendela kamar
Nyaris saja Rena melompat kaget.
“Hmm…! nggak apa-apa…” senyumnya kecut
“Hugh…!”
Hening…
Ia duduk di depan meja tulis jari-jarinya menggapit bolpoint
“Klunting!” pen itu terpelanting
Sementara di sebelah kamar, dua orang temannya tersenyum-senyum
melintangkan jarinya
“Hoi non…!, kalau garap tugas nggak usah serius-serius”
teriak-nya terdengar dari kamar sebelah
“Bodoh!, tugas apa lagi?…” gerutu Rena
“Uggh….f!!” teriaknya mengacak-acak rambutnya lurus tergerai
Terdengar ketokan pintu lagi-lagi bolpoin
dalam genggamannya terpelanting
“Siapa?”
“Aku, Kak Hayes”
Rena diam sejenak memandang pintu
“Mau apa libur-libur begini datang kak!!”
“Boleh kakak masuk?”
“Masuk saja, tidak dikunci”
Sosok lelaki berhidung tinggi itu berdiri menjulang di atas
kamarnya
“Deg!”
“Ya, seperti itu dia Egi. Persis seperti itu, topi putih…”
Delapan tahun silam.
Rena berdiri di depan rumahnya dengan lampu teras remang-remang.
Dua orang anak lelaki melintas di depan halaman rumah. Awalnya Rena hanya ingin
tahu dua anak laki-laki dengan wajah tenggelam di balik tudung topi putihnya itu
yang berjalan dengan tetangganya, Doni.
“Ren,” sapa Egi tersenyum malu.
“Hei, darimana. Gi?” ucap Rena malu setelah tahu bahwa itu
adalah Egi. Entah kenapa bola dalam apitannya tiba-tiba saja jatuh
menggelinding.
Anak lelaki berhidung bulat itu lari malu mengejar bola dengan
raut padam.
“Egi!” Doni menarik jarinya “Ini lho, ditanya Rena, bukannya kau
tanya dia tadi?”
“Plok!” kepalan kertas itu mendarat di kepalanya
“Hei!, kenapa kau senyam-senyum!”
Rena terperanjat nyaris jatuh dari ranjang
Lagi-lagi Rena tersenyum terbawa lamunan beberapa tahun yang
lalu
“Memakai baju seperti itu mengingatkanku pada sosok anak itu…”
“Siapa?”
Rena tersenyum menutup buku.
“Kenapa tidak pulang?”
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Eh, Kak!”
Hayes menoleh sekilas menatap lekat-lekat tulisan itu di depan
rak buku yang berdiri setinggi badan.
“Kakak sendiri, kenapa tidak pulang?”
“Hmm!, garap skripsi”
Tiba-tiba saja si wajah imut Heni datang dengan memakai jaket
dan helm.
“Ayo kita keluar mbak.” Tawarnya memakai sandal jepit
“Kemana?”
“Maem” kak Hayes menutup buku. “Aku pinjam ini ya…” pintanya
sembari keluar
@@@
Senja kuning ke-emas-emasan di satu jalan menuju tanah pedesaan,
dilingkupi pepohonan berdaun kuning lebat. Rena melangkah tenang
“Sebagai seorang perempuan sewajarnya aku juga bisa suka dengan
lawan jenis. Tapi perasaanku ini tak mungkin aku berikan pada orang yang tak
semestinya aku cintai…, bukan begitu?”
Mendengar kata-kata Rena, sontak Hayes menoleh, ia tersenyum
aneh menatap raut Rena yang berseri-seri menghirup dalam-dalam udara sore itu.
“Entah kenapa aku jadi semakin tergila-gila
dengannya…”
Sesekali udara menghembus dedaunan kuning berguguran menutupi
jalanan
“Semalam aku mimpi bertemu dengannya…, kakak tahu?” senyumnya
menoleh sekilas “Aku melewati jalan
ini…, ya! jalan ini”
Mendadak raut Hayes merah semu, ia tersenyum, tapi sesaat ia
menahan senyum itu. Ia tahu jika dirinya sedang ada dalam gelombang permainan
perasaan Rena.
Wajahnya yang putih kekuning-kuningan ditambah gigi kecil yang
tertata rapi terlihat saat tersenyum menengadah ke angkasa menjadikan Rena kian
ayu dengan gaun putihnya yang sederhana.
“Aku masih ingat…, dulu kami sering curi-curi pandang saat di
kelas. Kalau kepapasan kami malu dan cepat-cepat beringsut menyingkir pergi,
dan menyebut namanya adalah sesuatu yang
sulit…, bagaimanapun itu membuat perasaanku tergetar dan melambung tinggi”
“Bagaimana dengan saat ini,”
“Ya, saat ini juga” senyumnya menampakkan lesung pipitnya yang
cekung
“Berenang di sungai bersama-sama usai pelajaran sekolah…, nonton
film kartun di rumah teman bersama-sama…” tuturnya berseri-seri
“Aku masih ingat…,
wajahnya yang putih kesat dengan kulit tipis, hidung tinggi dan mata bulat,
sementara rambut selalu tersisir rapi dan seragam merah putihnya yang selalu
tersetrika rapi, jadikan aku selalu meniru gayanya, Ya!, hingga saat ini tiap
kali aku melihat sosok lelaki kurus tegap memakai topi jantungku selalu
bergetar teringat” Rena tersenyum melambung “Sepertinya dia anak mama, tiap
kali ada acara malam dia selalu diikuti lelaki dengan mobil Jeep, sepertinya dia ayahnya. Terakhir kali
kelulusan kelas yang mengambil raport kakeknya yang menjadi guru sekolah SD
kami, sampai acara perpisahan kelas-pun dia nggak ikut, kabarnya sakit parah”
sesaat Rena menyedakkan tawanya lepas. Kakak tahu? diantara semua teman
kelas-ku, yang nggak pernah berjabat tangan denganku adalah dia”
Sontak Rena tertawa lebar
“Jangankan jabat tangan, panggil namanya saja aku nggak pernah.
Ya!, dia-pun begitu denganku”
Perlahan matahari bergerak condong ke arah barat. Air sungai di
bawah jembatan sana memantulkan sinar keemasan. sesekali
“Aku juga heran kenapa bisa begini…,”
“Rasanya semua aku masih ingat, dan sepertinya baru kemarin
hari-hari itu berlalu”
Dear,
Tenagaku sedikit mulai pulih, hasil UAS
yang memuaskan!, ya! meskipun paper dan makalah yang mengerjakan adalah tangan
dan fikiran kak Hayes.
Hari berlalu, Liburan tiba,
Sepi….
Suasana kembali menikam dan terasa lebih mengerikan…
Berkali-kali perasaan perih, aneh dan
menyakitkan itu muncul di sela-sela hari-hariku. Entah apa yang harus aku lakukan
selain menunggu dan menunggu surat balasan itu datang.
Setengah pasrah aku susuri jalan jalanan Malioboro
sepanjang hari. Suasana yang ramai terasa sepi dan mengerikan membawa perasaan kian
sakit dan sakit melihat orang bergandeng tangan.
“Ah!, bedebah!!”
Sesaat ia merebahkan punggungnya. Gemetar
dan kian gemetar, detak jantung yang begitu cepat.
Perlahan keringat dingin menggelintir di
celah pori-porinya, matanya mulai terpepejam.
Dear Rena
Berlibur lama menjegahkan tentunya bagi
orag sepertiku. Apalagi jika pulang tak membaca buku satupun dari sana adalah
hal yang sangat membosankan dan menjengkelkan.
Persiapan semester mendatang adalah lebih
utama ketimbang secangkir kopi susu hangat ditambah 2 lembar roti tawar berisikan
keju ditambah stress masalah keluarga yang tak ku ketahui jluntrung
permasalahnnya.
Kali ini liburan dingin merambah otak
kepalaku kian panas, belum lagi ditambah dengan indeks prestasi turun drastis
tak seperti yang aku bayangkan… Nyerinya gigi-gigiku beradu
Jarum jam menunjukkan pukul 4 sore.
Seketika tersentak saat matanya menangkap
sebuah amplop putih terselip di bawah pintu.
Dengan sedikit harapan ia membuka surat
itu.
Ku layangkan kata demi kata lewat sepotong
kertas ini, semoga engkau tahu, bahwa ini adalah sebagai tanda bahwa engkau
tetap ada dalam hatiku, usah kuatirkan keberadaanku yang tetap setia
mengenangmu sepanjang masa.
Aku tunggu kau di kota itu, kota penuh
kenangan masa lalu kita yang sama-sama tak pernah mengerti akan apa yang akan
terjadi saat ini.
Dibiarkannya surat tergeletak di atas meja
berhari-hari. Sementara perasaannya terus berkata dan berkata.
“hah!!” Teriaknya menghempas kesal.
Segar segera merasuk fikirannya saat
wajahnya terhapus oleh air bening di kamar mandi.
@@@
Harta adalah bukan tujuan hidup, ia hanya
sekedar alat yang sewaktu-sewaktu kita tinggalkan saat impian telah tercapai.
Sudah tiga bulan ini aku berhenti dari segala aktifitasku dari membaca buku
hingga membuat tulisan. Ya! Inilah caraku melepas kepenatan selama enam bulan.
Berturut-turut bergelut dengan buku dan organisasi yang entah apa manfaatnya
semua yang aku pelajari, jika semua orang bilang bahwa belajar ilmu ini dan itu
dengan tujuan untuk ini dan itu pula prekk!!, sebenarnya mereka tak tahu, itu
hanyalah sebuah ilustrasi-ilustrasi yang telah diluruskan ke dalam otak-otak
mahasiswa yang dungu oleh dosen-dosen robot pula. Semua akan diketahui ketika
ia harus jatuh dalam sebuah kenyataan baru kali itulah manusia menikmati,
betapa manisnya buah ilmu.
Tiba-tiba lamunanya dikaburkan oleh dering telephon dari luar
kamarnya, cepat-cepat.
“hallo, siapa ini” nadanya sedikit kesal
“kau lupa suaraku?”
“maaf, tapi..” Alisnya mengernyit tanya ” kau…?” Segaris
senyuman muncul disusul lesung pipinya yang cekung, tak percaya.
“ini aku, yang kau kirimi surat”
“Kiki…?!” Perasaanya
berdebar-debar, keringat dingin keluar, seperti mimpi.
“ya,”
Sontak suara itu seperti terputus, sunyi.
“Rena, benar itu kau yang menulis?!”
“ya, kenapa”
“aku tidak percaya,”
“maaf jika itu membuatmu terganggu”
“tidak, sama sekali tidak”
“tapi… darimana kau tahu alamatku?”
“kenapa?”
“itu panjang masalahnya, ku jelaskan nanti jika kita ketemu”
“aku sempat terkejut ketika membaca
suratmu, aku benar-benar tak percaya”
Senyum Rena menahan malu,
Sunyi,
Hari-hari berlalu…
Chapter 4
Semua mata memandang pada keduanya, mereka saling melirik satu
dengan yang lain disusul senyuman yang sulit dipahami.
