Lelaki dalam mimpi itu...
Sinopsis
Aku
bukan perempuan
Tingkahnya
yang tomboy membuat teman kelasnya yang mayoritas laki-laki sedikit risih
melihatnya, mereka menginginkan jika Rena menjadi seorang perempuan feminin, seperti
gadis kelas lainnya yang lembut, anggun dan pengertian dengan pakaian ala
perempuan lainnya. Saking kesalnya,-karena tak pernah digubris- mereka (teman
laki-lakinya) sepakat merencanakan sesuatu demi merubah perilaku dan cara
berpakaian Rena menjadi seorang perempuan asli.
Rena
tetap tak peduli dengan rencana mereka
Namun
mereka berprasangka jika itu membuat Rena kesal hingga beberapa hari tak masuk
kuliah, mereka mendelegasikan Hayes –teman paling dekatnya- sekedar minta maaf
sambil menyodorkan sepucuk surat yang berisi tantangan membuat sebuah novel
romantis.
Hal
ini sempat terfikir oleh Rena berhari-hari.
“Bagaimanapun
aku tidak pernah jatuh cinta bagaimana mungkin aku bisa membuat novel tentang
cinta?” fikirnya suatu waktu. Hal ini terfikir olehnya berhari-hari. “Benarkah
aku ini perempuan normal, jika normal kenapa aku tidak pernah memiliki rasa
suka pada lawan jenis?” begitu fikirnya berhari-hari.
Di
satu malam ia mimpi bertemu dengan sosok lelaki aneh yang tak asing lagi
baginya, lelaki itu adalah lelaki yang sering muncul dalam tidurnya beberapa
tahun silam.
Mimpi
seperti itu bukan yang pertama kalinya muncul, sementara perasaan-perasaan aneh
yang dulu sering muncul kini kembali bersemi menggelayuti fikirnya seiring
berjalannya waktu. Memang dulu ia merasakan ada sesuatu yang aneh di balik
perasaannya waktu duduk di bangku SD, dan kelulusan itu membuat hari-harinya
kian menderita karena harus pisah dengan anak lelaki tersebut.
Sebagai
seorang gadis kecil ia tidak tahu sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan
perasaannya itu, sejak itu hari-hari yang dilewatinya menjadi lebih mengerikan
ketimbang keadaan sakit bagaimanapun.
Perasaan
sakit, perih dan rindu terus menggerogoti hari-harinya yang kian kelabu.
Awalnya ia tetap memilih menahan perasaan dan rasa sakit itu dan berusaha
menguburnya dalam-dalam, namun suatu ketika ia tak tahan keadaannya persis
seperti orang gila, dimanapun dan kapanpun ia berada dirinya selalu merasa
dihantui wajah lelaki itu yang samar dan tak jelas, yang ia tahu pasti bahwa ia
merasa benar-benar tak tahan karena selain mimpi-mimpi aneh itu bermunculan, perasaan
rindu dan sakitnya kian tak terobati.
Hayes
yang dulu pernah memendam rasa suka kepadanya seketika luluh dan hancur
mendengar pengakuan Rena yang demikian, namun sebagai seorang sahabat, ia tetap bersikap baik dan mengurungkan egonya
untuk terus maju, apalagi sampai mengungkapkan perasaannya, meski sakit dan
hancur Hayes tetap bersikap baik, dan menemani hari-harinya yang kian kelabu.
Atas
anjuran Hayes, Rena-pun memberanikan diri untuk mengirimkan surat pada salah
seorang temannya yang tahu alamat lelaki itu, meskipun ia tahu jika hal itu
akan membuat temannya terheran-heran dengan pernyataan surat itu.
Hari-demi
hari Rena melewatinya dengan ke-pasrahan dan tetesan air mata yang selalu
membuat matanya membengkak. Namun Hayes selalu menghiburnya.
Kurang
lebihnya satu bulan surat balasan dari lelaki itu datang dengan gaya bahasa
singkat dan datar, namun keyakinannya begitu kuat jika suatu saat laki-laki itu
pasti akan menyambut cintanya, meskipun Rena tidak pernah menyatakannnya secara
lisan, namun perhatiannya terus menjerat.
Rena
kaget bukan kepalang, saat mereka bertemu dan melihat keadaan fisiknya begitu.
Haqie,
begitu panggilan akrab anak lelaki itu sejak duduk di bangku SD. Awalnya ia
bersikap kaku, dingin dan seolah tak senang dengan kehadiran Rena. Meski begitu
Rena tetap berusaha sabar dan mencoba menyelami sebenarnya ada apa dibalik
lelaki tersebut, sampai-sampai mimpi dalam tidurnya sering terlihat aneh dan
misterius.
Rena
sedikit kecewa mendengar pengakuannya sebagai seorang morfinis dengan latar
belakang keluarga broken. Namun ia tetap bersikukuh ingin mengetahui lebih
jauh, sementara kepeduliannya pada masalah sosial membuatnya terjerat dengan
keadaan keluarganya yang mengira jika ia
serius menjalani hubungan dengan lelaki tersebut, cepat-cepat ibunya
meminta pertanggung jawaban Haqie untuk sesegera mungkin menikah dengannya.
Sikap Haqie yang sering kasar dan aneh pada dirinya memaksa Rena untuk terus
bersabar dan mencoba mengerti apa yang dialami Haqie, dan ia berharap jika
suatu saat Haqie akan benar-benar menjadi orang, dengan harapan jika suatu
kelak ia menjadi suaminya akan benar-benar menjadi lelaki yang bertanggung
jawab dan mampu membina keluarganya dengan baik dan menunjukkan keluarganya
pada jalan yang benar.
Meskipun seorang anak bangsawan ia lebih
memilih tinggal di rumah-ruman temannya yang reyot dan kotor, karena dengannya
ia akan mendapatkan ketenangan hati dan fikiran meski sejenak-sejenak masalah
keluarganya akan menggelantungi fikirannya kian runyam,
Namun
kini sejak kedatangan Rena, Haqie tak lagi melarikan diri untuk mencoba bunuh
diri dengan over dosis.
Hal
ini membuat hari-hari Rena kian
menderita, meski begitu ia tetap sabar dan tabah menghadapi sikap Haqie yang
sering aneh dan sulit dipahami.
Teman-teman
kelasnya sedikit aneh melihat gejala perubahan yang dialami pada diri Rena, ia
benar-benar mejadi seorang perempuan yang anggun, dewasa, sabar dan pengertian.
Hal ini menjadikan beberapa temannya yang dulu sering mengolok-olok dengan
ke-tomboi-annya jatuh cinta padanya. Namun Rena tetap bersikukuh pada
pendiriannya meskipun ia sendiri sakit dengan mencintai Haqie.
Suatu
ketika Haqie jatuh sakit, dokter memvonisnya telah mengidap virus HIV positif,
umurnya diperkirakan tinggal beberapa minggu, hati Rena kian hancur. Sebagai
anak kesayangan, ibunya meminta Rena untuk tetap di sisi Haqie dan
mendukung semangatnya menjalani hidup.
Namun
Haqie sering marah-marah dan membentak-bentak Rena untuk pergi dari hadapannya,
karena ia tidak ingin jika masa depannya akan direnggut oleh keadaan dirinya
kian tak menentu.
Kerapkali
Rena sakit hati dengan perkataan kasar dan menyakitkan, namun ia terus bersabar
menghadapi sikapnya.
Di
balik itu ternyata Rena juga memiliki masalah keluarga yang cukup serius, hal
ini yang membuatnya stress berat.
