LUCH DAN TEKA-TEKI BAHASA MANUSIA
LUCH DAN
TEKA-TEKI
BAHASA MANUSIA
“Berarti Pithecantropus
itu sama dengan nabi Adam ya Bu?, kan sama-sama manusia pertama?” tanyanya
meluncur tiba-tiba saat membuka-buka ensiklopedi manusia Purba
“Kalau begitu, masa nabi Yusuf yang katanya nabi
paling tampan sama dengan manusia purba seperti ini? Ah! tidak benar itu, ya
kan Bu?” Perempuan itu diam tersenyum
Oleh
Amien Putri
Sejak beberapa menit yang lalu, Luch bocah berusia
lima tahun itu sibuk menyusuri gerbong kereta. Dari menghitung jumlah kursi, botol-botol yang
berdiri di atas meja gerbong, sampai jumlah orang. Entah yang ke berapa kalinya
ia berjalan menyisir gerbong itu, namun kali ini ia diam memperhatikan wajah orang satu persatu,
sesekali ia menawarkan senyuman pada orang-orang yang memperhatikan dirinya.
Seorang kakek tua yang murung tiba-tiba
saja tersenyum sembari membuka tas kresek dan menawarkan sebungkus roti cokelat
untuknya.
“Terima kasih Kek,” ujarnya membuat kakek itu tersenyum
cerah.
Sesaat langkahnya terhenti menyimak gerak kereta
yang sedikit miring ke kanan, beberapa saat ia mencoba berdiri dengan kaki
melebar dan melipat badannya hingga posisi kepala tepat di antara dua kaki,
lalu mencoba menilik pemandangan langit-langit gerbong kereta dan orang-orang
di sekitarnya.
Entah kenapa tiba-tiba saja ia tersenyum geli “Hmm…
Dunia ini aneh bukan?” ujarnya sesaat dan melotot saat kedua matanya menangkap
sosok lelaki hitam legam dengan seorang lelaki berhidung bengkok berkulit
putih kemerah-merahan yang duduk di sebelahnya, keduanya terlihat lebih tinggi ketimbang lelaki di
depannya berkulit putih halus dengan kacamata frame hitam tebal. Rasa
penasarannya tak lagi terbendung, ia cepat-cepat menarik badannya berusaha
melihat lebih dekat, tapi gerbong kereta
lagi-lagi bergerak terlalu miring ke kanan hingga ia pun kehilangan keseimbangan.
"Brugh!!" tubuhnya tersungkur ke lantai gerbong
Sontak disambut teriakan ibu-ibu di depannya,
hingga beberapa orang hendak menolongnya. Tapi cepat-cepat Luch menghindar
pertolongan itu dan lari ke tempat ibunya.
“Ibu, Luch jatuh...” rajuknya hendak menangis mengusap-usap
kepalanya yang terbentur. Ibunya yang hanya mengawasi dari jauh hanya tersenyum ringan melihat gadis nya yang sedang mencoba sesuatu itu tersungkur.
"Iya, nggak apa-apa" kata ibunya sambil mengusap-usap wajahnya yang kotor yang kemudian tidur di pangkuan si ibu
Pemandangan di luar kini nampak kian gelap, hanya beberapa saat saja terlihat terang oleh pemandangan sebuah perkotaan dengan gemerlap lampu. Sementara Luch terdiam agak lama dalam rengkuhan ibunya.
"Bu," sapanya mendongakkan wajah pada perempuan
muda itu. "Tadi kakak lihat ada tiga orang laki-laki aneh"
"Aneh?" pikir ibunya sambil menebak-nebak lelaki itu berpakaian ala preman
"Ehm!" angguknya serius "Lelaki hitam pekat dan tinggi, aku pikir kalau dalam gelap pasti cuma kelihatan giginya saja yang putih bersih" ujarnya yang membuat ibunya tertawa lebar membayangkan.
"Lalu orang putih dengan kulit kemerah-merahan. Aku pikir, orang di depannya itu lebih baik, dibanding keduanya. Kulitnya lebih putih dan halus, badannya juga kurus dan kecil dibanding orang di depannya. Tapi punya mata yang kecil" ujarnya sambil menyipitkan mata
"Sipit?"
