Luch dan Mama di kereta
“Kenapa
orang bisa berbicara, ma?”
“Apa yang
terjadi seandainya orang tidak berbicara?” tanya Luch tiba-tiba
“Pertanyaan
sederhana tapi rumit,” pikir ibunya menghentikan bacaannya
Mata Luch
yang bening seakan siap menerima jawaban sempurna dari ibunya yang ia pikir
tahu segalanya.
“Orang bisa
berbicara itu karena kebutuhan dia untuk berkomunikasi dengan orang lain” jawab
ibunya
“Kenapa?”
“Ya karena
Manusia itu termasuk makhluk sosial, dia butuh kawan. Seperti halnya Luch yang
membutuhkan Reza untuk bermain”
Matanya
kembali tertuju pada pemandangan di luar kereta yang bergerak cepat seperti
bayangan kilat saat melintasi perkotaan di tengah malam. Seperti ada yang
terselip dalam benak pikirannya, ia kembali memandang wajah ibunya yang tertuju
pada sebuah buku kecil.
“Lalu siapa
orang pertama kali yang mengajarkan orang bicara, Ma?”
“Kenapa
juga orang di seluruh dunia itu ngomongnya berbeda-beda”
Spontan
pandangan matanya terhenti seperti tengah berpikir menyiapkan jawaban gadis
mungilnya yang baru belajar mengenal dunia yang serba baru ini. Sementara
pasangan suami-istri di depannya mulai senyum-senyum melihat pertanyaan Luch
yang menggelitik.
“Itu sama
halnya seperti Luch tanya, siapa yang mengajarkan nabi Adam itu bicara.
Begitukah?”
“Ya!!!”
teriaknya seperti tengah menemukan sesuatu dalam benak pikirannya
“Siapa Ma?”
“Ada satu
ayat yang bilang begini, nih Kak…”
(2/31)
Wa Allama
Aadam al asma’a kullaha
“Lalu
bagaimana caranya Allah mengajarkan nama-nama itu, bagaimana kata pesawat
terbang muncul, bukankah waktu itu katanya belum ada pesawat?”
“Pertanyaan
yang cerdas!” cletuk ibunya yang hanya disenyumi dua orang sepasang suami istri
di depannya melihat Chika senyum-senyum.
Lagi-lagi
perempuan itu seperti tengah mencari ide baru untuk menjawab pertanyaan itu
agar mudah dicerna.
“Menurutmu,
kenapa?”
“Kenapa
orang bisa menyebutnya ini buku? Dan kenapa orang bisa menyebutnya ini kereta?”
“Kalau
menurutmu, kira-kira apakah Allah mengajarkan semua kosa-kata itu sementara
nabi Adam yang hidup di jaman itu belum mempunyai kawan lain selain
pasangannya?”
“Siti
Hawa?”
“Kata siapa
Hawa?”
“Memangnya
Allah pernah? Menyebutkan kata Hawa dalam Al Qur’an?”
“Okey… kita
simpan dulu pembahasan kata Hawa, satu saat kita akan membahasnya lebih
jauh”
Lagi-lagi
gadis cilik dengan rambut tipis berkepang satu itu seperti tengah ingin
menemukan jawabannya di luar jendela sana yang lagi-lagi menampakkan
kerlap-kerlip lampu kota dengan jalanan yang lengang. Sementara dari mulutnya,
laki-laki di depannya seakan ingin menjawab pertanyaan ibunya Luch yang tengah
menunggu jawaban darinya.
“Bahasa itu bersifat manusiawi
ya bu?”
“Hm!”
perempuan itu mengangguk dan spontan Luch berpaling seakan ingin menyimak
mengikuti percakapan itu
“Dan karena
manusia itu juga memiliki akal pikiran yang terus berkembang makanya sifat
bahasa juga dinamis”
“Lalu
dengan burung Beo?”
“Bahasa
binatang bersifat statis. Ia tidak berkembang pesat seperti manusia”
“Coba,
pernah perhatikan burung Beo kan?”
“Jika dia
tidak diajarkan ngomong “Kereta”, sampai kapanpun dia nggak akan mengucapkan
kata itu, kan”
“Nah,
kasusnya pada bayi, bukankah anak-anak juga demikian?”
“Artinya
jika anak itu tidak pernah mendengar kata “kereta” dia nggak akan mengucapkan
kata itu?”
