Luch dan Meja makan
Hampir tiga jam yang lalu, Luch si gadis polos yang
selalu terlihat bengong itu, belum juga selesai sarapan paginya. Tepatnya sejak
ayah pamit kerja. Entah apa yang sedang
ia pikirkan, hampir saja ini membuat ibunya tak pernah selesai memperingatkan
untuk kembali memasukkan sarapannya ke dalam mulut.
“Mama, kenapa Allah tidak kelihatan?”
“Kalau Allah kelihatan, nanti
bisa digambar dong…?” jawab Mama sembari beres-beres rumah
“Kalau bisa digambar, nanti yang
disembah bukan Allah, tapi gambarnya” Jawab Luch mengutip jawaban
ibunya tempo hari.
“Hm,” jawab si ibu menuntun
adiknya keluar dari kamar mandi
Tak lama kemudian si adik
mondar-mandir sebelum akhirnya si ibu berhasil menangkapnya dan memberikan
celananya untuk dipakai sendiri.
“Apa Allah punya tangan?”
Ibunya berhenti sejenak memandang
gadis polos yang tak pernah berhenti bertanya itu. Entah apa yang terpikir
dalam benak si ibu, tapi yang jelas ia tampak kesulitan menjawab pertanyaan
gadis bermata bulat sayu itu.
Sambil menghela nafas, si ibu
mulai menggerakkan bibir, seakan ancang-ancang mencari-cari kata-kata yang
mudah dipahami, agar tak dipertanyakannya lagi. Karena tatapan mata polos itu
masih terus berharap ada jawaban yang pasti dari seorang wanita yang
dianggapnya serba tahu.
“Luch… Kalau Allah itu kelihatan,
pasti Mama tahu…”
“Ada hidungnya atau tidak… ada
tangannya atau tidak”
“Tapi Mama kan sudah bilang tadi,
kalau Allah itu tidak kelihatan, tapi bisa dirasakan”
“Dirasakan??”
“Ya,”
“Sama seperti kamu menghirup
udara”
“Udara itu ada, tapi kamu kan
tidak bisa melihatnya udara itu seperti apa”
“Sama seperti Allah”
“Maksudnya??”
“Tapi kan partikel udara bisa
dilihat” sanggahnya dengan tatapan mata polosnya
Sampai detik ini si ibu mulai menghela
nafas sabar.
“Ya… buktinya kalau kamu berdoa
dikabulkan”
“Berarti kalau tidak dikabulkan??”
“Allah itu nggak ada?!” spontan
Mamanya mendahului dan tertawa terkekeh-kekeh membayangkan
probabilitas-probabilitas cara berpikir Luch yang sering simultan. Dan Luch pun
ikut tertawa memperlihatkan gigi-gigi serinya yang masih terlihat utuh dan
bersih.
“Tidak seperti itu”
“Doa dikabulkan atau tidak,
tergantung yang berdoa…”
“Kalau kamu percaya doamu
dikabulkan, Allah pun pasti mengabulkan, entah kapan waktunya”
“Tapi kalau kamu ragu-ragu, itu
artinya kamu tidak percaya sama Allah”
“Ya tidak akan dikabulkan?”
“Iya lah?!”
Si ibu melirik nasi yang baru
separo.
“Ayo, makannya cepat dihabiskan” wanita
berambut panjang itu mengingatkannya lagi, lagi dan lagi, entah yang ke berapa
kalinya.
@@@
“Mama, apa katak punya gigi?”
tanya Luch menatap lurus adiknya
“Kenapa memangnya?”
“Tidak apa-apa” seringai tawanya
menyipitkan matanya yang bulat
Entah apa yang ia pikirkan tentang seekor katak. Akhir-akhir ini ia sering bermain-main di sungai kecil belakang rumah yang kadang airnya meluap di saat musim penghujan seperti sekarang. Bersama kawan-kawannya di perkampungan seberang sungai yang tak begitu bersahabat dengannya yang terlalu polos dan sering terkesan tidak nyambung.
Soal tidak nyambungnya ini, Mama sebenarnya sering khawatir, kalau-kalau ia diperlakukan tidak senonoh dengan teman-temannya di lingkungan barunya ini. Apalagi ada seorang anak lelaki yang terkenal dengan nakalnya yang luar biasa dengan orang tua terkesan bangga dengan kenakalan anaknya.
Pertama kali tiba ke lingkungan
itu, Luch yang mudah bergaul sering terkena bully darinya. Dan itulah yang
menyebabkan anak-anak lain pun tidak bersahabat dengan Luch, hanya karena satu
alasan; Luch tidak mau mengeluarkan mainannya.
Ia ingat betul perintah ibunya
yang tidak boleh mengeluarkan mainannya, terutama jika ada Aris dan adiknya,
yang sering merusak mainan anak-anak lainnya. Belakangan ibunya sadar betul
peringatan ibu-ibu di sekitar tentang kenakalan Aris yang semakin hari semakin
meresahkan anak-anaknya.
“Luch… Luch…!” panggil anak-anak
yang dulu sering ikut membully
@@@
Gubrak!!!
“Hakim! Hakim!!” panggil
teman-temannya yang gemes melihat sosok Hakim yang berbadan gempal, bermata
bulat bening dan rambutnya lemes itu selalu berdiri tertiup angin, sementara
saat berlari nyaris seperti berjinjit.
“Mbul-mbul-mbul!!”
Si ibu tak tahu apa sebenarnya
yang sedang terjadi dengan diri Hakim yang sedemikian tertutupnya dengan
pergaulan teman-temannya. Terkadang seolah tak mau tahu, ia tutup pintu
keras-keras begitu tahu kakaknya bawa teman-temannya masuk ke rumah.
Begitu juga kala ada seorang
tamu, yang dianggapnya tidak cocok. Ia akan masuk kamar dan tak akan keluar
sebelum tamu itu pulang. Tapi lain halnya jika ia cocok, seberapa barunya tamu
itu di rumah, ia akan menyambutnya dan mengajaknya bermain, meski tanpa sepatah
katapun keluar dari mulutnya.
Pernah ada sepasang suami istri
yang baru pertama kalinya datang ke rumah. Entah bagaimana, tiba-tiba Hakim mau
menjejer mobil-mobilan beserta boneka kecil-kecilnya bersama si istri.
Lalu lain halnya dengan kejadian
yang kesekian kalinya mereka datang ke rumah nenek dan ketemu saudara-saudara
ibu, yang hampir semuanya perempuan. Melihat Hakim yang menggemaskan, mereka
benar-benar ingin mencubit pipinya, karena berkali-kali selalu gagal
mendekatinya, apalagi menyentuhnya.
“Hei, Le! Ini mukhrimmu” tawa
budhe nya geli melihat Hakim yang ngacir keluar rumah
@@@
Komentar
Posting Komentar