"Ehm!" angguknya pelan "Tapi lebih anehnya lagi,
mereka juga berbicara dengan bahasa yang aneh. Bu..."
"Anehnya kenapa?"
"Karena aku nggak tahu mereka bilang apa"
Spontan sepasang suami istri di depannya senyum-senyum mendengar ocehan Luch yang terdengar lugu dan polos.
"Itu namanya Bahasa"
"Apa itu Bahasa?"
"Bahasa itu kemampuan manusia untuk bisa berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan tanda misalnya dengan kata atau gerakan"
"Apa itu Kata?"
Sampai di sini perempuan cantik dengan rambut dikucir sebahu itu terdiam bingung menjelaskan pada putri kecilnya. Namun sebelum ia menjawabnya, gadis kecil itu kembali bengong tampak seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Tapi kenapa orang di dunia itu bicaranya nggak sama semua aja, Ma? kan lebih mudah"
"Mungkin satu saat juga akan begitu"
"Oh ya?"
"Kapan??"
"Ketika masyarakat di Bumi lebih sering berinteraksi satu sama lain antar pulau"
"Memangnya bahasa di dunia itu ada berapa Bu?"
"Sekitar 7000 sampai 8000"
"Wuahhh..."
"Tentu saja dengan dialek daerah masing-masing"
"Seperti di Indonesia ini ada bahasa Sunda, bahasa Jawa. Nanti jawa saja masih ada jawa timur
“Ratusan, bahkan ribuan jika dengan bahasa dialek masing-masing daerah. Seperti di Indonesia; khusus di pulau jawa sendiri ada bahasa Sunda dan bahasa Jawa”
“Kenapa orang berbicara dengan bahasa yang
berbeda-beda? Padahal dengan satu bahasa saja kan sudah cukup?”
Sesaat ia terdiam, barangkali ia terkejar dengan
pertanyaan lain yang lebih penting baginya.
“Sebenarnya awal mula yang mengajarkan bahasa pada
orang-orang itu siapa. Ibu? Kenapa masing-masing bahasa Negara memiliki bahasa
yang berbeda”
Lagi-lagi Perempuan muda itu hanya diam tersenyum
menyimak raut sulungnya yang saat ini nampaknya tengah berdialog dengan
imajinasinya. Sengaja ia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering
dilontarkan putranya, selagi bocah yang sekarang duduk di bangku TK nol besar
itu benar-benar bertanya pada dirinya.
“Aku pikir, orang yang mengajarkan bahasa-bahasa
itu pasti ada satu orang. Karena manusia itu kan dari dulunya satu keturunan,
yakni Nabi Adam. Begitu kan ibu?”
“Tapi bagaimana dengan adik bayi
tadi ya. Bu?” sesaat pikirannya melayang pada beberapa jam yang lalu saat
menjenguk putra pamannya yang baru lahir. “Kenapa ia belum bisa bicara”
“Ah, aku pikir lambat laun toh dia
akan bicara diajari tante, seperti ibu
mengajari bicara dik Hikam dan Hakim” jawabnya teringat dua adik kembarnya yang
masih masing-masing belum bisa mengucapkan huruf “R”
Sesaat rautnya terlihat cerah dan
teriak histeris, sampai-sampai orang di depannya terbangun “Iya benar! Kalau
begitu bahasa itu diajarkan oleh orang tua masing-masing, ya Ibu!!” sejenak ia
terdiam memainkan jari-jemarinya yang mungil “Kalau benar, yang mengajari
bahasa manusia se-dunia itu satu orang, lalu kenapa masing-masing orang tua
memiliki bahasa yang berbeda-beda ibu?” tanyanya resah memandang dirinya pada
jendela kereta yang kian berembun.
***
Sore masih nampak cerah, namun kabut tipis mulai menyembul di balik
semak-semak ladang belakang rumah kaki bukit. Kali ini Mbok Yem belum
memanggilnya untuk mandi, namun cepat-cepat Luch pulang meninggalkan dua orang
adik kembarnya yang masih asyik berkejar-kejaran dengan seekor kucing.
Melihat Luch ngacir masuk kamar mandi, ibunya sedikit
heran.
“Tumben, Bu” bisik lirih Mbah Bari menunjuk Luch
Perempuan muda itu hanya menyilangkan jarinya,
mengisyaratkan untuk diam.