“Iya,
memang… itu di tahap-tahap awal”
“Tapi
bagaimana coba munculnya kata “Komputer”, misal”
Entah
kenapa, dialog itu berubah menjadi tiga arah antara ibu Luch dan dua pasangan
suami istri di depannya. Sementara Luch kali ini hanya berusaha menyimak
diskusi yang beberapa kata membuat dia agak bingung.
“Ketika ada
orang yang menciptakan “Komputer” muncullah kata itu, kira-kira menurutmu
darimana kata itu bisa keluar”
“Ya karena
manusia punya akal pikiran, kan?! Untuk menamakan kata itu”
“Itulah
yang saya tanyakan pada anakku tadi,”
“Ketika
kata itu muncul dalam benak pikiran manusia, dan manusia lain meresponnya
menjadi sebuah kesepakatan akan penamaan sebuah benda. Muncullah kosa kata
baru, lagi dan lagi…”
Tiba-tiba
Luch nyletuk,
“Jadi,
menurut Mama ayat Wa’allama al adam al asmaa kullaha itu artinya bahwa
Allah mengajarkan semua nama-nama itu karena dengan memberikannya bekal Akal
pikiran?”
“Hm!”
“Kok??”
“Iya,
karena dengan akal pikiran inilah manusia bisa menamakan semua benda-benda yang
ia lihat dan yang ia ciptakan sendiri (di suatu saat kelak)”
“Kalau
menurut ibu, akal pikiran itu letaknya ada dimana?” Tanya perempuan di depannya
“Otak?”
tanyanya lagi
“Lalu apa
bedanya otak manusia dengan otak binatang?”
“Ya Beda
lah, volume otak manusia lebih besar dibanding otak binatang. Dan jaringannya
lebih kompleks dan lebih rumit dibanding otak hewan” clutuk Luch sigap
“Gimana?”
Tiba-tiba
saja terdengar suara petugas dari balik pengeras suara di dinding-dinding
gerbong yang menadakan akan adanya pemberhentian Stasiun di depannya.
“Okey-okey!
Kita akan bahas itu lagi nanti di rumah?” kata perempuan itu segera bergegas
dari tempat duduknya dan menyalami kedua orang di depannya yang diikuti Luch.
Saat itulah
kereta bergerak mulai lamban dan lamban hingga akhirnya mengeluarkan suara
deritan panjang dan berhenti tepat di sebuah stasiun. Orang-orang mulai
meninggalkan tempat duduknya dengan menjinjing barang bawaannya menuju pintu
keluar. Sementara orang-orang di luar sana telah antri di depan pintu masuk
gerbong menunggu para penumpang keluar dari pintu-pintu gerbong berwarna biru.
Luch yang
berjalan di depan ibunya sesekali mengamati tiga orang turis di depannya dengan
sesekali obrolan dengan khas gaya mereka. Begitu mereka keluar, Luch baru bisa
mengamati dengan jelas ketiga orang itu dari jarak beberapa langkah darinya.
Satu orang lelaki berkulit hitam legam berpotongan plontos dengan bibirnya yang
sedikit agak lebar, satu lelaki bermata sipit berkulitan putih, dan satunya
lagi lelaki berhidung bengkok dengan kulitnya yang putih kemerah-merahan.
Perlahan
langkah kakinya mulai lambat dan tertinggal oleh ibunya yang kini telah berdiri
di depan pintu keluar. Perempuan itu baru sadar jika Luch tak ada di sisinya
saat ponsel nya berbunyi.
“Iya,
tunggu. Kita sudah di depan pintu keluar” katanya dengan sorot matanya memburu
keberadaan gadis kecil dengan jaket tebal itu.
Saat jemari
mungil itu ditarik ibunya, Luch seperti baru bangun dari tidurnya. Ia
tergeragap dengan sorot matanya masih terus mengawasi kepergian ketiga bule itu
yang semakin menjauh pergi dengan obrolan bahasa yang tidak ia mengerti.
“Mulai lagi
deh…” ujar ibunya yang sepertinya hafal dengan kebiasaan Luch yang suka
berimajinasi sendiri saat melihat sesuatu yang menarik
Saat mereka
keluar, seorang lelaki sudah menyambutnya dengan dua anak kecil.
“Ayah!!”
seru Luch merangkul lelaki itu
Dua adiknya
ini rupanya masih ngantuk, hingga keduanya hanya terdiam melihat Luch yang
masih terkesiap.
@@@
“Kenapa ya
Ma, orang di seluruh dunia itu ngomongnya berbeda-beda?”