Awalnya
ia bersikukuh untuk terus melanjutkan hubungan itu tanpa melirik sedikitpun
pendapat Hayes untuk mengehntikan hubungan itu, namun kini di saat masalah
keluarganya meledak, ia-pun menyerah dan memutuskan untuk menghentikan
hubungannya dengan Haqie.
Sejak
itu ia memutuskan untuk hidup sendiri dan berteman hanya pada Tuhan.
Pagi
hari Rena berjalan lemah membawa sejuta roman luruh dan lelah
“Aku
nggak mau jadi perempuan!!” teriak Rena keras di ambang pintu kelas, semua mata
tertuju padanya, mereka memandang aneh melihat penampilan Rena yang berubah
tomboy seperti sedia kala.
Pesan
yang ingin di sampaikan:
Bahwasannya
seorang perempuan tidak selamanya harus bersikap lemah lembut dalam menghadapi
segala susuatu, namun bukan berarti sosok perempuan harus mampu mengalahkan
segalanya termasuk menerjang kodratnya sebagai seorang perempuan. Karena
sebagai manusia derajat perempuan sama dengan laki-laki, karena di sisi Tuhan
(sebagai sang pencipta makhluk termasuk manusia) perbedaan itu hanyalah dilihat
dari sisi ketakwaan pada-Nya.
Ketulusan
dan kesabaran adalah obat paling manjur dari segala penyakit sekalipun penyakit
itu parah
Tentang Seseorang
Gundukan tanah ditumbuhi rerumputan
dengan batu nisan melingkar besar persis seperti kuburan orang Cina. Lelaki itu
berdiri menghadap seberkas cahaya di ujung sana dengan arah membelakangi
dirinya, namun belum sempat didekati ia-pun terbangun.
Selesai membasuh wajahnya ia duduk di
depan meja, bolpoint-nya terhenti lama di atas lembaran kertas buram.
Mimpi itu muncul akhir-akhir ini, mata
itu tertuju hanya pada satu deretan kalimat.
Kosong.
Sunyi, detak suara jam weker terus
berputar dari kanan ke kiri.
“Hakh!!” bolpoint itu terpelanting di
atas lantai, sementara buntalan-buntalan kertas bersebaran di sudut-sudut
kamar.
Suara tangis mulai terdengar lirih.
Memang mungkin benar apa kata Ade kemarin,
aku curiga dengan diriku sendiri, jangan-jangan aku tidak normal. Tapi
masalahnya beda, aku tetap tidak bisa menyukai Kak Ibert bukan berarti aku
tidak normal, perasaanku seperti ini karena ada sesuatu yang selalu menarik
perasaan ini, tidak tahu siapa dia. Sepertinya perasaanku mengenali seseorang,
tapi siapa…? SIAPA?!
Kepalanya berdenyut-denyut, ia menghambur
di atas busa.
@@@
Wajah samar, namun yang jelas lelaki itu
adalah temannya es-de dulu. Tudung topinya menenggelamkan sebagian wajahnya
seolah menunggu waktu eksekusi, ia duduk diantara dua orang temannya di depan
pintu sel. Seorang pengawal bersepatu lars berdiri di sebelah kanan mereka,
dari wajahnya sepertinya orang itu
kurang bersahabat.
Ia terbangun oleh suara kresek-kresek
Radio yang belum dimatikannya sejak sore tadi.
Ditariknya selimut tebal menekuk kedua
lutut itu ke dada, pandangan menghujam tiap sudut ruangan “Topi!, ya topi
hitam” fikirnya keras.
Sunyi.
Dipejamkannya mata itu dalam-dalam “Ya,
hanya itu!, aku tak mengingatnya lagi. APAPUN”
“Allahu Akbar! Allhu Akbar!” suara weker
melengking memecah keheningan.
Setengah tiga tepat “Saatnya sholat dan
baca buku” fikirnya cepat
Seketika udara dingin menyergap ruangan
saat pintu jendela itu terbuka. Ayu berdiri di ambang pintu, matanya melirik
diatas meja duduk. Sebuah buku dengan Cover putih merah jambu, bergambar siluet
kepala seorang anak dengan bagian dua belah otak, hemisfer kanan dan kiri, ia
tersenyum tipis.
Sesuatu tengah menarik perhatiannya, tapi
apa?, hampir…, hampir saja ingat! dan blas… hilang.
Ia masih terus bertanya-tanya tentang
mimpi yang tak pernah absen tiap malam.. Mimpi itu pernah muncul saat masih
duduk di bangku es-em-u, dan ia sendiri tak pernah menghiraukannya apakah benar
itu yang namanya firasat buruk, tak mengerti, ia tetap tak mengerti dan tak
peduli.
@@@
Seorang pemuda muncul di balik kabut
tipis membelakangi cahaya di ujung itu, wajah
nya terlihat murung, sebelum Ayu berjalan ke arahnya, ia terbangun oleh
suara Weker. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 WIB, Kedua lututnya tertekuk ke
dada, matanya menyorot lepas ke langit-langit kamar.
“Apa maksud mimpi itu…” fikirnya
menerawang
Di satu pagi sinar mentari hangat
mengikuti langkahnya, gurat awan putih tipis bagai bulu domba dengan background
langit biru cerah, semripit bayu dan burung-burung asyik berdendang menyambut
pagi pada dahan pohon jambu dipinggir-pinggir hamparan halaman sekolah sedikit
becek oleh hujan semalam.
Sunyi,
Sesekali dihirupnya udara dalam-dalam,
membasuh hati serta pikiran bak sebening embun. Harapnya pagi itu adalah nuansa baru dalam hidupnya
untuk mendapatkan sesuatu yang baru (ilmu).
Miris, melihat kondisi sekolahnya yang
sering terendam air bah saat musim penghujan datang. Tanah becek kecoklatan
melapisi lantai kelas dengan ubin lantai pecah-pecah.
Sengaja ia berangkat pagi, hari itu
adalah jadwal piketnya. Ruangan harus bersih saat mereka sudah datang, jika
tidak ia akan kena semprot seperti temannya minggu yang lalu.
Pagi itu kelas masih kosong. Seorang anak
lelaki duduk di deretan bangku paling belakang, hem putihnya disetrika licin.
Ia adalah anak pindahan dari SD lain. Rambutnya yang hitam mengkilat tersisir
rapi. Namun sesaat dua mata itu berpapasan, seketika ia pergi meninggalkan ruang
kelas.
Rena meletakkan tas-nya dan mulai
menyapu.
Anak laki-laki berhidung tinggi itu
berdiri di ujung halaman sekolah ia memperlihatkan wajahnya pada genangan air
hujan. Sorot matanya mengatakan sesuatu telah terjadi pada dirinya, tapi apa,Ayu
tak begitu mempedulikannya.
Teman-teman kelasnya mulai berdatangan,
mereka asyik berceloteh sepanjang jalan menuju kelas. Mereka mengenakan topi
merah putih, dengan tudung mulai mbrudul.
Ibu Crist, guru muda -dengan kaca mata
bergaris hitam- baru 2 bulan mengajar di SD Inpres itu, ia mengantikan pak Agie
-guru tertua yang telah pension- guru tersebar dan pengertian, lebih banyak
cerita daripada mengisinya dengan pelajaran, lebih membosankan lagi jika
ceritanya diulang-ulang. “Kamu harus selalu mematuhi kata-kata gurumu” begitu
salah satu pesannya terakhir sebelum belia meninggalkan bangku kelas. Dan
sampai kini kata-kata itu masih
terngiang di telinganya.
Rena menghapus wajah, mengaburkan lamunan
sepuluh tahun yang lalu.
Sebuah foto sederet anak berpakaian
putih-putih dengan raut cerah, tergeletak di atas rak buku.