Lima menit belum berlalu, tiba-tiba saja bocah
berbadan ramping itu keluar dari kamar mandi “Sore Bu, Luch ada janji rahasia
dengan ayah lho …”
“O, ya?!” perempuan berambut panjang yang baru saja
membicarakan kejadian semalam dengan suaminya itu hanya tersenyum “Pasti
menarik?”
“Ya, karena ini … akan menjadi proyek besar buatku
dan ayah …”
“Wou … boleh ibu tahu dong?”
“Tidak, karena proyek ini khusus untuk laki-laki”
“Hi … hii…” tawa Mbah Bari tertahan.
“Hm?!!” senyumnya menyungging membenarkan handuknya
dan lari ke kamarnya.
Dari balik jendela dapur, terlihat dua adiknya
sedang bermanuver dengan Mbok Yem. Ini adalah pemandangan wajib di sore hari
saat keduanya disuruh mandi, dan tak jarang berakhir dengan tangisan.
Sementara Luch yang sudah rapi dengan kaos dan
celana panjang kuning polosnya telah siap di salah satu sudut ruang kerja
ayahnya yang menyatu dengan perpustakaan keluarga “Assalamuálaikum Ayah, aku
sudah siap …!” teriaknya memencet tuts keyboard hingga muncullah wajah
laki-laki muda.
“Waálaikum salam, sayang …” jawab sosok lelaki di
balik layar monitor
“Kau sudah baca buku apa untuk diskusi dengan
Ayah?”
“Banyak,” tandasnya yakin
Tanpa berkomentar apapun ia menunjukkan Buku
Ensiklopedi miliknya.
“Semalam aku baca buku ini. Dalam buku ini
dikatakan bahwa nenek moyang manusia itu mirip dengan kera, aku rasa itu tidak
benar, karena nenek moyang manusia itu kan Adam, benar kan?”
“Coba kita lihat surat Al Baqarah ayat 30 ini”
وَإِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰئِكَةُ
إِنِّى جَاعِلٌ فِى اْلأَرْضِ خَلِيْفَةَ. قَالُوا(الْمَلٰئِكَةُ): أَتَجْعَلُ
فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ, وَنَحْنُ نُسَبِّحُ
بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ؟! قَالَ (الله): إِنِّى أَعْلَمُ مَالاَ تَعْلَمُوْن.
Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat; “Sesungguhnya
Aku (akan) menjadikan khalifah di muka bumi”. (Para Malaikat) Berkata; “Akankah
Engkau jadikan di dalamnya (Bumi) orang yang (akan membuat) merusak padanya dan
menumpahkan darah, seangkan kami (senantiasa) bertasbih dengan memuji Mu dan
mensucikan bagi Engkau?” (Allah) Berfirman; “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui
apa-apa yang tidak kamu ketahui”
“Kenapa Malaikat berkata seperti itu, padahal kau
tahu, bahwa Malaikat itu adalah makhluk yang paling tunduk dan patuh kepada
Allah”
“Barangkali saja Allah sudah memberikan gambaran
kepada Malaikat ciri-ciri Adam nantinya seperti apa dan dialog ini tidak
diterangkan dalam ayat ini, atau …? Barangkali saja sebelumnya di Bumi sudah
pernah ada makhluk sejenis manusia tapi suka berbuat kerusakan dan saling
menumpahkan darah”
“Nah! Itulah … yang selama ini jadi perbincangan
hangat. Selama ini orang masih menduga-duga benarkah ada makhluk lain selain
manusia di Bumi, lalu fosil manusia purba seolah-olah datang dan mengatakan,
mungkinkah ini manusia yang dimaksud Malaikat?”