“kau pasti ngeri dengar kisah perjalanan hidupku” tutur Kiki gelisah
“kita seperti langit dan bumi, atau bahkan seperti minyak dan air yang tak kan
pernah bertemu”
Tak ada satu katapun yang terdorong keluar dari mulut Rena kecuali
mendengar nada Kiki pilu.
Kiki melanjutkan pengungkapannya, sementara mulut Rena beku,
roman mukanya tak ada gambaran kehidupan, matannya terpaku pada kaki-kaki meja,
yang terlihat dari lempengan kaca meja yang tembus hingga ke bawah.
Ia tak lagi mendapati sorot mata bening seperti sembilan tahun
yang dulu, entah apa yang telah terjadi pada anak itu, setidaknya ia dapat menyimak dari sorot matanya. Piker Rena
menebak-nebak sesuatu telah merubah kehidupannya.
Pertemuan ini adalah pertemuan pertama kalinya, setelah
kelulusan Sekolah Dasar, betapa banyak perubahan pada dirinya.
Keempat kawannya menemani mereka berdua. Andaipun mereka tak ada
barangkali diam adalah bahasa yang pas untuknya saat ini. Sebenarnya komunikasi mereka cukup akrab sewaktu di
telephon ataupun surat.
“kau dapat alamat rumahku dari siapa?”
Nadanya dingin tak bersahabat
Ia melirik ke arah
kawan yang memintakan alamat
rumah itu “jangan-jangan kalian kong-kalikong dengan hal ini”
“apa manfaatnya kami urusi masalah kecil
ini” tukas kawannya tak senang
“aku!” Jawab temannya
dingin dan tajam ke arah mata Kiki.
Kiki melotot “dari mana kau dapatkan alamat rumahku?” Tanyanya
dingin, dengan sedikit berkernyitan kening itu.
“dari ayahmu” jawab kawannya lagi setengah sadis, dan
menceritakan kejadian itu singkat.
Kiki memukul-mukul
kening, dengan umpatan kata-kata kecewa.
Mengapa mesti ia melakukan hal semacam itu yang dianggapnya
merendahkan Rena sebagai seorang gadis, dan
mengapa mesti ia harus begitu peduli dengan masalah kawannya yang tak
pernah dikenalinya.
Saat seperti ini yang paling tepat bagi Rena adalah diam mendengarkan
kata-kata Kiki daripada mengatakan sesuatu pada seseorang yang belum ia kenal
pasti. “apapun yang terjadi masalah ini tak boleh mengganggu konsentrasi study”
piker Rena berulangkali.
Tiap kali Rena memberikan masukan atau sekedar saran, Kiki selalu
menolak atau paling tidak ia meremehkan saran itu, seakan semua pernah ia alami.
”mungkin dunianya lebih luas ketimbang duniaku yang sekedar
dunia mainan” pikir Rena berusaha mengerti
“tidak, aku heran padahal yang tahu alamat itu hanya teman
dekatku saja yang ada di Bandung, dan saudara-saudaraku tak ada yang tahu
alamat rumahku”
Rena menenggelamkan pandangannya “maaf,” diangkatnya wajah itu “aku
menyesal kirim surat itu”
“kenapa?”
“aku tidak senang dengan introgasimu seperti itu”
“maaf, aku tak bermaksud buruk, Ren”
“tidak,”
“bukan, aku tak bermaksud apa-apa, kau jangan salah faham”
ujarnya terbata-bata.
“sebenarnya apa masalahmu? Jujur! sbenarnya
aku risih dengan mimpi-mimpiku yang hamper tiap malam muncul, yang dengan semua
itu aku mampu menebak kehidupanmu saat ini”
“biar masalah ini akan aku utarakan pada orang yang lebih
dewasa”
Petir serasa menggelegar, ia berharap masih bisa menahan
amarahnya, Rena sedikit menarik nafas dalam dan menegakkan dadanya.
“kau masih ingat waktu SD dulu, waktu…” nada Rena berusaha mengangkat
suasana yang kian buruk.
“aku tak ingat apapun!” kernyitnya
Menyakitkan, ternyata orang yang selama ini dipikirkannya
sekalipun tak pernah menghiraukan dirinya. Sesaat ia sadar, Kiki bukanlah
pemuda yang dibesarkan umumnya seorang anak.
@@@
Dearayu
Matahari malu-malu menerangi angkasa,
semburat kuning keemasan menghambur dibalik langit kelabu, udara dingin masih
terasa menusuk kuli lewati serat kain kaos sedikit berkelur. Aku masih duduk di
pintu dengan mata sedikit berbinar-binar, seakan aku reguk jagad raya ini ke
dalam sukma dan kusimpan ke dalam ingatan yang panjang.
Inilah
pertama kali kusentuh kota ini, masih seperti dulu, namun ingatan malam
itu membuat kepalaku semakin nyeri saja.
Dan esok pagi tak dapat ku elakkan
telingaku dari suara mesin pabrik kayu, las, montir mobil serta deruman
lalul-intas yang berlalu-lalang hingga sekarang. Pun demikian aku akan selalu
merindukan kampung halaman ini.
Jam dinding di sudut kamar menunjukkan pukul 00.15wib, sementara
fikirannya terus berputar-putar melesat jauh meskipun rasa ngantuk tak
tertahankan, ia masih terbawa pertemuan semalam.
Seketika ia melompat saat suara telephon berdering dari ruang
tengah, sapanya meluncur tiba-tiba dari bibirnya, tanpa basa basi suara itu
langsung menyebut nama dan menanyakan kabar, belum hilang rekaman suara itu
langsung dikepalaku saat pertama telp di kost beberapa hari yang lalu. Suara
itu parau dan kecil tapi jika diperhatikan suara itu tak berubah dari khas
suaranya dulu waktu duduk di bangku es-de.
“kau
belum tidur?”
Sunyi,
“temani aku malam ini ya…?”
Rasa kesal membuatnya ingin berontak, namun lagi-lagi ia
berusaha mengulur lebih panjang kesabarannya.
“aku harus bisa membuatnya lebih baik” pikir Rena sesaat “ya, sekalipun
aku tidak lebih baik dari dirinya, atau bahkan lebih parah darinya, tapi aku
harus bisa menujukkan siapa aku, ya! aku harus bisa!!”
“kau
kenapa diam?”
“tidak,
aku hanya ingin dengar saja”
“kau
marah?”
“sudah lupakan,”
“maaf, bukan begitu maksudku. Aku bersyukur kau kirim surat,
hanya saja aku khawatir semua familiy-ku tahu keberadaan kami dan mengusik
hidup kami lagi”
Rena melamun…
“sebenarnya nasib kita sama, kadang ingin ku peluk dia
erat-erat, kelak beban masalah itu berkurang, berubah menjadi kedamaian,
ketenangan dan kenyamanan. Andai saja kau tak ada, mungkin dunia ini lebih
mengerikan”
“i-iya!”
“kau
kenapa?”
“tidak,
aku hanya ngantuk biasa”
“kau
jangan tidur”
Rena
menghempas nafas “untung saja lidahku tidak terkilir bilang apa-apa…”
“apa?!”
Teriaknya “dengar ya bung, emang kau ini apaku?”
“katamu pedoman umat islam itu kitab suci al-qur’an, emang
al-qur’an melarang untuk berciuman, yang ada tu dilarang berzina, alias
hubungan badan yang dikhawatirkan akan lahirkan status anak haram, akupun tahu
itu”
“kau ini, bagaimana justru itu yang sebabkan hubungan intim, bodoh!,
awalnya hubungan intim adalah dari itu semua, saat berciuman detak jantung
semakin cepat, denyut jantung makin sering, kau tahu gejala itu seperti yang
dialami oleh orang yang sedang stress, saat seperti ini tak jarang orang
akhirnya jatuh dalam hubungan seks”
”tidak, tidak mungkin! aku tidak pernah melakukan
itu”
“lagi pula saat melakukan ciuman lebih dari 250 jenis virus dan
bakteri bertukar tempat dan jumlahnya bisa nyampai jutaan, jadi maaf aja kalau aku bertukar penyakit denganmu,
kalau mau mati, mati saja sendiri” jelasnya merinding “kau pernah dengar
seorang gadis berusia 17- tahun yang mati setelah melakukan aktivitas ciuman,
kau tahu penyebabnya?”
“itu
kebetulan saja mau mati, katamu takdir itu di tangan tuhan”
“bodoh!, katamu berfikir logis, ini juga logis bung, gadis itu
mati karena sebelum berciuman cowok-nya makan kacang, semantara gadis itu
alergi kacang”
“memang
kau alergi apa?”
“badanmu terlalu kurus, tentu banyak sarang penyakit” Rena tertawa
keras “jadi sori aja!”
“Hei!,
biar begini aku sehat tau?!”
“siapa
yang tanya?”
“bagaiamana
kalau aku memelukmu saja,”
“kau
pikir kau ini siapa?”
“kau
kan pacaraku,”Katanya polos
Sejenak
tawanya terdengar meledak “sejak kapan aku berikrar jadi pacarmu?”
“sejak
kirim surat, ya?! Kau mau kan jadi pacarku”
“aku
bilang tidak, ya tidak…!”
“ala…
ngaku saja lah… kau suka aku kan?”
Rena
belingsutan “eh, maaf sudah malam, aku ngantuk!”
Tawa
itu meledak puas terdengar di ujung sana, Rena menahan rasa malu.
@@@
Chapter 5
Dari jauh terlihat hijau segar berselimutkan kabut tipis
menyelimuti puncak gunung Merapi itu, sementara itu daun teh-teh-an memagari
pinggiran jalan dengan di bawah sana tanah lapang rumput hijau nan basah embun
pagi.
Sepi, sejak beberapa jam yang lalu segerombol teman-temannya
telah pergi ke bukit itu meninggalkan
wisma yang nampak dari bangunannnya menandakan bangunan tua.
Hening, perdebatan yang panjang membuat mereka lelah dan terhenti.
“Pikirkan matang-matang Ren, ini akibatnya terlalu buruk untuk
masa depanmu nanti. Bukan apa-apa aku sebagai teman Cuma nggak ingin melihat
kamu sedih nantinya, hubungan kalian sudah terlalu jauh, orang tua sudah saling
tahu, ini tidak main-main”
“Ya, sebenarnya aku juga sempat terkejut waktu acara keluarga kemarin,
semua familiy-ku tahu tentang hubungan ini, ternyata dia adalah cucu sahabat
nenekku dulu yang kebetulan juga orang tuanya adalah adik kelas ayahku. tapi
entahlah…." katanya sesaat mengaburkan lamunanya "melihat kenyataan
hidupku sendiri yang pahit, ingin sekali aku berbagi"
“Kalau sekedar membantu, kenapa mau diajak
ke rumahnya”
“Dia sering mendesakku untuk pergi, dan lagi tidak mungkin aku
bisa membantunya tanpa tahu latar
belakang keluarga yang sebenarnya”
“Setidaknya kau protec dengan diri sendiri. temanmu kan hampir semua
laki-laki, buktinya kamu bisa menjaga perasaan?"
“Cobalah mengerti satu hal” Rena menatap dingin “Bagiku dia
bukan sekedar lelaki, aku kenal betul perasaanku selama ini tentang dia, tapi
aku tak tahu harus gimana!!”