“Hm?”
“Karena
bangsa mereka juga berbeda-beda”
“Iya, tapi
kenapa?!” suaranya agak ngotot
“Ya karena
alamnya juga berbeda,”
“Iya, tapi
kenapa??” kali ini nada suaranya agak ditekan
“Coba
bayangkan kita yang tinggal di Negara dengan dua musim; yakni penghujan dan
kemarau, Lalu dengan orang yang tinggalnya di kutub utara sana yang hanya
mengenal salju, lalu beda lagi dengan orang yang tinggalnya di daerah dengan
empat musim; ada musim hujan, musim salju, musim semi dan musim gugur”
“Masing-masing
dari mereka mengenal benda alamnya yang berbeda. Di eropa ada banyak kata untuk
salju, tapi di Indonesia hanya ada kata salju. Begitu juga di Timur tengah,
mungkin ada banyak kata untuk menyebut macam-macam jenis Kurma dan Unta, tapi
di Indonesia tidak”
“Bukan itu
maksudku,,”
“Lalu?”
“Bukankah
katanya nenek moyang manusia itu adalah Adam?”
“Harusnya
kan semua orang di dunia ini akan berbicara dengan satu bahasa saja”
“Oh… itu??”
“Berarti
bahasanya nabi Adam itu bahasa Surga ya Ma? Aku pernah dengar seperti itu,”
“Benarkah
Surga?”
“Ehmm…?”
Luch tampak sedang berpikir keras menggoyang-goyangkan kakinya di bawah meja
“Okey… kita
akan bahas soal Surga nya Adam, dimana ia memakan buah khuldi dan bertemu
dengan pasangannya kapan-kapan,”
“Istrinya kan?
Siti Hawa ya?”
“Benar
Hawa??”
“Dalam
ayatnya Cuma disebutkan pasangannya saja lho… disana dikatakan zaujaha… bukan
zaujatuhu”
“Okey? Kita
singkirkan dulu pembahasan soal ini nanti”
“Sekarang
kita bahas soal kenapa bahasa di Bumi itu jadi berbeda-beda padahal dulunya
dari satu keturunan, yakni nabi Adam”
Luch mulai
siap menyimak
“Masih
ingat cerita banjir nabi Nuh?”
“Hm! ”
@@@
“Coba nih,
baca ayat sebelumnya” tunjuk perempuan itu membuka androidnya
(2/30)
“Dan ketika
Tuhanmu berkata pada Malaikat, bahwa Aku menjadikan di Bumi, kholifah. Mereka
berkata “Apakah akan Engkau jadikan padanya orang yang merusak padanya dan
pertumpahan darah? Sedang kami bertasbih untukMu dan mensucikanMu. Dia berfirman, Aku
mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui” ”
“Dalam ayat
ini, sepertinya Allah tengah merencanakan sesuatu”
“Tapi
Malaikat protes, “Kenapa toh, Kamu akan buat makhluk yang hanya bakal merusak
dan saling membunuh di muka bumi”? ”
“Itu
berarti sebelumnya sudah ada makhluk lain selain manusia yang kerjaannya cuma membuat
keonaran dan kerusakan di Bumi. Dan Malaikat tahu itu…”
“Siapa
dia?”
“Manusia
Homo, Luch pernah tahu kan?”
“Yang ada
di Museum Sangiran itu?”
“Ya! Betul.
Itu kemungkinan praduganya Malaikat seperti itu, makanya kenapa si Malaikat
protes sama Allah”
“Tapi
selanjutnya kan Allah bilang tuh…”
Inniy a’lamu maa la ta’ lamuun
“Aku itu
Tahu, apa yang tidak kamu ketahui…”
Seperti ada
yang ingin dikatakannya gadis itu diam menatap mata ibunya,
“Ma, aku
kan Tanya. Siapa yang mengajarkan manusia pertama kali bicara”
“Coba Luch
pikir, siapa yang mengajari Luch bicara”
“Mama,”
“Lalu siapa
yang mengajari mama bicara?”
“Ibunya Mama,”
“Lalu siapa
yang mengajarkan ibunya mama bicara?”
“Ya ibunya,
ibunya, ibunya….”
“Kalau
begitu, kenapa semua orang di dunia bicaranya berbeda-beda? Bukankah kata Luch
dulu, bahwa nenek moyangnya manusia itu Nabi Adam?”