“Tapi bagaimana mungkin kalau manusia purba seperti
manusia homo sapiens itu yang dimaksud”
“Bisa jadi,”
“Kalau begitu, bisa jadi berarti benar bahwa
manusia kera itu adalah keturunan nenek moyang manusia sekarang. Karena pada
hakekatnya evolusi juga terjadi pada diri manusia. Padahal kata ibu, kecerdasan orang-orang dahulu itu sepuluh kali lipat
kecerdasan manusia sekarang … itu dikatakan dalam surat Saba’ ayat 45”
وكَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا بَلَغُوْا
مِعْشَارَ مَآ ءَاتَيْنٰهُمْ فَكَذَّبُوا رُسُلِى ۖ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ
Dan orang-orang dari sebelum mereka telah mendustakan, dan tiadalah
mereka menerima sepersepuluh (dari) apa-apa yang telah kami berikan
kepada mereka kemudian mereka mendustakan rasul-rasulKu, maka bagaimanakah
(akibat) kemurkaanKu ??
“Yang dimaksud dari sepersepuluh dari apa-apa yang telah kami berikan
kepada mereka adalah pemberian Tuhan tentang kepandaian ilmu pengetahuan,
umur, kekuatan jasmani, kekayaan harta benda dan sebagainya.”
“Ingat! Adam
juga dilahirkan”
“Benarkah …?”
“Adam memang manusia
pertama, tapi di Bumi, bukan di alam semesta ini”
“Kalau begitu berarti …”
“Ada manusia lain selain Adam”
“Buktinya?”
“Buka surat Ali Imran ayat 59, sudah siap Al
Qur’annya?”
“Yup!” jari-jarinya sibuk membuka kitab berwarna
Cokelat itu
إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ
كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ
قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ (۵۹)
Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah, seperti
permisalan Adam, …
“Sebentar, sampai di sini dulu kita akan bahas”
cegah lelaki berhidung tinggi di balik layar monitor “Kau tahu siapa Isa?”
“Kata ibu, dia itu kan putranya Maryam”
“Kau tahu siapa Maryam?”
“Perempuan yang belum pernah tersentuh satupun dari
laki-laki pun dengan menikah. Memangnya Al Qur’an pernah menyebutkan cerita
itu, Ayah”
“Yup! Kau pernah membaca surat Maryam? Bagaimana
Maryam berkata kepada Jibril ... Coba buka surat Maryam (19) ayat 20”
قَالَتْ أََنَّىٰ يَكُونُ لِى غُلاَمٌ
وَلَمْ يَمْسَسْنِى بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang
anak laki-laki, sedang tidak pernah seorangpun manusia menyentuhku dan aku
bukan (pula) seorang pezina”
“Kalau
begitu Adam juga dilahirkan? Buktinya apa Ayah?”
“Baca surat An Nisa ayat 1”
يٰأَيُّهَاالنَّاسُ إِتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً ... (۱)
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan-mu dari Nafsin Wahidah
(jiwa yang satu), dan Allah telah menciptakan daripadanya pasangan (suami)nya,
dan Allah telah mengembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan
perempuan …
“Coba perhatikan 2 kata yaiatu نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ atau
sering diartikan sebagai Jiwa yang satu, padahal kau tahu? Di sini ada ta’
marbuthoh (ة) yang menunjukkan
jenis perempuan. Kalau seandainya saja ini yang dimaksud adalah Adam,
seharusnya نَفْسٍ وَّاحِدٍ saja”
“Berarti Adam punya ibu dong?!”
“Ya, tapi coba perhatikan lagi kata ini …”
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًاوَنِسَآءً
Dan Allah telah menciptakan dari- (هَا) nya (perempuan)
yakni; (نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ), (زَوْجَـ) pasangan/suami - (هَا)nya (perempuan) (نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ), dan (مِنْـ) daripada (هُمَا)kedua-nya
(yakni; نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ dan زَوْجَـ), Allah mengembang biakkan laki-laki
dan perempuan yang banyak
“Jadi
artinya; Wahai
manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan-mu dari jiwa yang satu, dan (yang) daripadanya
(pula) Allah menciptakan suaminya, (serta) daripada keduanya (pula, yakni;
nafsi wahidah dan suaminya) Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan
yang banyak. …”
“Klik” wajah lelaki muda itu kembali muncul setelah
beberapa menit menunjukkan lembar analisa pada layar monitor tersebut.
“Luch
capek?”