“Jadi kau suka dia?!”
lagi-lagi tatapan Rena semakin dingin
“Aku tahu ego-mu tinggi, tapi kau ini munafik, kau nggak
sakit?"
“Ya!” tatap matanya kian beku
Entah kenapa tiba-tiba raut Hayes menciut, namun rasa ego itu
tetap bertahan dalam sikapnya “Kau serius?!”
“Ya, aku menyukainya sejak dulu” tantangnya “Aku akui selama
beberapa tahun laki-laki yang aku cintai hanyalah dia”
“Tapi kau tidak bisa"
"Pada hakikatnya semua manusia sama, memiliki sisi negatif
dan positif, jadi apa salahnya kalau aku mencintai dia dan ingin hidup
dengannya"
"Sejauh itukah fikiranmu Ren?"
lagi-lagi Rena hanya menatap dalam dan semakin dalam
"Kau tahu akibat yang akan kau tanggung di hari tuamu
nanti?"
"Apapun yang aku yakini akan aku jalani dan akan ku
usahakan yang terbaik untuk diriku dan orang-orang yang ada di sekitarku"
Jika Rena sudah berkata dengan nada demikian tak seorang-pun
yang berani membantahnya, apapun alasannya.
Hening,
Lagi-lagi udara malam membawa kebekuan suasana kian kokoh.
Nampak sinar matanya perlahan mulai berkaca-kaca. “Tujuh tahun Kak! kau lihat
sendiri aku saat ini susah untuk suka pada seseorang. Aku sempat seperti orang gila hanya karena
ingin bertemu dengannya. Kau tahu itu? sakit! sakit Kak. Berapa kali aku
menghindar kejaran laki-laki, tapi sedikitpun aku tak pernah punya rasa. Untuk
itu kenapa aku bersikap tomboy, sebenarnya aku sendiri tak suka dengan sikap tomboy
seperti ini. kau tahu itu? menyedihkan!”
“Mungkin yang di atas
menunjukkmu sebagai penunjuk jalan dia” Senyum nya mulai terlihat pasrah
“Kau tahu kan?!, bagaimana kondisiku tidak
lebih baik dari dia”
“bagaimana dengan ibunya, apa dia tahu tentang agama?”
Rena menggelang malu teringat peristiwa
malam itu
“mungkin kedatanganmu adalah doa ibu yang terkabulkan, dia tidak
bisa berbuat apa-apa lagi untuknya”
“kenapa bukan kau saja”
“aku tidak pernah dihimpit masalah sepertimu, seharusnya kau
bersyukur karena dengan adanya masalah justru menambah dewasa. Aku yakin satu
saat dia akan luluh dengan kebesaranmu”
“Tuhan tidak adil, tuhan terlalu benci padaku” sorot matanya
tajam “apa ini karma-ku pada orang tua”
“Kenapa kau selalu berfikir begitu? cinta itu anugrah,
seharusnya kau bangga dengan perasaan seperti itu”
“Kalau cinta pada orang baik-baik itu anugrah, tapi kalau
mencintai mantan morfinis itu malapetaka”
“Kau ini sadar tidak?! tiap orang selalu punya masa lalu
berbeda. Mungkin dulu dia mantan morfinis besok jadi orang hebat, atau sebaliknya
aku yang seperti ini besok… na’udhu billah min dzalik”
“Keadaanku saat ini sudah terhimpit, baru tadi pagi aku di
telphon pulang untuk cuti semester gara-gara masalah ekonomi, aku harus peras
otak gimana lagi…?”
Keduanya menatap dalam,
perlahan air mata menggelintir jatuh membasahi pipi, ia memalingkan muka dengan
sedikit rasa kesal.
Kabut tipis mulai muncul di balik semak-semak, keheningan mulai
merayap suasana sore itu.
@@@
Dear
Saat Rena pulang dari yogya, ia sempat
mampir sebentar ke rumah Kiki. Hampir tak disangka keluarganya begitu jauh
berbeda dengan keluarganya, mereka saling hormat dan perhatian, mereka
menganggapnya sudah seperti keluarganya.
Jauh dari dugaan, entah apa yang Kiki
ceritakan tentang Rena, sementara Kiki yang dikenal sebagai anak jalanan, ternyata
bukanlah Kiki yang ada di keluarganya.
Sebagai anak pertama ia begitu dihormati
oleh adik-adiknya, demikian juga perilaku Kiki pada adik-adiknya. Hanya saja
dari wajahnya sedikit tersirat kepedihan menanggung beban berat ekonomi dan
masalah keluarganya kian hari kian runyam.
Jarang sekali terjadi pertengkaran antara
keduanya, bahkan bisa dibilang tidak pernah, justru masalah keluarga yang
sering membuat mereka kesal dengan diri mereka masing-masing. Meski begitu
hubungan tetap mengalir lewat pesawat kabel. Kadang Kiki yang menelphon, kadang
juga sebaliknya, tapi giliran Rena nelpon, ia lebih senang ngobrol dengan ibu
daripada dengannya. Saat seperti ini Rena menemukan sosok ibu yan ideal
bagainya, dengan ibunya ia bisa curhat layaknya ibunya sendiri, bahkan mungkin
bisa dibilang lebih dekat dengan ibunya dari pada ibu kandungnya. Layaknya anak
pertama, ibu memperlakukan Rena, begitu pula dengan adik-adiknya, semua saling
memposisikan diri masing-masing. Ia seperti menemukan keluarga baru yang lebih
harmonis ketimbang keluarganya seperti saat ini.
Namun ia sempat terkejut saat ditanya
keseriusan soal hubungan mereka.
Suatu hari Kiki hendak menjemput Rena berangkat
ke yogya, ia dikejutkan oleh sederet pertanyaan yang dilontarkan orang tua Rena
pada Kiki yang baru datang dari kota semarang, sementara Rena sengaja
menghilang ke dalam menghindar pertanyaan itu, setelah dirasa pertanyaan
selesai ia keluar pamit untuk segera berangkat.
Sepanjang perjalanan mereka diam berkelut
dengan fikiran mereka masing-masing.
“kau ditanya apa tadi sama bapak-ibu?”
Suaranya keras menghalau angin yang kian kencang
“nanti saja kalau kita sudah sampai, akan
ku ceritakan” suaranya bergumam dibalik ikatan slayer.
Rena kembali menutup kaca helm, dalam
beberapa menit roda meluncur cepat.
Pukul 08.35wib mereka tiba di kota
atlas, rumah Kiki. Adik-adiknya menyambut kedatangan mereka di teras.
Cepat-cepat mereka menyalami, bertubi-tubi pertanyaan itu datang dari mereka.
“kalian tidak sekolah?”
“libur-lah mbak, hari minggu” Hani, adiknya
kelas dua menating secangkir teh hangat
“kapan ke yogya?”
“di sini saja mbak, satu minggu lagi baru
pulang” ujar Rendra nangkring di atas motor
“gimana nanti kuliahnya?”
Adi, yang duduk di sebelah Hani menatap
polos “mbak, kuliah itu enak tidak?”
“capek tidak mbak?” Pipit memijit
punggungnya
“sekolahmu libur hari jum’at apa, Pit? kok
tidak masuk?”
“semua sekolah di semarang liburnya hari
minggu mbak”
“kembaranmu tidak pernah kemari?”
“liburan kemarin dia kemari sama nenek”
jawab gadis bermata bulat itu
“tahun baru di sini saja mbak, biar mas Kiki
yang jemput”
“iya,”
sahut Adi menggigit jari “di sini ramai lho mbak”
Rena hanya tersenyum “Di Yogya lebih ramai
dik,”
“Tapi di sini kan ada mas Kiki” senyumnya
cekung
“Di sana kan ada orang selain mas Kiki, Pit…”
sindir Hani
“kok begitu?”
Rena hanya senyam-senyum “kalian ini
kenapa?, malam tahun baru nanti mbak ada acara sama teman-teman”
“acara apa? pasti asyik ya… mahasiswa itu
enak ya mbak, bisa main-main tidak seperti
pelajar, kemana-mana selalu ditanya sama nenek”
“itu tandanya nenek sayang Hani”
Kiki yang sedari tadi menghilang kini muncul
kembali “mbak, dipanggil mas Kiki”
“ya nanti saja”
“ma’em dulu mbak,” Pipit melepas pijitannya
Hani menarik tangannya. Ternyata di ruang
makan yang bersebelahan dengan dapur, Kiki
telah menunggu di depan meja makan, ditariknya kursi di sebelah.
Hani menghilang di balik pintu ruang
tengah.
Sunyi,
“kemarin aku mimpi di rumah ini” tatapnya
ke kebun halaman belakang yang terlihat dari ruang makan “aku melihat ruang
depan dengan atap jebol sana-sini, kayu-kayunya nampak bertonjolan dipenuhi
rumah laba-laba, gelap. Tanpa jendela, hanya ada satu pintu rumah masuk, lantai
tanah dan dinding geribig dengan bambu mulai lapuk dimakan rayap. Kamar
pertama aku melihat ibu sedang melipat baju yang menumpuk, sementara adik-adik asyik bermain. Kamar itu lembab,
cahayanya remang-remang. Mereka acuh dengan kedatanganku. Kamar sebelah aku melihatmu menata seprei kamar dan
menyapku dengan senyuman sambil mengatakan beberapa kata yang tak kupahami
maksudnya. Kemudian kebun paling belakang ditumbuhi beberapa pohon pisang,
jambu dan rambutan, sebuah gubug kecil
terbuat dari bambu yang sempit berjejal wanita pramuria. Melewati jembatan
dengan curam sempit, dalam dan gelap ada sebuah gubuk kecil lagi, waktu aku
masuk sepasang orang yang sedang berhubungan terkejut melihat kedatanganku”
“kau tahu apa yang terjadi setelah itu?”
“tidak tahu persis, tapi setelah aku datang
kemari, kurang lebihnya itulah yang diisyaratkan”
“kau yakin itu?”
Pandangannya jauh “satu hal lagi yang aku
ingat dalam mimpi itu, saat itu aku berada di sebuah pelabuhan hendak
menjemputmu yang ada di kepulauan kecil jauh sana, tapi sampai di tengah-tengah
ombak semakin besar, perahu sampanku terkatung-katung hingga akhirnya aku
pasrah dan menepis pulang”
Keduanya tercenung cukup lama,
Sunyi,
“sudahlah, itu cuma mimpi biasa” Rena menghempas
“kau ditanya apa saja tadi?”
Kiki diam terpaku “nanti saja aku jelaskan,
sekarang makanlah dulu”
Perlahan Rena meneguk segelas teh di
depannya, “apa beliau menyinggung tentang kita?”
“orang tuamu memintaku secepatnya
melamarmu”
“apa?!!” Sontak air dari mulutnya muncrat
“kau kenapa?”
Ia masih belum sadar, tapi kata-kata itu
jelas terdengar
“bagaimana denganmu?”
“bagaimana apanya??”
“ini semua tergantung kau…”
“aneh, memang siapa yang akan menjalani” piker
Rena cepat “kenapa selalu saja ada cinta bertepuk sebelah tangan seperti ini,
bagaimana dengan kak Hayes, bagaimana dengan Dani?” Pandangannya terpaku pada
kepulan nasi di depan “kau sendiri bagaiamana?!”