Penyekat kelas antara satu dengan yang
lainnya telah terbuka lebar-lebar, kursi-kursi tertata rapi dan meja-meja di
depan terbungkus kain batik dengan bunga plastik menjuntai di tengahnya,
sementara musik terus mengalun meramaikan suasana hati saa itu
Perpisahan angkatan 1994.
Meskipun tak mengatakannya namun terlihat
jelas kecemasan pada raut seorang gadis kecil
berpakaian putih-putih yang duduk di satu sudut ruang kelas. Matanya
selalu menyorot ke luar. Sesekali ia menoleh ke belakang dan melongok-longok ke
luar jendela.
Suasana makin dipadati adik-adik kelas,
serta beberapa wali murid yang duduk di bangku deretan belakang guru.
Gelisahnya menjadi-jadi, ia tak menghiraukan teman-temannya yang duduk berderet
diliputi gelak tawa riang.
Saat inilah detik-detik terakhir ia bertemu dengannya –anak lelaki berambut ikal-
matanya kian teliti mengamati satu persatu wajah temannya yang duduk berderet
di sebelah. Satu persatu wali muridnya memasuki ruangan, tapi hamper semua
wajah sudah dikenalinya.
Acara telah dimulai, kepala sekolah mulai
membuka acara dengan tiga kali ketokan palu di atas bangku kecil depan
panggung.
Cemas dan gelisah.
Sesaat namanya terdengar dari pengeras
suara. Sebelum mengucap salam matanya cepat menyapu ruangan kelas memburu anak
lelaki itu.
Kegelisahan kian membuncah saat ia
melagukan pada pertengahan baris puisi.
Gelisah dan mamkin gelisah.
Kadang ia berfikir jika sekolah libur
seharipun rasanya setahun tidak bertemu,
bagaiamana ini nantinya…, karena tentu saja ia akan berpisah dengan anak
lelaki itu. Apalagi ia tidak satu desa dengannya, dan cerita cintanya tertutup
dan terpendam hanya sampai di sini, di
detik-detik acara perpisahan ini selesai.
Hari berlalu terasa sepi dan menyakitkan,
ia tak tahu entah apa namanya perasaan yang ia pendam, ia menganggap perasaan
itu adalh perasaan diluar batas kewajarannya sebagai seorang gadsi yang baru
menyelesaikan bangku es-de, yang ia tahu hanyalah jika suatu saat ia teringet
anak lelaki kecil itu jantungnya berdetak cepat.
Awal tahun masuk SMP.
Pertama kali masuk MOP ( Masa Orientasi
Pelajar)Ayu duduk di bangku pojok paling belakang dekat denagn jendela.
“Rena, dipanggil Haqie” suara gaduh anak-anak lelaki terdengar dari
luar, sekilas mereka menghilang di balik
dinding itu.
Tubunya mendadak gemetar, berdebar-debar,
ditambah fikiran kacau. “Apa dia tahu kalau aku disini?” fikirnya cepat “Apa
diam-diam dia juga suka padaku? dan membuntutinya sampai dia masuk sekolah ini
juga” fikirnya kian melambung.
Diantara sekian ratus anak baru yang
berbaju hijau putih, hanya dua orang yang memakai baju merah putih, adalah anak
lelaki dan dirinya, tapi sekalipun ia tak pernah melihat jelas wajah itu.
Semakin hari namanya sering disebut oleh
teman-teman lelaki, dan suara gaduh itupun sering terdengar dari luar.
Buntalan-buntalan kertas yang sering dilempar dari arah deretan anak lelaki
sering terbaca oleh teman-temannya perempuan, tentu saja mereka akan tersenyum
padaAyu dan berkenalan dengannya, dan hal ini yang membuat namanya melejit seketika.
Suatu hari dengan terpaksa ia membaca
salah satu buntalan kertas itu. Kaget bukan kepalang ketika melihat sebuah nama
tercetak Erick, dan bukan Haqie. Semangatnya
bersekolah serasa berguguran dan perasaan yang melambung kini meluntur.
Setelah kejadian itu, ia berniat untuk menutup diri dari pergaulan teman
laki-laki -alias berpacaran.
Tahun-tahun berikutnya ia merasakan
sesuatu aneh terjadi pada dirinya. Rasa
sakit dan kangen yang begitu dalam sering datang tiba-tiba.
Kabar burung mengatakan jika anak
laki-laki itu satu almamater denan tetangganya –yang dulu satu kelas-.
Bulan-bulan berikutnya, jika perasaan aneh itu datang, ia akan datang ke tempat temannya itu hanya
sekedar meminjam buku ataupun keperluan lain, ia berharap temannya akan
menceritakan kabar anak lelaki itu.
Semenjak itu, anak lelaki tersebut selalu
muncul di tiap tidurnya. Bukan sekedar mimpi, mimpi yang aneh menurutnya. Tapi
waktu itu ia sendiri tidak pernah tahu apa maksud mimpi itu dan ia malu jika
menceritakan pada temannya tersebut.
Awal SMU kelas satu, ia hengkang ke Solo,
perasaannya semakin sakit dan mengerikan. Ia melampiaskan nya dengan
konsentrasi pada studi. Awal masuk itu pula ia sering mendapat surat dari teman
lelaki yang se-asrama yang tak pernah dikenalinya.
Di penghujung kelas 2, teman lelaki yang
kebetulan menjadi cover boy sekolah itu sering menitipkan surat untuknya.Ayu
berusaha kuat untuk menolaknya dan kadang dengan sikap yang sedikit tidak
wajar. Hal ini mungkin karena seringnya dibuntutinya selesai jam pelajaran
sekolah.
Suatu hari, mungkin karena kesalnya
seorang anak lelaki, ia mengatakan pada salah satu teman perempuan se-asramanya
jikaAyu adalah perempuan abnormal yang tidak bisa suka dengan lawan jenis. Kata
itu bukannya membuatAyu semakin lemah, justru sebaliknya ia semakin kuat
membentengi diri.
Kesadaran muncul saat ia berdiam diri di
depan kaca, ia tersenyum sambil berkata “Ternyata ada benarnya mereka
menyukaiku jika ternyata aku ini memang
cantik” Sejak itu ia sering berdiri di depan cermin. Namun bukannya merubah
sikapnya, ia semakin yakin akan sesuatu, jika suatu saat ia pasti akan bertemu
kembali dengannya, dan tentu saja ia akan menyambut perasaan itu kembali.
3
Sepertinya seseorang tengah memperhatikan
dirinya. Ia menoleh ke samping, seseorang menyapanya dengan senyuman tipis
datang menghampirinya.
“Kenapa kau!” tanyanya menyelidik
Chica diam memandang “Masuk apa, Kak?”
tanyanya balik.
Ia tersenyum tipis menilik wajahnya yang
terbenam “Kau kenapa?”
“Apa perlu aku jawab?”
Lelaki berhidung tinggi itu tersenyum,
senyuman yang tak ia sukai “Masalah
apalagi…?”
Rena memalingkan muka tak senang, matanya
tak menandakan apa-apa, yang ia tahu hanyalah kebingungan yang entah kapan
berakhir.
“Ayolah katakan, bukannya kau percaya
Kakak?”
Ia membenamkan wajahnya semakin dalam,
kirut-kirut di alisnya semakin jelas “Gadis dingin sepertiku kenapa bisa jatuh
cinta dan tergila-gila pada lelaki yang tak tahu keberadaannya. Aneh bukan?.
Tentu saja aku akan ditertawakan olehnya” batinnya, melirik ke arah lelaki itu.