“Hmm!!”
gelengnya dengan mata sedikit sayu “Cuma sedikit pusing, tapi aku masih
penasaran dengan penjelasan ayah. Oke, Lanjutkan Ayah!” ujarnya menegakkan
punggung
“Baik,
sebelum kita lanjutkan pada bukti-bukti ayat yang lain, kita lanjutkan tanda koma ini
“Klik!”
sesaat wajah itu lenyap berubah lembar penjelasan beserta sederet huruf
hijaiyyah
إِنَّ مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ
كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ
قَالَ لَه كُنْ فَيَكُونُ (۵۹)
“Perhatikan
kata-kata yang Ayah garis bawahi, dan kita perlahan mengartikannya”
Kata خَلَقَ adalah fi’il madhi (kata lampau) yang
diartikan menciptakan, dalam kata ini menyimpan dhomir mustatir (kata pengganti
yang tersembunyi, yakni kata هُوَاyang artinya Dia; yakni Allah)
Jadi
dari sini kita mendapatkan arti kata خَلَقَه Dia
(Allah) menciptakannya, مِنْ تُرَابٍ dari تُرَابٍ sari pati tanah, ثُمَّ kemudian (kata-kata ثُمَّ ini
mengandung pautan waktu, seperti contoh kalimat “Aku pulang sekolah, kemudian
aku makan dan tidur” dalam kalimat seperti ini pasti ketika kamu pulang sekolah
nggak langsung makan, melainkan buka pintu rumah dulu, duduk dan baru bilang
pada mbok Yem jika kamu ingin makan, atau … mesti ganti baju dulu dan lepas
sepatu dan kaos kaki dulu), قَالَ
“Kau
masih ingat fi’il madhi?”
“Ya,
kata kerja lampau, kata قَالَ juga menunjukkan fi’il madhi bukan
Ayah?! Yang di dalamnya tersembunyi dhomir mustatir هُوَ yang
artinya dia laki-laki. Jadi ثُمَّ قَالَ لَه artinya kemudian
Dia mengatakan kepada (ُه) nya (Adam) كُنْ فَيَكُونُ jadilah, maka jadilah”
“Ingat,
meskipun Allah berkuasa menjadikan Adam dengan sekejap mata, tapi hukum sebab
akibat itu tetap berlaku di jagad raya. Dari itulah, sebenarnya Allah ingin
mengajarkan kepada manusia tentang bagaimana ala mini berjalan. Coba lihat
surat Al Kahfi ayat 84-85”
إِنَّا مَكَّـنَّالَه فِى
ا ْلأَرضِ وَءَاتَيْنٰـهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا (۸٤)
Sesungguhnya Kami
telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan
kepadanya suatu sebab (untuk mencapai) segala sesuatu.
فَأَتْبَعَ سَبَبًا (۸۵)
Kemudian ikutilah
sebab
“Dari ayat
tersebut, Allah hanya ingin menjelaskan kepada kita bahwa segala yang terjadi
di Bumi itu tidak terjadi dengan tiba-tiba, semua ada sebabnya.”
“Kalau begitu
berarti benar dong? kata buku ini bahwa manusia berasal dari kera, dan bahwa
Galaksi alam raya ini dulu berasal dari kabut” ujarnya sambil menunjukkan buku
Ensiklopedi Alam Semesta karya …
“Tidak seperti itu,
semua yang Allah ciptakan itu teratur, dalilnya ada dalam surat Al-Anbiya’ (29)
mulai ayat 30 sampai 33. Seperti yang sudah Ayah jelaskan tadi, bahwa Adam itu
juga berasal dari makhluk yang sama, yakni manusia berjenis muannats
(perempuan). Hanya saja ia diciptakan dimana, dalam arti di planet mana Ayah
belum tahu tentang hal itu. Luch sendiri tahu, bagaimana manusia itu
diciptakan, surat Al Hajj ayat 5 menjelaskan tentang itu”
... فَإِنَّاخَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ
ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَ
غَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَ
نُقِرُّ فِى ا ْلأَرْحَامِ مَانَشَآءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمَّى ثُمَّ
نُخْرِجُكُمْ طِفْلاً ثُمَّ لِتَبْلُغُواْأَشُدَّكُمْ ۖ... (۵)
Maka (ketahuilah),
sesungguhnya Kami telah menjadikanmu dari Thurab, kemudian dari nuthfah, kemudian dari mudghah, kemudian
dari mudghah mukhallaqah dan mudghah ghoir mukhlallaqah untuk Kami jelaskan
kepadamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu
yang ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan. …
“Ayat itu masih
dijelaskan lagi dalam surat Al Mu’minun ayat 12-14”
وَلَقَدْ خَلَقْنَاا ْلإِنْسَانَ مِنْ
سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ (۱۲)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ
مَّكِيْنٍ (۱۳)
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
فَخَلَقْنَا اْلعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنٰهُ خَلْقًاءَاخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ
الله ُ أَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَ (۱٤)
Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari saripati (tanah) thin. (12) Kemudian Kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim). (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang
itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berhak) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (Surat 23
ayat 12-14)
“Ayah,
sebenarnya Luch hanya ingin tanya siapa yang mengajarkan kata-kata hingga
menjadi sebuah bahasa kepada orang-orang sedunia. Aku pikir kenapa toh
masing-masing Negara meski mempunya bahasa yang berdeda. Aku rasa, bukannya
dengan satu bahasa saja sudah cukup?”