“sudah ku katakan berkali-kali, kau pasti
menduga aku tentang hubunganku yang dulu, itu sudah terputus dua tahun kemarin”
“kau selalu datang dan pergi sesukamu,
gimana harus komitmen?”
Kiki mengernyit aneh “jadi…?”
“entahlah…”
“apa ada orang lain?”
“ya, saat ini memang ada orang selain kau,
tapi bukan berarti aku suka kan? Kau tahu sendiri, temanku kebanyakan lelaki,
bagiku mereka teman biasa, untuk itu aku ingin
kau ke yogya. Setidaknya mereka tahu syukur-syukur kalian saling kenal,
tapi kau selalu mengelak”
“aku malu teman-temanmu”
“kenapa? karena aku mahasiswa?”
“aku malu jalan denganmu, kau pasti bukan
mahasiswa biasa”
“mahasiswa yang gimana?”
“setidaknya kau punya nilai lebih dibanding
teman-temanmu, pasti mereka mengidolakanmu”
“idola?” Tawanya kecut “kau selalu
memandang dirimu lebih rendah, sadari kemampuanmu dan kau juga tidak pernah
yakin dengan dirimu sendiri, makanya kau selalu gagal, meratapi kegagalan dan
berujung keputusasaan. Itu yang aku lihat darimu, begitu dan selalu begitu”
“ceritanya nanti saja, Ki” ibunya muncul
Seketika Rena diam, keduanya berkelut
dengan pikiran masing-masing. Pandangan itu terpaku pada ibu. Melihat keduanya,
ibu semakin kikuk dan pergi.
Dari luar terdengar riuh tawa adik-adiknya.
“terus terang, saat ini aku belum berpikir
sejauh itu,”
“sama akupun begitu, tapi ibumu…”
“ibu memang selalu begitu, beliau selalu
menanyakan teman laki-laki yang datang ke rumah. Makanya aku tak pernah membolehkan teman-temanku
dating ke rumah, khususnya teman laki-laki.”
“ada benarnya sikap ibumu itu”
“saat ini yang ada dalam pikiranku adalah
secepat mungkin aku ikut wisuda, dan secepat itu aku pergi”
“bagaimana dengan kita”
“aku tidak tahu, untuk itu secepat mungkin
kau…”
“aku tidak butuh bantuanmu atau siapapun!”
nada Kiki menukik
“kalau begitu apa lebih baik kita
berhenti?”
“berhenti gimana?”
Seketika mulutnya terkatup
“tidak!” Gurat merah mulai terlihat di
wajahnya “benar apa kataku bukan”
“ini tidak ada hubungannya dengan
seseorang, ini hanya tugas”
“tugas?”
“makanya aku bingung jalan denganmu”
“kampus?”
“maaf aku tak bisa…” tatapnya dalam, ia
mengalihkan pandangannya,
“kau benar suka aku?”
Ia tersenyum datar
“Rena…”
Celoteh adiknya terdengar semakin jelas,
rupanya mereka mulai masuk di ruang
tengah. Segera Kiki beranjak pergi dengan rasa kesal. Sesampai di ruang itu
mereka terdiam, keduanya saling melirik satu sama lain, Rena tersenyum
menyambutnya.
“mas Kiki kemana mbak?”
“keluar sebentar”
“o…”
Ibunya melirik piring yang masih penuh
“aku masih kenyang, Bu” Rena mendahului
“Kiki kemana?”
“mas Kiki itu aneh, nggak datang
ditunggu-tunggu, sampai di sini malah ditinggal”
“gimana dengan kuliahmu?” Ibu duduk di
sebelahnya, adik-adiknya mulai menyebar pergi.
“baik, tapi aku sedih, proposalku di tolak
berkali-kali”
“kenapa?”
“entahlah, pikiranku sering kacau”
“bermasalah dengan teman?”
Rena diam “Jauh dari itu, aku punya masalah
serius dengan orang tuaku Bu…” pikirnya menerawang
@@@
Sepi, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh
malam. Rena di ruang tv memencet-mencet tombol remote kontrol.
“Maaf Bu, sebenarnya aku belum berpikir
sejauh itu” nada Rena berat
“Ibu tidak memaksamu cepat-cepat menikah,
tapi ibumu sendiri yang mengatakan”
“Terus terang aku bingung dengan sikap Kiki
yang begitu. Apa jadinya kalau ibu tahu kalau menantunya tidak pernah sholat” pikirnya
cepat
Ibu tersenyum teduh “Masalah itu bisa di
benahi sambil jalan, Ren”
“Maksud ibu setelah menikah?”
“Ya! Kiki memang keras kepala, dia tidak
bisa di nasehati dengan cara yang sedikit memaksa. Semua tergantung
kesabaranmu. Seperti kemarin, kalian justru saling ribut, ujung-ujungnya dia
malas bicara”
“Kok…?”
Ibu tertawa kecil “Dia satu-satunya yang
ikut ibu selama ini, jadi tahu betul karakter dan gerak-gerik dia”
Mereka terdiam pandangannya tertuju pada
layar tv
“Perasaanmu sendiri gimana? ”
“Sulit
ku ungkapkan, Bu” Rena melirik, sebentar ia tersenyum “Tapi ibu janji tidak
mengatakannya kan?”
“Ya-ya” ibu tertawa
“Jujur, sebenarnya aku suka dengannya sejak
es-de”
Ibu tertawa geli
“Kenapa?”
“Tidak, ternyata kalian saling suka, dulu
dia juga sering cerita soal kamu, dia sering memperagakan kalau kamu marah-marah
di depan kelas, gara-gara teman-temanmu tidak mau menulis, sementara kamu capek
sendirian menulis catatan dari guru di papan tulis”
Rena tersenyum geli “Ya, aku masih ingat
betul bahkan suatu hari Kiki kena sanksi berdiri di depan kelas gara-gara
kebanyakan gurau dan nggak mau menulis” sesaat wajahnya datar dan meriut aneh “Tapi aku sempat kecewa setelah
tahu kalau dia itu mantan morfinis”
“Apa?! tidak! Kiki tidak pernah memakai
itu, kalau Rendra ibu percaya”
“o…y-ya!” Rena gugup teringat kata-kata Kiki
menutup-nutupi tentangnya
“Ibu sangat berharap, ibu juga percaya
kedatanganmu dapat meluluhkan hatinya, karena setahu ibu paling lama dia
pacaran satu dua bulan, setelah itu putus dan ganti yang baru, tapi ini beda,
sepertinya dia serius, jadi tolong jangan kecewakan dia”
Keduanya saling menatap lama,
“Sabar ya anakku…” ibu merangkulnya erat-erat
@@@
Yogyakarta, 31 desember 2003
Tepat pukul dua belas siang Rena turun dari
bus jurusan yogya-semarang di terminal giwangan, dengan kepala sedikit
berdenyut ia melewati lorong pertokoan lantai dua, lantai licin nan mengkilap
membuat sepatu berdecit mengiringi langkahnya, tanpa satupun sampah yang
tercecer.
Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan
tangga dengan papan hijau kecil menggantung di atasnya bertuliskan sederet
angka-angka jalur angkutan kota. Terlihat ruang tunggu berdinding kaca dengan
garis cat biru tua di sebelah sana.
“secepat mungkin selesaikan kuliahmu karena
tahun-tahun mendatang kita akan ada panggilan ke sulawesi” kata kak Hayes
terngiang jelas saat mengantarnya pulang.
“gimana dengan Kiki…? bagaimana dengan
kata-kata ibu semalam, apa jadinya kalau ibu tahu Kiki calon menantunya adalah
mantan morfinis, apa jadinya kalau kak Hayes tahu Kiki bukan orang baik-baik…”
pandangnya lepas pada bus kota yang beruntun di mulut jalur bawah sana. Entah
kenapa tiba-tiba ia berbalik arah pada tangga di belakangnya bus jurusan wates.
Cepat-cepat ia menuruni tangga mengejar bus. Kosong. tanpa penumpang satupun
kecuali kondektur dan sopirnya yang dengan sengaja memencet-mencet klakson
terkekeh-kekeh dengan crew bus lain di luar.
Kepala semakin berdenyut oleh cuaca yang
kian menyengat. Bayangan Kak Hayes semakin jelas, harapnya secepat mungkin ia
dapat bertemu dengannya “semoga saja ia ada di kost” pikirnya menenangkan.
Nyaris ia meloncat saat sebuah jari
mengetuk punggungnya “ya pak,” Rena merogoh kantong, dan lelaki berbaju kopata
itu segera pergi.
Tepat di mulut perempatan halte, ia turun
melewati gang lebar. Nafasnya terputus-putus “ini adalah pertama kalinya aku
datang ke kost-nya, semoga saja ia tak menertawakanku” langkahnya tegap.
Sepi,
Ia menata nafasnya pelan, sekali jarinya
mengetuk.
“Siapa?” suara itu terdengar dari dalam
“aku Rena” Daun pintu seketika terbuka sempit “apa aku tidak salah lihat?”
Matanya keriyepan melongok.
“sebentar,” katanya menutup kembali pintu.
“kabar apa yang membuat tuan putri sudi datang kemari?” Katanya menyilahkan
“sori, berantakan,” katanya membereskan kertas-kertas yang bersebaran.
“mulai garap proposal?”
“nggak, cuma iseng aja”
Sunyi, detak suara jam dinding terdengar
jelas, Rena melirik sebuah tulisan yang berputar melayang-layang pada layar
komputer.
Kak Hayes melirik senyum
“Kak, tolong aku!”
“tumben kau minta tolong aku”
“serius!”
Kak Hayes mengambil dua gelas pada raknya
warna abu-abu “kau mau minum apa?”
“terserah” ujarnya gelisah
“kapan kau tiba di yogya” tatapnya
menawarkan senyum “rasanya senang sekali kau memohon bantuanku” sambil tertawa
terkekeh-kekeh.
“aku tidak main-main…” jarinya
menghentak-hentakkan lantai “tolong…!”
Ujarnya merengek seperti anak kecil “ibu mendesakku serius dengan temanku itu!”
“teman?! teman yang bagaimana?” Tawanya
mengelitik
Rena geragap, senyum Kak Hayes semakin
lebar “maksudnya kekasihmu?”
Seketika rautnya merah padam,
Kak Hayes tertawa keras “kamu ini semakin
lucu, mbok ya jangan terlalu polos begitu”
“sudah anggap saja begitu!”
“ada apa, jelaskan se-jelas-jelasnya, biar
aku tahu”
Rena mulai bercerita, sesekali matanya
berkaca-kaca, tapi ia terus menahannya, hanya suara ingusnya yang
terdengar.
“Hai! kau ini ketawa apa menangis?”
“dua-duanya” usapnya “berpura-puralah kau
ke rumah dan jadi kekasihku”
“Llho!” kernyitmya aneh “Beneran juga nggak
apa-apa…” tawanya meledak
“masalahnya saat ini…”
“kenapa? sebenarnya kau ini suka dengannya
tidak?”