“Memalukan!” teriaknya pahit. “Tidak!, hanya aku sendirilah yang tahu, semua…,
pasti akan menertawakanku”
Bait itu selalu mebuatnya kalah dan
semakin lemah, bibirnya mulai tergerak. Lelaki itu menyambutnya dengan tatapan
aneh, perlahan ia tersenyum tipis. Lagi-lagi ia sangat membenci senyum itu,
senyum yang membuatnya merasa terdakwa dan terkalahkan dalam sebuah moment.
Cengeng!.
Rena diam, entah darimana dan bagaimana
menceritakannya, semua itu tak pernah terjadi, ini adalah pengalaman pertamanya
yang paling menjijikkan yang membuatnya lemah dan terpuruk.
Sesuatu yang menjijikkan!. Yah!, membuat
lemah dan terpuruk.
Sekata demi sekata disusunnya dengan nada
suara yang berat dan ambigu, lelaki itu tersenyum melihat wajahnya memerah yang
disusul bintik-bintik keringat di kening.
“Sejak kapan kau suka dengannya” kata itu
meluncur tiba-tiba, membuat detak jantungnya semakin cepat.
“A’- aku tak tahu”
Kak Ibert tersenyum, Cyca merasa bodoh
dengan senyuman itu.
“Kau masih ingat seperti apa wajahnya?”
Rena menggeleng lemah
“Kenapa kau suka dengannya?”
Menggeleng lemah “Aku tidak tahu”
“Aneh!” ujarnya lirih hampir tak
terdengar.
“Terserah apa katamu” Segaris senyumnya pias.
“Kapan kau bertemu dengannya?”
“Sejak kelulusan itu”
Riut wajah KakIbert semakin aneh, namun Ayu
tahu ia memendamnya
Cyca mengangguk
“Apa dia juga suka padamu?”
Rena menggeleng lemah
“Bagaimana sikap dia?”
“Aku tak tahu, kakak jangan mendesakku
lagi!” teriaknya menutup telinga.
Lagi-lagi ia tersenyum “Belajarlah
mencintai orang lain Chik, kakak yakin kau bisa melupakannya”
“Coba saja seandainya KakIbert ada di
posisiku”
“Kakak faham,”
“Aku tidak bisa Kak,”
“Kakak yakin kau pasti bisa”
“Tidak bisa, aku pernah mencobanya
sekali, tapi perasaanku semakin sakit”
“Cobalah lagi”
“Tidak, aku capek!”
“Kau tahu ruamahnya?”
Lagi-lagiAyu menggeleng
Riutan wajah KakIbert semakin aneh “Lalu
gimana kamu bisa suka?”
Ia menggeleng, sebutir bening menetes
basah di pipinya “Kakak jangan memaksaku” tangannya menyeka air mata itu “Maka
dari itu, rasanya susah aku jelaskan”
“Cobalah hubungi lewat temanmu yang tahu
alamat itu”
“Bagi kami, dia itu misterius, hanya teman-teman yang dekat dengannya saja yang
tahu alamat rumahnya, dan sekarang, kabarnya dia pindah ke luar kota”
“Kau bisa tanya pada temanmu yang meberi
kabar itu, kali saja dia tahu alamt itu”
“Tidak, itu memalukan Kak”
“Kau sendiri?!, apa kau akan tetap
seperti ini?”
“Perasaaan seperti ini sudah terbiasa
sejak dulu”
“Jadi, kenapa sekarang kau tidak bisa
melupakannya”
“Dia sering muncul dalam tidurku
akhir-akhir ini, menurutku itu mimpi yang aneh, perasaanku mengatakan dia punya
masalah”
“Cobalah berfikir logis”
“Persetan dengan akal logika melulu,
kenapa Kakak selalu berkata begitu, ini filling Kak, hal ini pernah terjadi
seperti hari-hari sebelumnya. Dan ini untuk yang ke sekian kali menggenaggu
tidurku”
“Doakanlah dia”
“Itu adalah usahaku yang saat ini aku
lakukan, tapi mimpi itu kian sering muncul”
“Belajarlah mencintai seseorang”
“Aku tak mau membuat korban untuk yang
kesekian kali sebagai pelampiasan hingga akhirnya ia tersakiti perasaanku yang
membohonginya. Aku tak bisa menyukai seseorang
selain dia!”
“Kau pernah curhat dengan temanmu soal
ini?”
“Mana mungkin, orang bercerita, sementara
aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang dia”
“Setidaknya sebagai curahan perasaan
saja”
“Apanya yang mau di curahkan” aliran air
matanya semakin deras
Cyca diam sejenak “apa saranmu untukku”
“Belajar terus menyukai orang lain, hibur
fikiranmu”
“Tidak bisa!”
“Kau pasti bisa!”
Rena memalingkan wajahnya “Aku malas
bicara denganmu, Kak” romannya mendadak
dingin “Aku benci lelaki itu!” teriaknya seraya pergi dengan air
mata terus bergulir.
“Kenapa kau tak mengatakannya saja terus
terang!” alis matanya mengernyit
Rena menoleh dan menggeleng.
“Sudahlah, lupakan masalah itu” setengah
kesal ia pergi meninggalkannya.
@@@
5 Maret 2002
Ia terbangun oleh suara kaset yang
diputar sebelumnya, demamnya semakin tinggi, matanya yang merah berair melirik
ke segala arah, degup jantung aneh,
sakit dan perih.
“Apa sebenarnya yang terjadi dengan
perasaanku dan anak itu…, aku tahu persis dia punya masalah, tapi apa
hubungannya denganku…?” dua lututnya menekuk ke dada “Apa?, Kenapa?” sementara
melirik pada sepotong kertas diatas meja
”Tidak!, mana mungkinAyu kirim surat
teman laki-laki, dikata apa nanti?!”
Detak jantung itu kian cepat tak
beraturan, nafas tersengal-sengal, fikiran kacau.
Ia makin berontak dan berontak!.
“Ya Allah, kenapa perasaanku begini?!.
Ada apa dibalik semua ini?!. tolonglah aku!”
Sejak engkau bertemu lelaki bermata
lembut
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Kau menyendiri duduk dalam gelap
Perlahan setetes bening bergulir di sudut
mata itu.
Jangan hanya diam kau simpan
Dalam duduk termenung
Cinta kasih kadang datang tak terduga
Bersikaplah jujur dan terbuka
“Tidak!. Aku tak boleh lemah!, aku tak
boleh luluh gara-gara hal menjijikkan ini” katanya menghujani tepukan dada
keras-keras.
Barangkali takdir telah bicara
Ia dipertunjukkan buatmu
Dan pandangan matamu khusus buatmu
Sejenak
matanya menyapu ke setiap sudut. dari sorot matanya, tingkahnya, perasaanku…, “
Tidak!, tidak mungkin aku suka dia, tidak mungkin!” teriaknya menghimpit
kepala.
Mengapa harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati, kadang datang tak
terduga
Bergegaslah, bangun dari mimpi
“Kenapa?!, kenapa aku mesti menyukai
orang yang tak ku kenal ya Allah!”
Anggap saja takdir telah bicara
Ia
datang dari langit buatmu
Dan pandangan matanya khusus buatmu…
Saat
lagu terhenti, ia termangu dalam sepi, perlahan
tangannya gemetar menghapus air mata
dengan sedikit rasa kesal dan lemah.
Ia merebah.
Dihirupnya nafas dalam-dalam, Mata itu
kembali melirik sepotong kertas di atas meja, setengah berat diapitnya pena
itu.
Berulangkali coretan itu hanya menjadi
buntalan-buntalan sampah di bawah meja. Antara logika dan perasaan terus
berkelut.
Pagi hari ia menemukan pena itu
tergeletak di atas meja dengan sepotong kertas dengan tiga deret paragraph tak
rapi.