Entah
kenapa tiba-tiba saja lelaki muda berkulitan putih itu hanya tersenyum
mendengar ucapan putranya mengucek-ucek matanya yang mulai memerah dan sesekali
menguap menggaruk-garuk kepala, namun tetap serius di depan monitor flat itu.
Sesaat lelaki itu melirik arlojinya yang melingkar hitam di pergelangan
tangannya.
“Luch
bobok dulu yuk, besok kan masuk sekolah?” tiba-tiba saja sebuah tangan lembut
membelai rambut hitam kemerah-merahan itu.
“Ibu?!
Kapan ibu datang …”
“Ayah
besok juga harus masuk kerja sayang … bagaimana kalau dia ngantuk di kantornya,
sementara kerjaanya menumpuk? Bisa-bisa dia kena semprot pimpinannya”
Lagi-lagi
lelaki itu hanya tersenyum mengangguk, melihat reaksi Luch hendak ngotot
meneruskan diskusi.
“Ayah
janji akan perlihatkan hal-hal menarik untukmu besok. Gimana?”
“Hemmh?”
angguknya
“Assalamu’alaikum,
selamat malam Ayah …”
“Wa’alaiku
salam, mimpi indah anakku,”
“Klick!”
layar itu padam
***
Tak seperti biasanya, kali ini pagi-pagi sekali
Luch duduk di meja makan menunggu Mbok Yem menyiapkan susu dan sarapan pagi.
“Tumben kakak sudah bangun?” pikir ibunya mengkirut
sesaat
“Assalamualaikum, pagi Bu”
“Waálaikum salam, kakak sudah mandi?”
“Belum, Luch lapar sejak tadi malam Bu” jawabnya
mengangkat segelas susu yang baru saja diletakkan Mbok Yem.
“Apa mungkin kalau seseorang berpikir terlalu keras
itu menjadikan cepat lapar ya Bu?” ujarnya memandang gelas yang telah kosong.
“Ya,”
“Kalau begitu berpikir itu obat mujarab bagi orang
yang ingin diet bagi orang yang kegemukan”
Sontak tawa Mbok Yem terdengar dari balik punggung
ibunya.
Sesaat ia memandang lepas pemandangan di luar
jendela yang masih sedikit gelap “Bu, mulai hari ini Luch nggak usah sekolah
ya?”
“Lho …? Kenapa??”
“Luch bosan, di kelas cuma diajari nyanyi dan
tepuk-tepuk”
Mbok Yem hanya tersenyum mendengarnya “Justru itu
yang disenangi seusiamu …”
“Ah, kata siapa? Ya Bu??” rajuknya menggamit ujung
rok perempuan muda itu
“O ya, besok ayah pulang lho …”
“Seperti Hikam aja, alihkan pembicaraan. Ya Bu?”
“Lho, benar. Ya kan Mbok?”
“Diam itu tandanya setuju. Kalau ibu nggak jawab
pertanyaanku, berarti ibu setuju kalau aku nggak masuk sekolah lagi” ujarnya melirik
raut perempuan dengan rok putih bercorak kembang-kembang kecil itu, tanpa
berkata-kata lagi, bocah berambut hitam kemerah-merahan itu keluar dari dapur
itu.