“Ya karena
mereka kan punya anak, punya anak dan buanyaakk…”
“Iya, tapi
kenapa kok bicaranya berbeda-benda?”
“Ya karena
mereka tinggalnya di tempat yang berbeda-beda,”
“Kenapa
begitu?”
Sampai di
detik itu Luch terdiam, wajahnya melengoskan pada pemandangan di luar jendela
yang kini tampak gelap gulita.
“Masih
ingat kisah nabi Nuh kan?”
“Hm!” Luch
mengangguk
“Kira-kira,
apakan nabi Nuh itu dulunya juga anaknya nabi Adam”
“Ya
iyalah,”
“Kira-kira,
sama nggak bahasanya nabi Adam dan bahasanya nabi Nuh?”
“Sama!”
“Masih
ingat nggak, ceritanya nabi Nuh dan Banjir besar selama kurang lebih 300hari?”
“Hm!” Luch
mengangguk
“Kan’an
yang anaknya tenggelam bareng sama ibu nya itu kan?”
“Ya,”
“Kira-kira
apakah seluruh permukaan Bumi itu tertutup sama Banjir waktu itu?”
“Nggak
tahu,”
“Okey…
kapan-kapan kita akan cari ayatnya yang jelaskan tentang itu ya? Ini buat PR
nih,”
“”
Spontan
gadis bermata bulat bening itu tertawa terkekeh geli membuat dua orang pasangan
suami istri itu tersenyum seakan ingin menimpalinya.
Entah kenapa
tiba-tiba ia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu
“Lalu
kenapa katanya manusia itu dulunya dari seekor monyet?”
Sampai
detik ini wanita dengan kemeja putih kembang itu menutup bukunya menahan kantuk
“Kata siapa?”
“Itu, waktu
di museum”
“Itu baru
Teori, kakak…”
“Kenapa?”
“Ya
teorinya bilang begitu,”
“Ya tapi
kenapa? Mereka bilang seperti itu…”
“Itu
berdasarkan penemuan fosil, Kakak… mereka menyambungkan potongan tulang-tulang
tengkorak, tulang rusuk dan lain sebagainya menjadi satu… lalu dianalisa dengan
komputer. Kira-kira bentuk wajahnya seperti itu, jalannya juga seperti itu”
“Lalu nabi
Adam?”
Lompatan
tanya itu membuat ibunya berhenti berpikir, bahkan kini rasa kantuk itu hilang
begitu saja. Dari hasil penelitian itu memang banyak teori berikutnya yang
memprotesnya, tapi bukankah manusia Adam itu tidak diciptakan di muka bumi?
Melainkan dalam ayatnya di katakan ia diciptakan di Jannah ?
“Masih
ingat? Ayah suruh hafalkan ayat ini?” kata wanita itu lagi seakan ingin
mengingatkan pelajarannya di rumah
Wa qulna yaa Adam’ skun anta wa zaujuka al jannata wa kula
minha roghodan haitsu syi’tuma wa la taqrobaa hadhihi syajarata
fatakuuna mina dhoolimiyn
“Nah, yang
perlu kita garis bawahi adalah kata Jannata dan Syajarota”
“Kenapa?”
“Untuk
mengetahui skenarionya Allah”
Kata
Syajarota dengan memakai huruf ta’ marbutoh, itu artinya bukan pohon, melainkan
pertumbuhan. Jadi “mungkin” skenarionya Allah bahwa Adam itu tidak
dikembangbiakkan di sana “di Jannah” tersebut melainkan dikembangbiakkan di
Bumi
“Nah
sekarang apa maksud Jannata itu?”
“Benarkah Surga?”
“Coba lihat
surat ini:
Qooluu
robbana amattana ‘stnatayni wa ahyayna tsnatayni fa’tarofna bi dzunuubina fahal ilaa khuruuji’
min sabiylin
“Itu yang
berkata adalah orang-orang kafir, dalam ayat sebelumnya”
Dengan
analisa sebagai berikut;
Analisa
Mikro Kosmosnya; Bahwa manusia itu mati, kemudian dihidupkan, lalu dimatikan
dan kemudian dihidupkan lagi dalam bentuk yang kekal (dalam alam akhirat)
Analisa
Makro kosmosnya; Bahwa alam semesta itu awalnya tidak ada, kemudian diadakan,
lalu dihancurkan, kemudian diciptakan lagi dalam bentuk yang terakhir.
“Jadi
maksud Mama, bahwa Surga itu sekarang belum ada. Begitukah???”