Kejadian semalam bukanlah mimpi, ia
berani pertaruhkan namanya -sebagai seorang Pemuda Pecinta Tanah Air- yang
harus jaga image mau kirim surat pada salah seorang temannya dengan berbagai
permohonan untuk bisa mendapatkan alamat anak lelaki yang ada dalam tidurnya, dengan satu alasan, kangen. Begitu
inti bunyi surat.
”Terserah apa kata mereka tentangku!”
Setengah putus asa dilipatnya kertas itu
dan memasukkannya kedalam sebuah amplop putih polos.
”Ini hanyalah tanda persahabatan sejati,
tanpa perasaan apapun” batinnya terus menolak.
Antara logika dan perasaan terus berkelut
saat mengantar surat itu ke kotak pos.
Dipandanginya kotak pos itu lekat-lekat.
Entah apa yang ada dalam fikirannya, sorot matanya sarat bertautan, sementara
pertarungan semakin hebat.
“Kenapa aku jadi seperti orang gila,
beginikah rasanya orang jatuh cinta yang dulu aku sering benci denagn curahan
teman-temanku yang sedang patah hati. Benarkah ini?!, Benarkah ini yang namanya
jatuh cinta?, kenapa mesti dia!, kenapa bukan pada KakIbert ataupun Dani”
Seperti ada yang menyorong sikunya,
amplop itu terdorong kedalam lubang
kotak bus surat.
@@@
7 Maret 2002
Deretan Pohon Angsana berdiri di
sepanjang jalan menuju gedung fakultas, langit biru cerah menghampar diatas
gedung-gedung kampus.
Ayunan langkah energik, tegap dan
penuh semangat sementara tebaran
senyuman mewarnai pagi itu.
Hari berlalu tenaganya sedikit mulai
pulih, hasil UAS yang memuaskan, meskipun sedikit banyak paper dan makalah
dibantu KakIbert.
Liburan tiba, sepi. Suasana kembali menikam dan mengerikan. Berkali-kali
perasaan, perih, aneh dan menyakitkan itu muncul di sela-sela harinya. Entah
apa yang harus ia lakukan selain menunggu dan menunggu surat balasan itu
datang. Setengah pasrah ia berjalan menyusuri jalanan Malioboro sepanjang hari.
Suasana yang ramai terasa sepi dan mengerikan. Saat terlelah ia akan pulang dan
tertidur. Begitu liburan ia lalui payah dan letih, demi menghibur perasaannya
sendiri.
Ia
membiarkan badannya terbaring di atas alas tidur. Badannya mulai gemetar, detak jantung yang
begitu cepat. Barangkali ia mulai lelah.
Perlahan keringat dingin menggelintir di
celah pori-porinya, matanya mulai terpepejam.
DearAyu
Berlibur lama menjegahkan tentunya bagi
semua orang denganku. Apalagi jika pulang tak membaca buku satupun dari sana
adalah hal yang sangat membosankan dan menjengkelkan.
Persiapan semester mendatang adalah lebih
utama daripada secangkir kopi susu hangat ditambah 2 lembar roti tawar
berisikan keju mentega ditambah mississ.
Kali ini liburan dingin merambahi otak
kepalaku sebab indexs prestasi turun drastis tak seperti yang aku bayangkan,
entah bulan depan aku akan mengambil berapa? nyerinya terasa linu-linu pada gigi-gigiku beradu
Jarum jam menunjukkan pukul 4 sore.
Seketika tersentak saat matanya menangkap
sebuah amplop putih terselip di bawah pintu.
Dengan sedikit harapan ia membuka surat
itu.
Ku layangkan kata demi kata lewat
sepotong kertas ini, semoga engkau tahu, bahwa ini adalah sebagai tanda bahwa engkau tetap
ada dalam hatiku, usah kuatirkan keberadaanku yang tetap setia mengenangmu
sepanjang masa.
Aku tunggu kau di kota itu, kota penuh
kenangan masa lalu kita yang sama-sama tak pernah mengerti akan apa yang akan
terjadi saat ini.
Dibiarkannya surat tergeletak di atas
meja berhari-hari. Sementara perasaannya terus berkata dan berkata.
“Hah!!” teriaknya menghempas kesal.
Segar segera merasuk fikirannya saat
wajahnya terhapus oleh air bening di kamar mandi.
@@@
DearAyu
Harta adalah bukan tujuan hidup, ia hanya
sekedar alat yang sewaktu-sewaktu kita tinggalkan saat impian telah tercapai.
Sudah tiga bulan ini aku berhenti dari segala aktifitasku dari membaca buku
hingga membuat tulisan-tulisan sekedar barangkali memang untuk ini aku
berfikir, melepaskan segala rasa kepenatan selama enam bulan. Berturut-turut
bergelut dengan buku dan organisasi yang entah apa manfaatnya semua yang aku
pelajari, jika semua orang bilang bahwa belajar ilmu ini dan itu dengan tujuan
untuk ini dan itu pula prekk, sebenarnya mereka tak tahu, itu hanyalah sebuah
ilustrasi-ilustrasi yang telah diluruskan ke dalam otak-otak mahasiswa yang
dungu oleh dosen-dosen robot pula. Semua akan diketahui ketika ia harus jatuh
dalam sebuah kenyataan baru kali itulah, manusia menikmati, betapa manisnya
buah ilmu.
Tiba-tiba lamunanya dikaburkan oleh
dering telephon dari luar kamarnya, cepat-cepat.
“Hallo, siapa ini” nadanya sedikit kesal
“Kau lupa suaraku?”
“Maaf, tapi..” alisnya mengerntit tanya ”
Kau…?” segaris senyuman muncul disusul lesung pipinya yang
cekung, tak percaya.
“Ini aku, yang kau kirimi surat”
“Haqie…?!” perasaanya berdebar-debar, keringat dingin
keluar, seperti mimpi.
“Ya,”
Sontak suara itu seperti terputus, sunyi.
“Cyca, benar itu kau yang menulis?!”
“Ya, kenapa”
“Aku tidak percaya,”
“Maaf jika itu membuatmu terganggu”
“Tidak, sama sekali tidak”
“Tapi…,darimana kau tahu alamatku?”
“Kenapa?”
“Itu panjang masalahnya, ku jelaskan
nanti jika kita ketemu”
“Aku sempat terkejut ketika membaca
suratmu, aku benar-benar tak percaya”
Senyumnya menahan malu,
Sunyi,
Hari-hari berlalu………..
Chapter 4
Semua mata memandang pada keduanya,
mereka saling melirik satu dengan yang lain disusul senyuman yang sulit
dipahami.
“Kau pasti ngeri dengar kisah perjalanan
hidupku” tutur Haqie gelisah “Kita seperti langit dan bumi, atau bahkan seperti
minyak dan air yang tak kan pernah bertemu”
Tak ada satu katapun yang terdorong
keluar dari mulutAyu kecuali mendengarkan nada Haqie pilu.
Haqie melanjutkan pengungkapannya,
sementara mulutAyu beku, roman mukanya tak ada gambaran kehidupan, matannya
terpaku pada kaki-kaki meja, yang terlihat dari lempengan kaca meja yang tembus
hingga ke bawah.
Ia tak lagi mendapati sorot mata bening
seperti sembilan tahun yang dulu, entah apa yang telah terjadi pada diri Haqie,
setidaknya ia dapat menyimak dari sorot
matanya
Pertemuan ini adalah pertemuan pertama
kalinya, setelah kelulusan sekolah dasar, betapa banyak perubahan pada diri
mereka masing-masing.
Keempat
kawannya menemani mereka berdua, bila mereka tak ada barangkali diam
adalah bahasa yang pas untuknya saat ini. Sebenarnya komunikasi mereka cukup akrab sewaktu di
telephon ataupun surat.