Dua orang tua itu kembali saling melirik dan mengernyitkan bibirnya.
***
Jarum
jam dinding di atas ruang tamu menunjukkan pukul 11.15, detiknya yang sedikit
keras menambah kesenyapan dalam keheningan siang itu, yang kemudian tiba-tiba
terpecah oleh teriakan tiga bocah dari
luar halaman yang beriring suara mobil yang baru saja terhenti.
“Assalamu’alaikum
…!!!” serentak suara itu membuka pintu kayu yang sedikit berat.
“Wa’alaikum
salam, sayangku … gimana tadi di sekolah …” sambut perempuan muda itu membelai
rambut si kembar
Tanpa
berkata apapun, Luch yang selesai mencium tangan ibunya seketika lari ke ruang
kerja ayahnya.
“Halo,
bagaimana kabar Ayah hari ini?” serunya lewat sebuah microphone kecil di sisi
speaker mini, seketika sosok lelaki muda
itu muncul dengan kemeja putih yang tengah melepas dasinya.
“Ayah
sudah pulang?”
“Ya,
hari ini ayah pulang lebih cepat”
“O
ya, ayah ingin memperlihatkan sesuatu”
![]() |
|||

“Kau
paham apa yang Ayah maksud dengan gambar ini? Ini hanya analisa Ayah saja.”
“Klick!”
Sesaat wajah lelaki muda itu muncul kembali
“Kemarin Luch pernah berkata pada ibu, bahwa bahasa
itu berasal dari satu orang, iya kan?” jelas lelaki itu “Na! sekarang kita akan
beranjak dari sana, orang pertama, Adam.”
“Klick!” wajah itu menghilang sesaat berganti
lembaran putih berisi sederet huruf hijaiyyah, surat Al Baqoroh ayat 31
وعَلَّمَ(الله)
ءادَمَ اْلأَسْماءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰئكَةِ.
فَقَالَ(الله إِلَى الْمَلٰئِكَةِ) أَنْبِؤُنِى بِأَسْمَاءِ هٰؤُلاَءِ إنْ
كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ.ٍ
Dan
Dia telah mengajarkan Adam nama-nama (kata benda-kata benda) seluruhnya,
kemudian memperlihatkannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: “Sebutkalah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang
benar”
“Tapi
bagaimana caranya Adam mengajarkan nama-nama benda itu kepada semua manusia
seluruh dunia Ayah?” sletuk Hikam yang tiba-tiba muncul di balik
punggug kakaknya dengan kaos sport asyik mempermainkan jari dalam mulutnya.
“Yah! Kamu dik, Adam itu kan manusia pertama
bagaimana mungkin ada orang selain Adam saat itu”
“Sebentar
Ayah, dalam ayat lain dikatakan bahwa Adam itu dulu di Surga dengan istrinya
Hawa, berarti bahasanya Adam sama dengan bahasa Surga, benar begitu??” ujarnya
menerawang jauh ke sudut-sudut ruang seolah ingin melanjutkan pertanyaannya.
“Al
Qur’an tidak pernah menyebut kata-kata Hawa Sayang …, memang di sana dijelaskan
bahwa Adam itu diturunkan ke Bumi dengan istrinya, tapi di sana tidak pernah
disebutkan siapa nama Istrinya. Dalam kitab Injil perjanjian Lama memang
disebut-sebut kata Eva yang penciptaannya diambilkan dari tulang rusuk Adam,
tapi sejauh ini Ayah sendiri belum tahu ke-otentikan kitab tersebut. Atau …
dalam beberapa hadis sendiri memang disebut-sebut kata Hawa, tapi Ayah sendiri
ragu ketika ada beberapa matan Hadis yang ternyata bertentangan dengan Al
Qur’an. Ini membuktikan bahwa para penyarah Hadis sendiri kurang teliti, mereka
hanya melihat sanad atau siapa perawi hadis tersebut, dan tidak melihat
bagaimana isi hadis itu.”