“Dosa lho
Ma…”
“Mama
percaya ada Surga dan Neraka, Kak…”
“Kamu kan
bisa lihat kata-kata orang kafir itu di ayat sebelumnya, yang artinya kurang
lebih berbunyi begini;
Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah
menghidupkan kami dua kali…
Itu berarti
begini;
Mati (masa
sebelum diadakan) è Hidup (Ketika
hidup di dunia) è Mati (Ketika di
alam kubur) è Hidup (ketika diadakannya yaumul ba’ts dan
yaumul qiyamat)
“Mereka
berkata seperti itu ketika mereka sudah dalam alam Neraka, sebagai bukti
penyesalan ketika mereka di hidupkan. Inilah ayat-ayat futuristik, atau
bocorannya Allah”
Begitulah
ayat-ayat Allah menjelaskan, antara satu ayat dengan ayat yang lain saling
mengunci, saling membatasi.
“Kalau
begitu, kata Jannath dalam ayat itu menunjukkan apa?”
“Jannah
dengan memakai kata ta’ marbuthoh di belakangnya artinya adalah kebun”
“Kebun?”
“Dimana?”
“Dimana
Adam diciptakan dan dilarang mendekati Syajaroh itu dong,”
“Dimana
itu?”
“Kira-kira
di mana?”
Luch diam
tampak berpikir keras,
“Coba lihat
ayat ini”
(3/59)
Sesungguhnya permisalan (penciptaan) Isa di sisi Allah itu seperti (penciptaan)
Adam. Dia menciptakannya dari Turaab, kemudian berfirman kepadanya; “Adalah”,
maka dia “Ada”
Lalu
penjelasan tentang bagaimana Adam diciptakan;
(4/1) Wahai
manusia, takwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari nafs yang
satu. Dan daripadanya Allah menciptakan
pasangannya; dan daripada keduanya Allah
memperkembangbiakkan anak laki-laki dan perempuan yang banyak
(Ayat Proses kenaikan Nabi Isa yang hampir sama
dengan kasusnya dengan turunnya Nabi Adam ke Bumi)
“Apa
jangan-jangan Adam di turunkan dari planet lain?”
“Ya... Bisa
jadi?” kata ibunya
“Di planet
mana kira-kira, Ma?”
“Merkurius,
Venus, Mars...” Luch berpikir panjang
“Kamu kira,
cuman dalam satu tata surya saja?”
Coba lihat
surat ini...
“Sudah
dulu, Kak… nanti saja di rumah”
“Jangan-jangan,
mama nggak tahu ya…” tawa Luch menggelitik
Spontan
pasangan suami istri di depannya ikut tertawa mendengar celoteh gadis cilik
dengan rambut hitam lurus bermata bulat itu.
“Pertanyaanmu
itu ringan, Kakak… tapi rumit untuk dijawab. Bahkan Om pun nggak tahu
jawabannya” jawabnya lelaki di depannya
“Sejak dulu
hingga sekarang, orang masih suka memisahkan antara ilmu dengan agama”
“Apa
maksudnya?” timpal Luch
“Maksudnya
orang masih suka memisahkan antara apa kata Tuhan –yang di tulis lewat Al
Qur’an - dengan apa kata Manusia, yang ditulis di buku-buku ilmiah”
“Bukannya
ayatnya bilang sebagai petunjuk?”
“Ayatnya
bilang;
Dzalika al kitabu la roiba fiihi hudan lil muttaqin
“Itu
artinya Al Qur’an itu petunjuk bagi orang yang yakin saja, kalau enggak ya
tidak” jelas ibunya menyitir sebuah ayat
Dalam
keseharian, Luch memang suka bertanya berbagai macam tentang hubungan sebab
akibat. Bahkan waktu di WC pun akan habis berjam-jam untuk berandai-andai, jika
tidak membawa buku, atau saat ibunya mulai marah.
Begitu pula
dengan saat makan dan mandi, itu adalah waktu terpanjang baginya menuntaskan
imajinasinya, sebelum akhirnya ibunya mengingatkan atau terkadang saking
lelahnya mengingatkan, ibunya teriak. Baru Luch seperti terbangun dari
imajinasinya.
Sampai di
situ Luch seperti tengah berpikir
“Jika orang
tidak berbicara, dunia bakal sepi”
Spontan
Luch tertawa terkekeh menggamit lengan ibunya
“Asyik
dong,”
Komentar
Posting Komentar