“Kau dapat alamat rumahku dari siapa?”
nadanya dingin tak bersahabat
Ia melirik ke arah kawan
yang memintakan alamat rumah itu “Jangan-jangan kalian kong-kalikong
dengan hal ini”
“Apa manfaatnya kami urusi masalah kecil
ini” tukas kawannya tak senang
“Aku!” jawab temannya dingin dan tajam ke arah mata Haqie.
Haqie melotot “Dari mana kau dapatkan
alamat rumahku?” tanyanya dingin, dengan sedikit berkernyitan kening itu.
“Dari ayahmu” jawab kawannya lagi
setengah sadis, dan menceritakan kejadian itu singkat.
Haqie memukul-mukul kening, dengan umpatan kata-kata kecewa.
Mengapa mesti ia melakukan hal semacam
itu yang dianggapnya merendahkanAyu sebagai seorang gadis, dan mengapa mesti ia harus begitu peduli dengan
masalah kawannya yang tak pernah dikenalinya.
Saat seperti ini yang paling tepat bagiAyu adalah diam
mendengarkan kata-kata Haqie daripada mengatakan sesuatu pada seseorang yang
belum ia kenal pasti. “Apapun yang terjadi masalah ini tak boleh mengganggu
konsentrasi study” pikirnya. Tiap kali Rena memberikan masukan atau sekedar
saran,Ayu selalu menolak atau paling
tidak ia meremehkan saran tersebut,
seakan semua pernah ia alami ”Mungkin dunianya lebih luas ketimbang
duniaku yang sekedar dunia mainan”
“Tidak, aku heran padahal yang tahu hanya
teman dekatku saja yang ada di Bandung yang tahu alamat itu, dan
saudara-saudaraku tak ada yang tahu alamat rumahku”
Rena menenggelamkan pandangannya “Maaf,”
diangkatnya wajah itu “Tapi aku menyesal kirim surat itu”
“Kenapa?”
“Aku tidak senang dengan introgasimu
seperti itu”
“Maaf aku tak bermaksud buruk, Chik”
“Tidak,”
“Bukan, aku tak bermaksud apa-apa, kau
jangan salah faham” ujarnya terbata-bata.
“Sebenarnya apa masalahmu?” pura-puranya
tak tahu
“Biar masalah ini akan aku utarakan pada
orang yang lebih dewasa”
Petir serasa menggelegar, ia berharap
masih bisa menahan amarahnya,Ayu sedikit menarik nafas dalam dan menegakkan
dadanya “Kau masih ingat waktu dulu, waktu…” nadanya berusaha mengalihkan
pembicaraan.
“Aku tak ingat apapun” kernyitnya
Menyakitkan, ternyata orang yang selama
ini dipikirkannya sekalipun tak pernah menghiraukan dirinya. Sesaat ia sadar,
Haqie bukanlah pemuda yang dibesarkan umumnya seorang anak.
@@@
DearAyu
Matahari malu-malu menerangi angkasa,
semburat kuning keemasan menghambur dibalik langit kelabu, udara dingin masih
terasa menusuk kuli lewati serat kain kaos sedikit berkelur. Aku masih duduk di
pintu dengan mata sedikit berbinar-binar, seakan aku reguk jagad raya ini ke
dalam sukma dan kusimpan ke dalam ingatan yang panjang.
Inilah
pertama kali kusentuh kota ini, masih seperti dulu, namun ingatan malam
itu membuatku semakin nyeri.
Dan esok pagi tak dapat ku elakkan
telingaku dari suara mesin pabrik kayu, las, montir mobil serta deruman
lalul-intas yang berlalu-lalang hingga sekarang. Pun demikian aku akan selalu
merindukan kampung halaman ini.
Jam dinding di sudut kamar menunjukkan
pukul 00.15WIB, sementara fikirannya terus berputar-putar melesat jauh meskipun
rasa ngantuk tak tertahankan, ia masih terbawa pertemuan tadi.
Seketika ia melompat saat suara telephon
berdering dari ruang tengah, sapanya meluncur tiba-tiba dari bibirnya, tanpa
basa basi suara itu langsung menyebut nama dan menanyakan kabar, belum hilang
rekaman suara itu langsung dikepalaku saat pertama telp di kost beberapa hari
yang lalu. Suara itu parau dan kecil tapi jika diperhatikan suara itu tak
berubah dari khas suaranya dulu waktu duduk di bangku es-de.
“Kau belum tidur?”
Sunyi,
“Temani aku malam ini ya…?”
Masih saja perasaan kesal mengelantungi
dalam hatinya, tapi ia berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya.dari
nada suaranya, sepertinya ia terlalu lelah.
“Aku harus bisa membuatnya lebih baik”
fikirnya “Sekalipun aku tidak lebih baik dari dirinya, atau bahkan lebih parah
darinya, tapi aku harus bisa menujukkan siapa aku, Ya! Aku harus bisa karena
aku cikal bakal generasi percontohan negri ini. Tapi…tingkah lakuku saja bejad
bagaimana mungkin aku mengajarkan untuk bersikap baik, mana mungkin pencuri teriak
melarang mencuri. Tidak!, kalau begitu bagaimana dunia ini bisa lebih baik.
“Saling menasehati” bukannya begitu kata pemimpin”
“Kau kenapa diam?”
“Tidak, aku hanya ingin dengar saja”
“Kau marah?”
“Sudah lupakan,”
“Maaf, bukan begitu maksudku. Aku bersyukur
kau kirim surat, hanya saja aku khawati semua familiy-ku tahu keberadaan kami
dan mengusik hidup kami lagi”
“Sebenarnya nasib kita sama, kadang ingin
ku peluk dia erat-erat, kelak beban masalah itu berkurang, berubah menjadi
kedamaian, ketenangan dan kenyamanan. Andai saja kau tak ada, mungkin dunia ini lebih
mengerikan”
“I-iya!”
“Kau kenapa?”
“Tidak, aku hanya ngantuk biasa”
“Kau jangan tidur”
Rena menghempas nafas “Untung saja
lidahku tidak terkilir bilang apa-apa…”
“Kapan aku bisa menciummu Chik?”
“Apa?!” teriaknya “Dengar ya Bung,
bersentuhan saja tidak boleh apalagi gituan”
“Katamu pedoman umat islam itu kitab suci
al-Qur’an, emang al-Qur’an melarang untuk berciuman, yang ada tu dilarang
berzina, alias hubungan badan yang dikhawatirkan akan lahirkan status anak
haram, akupun tahu itu”
“Kau ini bagaimana justru itu yang
sebabkan hubungan seks”
“Bodoh!, awalnya hubungan intim adalah
dari itu semua, saat berciuman detak jantung semakin cepat, denyut jantung
makin sering, kau tahu gejala itu seperti yang dialami oleh orang yang sedang
stress, saat seperti ini tak jarang orang akhirnya jatuh dalam hubungan seks”
”Tidak, tidak mungkin!, aku tidak pernah
melakukan itu”
“Lagi pula saat melakukan ciuman lebih
dari 250 jenis virus dan bakteri bertukar tempat dan jumlahnya bisa nyampai
jutaan, jadi sori aja kalau aku bertukar penyakit denganmu, kalau mau mati,
mati saja sendiri” jelasnya merinding “Ku pernah dengar seorang gadis berusia
17- tahun yang mati setelah melakukan aktivitas ciuman, kau tahu penyebabnya?”
“Itu kebetulan saja mau mati, katamu
takdir itu di tangan Tuhan”
“Bodoh!, katamu berfikir logis, ini juga
logis Bung, gadis itu mati karena sebelum berciuman cowok-nya makan kacang,
semantara gadis itu alergi kacang”
“Memang kau alergi apa?”