“Sebentar Ayah, sepertinya ada yang janggal …”
Jari-jari Luch tiba-tiba saja nampak sibuk membuka-buka Al Qur’an “Coba deh,
lihat surat Al Baqoroh ayat 35, kasusnya saya rasa hampir sama dengan surat An
Nisa ayat 1, pada kata-kata زَوْجُكَ pada surat Al Baqoroh ayat 35, dengan زَوْجَهَا pada surat An Nisa ayat 1, yang berasal dari kata زَوْجْ yang
artinya suami. Kalau begitu berarti Adam itu perempuan, bukan laki-laki, Ayah”
Kata-kata itu seolah meledak dalam kepala lelaki di
balik layar itu, pandangannya berubah kaku terpaku pada deretan huruf-huruf
arab itu, ia tak bisa memungkiri bahwa kata-kata anaknya memang benar, tapi
bagaimana mungkin jika Adam itu benar seorang perempuan.
“Maaf sayang, Ayah belum tahu tentang hal itu”
“Tapi itu benar kan?”
“Bagaimana kalau saat ini kita pending dulu
diskusinya, kita lanjutkan besok”
“Tapi ini kan masih sore Ayah, PRku sudah aku
kerjakan”
“Tapi Ayah pusing sekali sayang …”
“Ayah sakit?” sletuk Hikam di balik punggung
kakaknya yang masih asyik mengulum-ngulum jari manisnya.
Lelaki itu tersenyum memandang dua putranya yang
masih polos.
“Insya Allah besok Ayah pulang sayang …”
“Hore!!”
teriak Hikam lari kegirangan keluar ruangan dan berteriak-teriak
memberitahu kembarannya Hakim
“Baiklah …” raut Luch masih nampak kecewa dengan
pertanyaannya yang belum terjawab “Ayah tidak suka dengan pertanyaan Luch
tadi?”
“Oh! Tidak sayang … seharusnya Ayah katakan kalau
ayah benar-benar pusing sejak tadi pagi” sanggahnya berusaha berpura-pura “Besok
kita akan piknik, bagaimana?”
“Baiklah, Assalamu’alaikum Ayah”
“Wa’alaikum salam anakku …”
“Klick!” layar itu padam
Di ruang itu Luch masih berdiam diri di depan layar
monitor yang telah padam.
“Kalau memang begitu kasusnya, bahwa yang
dimaksud زَوْجٌ
dalam ayat itu suami,
berarti ada kemungkinan bahwa yang dimaksud نَّفْسٍ وٰحِدَةٍ adalah Adam itu sendiri
dan Adam berjenis perempuan, bukan laki-laki” sesaat matanya menerawang jauh di
balik semak-semak pemandangan di balik jendela kamar itu “Tapi bagaimana dengan
surat Ali Imran ayat 59, yang mengatakan bahwa permisalan Isa itu seperti
permisalan Adam” seolah matanya menangkap sesuatu “Tapi kan itu persamaan
proses penciptaan saja, bukan persamaan jenis yang diciptakan, maksudnya
sama-sama lelaki atau perempuan. Aku pikir … ini masalah tanda jeda saja, coba
kalau ayat ini tanpa koma ۖ,
tentu akan diartikan lain”
إِنَّ
مَثَلَ عِيسىٰ عِنْدَ اللهِ كَمَثَلِ ءاَدَمَ ۖ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه
كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya
permisalan Isa di sisi Allah itu seperti permisalan Adam, Dia menciptakannya
dari Thurab, kemudian Dia mengatakan kepadanya (Adam), Jadilah maka Jadilah
“Oh!
Tidak mungkin kalau tanpa tandaۖ, bagaimanapun ini adalah dua kalimat dalam satu ayat.
Kalau begitu? … Ah?? Pusing!!” tangannya mengentak seperti orang dewasa dan
lari ke kamarnya.
***
Bersambung
Mohon kritik dan
saran jika terpaksa naskah tidak diterima
Jazakillah.
Sochibah, Amien
Putri
Alumnus UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta th 2005
Fakultas Adab,
Jur. Bahasa dan Sastra Arab
Alamat: Ringin
Sari No 205 Dp II RT 02/49 Maguwoharjo Depok Sleman Yogyakarta 55282
Email:
duniabahasa@gmail.com
No Telp :
085.643.592.314/081.579.555.15
No Rekenening
BNI Syariah: an
Maulana Muhammad Ibrahim
Kantor
Cabang Yogyakarta, Syariah Online
0092130271

Komentar
Posting Komentar