“aku tidak tahu, yang jelas aku belum siap
saat ini jika dipaksa menikah dengannya”
“kenapa kau lanjutkan?”
Rena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal “kau jangan tanya aku”
“lalu tanya siapa? kucing…? Sapi apa Kebo!”
Kak Hayes semakin geli
“ya…! ya…!”
“kau ini gimana?”
“lho, kok cemberut begitu, jelek tau!”
“terserah, pokoknya aku minta tolong!”
Kak Hayes diam, pandangan Rena jatuh pada
pangkuan, mulutnya seperti tengah menyusun kata-kata
“kenapa dulu kamu tidak hati-hati, sudah
aku peringatkan bukan? Kalau kamu benar suka dengannya kenapa tidak lanjutkan
saja?”
“kalau aku nikah dengannya gimana dengan
tugas ini?” Tatap Rena dalam “satu sisi aku mencintainya sisi lain aku cinta
negri ini dan merasa tanggung jawab dengan janjiku pada tugas itu”
“sekarang kau pilih mana?” Nadanya
menantang
“kenapa tanya seperti itu?”
“kamu ini membuatku bingung, kalau kau suka
dia kenapa nggak dijalani aja?”
“waktu kita sudah dekat, kita dituntut
tenaga dan pikiran dari kampus. Sisi lain ibu mendesakku serius dengan dia”
“terserah kau?!” Nadanya kecut “kenapa sih,
selalu menghubung-hubungkan masalah ini dengan masalah yang lain”
“kau ini gimana?! jelas-jelas fakultas
menunjuk kita. Kita ini beruntung Kak!”
Digaruk-garuknya kepala “sudahlah, jangan
hiraukan urusan tugas nanti”
Sunyi,
Kak Hayes beranjak dan berdiri di ambang
pintu “daripada kita pusing dengan masalah itu gimana kalau denganku?! Aku
siap!”
“sama halnya keluar kandang macan, masuk
kandang serigala” katanya segera beranjak
“Hei!! dengar dulu penjelasanku”
“Tidak!”
“lalu kau ini suka siapa?”
“tidak tahu, kau jangan mendesakku seperti
itu”
“aneh, jangan-jangan…”
“aku normal!!” Teriak Rena keras
menghujamkan kepalan tangannya
Rena tertawa keras “siapa yang bilang kau
gila?”
“hmgh…”
“duduk dulu lah…”
“Ayo! antar aku pulang, sore begini
angkutan sudah tidak ada yang lewat”
“kau tidak takut serigala?” Selidiknya geli
“dalam keadaan mendesak seperti ini, tak
apalah serigala jadi teman sebentar” Rena mengulum tawa
“lalu gimana dengan permohonanmu?”
“dispensasi waktu”
“lho?!” Kak Hayes geli
“Iya! Karena kalau ada orang lain, lebih
baik minta bantuan orang lain saja”
“kalau tidak?” Cegatnya
“terpaksa aku terima jasamu, dengan satu
catatan. Kakak tidak boleh datang ke kampus-ku lagi”
“Hei-hei!, jadwalku hari sabtu ingat itu!”
“aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!”
“kau mau datang ke tempat itu sendiri?”
Rena terdiam “hanya untuk hari itu, tidak
dengan hari lain” ia menoleh ke arahnya “o ya! Dan tolong hapus tulisan di
komputermu itu” tunjuknya pada layar komputer.
Dani tertawa “itu kan komputerku, kenapa
kamu melarangnya”
“tapi itu namaku, hak paten punyaku kau
nggak boleh menulis tanpa seijin yang berwenang”
“uh!..uh!... sebegitunya…”
Chapter 6
Semarang, 3 februari 2004
Sepi,
sesekali kendaraaan melintasi depan halaman rumah, dan beberapa orang tegur
sapa pada Kiki.
“Ren,
ibu pergi kondangan“ ibu menutup pintu memakai helm. Lagi-lagi perempuan paruh
baya itu tersenyum. Sementara di luar mas
Fajar, -bujang tua- itu menunggunya di depan pintu. Saat beranjak pergi. Senyum yang tak dapat
dimengerti sejak dulu.
Ibu berpakaian sedikit menonjolkan lekuk
–lekuk tubuhnya. Wajah dan sorot mata keduanya
gersang dan kering.
Lampu teras rumah terlalu terang. Kiki
memadamkannya.
Gelap.
“orang pasti mengira kita yang tidak-tidak”
Kiki kembali duduk di sebelah Rena.
“kamu tidak ngantuk? tidur di dalam sana”
“ngantuk seperti apapun aku takkan tidur”
pikirnya sesaat “Aku tak akan terlena, selagi kau ada di sini
ngeri…!”
“macam-macam, pikiranmu itu yang kotor…”
nadanya ketus “kalau ada niatan sudah dari dulu” pandangnya lurus gurat,
sekilas tatapannya sedih “rasanya baru kemarin seorang datang mengajakku pergi,
waktu itu aku baru fly dengan teman-teman. Sekalipun aku tak mau, dia
tetap menungguku sampai jam 1 malam. Kau tahu? andai saja aku mau, sekarang aku sudah punya anak…” tawanya
getir.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lebih,
jalanan mulai sepi tak satupun kendaraan melintas, lampu-lampu depan rumah
redup menerangi deretan rumah kecil yang sedikit menjorok ke dalam,
matarenasrenatersapu udara malam yang kian berat.
Kiki muncul membawakan selimut dan
menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam.
“kau mau pakai ini?” Sodornya bantal kecil
lepek
“lebih baik tidur di dalam saja”
“tidak”
“di sini kau kedinginan”
“tidak apa”
Rena membenjat mata membenarkan posisi
duduk
Sunyi,
Diam-diam mata Kiki mulai lekat
”Hai! Jangan tidur!!” gedornya keras “ayo
cerita…”
“ya sudah, kamu yang cerita” suaranya lemah
menahan kantuk
“shht…”
Bulan kuning keemasan muncul di balik mega
tipis, setitik bintang berkerlipan di angkasa.
Ia tersenyum menengadah “selesai belajar
biasanya aku duduk sendiri di luar sambil menghitung bintang, menyapa angin,
menatap rembulan, rasanya begitu damai saat mereka hadir di malam itu.
Menangis, tertawa, cerita, kadang juga diskusi pada bintang-bintang di langit.
Itu semua lebih menarik ketimbang berbagi cerita dengan saudara-saudaraku”
tatapnya teduh ke angkasa “sementara Allah menjadi tempat pengaduan kami semua.
Kebosanan, kegelisahan, dan kesemrawutan hidup yang membuat dunia ini makin
aneh” lagi-lagi Rena menarik nafas dalam “ini semua bermula dari keluarga, aku
benci orang tua yang selalu mengatasnamakan norma agama lalu seenaknya dia
perlakukan anak”
“bukankah perintah agama memang begitu?”
“tidak, agama tidak mengajarkan begitu,
yang ku tahu hubungan keduanya harus
timbal balik”
“dalam keluarga, masalah seperti itu sudah
biasa Ren,” matanya sayu
“kalau biasa, kenapa kau mesti rebut-ribut
dengan orang tuamu?“ tukasnya sedikit menukik ”kadang aku berpikir, hal yang
paling menyeramkan adalah memiliki keluarga”
Sontak mulutnya melongo
“gimana dengan kita…?!”
Rena menatap sedih
“entah…”
Sunyi, angin dingin menghembus membuat mata
makin berat “apa kau tahu, apa saja yang ku adukan pada bintang?” Liriknya
selintas dan menengadahkan wajahnya pada langit kian pekat “dulu aku sering membicarakanmu, sejak kelulusan
itu”
Kiki tersenyum lembut “sungguh?!, kau suka
aku!”
Senyum Rena tipis memalingkan wajah, ia
menuangkan segelas air dingin.
Kiki menjulurkan selimut menutupi kaki Rena
”Kau tidur di dalam saja, di sini banyak nyamuk”
Matanya segar saat air itu menyentuh
tenggorokan dan menjalar ke urat sarafnya.
“kita sama-sama dibesarkan dalam keluarga broken,
pelampiasanmu ke kanan dan aku ke kiri,
tapi kau masih beruntung!”
“alur hidup tak bisa disangka, siapa tahu
saat ini kita seperti ini, dan besok kita jadi orang sukses. Tapi saat ini aku
tak menginginkan apapun, kecuali lelah
dan pasrah, biarkan Dia bicara apa untukku”
“aku ingat temanku SMU”
“SMU buangan?!” Tawa Rena meledak
“hmmh… kau masih ingat teman-temanku di
foto itu? mereka semua adalah anak orang konglomerat, tapi hidupnya tragis”
pandangan Kiki lepas “Dari ke-delapan orang itu, hanya aku dan temanku yang
masih utuh, itu-pun fikirannya sedikit kurang, entah kemana dia sekarang,
terakhir kali aku melihat dia duduk-duduk dengan pengamen di simpang lima.
Padahal ayahnya salah satu pemegang saham terbesar di kota semarang” matanya
menerawang jauh “Entah kemana mereka semua, kadang aku kesepian, karena dulu
kami selalu bersama. Kau masih ingat yang memakai hem kotak-kotak kecil paling
depan?” Tatapnya getir ”Terakhir aku menjenguknya, dia sudah tidak ingat apapun
termasuk aku, kata susternya saraf
otaknya sudah rusak dan ingatan dia tidak akan pulih sama sekali. Kau masih
ingat anak yang memakai jaket hitam di atas motor? entah apa pekerjaannya,
orang tuanya sering pergi luar negri, dia mati karena kecelakaan selesai ngedrug.
Dan yang duduk di belakangnya, dia meninggal karena kecelakaan, kepalanya pecah
terseret roda trailer. Anak yang memakai jaket hitam, kabarnya dia di pondok
rehaban, dia anak buah pengedar no 3 tingkat nasiaonal, dan kabarnya sekarang
dia di Palembang. Lelaki paling pojok duduk di atas motor, dia yang sering bersamaku
mati karena over dosis, kasusnya sama seperti kasusku. Yang terakhir memakai
topi hitam, dia mati dalam percobaan kami”
“percobaan?!”
“ya, percobaan dulu yang pernah aku
ceritakan itu”
“sejak kelas berapa kau kenal drug?”
“kelas 2 SMP, pamanku sendiri yang
menawarkan”
Rena mengernyit aneh “kau percaya mimpi?”
“mimpi?’
“Ya! waktu SMP, aku sering mimpi aneh
tentangmu, ku pikir itu biasa makanya aku tak pernah menghiraukan”
“bagaimana
teman-temanmu di sekolah?”
“sekolahanku memang terkenal sekolah
preman, tapi penampilan kami biasa” sorot mata Kiki lurus “SMPku dulu dekat rumahku,
yang kebetulan dekat dengan terminal. Selesai sekolah, dari pada jenuh dengar ibu bertengkar aku sering
nongkrong di sana, itu yang mempercepat kami dalam berinteraksi satu sama lain”
“tidak dimarahi ayahmu?”