“Badanmu terlalu kurus, tentu banyak
sarang penyakit”Ayu tertawa keras “Jadi sori aja!”
“Hei!, biar begini aku sehat tau?!”
“Siapa yang tanya?”
“Bagaiamana kalau aku memelukmu saja,”
“Sama saja dosa,”
“Kok dosa?” katanya polos “Kau kan
pacaraku,”
Sejenak tawanya terdengar meledak “Sejak
kapan aku berikrar jadi pacarmu?”
“Sejak kirim surat, ya?! kau mau kan jadi
pacarku”
“Aku bilang tidak, ya tidak…!”
“Ala…, ngaku saja lah!” nadanya merayu
“Ya?!, kau suka aku kan?”
Rena belingsutan “Sudah, aku ngantuk!”
Tawa itu meledak puas terdengar di ujung
sana,Ayu semakin malu.
@@@
Chapter 5
Kaliurang, Agustus 2003
Mega mendung selalu menyelimuti kaki Gunung Merapi itu, sementara hawa dingin
terus menyelusup lewat serat kain. Daun teh-teh-an mengelilingi luas halaman
dengan rumput basah hijau yang menghampar segar.
Sepi, beberapa orang temannya telah pergi
meninggalkan wisma sejak beberapa jam yang lalu.
Hening, perdebatan yang panjang membuat
mereka lelah dan menyerah.
“Pikirkan jauh-jauh, ini terlalu buruk
untuk masa depanmu nanti. Bukan berarti aku menakut-nakuti tapi pertimbangkan
benar, hubungan kalian sudah terlalu jauh, orang tua sudah saling tahu, ini tidak main-main”
“Sebenarnya aku juga sempat terkejut
waktu lebaran kemarin, semua familiy-ku tahu tentang hubungan ini, ternyata dia
adalah cucu sahabat nenekku dulu yang kebetulan juga orang tuanya adalah adik
kelas ayahku”Ayu mengernyit
“Kalau sekedar membantu, kenapa mau
diajak ke rumahnya”
“Dia sering mendesakku untuk pergi, dan
lagi tidak mungkin aku bisa membantunya tanpa tahu latar belakang keluarganya yang sebenarnya”
“Setidaknya kau protec dengan diri sendiri. Bukannya temanmu lebih
banyak laki-laki daripada perempuan, toh buktinya bisa jaga perasaan?”
“Cobalah mengerti satu hal”Ayu menatap
dalam “Bagiku dia bukan sekedar lelaki, aku kenal betul perasaanku selama ini
tentang dia, tapi aku tak tahu harus gimana? Sakit!”
“Jadi kau suka dia?, Jujur!” desak Dani
TatapAyu dingin,
“Aku tahu gengsimu terlalu tinggi, tapi
rasanya terlalu munafik membohongi diri sendiri”
“Ya!”
Sontak raut Dani pucat nampak melorot
“Kau serius?!”
“Ya, aku menyukainya sejak dulu”
tantangnya “Aku akui selama beberapa tahun laki-laki yang aku cintai hanyalah
dia”
“Kau belum pernah coba komitmen dengan
lelaki lain”
“Justru itu, aku takut perasaan ini terus
membuntutiku, apa jadinya nanti kalau laki-laki itu tahu kalau sebenarnya aku
mencintai orang lain, itu lebih menyakitkan, belum lagi kalau sampai jenjang
pernikahan”
“Toh lambat laun perasaan itu hilang
dengan sendirinya”
“Tujuh tahun Dan!, tapi kau lihat sendiri
hasilnya, Yah! Aku sempat seperti orang gila hanya karena ingin bertemu
dengannya. Barangkali kau belum pernah merasakan bagaimana perasaan itu, sakit,
lelah, perih…, itulah yang terjadi untuk menghindar dari kejaran teman lelaki
aku bersikap seperti anak tomboy, ternyata hal itu menjadi kebiasaanku”
Senyum Dani pasrah “Mungkin yang di atas
menunjukkmu sebagai penunjuk jalan dia”
“Kau tahu kan?!, bagaimana kondisiku
tidak lebih baik dari dia”
“Bagaimana dengan ibunya, apa dia tahu
tentang agama?”
Rena menggelang malu teringat peristiwa
malam itu
“Mungkin kedatanganmu adalah doa ibu yang
terkabulkan, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi”
“Kenapa bukan kau saja”
“Aku tidak pernah dihimpit masalah
sepertimu, seharusnya kau bersyukur karena dengan adanya masalah justru
menambah dewasa. Aku yakin satu saat dia
akan luluh dengan kebesaranmu”
“Tuhan tidak adil, Tuhan terlalu benci
padaku” sorot matanya tajam “Apa ini Karma-ku pada orang tua”
“Kenapa kau selalu berfikir begitu, Cinta
itu anugrah seharusnya kau bangga dengan perasaan seperti itu”
“Kalau cinta pada orang baik-baik itu
anugrah, tapi kalau mencintai mantan morfinis itu malapetaka”
“Kau ini sadar tidak?!, tiap orang selalu
punya masa lalu berbeda. Mungkin dulu dia mantan morfinis besok jadi orang
hebat, atau sebaliknya aku yang seperti ini besok…,na’udhu billah min dzalik”
“Keadaanku saat ini sudah terhimpit, baru
tadi pagi aku di telphon pulang untuk cuti semester gara-gara masalah ekonomi,
aku harus peras otak gimana lagi…?”
Keduanya menatap dalam, perlahan air mata
menggelintir jatuh membasahi pipi, ia memalingkan muka dengan sedikit rasa
kesal.
Kabut tipis mulai muncul di balik
semak-semak, keheningan mulai merayap suasana sore itu.
@@@
DearAyu
SaatAyu pulang dari Yogya, ia sempat
mampir sebentar kerumahnya. Hampir tak disangka keluarganya begitu jauh berbeda
dengan keluargaAyu, mereka saling hormat dan perhatian, mereka menganggapnya
sudah seperti keluarganya. Jauh dari dugaan, entah apa yang Haqie ceritakan
tentangAyu, sementara Haqie yang dikenal dan ia duga ternyata bukanlah Haqie
yang ada di keluarganya.
Sebagai anak pertama ia begitu dihormati
oleh adik-adiknya, demikian juga perilaku Haqie pada adik-adiknya. Hanya saja
dari wajahnya sedikit tersirat kepedihan menanggung beban berat ekonomi dan
masalah keluarganya kian hari kian runyam.
Jarang sekali terjadi pertengkaran antara
keduanya, bahkan bisa dibilang tidak pernah, justru masalah keluarga-lah yang
sering membuat mereka kesal dengan diri mereka masing-masing. Meski begitu
hubungan tetap mengalir lewat pesawat kabel, kadang Haqie yang menelphon,
kadang juga sebaliknya, tapiAyu lebih senang ngobrol dengan ibu dari pada
dianya, dengan ibunya ia bisa curhat layaknya ibunya sendiri, bahkan mungkin
bisa dibilang lebih dekat dengan ibunya dari pada ibu kandungnya. Layaknya anak
pertama ibu memperlakukanAyu, begitu pula dengan adik-adiknya, semua saling
memposisikan diri masing-masing. Ia seperti menemukan keluarga baru yang lebih
harmonis ketimbang keluarganya seperti saat ini.
Namun ia sempat terkejut saat ditanya
keseriusan soal hubungan mereka.