“tak satupun keluargaku yang tahu, lagipula
ibu sering bentrok dengan ayah, entah apa masalahnya”
Rena bengong,” pantas saja, ibumu sempat
bingung, waktu aku bicara soal itu”
“mereka hanya tahu kalau aku suka minum,
itu pun disaat-saat ada masalah keluarga”
“bukan hanya itu, tapi… entahlah!!” Tangannya menghempas dan menghabiskan sisa air di gelas “Aku sering
bingung dengan keadaanku seperti ini” alisnya berkirut-kirut “percaya atau
tidak, cuma kamu satu-satunya yang kumiliki, hanya itu. Tapi aku sering merasa
kasihan, orang sepertimu tidak pantas jalan denganku, masa depanku tidak jelas,
dan masa laluku terlalu menyeramkan. Aku tidak bisa memberi apapun untukmu,
seperti orang yang pernah kau ceritakan” sorot matanya dalam ”Kau bisa cari
orang selain aku kan?”
“Apa itu pemecahan yang baik?”
”Rasanya sayang, orang sepertimu hidup dengan
orang sepertiku. Langkahmu masih panjang, kau punya segalanya”
“title?! keluarga? apanya yang bisa aku
andalkan?!! Kuliahku bukan semata karena ingin sekolah melainkan karena
keterpaksaaan tidak betah tinggal di rumah. Dan jurusan yang aku ambil adalah bukan bidang yang aku senangi, kau
kira hidup seperti itu menyenangkan?” Nadanya menukik, kernyitnya semakin
tebal “saat itu aku putus asa, entah
harus lari kemana, lingkungan dan keluarga semakin tak bersahabat” matanya
menerawang jauh “aku masih ingat pertama kali hengkang dari desa itu gara-gara
kerusuhan yang terus mengguncang daerahku tahun 97/98. Hampir tiap sore suara
tembakan terdengar di sana-sini, orang-orang kampung lari keluar dari rumah
dengan membawa senjata tajam. Dan mulai pukul tiga sore, jalanan senyap. Tak satupun
warga yang berani keluar rumah. Toko-toko warga Cina tutup, pasar-pasar sepi. Rasanya begitu mencekam, tak ada tegur sapa
tiap orang lewat, wajah mereka Nampak garang karena memendam amarah. Setelah
itu aku pergi ke Solo, ku pikir kota keraton adalah tempat aman, ternyata belum
ada satu tahun kota itu kembali membuatku trauma, seperti kejadian di desaku.
Puncaknya mei 98, kota itu hangus, langit biru cerah dengan gelombang awan putih,
dalam sekejap digantikan asap hitam tebal membumbung memadati udara kota. Saat
itu aku benar-benar pasrah menjalani hidup. Tiga tahun kemudian, aku paksakan kuliah
ke yogya. Ya! meskipun sebenarnya aku tak begitu senang dengan kota itu karena
pergaulan bebasnya, tapi itu lebih baik. Karena yang terpenting di sana adalah
benteng diri yang kukuh. Namun begitu masuk tahun pertama, teror bom mencuat di
tiap sudut kota, termasuk kampusku yang sering menjadi incaran, jadi hampir
tiap hari mobil penjinak bom selalu terdengar, membuat jantungku terus terkoyak”
katanya menahan nafas dalam “Kau pikir kehidupan seperti itu enak? Hidup ini
kadang memang melelahkan, kadang juga terlalu kejam. Tapi lebih kejam lagi jika
kita menganiaya hidup kita sendiri”
Malam kian larut jalanan sepi dan lengang, Rena
memalingkan wajah dari sorotan lampu mobil merkuri dari jauh meluncur cepat. Beberapa
pemuda yang nongkrong di jembatan ujung sana mulai berpencar.
“Ren, kita nikah saja” potong Kiki
sekenanya
Rena melongo “Aku belum berpikir sejauh
itu, aku masih ingin lanjutkan study-ku”
“Kapan kita nikahnya, kalau pikiranmu terus
begitu”
Rena tertawa “Tidak tahu, yang jelas
nikahku usia 25th. Sekarang usiaku masih 22, selesai s-1 usia 23, setahun meniti karir, setahun
kemudian sekolah lagi, dan pertengahan semester aku nikah, usia 26 punya anak
satu dan usia 30 punya anak 4 orang. Kau
tahu? karena usia 30 ini sudah tidak bagus lagi lahirkan anak”
“Enak saja kau bilang, emang siapa yang
memberimu anak”
“aku?”
“Ya! tapi tanpaku kau tidak bisa punya
anak”
“Di dunia ini lelaki bukan cuma kamu, kalau
kau tidak mau ya sudah,”
Kiki berpikir serius “Tapi Ren, kau tidak
malu denganku?”
“Tentu saja malu, perempuannya s-2,
laki-lakinya cuma tamatan SMU. SMU buangan lagi,”
“Bukan, bukan buangan! tapi tepatnya smu
preman…”
Rena cekikikan “Sudah begitu, lumayan kalau
kau cakep,” matanya melirik “Hitam, kurus, wajahnya selalu kucel”
“Hmm… tapi kau suka aku bukan?”
“Ya! terpaksa”
“Ow! kau ini… biar begini banyak yang mau
denganku”
“Ya! monyet, kerbau, kucing, sebangsa
itulah… yang takut air, tidak pernah mandi. Sudah begitu masuk mal saja tidak PD.
Kau ini pantasnya masuk lorong saja!”
Awalnya Kiki cengingisan, melihat raut Rena,
seketika ia diam menunduk.
“Tapi Ki, aku salut kok!”
Kiki diam tanpa reaksi
“Kau termasuk orang yang hebat, jarang sekali
orang yang sudah kecanduan apalagi pernah over dosis bisa berhenti total. Kau
ini sebenarnya lebih cerdas ketimbang aku, tapi kau malas. Hei! Kau tahu? Dunia
ini akan berubah, jika dan hanya jika kau mau membaliknya sendiri. Ni, dengan
ini” Rena menyilangkan tangan dan keningnya” Rena tersenyum melihat Kiki yang
tenang “percaya tidak?! kau ini sebenarnya ganteng, tapi penampilanmu kacau,
cobalah sedikit rapi, sisir rambutmu. Kalau kau benar-benar ingin berubah,
lihatlah celah-celah di depanmu, jangan pernah menoleh ke belakang selagi kau
belum benar-benar berhasil. Aku yakin kau bisa” Rena mengucek-ucek matanya yang
pedih, “Kik! selama beberapa bulan kita
tidak bertemu, aku sering punya firasat buruk. Pertama kali aku mimpi ke
rumahmu malam-malam, tapi sampai di sana ibu dan adik-adikmu acuh, bahkan
hingga aku pulang pun mereka tak menghiraukanku. Waktu itu hanya kau yang
mengantarku sampai depan rumah. Kemudian yang keduanya, waktu aku hendak
mengangkat piring kosong seketika piring itu terbelah jadi dua sisi”
“Ah! kau selalu saja begitu”
“Tapi itu aneh!”
“Kau jangan pernah berpikir macam-macam,
itu hanya kebetulan”
“Tapi…”
“Bicara yang lain saja” Kiki Nampak geram
Rena murung,
“Sudah… buktinya ibuku tetap baik” sejenak Kiki
nampak serius “Tapi bisa jadi itu kebalikan?”
“Tidak apa-apa. Aku tidak tahu, karena
semua itu kuncinya ada padamu. Sepertinya kesepakatan ibu sudah bulat, dia
tidak membolehkan bertemu denganmu lagi, apalagi untuk jalan seperti ini. Lagipula
aku lelah membelamu mati-matian di depan beliau dan teman-temanku. Kau tahu?
aku capek berbohong”
“Kau sendiri?” Kiki menuangkan air ke gelas
Rena kosong
“Aku?” Rena menggeleng “sekarang aku hanya
menunggu wisudaku”
“Kau jadi pergi selesai wisuda nanti?”
“Rasanaya cukup lama aku asing dengan orang
tuaku, bagaimanapun aku ingin menemaninya setidaknya setahun, setelah itu aku
harus pergi. Mengenai hubungan kita, semua ada di tanganmu. Kalau kau belum
juga sadar, apa boleh buat. Lebih baik aku mengorbankan perasaan sendiri
ketimbang menentang dan mengecewakan hati ibu”
“kau tega meninggalkan aku?”
Rena menggigit-gigit bibirnya menatap
dalam “berdoalah…”
@@@
Yogyakarta, maret 2004
Siang menjelang dhuhur lelaki dengan
sweater kelabu berdiri di depan kelas. Dua tangannya terlipat memandang ke
lantai bawah, udara berhembus menggerak-gerakkan pohon angsana yang berderet
sepanjang jalan depan kampus. Gelombang awan putih berderet dengan background
langit biru cerah. Terlihat sepi gedung seberang sana, nampaknya aktifitas
masih berjalan dalam kelas.
Saat bunyi bel berdering, pintu-pintu kelas
terbuka lebar, dan seketika itu mahasiswa berjubel keluar dari kelas-kelas
mereka.
Langkah yang semangat tiba-tiba saja
terhenti oleh sosok lelaki itu. Rena menunggu teman-temannya jalan
mendahuluinya, lelaki itu menoleh mengembangkan senyum. Setengah malas Rena melangkah.
Suasana mulai lengang sepanjang jalan teras
gedung itu.
Ditariknya nafas itu dalam-dalam ”Hari ini
kau tidak masuk? sudah lama menunggu?”
“Baru lima menit”
“Hari ini kita ada acara?”
Rena diam memandang lepas
“Ayo! kita ke kantin, setelah itu kita akan
berangkat ke sana” langkah Kak Hayes cepat, ”Besok kau ada acara?”
“Ada”
“UKM?”
“Kenapa kakak selalu mendikteku?”
“Aku tidak mendiktemu, hanya ingin tahu. Tidak
boleh…?”
“Nanti malam aku ada acara di Kaliurang”
“Kau lebih mementingkan mana, masa depanmu
atau sekedar acara hura-hura”
“Kenapa selalu saja begitu, bagiku ini sama
penting. Acara ini yang menghandle aku dan…”
“Terserah kau”
“Kakak selalu melegitimasikan kepentingan
kakak sendiri, atas nama masa depanku”
“Kepentinganku? Besok di Lembaga ada
pertemuan dengan sponshorship beasiswa ke luar negri. Dan dua bulan depan kita
harus dapat TOEFL. Sementara skormu saja baru tiga ratusan, padahal harus
mendapat lima ratus. Untuk dapat itu, kau harus mengejar bahasa Inggrismu.
Sekarang aku mengajakmu untuk kursus, apa itu salah?”
“Okey aku ikut. Tapi nanti malam, tolong
antar aku ke Kaliurang”
“Kita lihat suasana nanti”
“Tolong, karena itu acara LPJ? Kita mampir
ke kost-ku dulu, setelah itu kita akan ke sana”
“Langkah mereka cepat menuju parkiran,
sementara wajah Rena makin berkirut-kirut. Nah aku bilang apa, ini hanya siasat
dia saja untuk mengambil waktuku”
“Tiba-tiba ia terhenti sewaktu hendak
memakai helm. Benarkan dulu itu letak jilbabmu Ren” katanya sembari nangkring
di atas motor ia menebarkan senyum
Rena tersadar letak jilbab-nya belingsutan
di hembus angin. Yang ada hanya rasa kesal, tapi bagaimana caranya? Ia tak bisa
mengelak. Sepatah dua patah kata dijawab sekedarnya.
“Baru kali ini Kak Hayes marah padaku. Bukankah
ia lelaki yang hebat? tutur katanya menenangkan hati, tindak-tanduknya sopan.
Apa mungkin dia suka padaku? Tapi… mana ada lelaki sebaik dia yang suka
perempuan sepertiku”
Langit mulai gelap, saat itu keduanya baru keluar
dari Lembaga. Menjelang isya mereka sampai di kaliurang.
Sontak teman-teman organisasinya yang waktu
itu masih kongkow-kongkow di depan wisma, riuh ramai melihat Rena yang terkenal
dingin dengan laki-laki, kini turun dari motor bersama seorang lelaki ramah.
Seperti tak percaya, dari jauh Kak Alam
mengembangkan senyumnya. Ia duduk di kursi panjang di atas balkon dengan dua
orang teman lelaki yang sepertinya tengah asyik diskusi.
Tak lama kemudian Kak Alam turun dan
menyalami Kak Hayes, sambil melingkarkan tangan ke pundaknya. Entah apa yang
dipikirkan Kak Alam, namun tak lama kemudian ia member komando untuk mempercepat,
agar acara segera dimulai.
@@@
Yogyakarta, april 2004
Sebenarnya ia sudah tahu kalau Kiki sudah
tidak di rumah lagi, tapi sekedar mengobati rasa kangennya Rena memencet-mencet
nomor telphon, dan menutupnya saat telphon itu terangkat.
Malam itu Rena keluar dari wartel dengan
sedikit rasa lelah, kadang ia berjingkat-jingkat sambil menikmati udara malam.
Biarlah apa kata orang tentang aku, malang
nian nasibku, malam minggu begini jalan sendiri. Rena melirik senyum kendaraan
yang berlalu-lalang sepasang insan.
Di kota ini alasan untuk pacaran sebenarnya
bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan lingkungan yang mendesaknya untuk
berbuat begitu. Yah! Setidaknya tidak ingin dibilang kuper.
Teringat sebuah komitmen yang pernah ia
ikrarkan semenjak kelas satu SMP, tepatnya saat ia dikejar-kejar lelaki cover
boy sekolah. Hanya study oriented , tidak untuk yang lain, senyumnya
kecut.
Ia berjalan menyusuri sepanjang trotoar
jembatan sungai gajah wong. Angin yang datang berembus dari arah selatan terasa
sejuk menerpa wajah.
Gelap.
Gemerlap lampu-lampu berderet sepanjang
deretan pertokoan ujung sana, terlalu indah menghiasai malam. Lalu lalang
sepeda motor mulai ramai saat malam mulai pekat. Sebuah becak nongkrong di
ujung jembatan menuju lampu traffic light.
Kerlap-kerlip rumah penduduk berjubel di
jembatan bawah sana. Konon kabarnya terlalu rawan berjalan sendiri melewati perkampungan itu, -lokasi
pramuria kelas teri-. Namun di ujung sana terlihat sebuah menara kecil sarana
peribadatan umat muslim setempat. Dari bangunanya sepertinya masih baru dengan
cat hijau muda sedikit terang dibawah lampu neon.
“Miris, tapi tak apalah! memang mungkin
harus begitu. Perubahan memang membutuhkan proses, siapa tahu dari komplek
lokalisasi berubah perkampungan orang beriman. Matanya menerawang jauh.
Sesekali hembusan angin menerpa wajah mengibas-kibaskan jilbabnya yang
menjulur.
“dimana dia sekarang… sedang apa dia, bagaimana
keadaan keluarganya? Apa dia akan kembali seperti dulu lagi? Tidak! tidak
mungkin”
Bayangan wajah ibunya muncul, sebenarnya ia
cantik, namun begitu wajahnya terlihat gersang dan kering, bukan karena kurang
make-up ataupun ekonomi yang memburuk, tapi air wudlu. Seperti umat islam yang
lainnya yang menjalankan ibadah sholat, sekalipun sebenarnya ia tidak cantik, namun terlihat menarik oleh
basuhan air wudlu, tergambar wajah keteduhan setiap orang yang memandangnya.
Orang tidak bisa membohongi bahwa ia adalah islam dan beriman, karena kontak
batin selalu ada saat bertemu antara satu dengan yang lain.
Sesaat ia pucat teringat peristiwa malam di
rumah kecil itu, ia pergi bersama seorang lelaki yang sepertinya tidak jauh
dari umur Kiki anaknya. “apa benar itu pekerjaan yang dilakukan ibunya?” Pikir
Rena menerawang.
Berkali-kali suara klakson terdengar dari
arah belakang, Rena menoleh “Hai non, sendiri ya?” Sebuah suara dari belakang,
lelaki itu mensejajarkan motornya.
“Itu tandanya aku gadis setia, tidak seperti
cewekmu dibawa kabur lelaki lain dan bunting” tukasnya kesal.
Laki-laki itu tak menghiraukannya “Makanya kalau punya pacar tidak usah
jauh-jauh, seperti di Yogya tidak ada lelaki saja. Malam minggu begini, paling dia
juga jalan sama perempuan lain. Kau ini seperti tidak tahu lelaki saja”
“Bilang saja kau ngajak jalan aku”
“Pfhuh!! pd benar kau ini. Hai non! dengar
ya, sekarang aku sudah ada kecengan cakep”
“Alah ngaku saja kenapa, aku hafal laki-laki
macam sepertimu” cibirnya
“Enak saja!”
Tawanya kecut “Ya sudah, pergi sana!”
Laki-laki itu tertawa lebar, tawa yang sangat
ia benci.
“Sudah pergi!” Gertaknya kesal
“Hu… kasihan kali kau,” tawanya keras
“bilang saja jomblo” lirihnya seraya meluncur cepat, meninggalkan suara memekakkan
telinga.
Yakin sepenuhnya, Kiki bukanlah lelaki
seperti yang dikatakan lelaki sialan itu.
Sebuah jari menotok pundaknya, Rena merajut.
“Sendirian?” Tanya perempuan itu,
sebelahnya lelaki berwajah legam tersenyum hanya terlihat giginya yang putih.
“Hmm…” senyumnya dipaksa
Mereka pamit segera mendahului langkahnya.
Rena meneguk rasa sesak. Entah kenapa
tiba-tiba pundaknya terguncang, tawanya tersendat-sendat
“Hah! Aneh benar, mereka ini… begitu
mudahnya mengobral cinta pada orang yang sebenarnya tak disukai”
Chapter 7
Pekalongan,
januari 2005
Siang itu suasana keluarga Rena kian
mencekam, tak jarang ayahnya meledak-ledak amarahnya, kalau sudah begini tak
jarang perabotan rumah rusak karenanya.
Kertas-kertas
berhamburan tak rapi memenuhi tiap sudut kamar. Demamnya semakin tinggi, ia meringkuk
di balik selimut tebal. Kalau sudah begini, apa yang bisa diperbuatnya kecuali
hanya pasrah. Ia membiarkan kertas-kertas itu bertebaran di sana. Ia yakin, beberapa
jam kemudian akan sembuh. Cepat-cepat ia bisa memeriksanya satu-persatu
kesalahan-kesalan yang tercetak.
Bunyi suara
telephon mengingatkan akan Kiki, kakak memanggilnya dari ruang tengah.
“Hallo,
assalamu’alaikum. Ibu…?”
“Apa Kiki ke
tempatmu?” Suara perempuan setengah baya itu terdengar gelisah
“Tidak Bu,”
“Tidak ada kabar?”
“Hampir setengah tahun ini tidak pernah ada
kabar dari dia”
“pergi kemana dia…” keluhnya lirih
“ada apa bu…?”
“O… t-tidak”
“ada masalah
apa? bagaimana kabar adik-adik?”
“baik”
Suara itu
tiba-tiba saja terputus
“membuat ulah apa lagi dia?” Gagang itu
digeletakkannya lagi “kenapa orang itu selalu saja berbuat seperti itu, membuat
orang selalu was-was dan tidak tenang” kepalanya makin berdenyut.
Telephon itu berdering saat kakinya hendak
melangkah pergi
“Ren, tolong katakan pada Kiki cepat pulang.
Ibu khawatir ia akan melakukan sesuatu, tolong cari dan nasehati dia Ren,”
“dimana dia sekarang?”
“ibu tidak tahu, tapi sepertinya dia akan
ke rumah ayahnya”
“ke tempat nenek atau…”
“ibu tidak tahu! Tolong cari dia secepat
mungkin dan tenangkan hatinya. Ibu yakin hanya kata-katamu yang mau dia dengar Ren,”
“sebenarnya ada apa bu?”
“entahlah, malam itu dia datang marah-marah
memukuli ibu dan mengobrak-abrik semua barang-barang”
“bagaimana dengan adik-adik”
“malam itu juga rendra pergi entah kemana,
dan Pipit dan Puput diboyong tante ke jakarta, Hani pergi dengan laki-laki
siapa juga ibu tidak tahu”
“ibu tidak melarangnya?”
“malam itu pikiran ibu kalut dengan amukan Kiki,
dia marah-marah seperti orang kerasukan”
“tolong cari dia Ren. Ibu takut…”
“tapi bu…” kepalanya makin mendenyut,
keringatnya panas dingin, pandangannya berputar-putar “Sekarang aku lagi nggak
enak badan. Lagipula, besok malam aku harus ke Yogya untuk persiapan ujian
pendadaran”
“Kapan wisudamu?”
“mungkin sekitar enam
bulan lagi”
“masih lama kenapa pulang?”
“ibu sudah tidak mampu biayai kost,
lagipula mata kuliahku sudah selesai semua”
“jadi sekarang kau di rumah terus?”
“Ya”
Sepi,
“Ibu… ibu tidak apa-apa?”
“Tidak,”
Ibu terus berkeluh, namun tiba-tiba suara
itu terputus.
Pandangannya seperti hendak terjungkir,
kepenatan menumpuk sempurna di kepalanya. Rena jatuh tak sadarkan diri.
@@@
Pagilaran;pekalongan,
februari 2005
Siang di perkebunan teh pagilaran yang konon katanya terjadi
sengketa antara pihak warga setempat dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta masalah
tanah itu.
Entah kenapa, selalu saja Negara begitu.
Dari atas nampak deretan biru dataran tinggi dengan selaput awan
tipis. Barisan pohon teh hijau segar memenuhi ketinggian bukit. Arsiran pohon
cemara tegak lurus seperti dalam lukisan. Sementara hawa dingin makin menggigit
saat mentari condong ke arah barat.
Rena melipat dua tangannya di atas meja gelondongan kayu yang
digergaji rata di bawah payungan sabut gardu. Sorot matanya teduh memperhatikan
Kiki yang mondar-mandir meninju-ninju dinding gardu.
”Kau mengajakku kemari cuma suruh dengar umpatanmu?”
Lagi-lagi Kiki menggerutu tak jelas.
“Sudah aku katakana, kalau ada masalah
katakan dengan jelas”
“Ren!” ia mendesis perih “kita pergi saja dari kota ini”
Kening Rena berlipat-lipat “tengkar lagi sama ayahmu?”
“tidak, tapi aku ingin membunuh ibuku”
Rena tertawa kecil “pertama orang yang ingin kau bunuh itu ayahmu,
kedua ibumu, jangan–jangan yang ketiga aku?!”
“Kik! duduk sini” tangannya menepuk gelondongan kayu di
sebelahnya “kau masih dengar kata-kataku
tidak?!”
Setengah kesal Kiki menghempaskan duduknya.
“Jernihkan dulu pikiranmu, tenangkan hati,
kita bicara baik-baik…”
Kiki membungkuk lelah,
Rena menunggu beberapa menit, Kiki mulai angkat suara “ayo ceritakan dari awal”
“ibuku…”
Rena mengernyit setengah menebak,
“ibuku main dengan laki-laki lagi”
“dengan siapa?
“siapa lagi kalo bukan si kunyuk itu!”
“bukannya kau sudah tahu sejak awal?”
“sudah aku bilang! Jangan main di depan anak-anaknya!! Masih
banyak tempat-tempat sepi lain, terserah mau di kebun, kuburan atau pinggir
sungai!”
“lho kok? malah mendukung”
“aku sudah muak melihat tingkah ibu” tandas Kiki geram ”Waktu
kami belum terusir dari rumah itu, lagi-lagi ibu ribut sama orang kampung
gara-gara main sama suami orang” tinjunya kesal “berkali-kali aku peringatkan,
tetap saja! dan kali ini… di depan mataku sendiri, di depan kontarakan itu”
“Ren, sekarang jelas kan? ibu dan ayahmu sama saja, seharusnya
kau bisa memandang dari dua belah pihak, mungkin ayahmu keras karena ibumu
begitu. Begitu juga sebaliknya…” Rena memandang lurus
“sejak awal aku sudah curiga pada ibumu yang tak pernah
berkomentar apapun, walaupun kita sering
begadang di rumahmu hingga larut”
“aku malu Ren! mau taruh mana mukaku!”
“cobalah kau pikir ulang. Ibu menjanda selama bertahun-tahun
sendiri menghidupi enam orang anak, jauh dari familiy, nggak punya usaha
sendiri ditambah lingkunganmu yang mendukung untuk begitu, gimana seandainya
itu ada di posisimu, jelas naluri seorang perempuan butuh perlindungan, kasih sayang”
“Kita semua menyayangi ibu Ren! Berapa kali aku gagalkan
panggilan kerja di luar kota karena aku khawatir ibu”
Rena menarik nafasnya panjang “bukan! bukan kasih sayang seperti
itu yang aku maksud” jelas Rena datar
“aku paham, aku ngerti maksudmu… tapi dia butuh…”
“mereka sudah nikah kyai. Tapi kenapa tidak pernah kompromi pada
anak-anaknya. Dia ngaku setelah semalam aku pukuli”
“Dengan begitu kau merasa hebat?!”
“Biar saja kau bilang apa, sudah aku peringatkan berapa kali
jangan di depan rumah!”
“lho Kik! kemarin kita juga begadang sampai
subuh di depan kontrakanmu”
“memangnya kita berbuat apa? Sentuh tanganmu saja tidak”
Bercak-bercak tetesan air di aspal pertanda hujan mulai turun.
Angin dari perbukitan terasa menusuk lewat celah kain serat wol. Rena mulai menggigil
kedinginan, sementara Kiki nangkring di atas motor.
Sepertinya Rena tengah berpikir keras. Jika dirunut dari
sil-silah keduanya, sepertinya ada hal yang tidak seimbang. Keluarga dari ibu
dan ayahnya, keduanya bertolak belakang, ibu dengan background kental
nilai-nilai religius, sementara dari ayahnya amburadul. Salah satu paman dari
ayahnyalah yang pertama kali menawarkan pil extachy. Keduanya sama dari
keluarga kaya.
Konon keduanya melarikan diri karena tidak direstui oleh dua
pihak keluarga, untuk itu mereka melarikan diri keluar kota, dan melahirkan Kiki.
Beberapa tahun mereka pulang mendapat restu dari dua belah pihak dan menikah
resmi. Entah bagaimana dan apa penyebabnya terjadi perceraian setelah adiknya
yang terakhir lahir. Untuk itu ibunya pergi meninggalkan kota itu dan singgah
di rumah neneknya.
“setelah ini rencanamu pulang kan?
“mendadak wajahnya memerah “Tidak! aku tidak akan pulang selagi
ibu belum menyuruhku pulang”
Rena tertawa geli “Ngaku anak preman, tapi
begitu saja…”
“kalau sudah begitu, ibu tahu ulah yang ia perbuat”
“lho! bukannya terbalik?”
“Keterlaluan, kalau dia nggak mencariku”
”Anak mama gimanapun tetap anak mama! kalau sudah berani keluar
rumah, seharusnya berani bilang say good by, tanpa embel-embel apapaun. Itu
namanya baru gentle…”
“Ya?! kau harus pulang”
“sebelum dia menyuruhku pulang”
“sebelum aku pendadaran kemarin, dia sempat telephon aku dan menyuruhmu
pulang”
“bohong!”
“lho…?!” Liriknya geli
“mukamu kenapa? kau kecelakaan lagi?!”
“Ya! seandainya saja trailer itu tadi mau menggilasku, aku nggak
usah lihat muka ibu lagi”
“Kenapa nggak jadi!?”
“Ya! ada yang menolongku tadi”
“Kalau kau mau aku bisa bantu” Rena berdiri di atas balokan kayu
itu menghadap ke tebing bawah sana “sini!” Katanya sambil melongok-longok
jurang di bawah gardu.
Kiki mengernyit aneh “Kau suruh aku bunuh diri?”
“Bukannya tadi nggak jadi mati?” Rena tertawa geli
“Kau mau aku mati?!”
”Kalau itu maumu…! bukannya tadi kau bilang begitu?” Rena menurunkan
kakinya “Kau ini…? pengecut sepertimu kenapa masih hidup?!”
Rena mengamati luka itu “Sudah kau obat apa tadi?”
“Belum”
“lalu?”
“biar saja begini”
“kau bisa terinfeksi”
“paling juga nggak mati”
Rena menggeram turun dari gardu ”itu ada sungai kecil di sana”
tunjuk Rena ke bawah jurang dengan ketinggian 5-6 meter dari aspal.
“tega benar kau menyuruhku turun, badanku
saja sakit semua”
“buktinya kau masih bisa sampai kemari”
“Sudah! biar saja begini”
“Cepat! aku antar kau turun”
“tapi kau bantu aku”
Rena menoleh ke kanan dan ke kiri memungut dua batang ranting
sedikit basah oleh rintik gerimis ”ayo!”
Katanya mulai turun
“buat apa kau bawa kayu itu?”
“kau bilang aku suruh membantumu?” Rena tertawa “kenapa?” Rena menahan
tongkat “ayo! pegangi tongkat ini” katanya menoleh ke arah Kiki.
Ia terus berdiri “aku
tidak mau turun kalau pakai tongkat itu, bisa-bisa lukaku terkena kulit batang
kayu malah infeksi”
“tidak, kalau kau hati-hati”
“aku mau kalau kau pakai tanganmu”
“Nggak usah aneh-aneh! Aku tahu maksudmu, kau pikir aku mau?
cepat!! atau aku tonjok sekalian lukamu itu pakai ini” katanya menyodorkan
ranting itu
Melihat sikap Rena yang sedikit
geram, Kiki turun mengikutinya.
Jalan itu licin dan sempit, nyaris Kiki terperosok ke
semak-semak, tapi Rena malah menertawakannya.
“Dasar! Kau ini cewek atau bukan?”
“Memangnya kau lihat aku ini laki-laki atau perempuan?” Rena
berdiri memeperhatikan Kiki mendekati aliran sungai kecil itu.
“bersihkan dengan ini” Rena menyodorkan
sapu tangan ke arahnya
“tapi tanganku yang satunya masih sakit”
“kau mau aku pakai kayu ini?!” Rena mencibir
Dahinya berkerut.
“kalau aku yang kecelakaan, mungkin sekarang sudah sekarat
terbaring di kamar dan tak bisa berbuat apa-apa” pikir Rena sesaat “kau
ngebut?!”
Kiki diam, meradang kesakitan
Rena mendekatinya “mana aku bantu bersihkan”
Kiki menyodorkan sapu tangannya
“Pelan Ren!” Teriaknya kesal
“Ini tandanya kau kuwalat sama orang tua” katanya sedikit
meyorong keras ke arah lukanya
“auw! Kalau kau tidak bisa pelan biar aku bersihkan sendiri
saja!”
“nanti kita cari obat di jalan”
“tidak mau, biar saja begini” sahutnya kesal
“ya sudah,”
Derit suara binatang terdengar bersahutan dibalik batang
pohon-pohon menjulang, sementara siulan burung melompat dari satu dahan ke
dahan lainnya.
Mereka diam menengadahkan wajahnya pada tiga ekor burung kecil
di sarangnya, sementara induknya melompat kesana kemari membawa seutas tali
krenadengan paruh dan melilitkan di sarangnya.
“aku iri pada burung kecil itu”
“seandainya saja orang tua kita seperti induk burung itu, pasti
kehidupan kita tidak akan seperti ini”
“dan aku tak akan pernah menjadi seorang
morfinis” tutur Kiki
“ya, aku tak perlu repot-repot sekolah keluar kota hanya mencari
ketenangan hidup”
“tapi Ren,” suaranya terhenti “Andai saja hidup kita sama
enaknya, kita tidak akan pernah bertemu lagi, karena kamu tidak akan pernah
mimpi tentang aku, apalagi kirim surat. Karena Rena yang aku kenal orangnya
dingin dengan laki-laki, terlalu sepaneng.”
Rena menoleh “dan mungkin sebaliknya aku akan sepertimu karena
ternyata stm perhutani yang aku idam-idamkan sejak dulu ternyata terkenal
dengan sex-bebasnya”
Kiki tersenyum tanpa memperhatihan wajah rena “Benar katamu,
semua itu ada hikmahnya. Kadang memang tuhan itu baik, tapi kadang juga buat
kita mangkel” lesung pipitnya muncul ”tapi aku akan mengakui masa
laluku. Karena semua itu adalah bagian dari kehidupanku, hikmahnya aku bisa
ketemu gadis yang ku impi-impikan sejak dulu” tatapnya penuh makna
Rena tersenyum
Keduanya terhanyaut dalam keheningan dan kedamaian suasana
perbukitan teh itu.
@@@@
“Benarkah
semua orang tua mesti kita taati sekalipun menyakitkan, sekalipun ia salah…,
sekalipun ia berdosa. Jika begitu kenapa aku mesti tercipta sebagai anak. Tak
ada kesempatan bicara, apalagi bertanya, semua berlalu begitu dan terlalu
menyakitkan. Dimana ?!, dimana letak Tuhan yang katanya memiliki keadilan pada
semua hamba, bukankah semua manusia itu tercipta sama, memiliki hak dan
kewjiban, kenapa?!, kenapa?!” teriaknya dalam batin
Komentar
Posting Komentar