Suatu hari Haqie hendak menjemputAyu
berangkat ke Yogya, ia dikejutkan oleh sederet pertanyaan yang dilontarkan
orang tuanya pada Haqie yang baru datang dari kota Semarang, sementaraAyu
sengaja menghilang ke dalam menghindar pertanyaan itu, setelah dirasa
pertanyaan selesai ia keluar pamit untuk segera berangkat.
Sepanjang perjalanan mereka diam berkelut
dengan fikiran mereka masing-masing.
“Kau ditanya apa tadi sama bapak-ibu?”
suaranya keras menghalau angin yang kian kencang
“Nanti saja kalau kita sudah sampai, akan
ku ceritakan” suaranya bergumam dibalik ikatan slayer.
Rena kembali menutup kaca helm, dalam
beberapa menit roda meluncur cepat.
Pukul 08.35WIB mereka tiba di kota
ATLAS, rumah Haqie. Adik-adiknya menyambut kedatangan mereka di teras.
Cepat-cepat mereka meyalami, bertubi-tubi pertanyaan itu datang dari mereka.
“Kalian tidak sekolah?”
“Libur-lah mbak, hari minggu” Hani,
adiknya kelas dua menating secangkir teh
hangat
“Kapan ke Yogya?”
“Di sini saja mbak, satu minggu lagi baru
pulang” ujar Rendra nangkring di atas motor
“Gimana nanti kuliahnya?”
Adi, yang duduk di sebelah Hani menatap
polos “Mbak, kuliah itu enak tidak?”
“Capek tidak Mbak?” Pipit memijit
punggungnya
“Sekolahmu libur hari Jum’at to Pit, kok
tidak masuk?”
“Semua sekolah di Semarang, liburnya hari
minggu mbak,”
“Kembaranmu tidak pernah kemari Pit?”
“Liburan kemarin dia kemari sama nenek”
jawab gadis bermata bulat itu
“Tahun baru di sini saja Mbak, biar Mas
Haqie yang jemput”
“Iya,”
Sahut Adi menggigit jari “Di sini ramai lho Mbak,”
“Di Yogya lebih ramai, Di”
“Tapi di sini kan ada Mas Haqie”
senyumnya cekung
“Di sana ada orang selain Mas Haqie, Pit”
“Kok begitu?”
Rena hanya senyam-senyum “Kalian ini
kenapa?, malam tahun baru nanti Mbak ada acara sama teman-teman”
“Acara apa?, pasti asyik ya…mahasiswa itu
enak ya mbak bisa main-main tidak seperti
pelajar, kemana-mana selalu ditanya sama nenek”
“Itu tandanya nenek sayang Hani”
Rendra yang sedari tadi menghilang kini
muncul kembali “Mbak, dipanggil Mas
Haqie”
“Ya nanti saja”
“Ma’em dulu Mbak,” Pipit melepas
tangannya
Hani menarik tangannya, di ruang makan
yang bersebelahan dengan dapur Haqie
telah menunggu di depan meja makan, ditariknya kursi di sebelah.
Hani menghilang di balik pintu ruang
tengah.
Sunyi,
“Kemarin aku mimpi di rumah ini” tatapnya
ke kebun halaman belakang yang terlihat dari ruang makan “Aku melihat ruang
depan dengan atap jebol sana-sini, kayu-kayunya nampak bertonjolan dipenuhi
rumah laba-laba, gelap. Tanpa jendela, hanya ada satu pintu rumah masuk, lantai
tanah dan dinding geribig dengan bambu mulai lapuk dimakan rayap. Kamar
pertama aku melihat ibu sedang melipat baju yang menumpuk, sementara adik-adik asyik bermain. Kamar itu lembab,
cahayanya remang-remang. Mereka acuh dengan kedatanganku. Kamar sebelah aku melihatmu menata seprei kamar dan
menyapku dengan senyuman sambil mengatakan beberapa kata yang tak kupahami
maksudnya. Kemudian kebun paling belakang ditumbuhi beberapa pohon pisang,
jambu dan rambutan, sebuah gubug kecil
terbuat dari bambu yang sempit berjejal wanita pramuria. Melewati jembatan
dengan curam sempit, dalam dan gelap ada sebuah gubuk kecil lagi, waktu aku
masuk sepasang orang yang sedang berhubungan terkejut melihat kedatanganku”
“Kau tahu apa yang terjadi setelah itu?”
“Tidak tahu persis, tapi setelah aku
datang kemari, kurang lebihnya itulah yang diisyaratkan”
“Kau yakin itu?”
Pandangannya jauh “Satu hal lagi yang aku
ingat dalam mimpi itu, saat itu aku berada di sebuah pelabuhan hendak
menjemputmu yang ada di kepulauan kecil jauh sana, tapi sampai di tengah-tengah
ombak semakin besar, perahu sampanku terkatung-katung hingga akhirnya aku
pasrah dan menepis pulang”
Mereka tercenung cukup lama,
Sunyi,
“Sudahlah, itu cuma mimpi biasa”Ayu
menghempas
“Kau ditanya apa saja tadi?”
Haqie diam terpaku “Nanti saja aku
jelaskan, sekarang makanlah dulu”
PerlahanAyu meneguk segelas the di
depannya, “Apa beliau menyinggung tentang kita?”
“Orang tuamu memintaku secepatnya
melamarmu”
“Apa?!!” sontak air dari mulutnya muncrat
“Kau kenapa?”
Ia masih belum sadar, tapi kata-kata itu
jelas terdengar
“Bagaimana denganmu”
“Bagaimana apanya?”
“Ini semua tergantung kau”
“Aneh, memang siapa yang akan menjalani”
fikirnya cepat “Kenapa selalu saja ada cinta bertepuk sebelah tangan seperti
ini, bagaimana dengan KakIbert, bagaimana dengan Dani?” pandangannya terpaku
pada kepulan nasi di depan “Kau sendiri bagaiamna?!”
“Sudah ku katakan berkali-kali, kau pasti
menduga aku tentang hubunganku yang dulu, itu sudah terputus dua tahun kemarin”
“Kau selalu datang dan pergi sesukamu,
gimana harus komitmen?”
Haqie mengernyit aneh “Jadi…?”
“Entahlah…”
“Apa ada orang lain?”
“Ya, saat ini memang ada orang selain
kau, tapi bukan berarti aku suka kan?. Kau tahu sendiri temanku kebanyakan
lelaki, bagiku mereka teman biasa, untuk itu aku ingin kau ke Yogya, setidaknya mereka tahu
syukur-syukur kalian saling kenal, tapi kau selalu mengelak”
“Aku malu teman-temanmu”
“Kenapa?, karena aku mahasiswa?”
“Aku malu jalan denganmu, kau pasti bukan
mahasiswa biasa”
“Mahasiswa yang gimana?”
“Setidaknya kau punya nilai lebih
dibanding teman-temanmu, pasti mereka mengidolakanmu”
“Idola?” tawanya kecut “Kau selalu
memandang dirimu lebih rendah, sadari kemampuanmu dan kau juga tidak pernah
yakin dengan dirimu sendiri, makanya kau selalu gagal, meratapi kegagalan dan
berujung keputusasaan, itu yang aku lihat darimu, begitu dan selalu begitu”
“Ceritanya nanti saja, Haq” Ibunya muncul
SeketikaAyu diam mereka berkelut dengan
fikiran masing-masing, pandangan itu
terpaku pada ibu. Melihat keduanya ibu semakin kikuk dan pergi.
Dari luar terdengar riuh tawa
adik-adiknya.
“Terus terang, saat ini aku belum
berfikir sejauh itu,”
“Sama akupun begitu, tapi ibumu…”
“Ibu memang selalu begitu, beliau selalu
menanyakan teman laki-laki yang datang ke rumah, makanya aku tidak pernah memberi alamat pada
siapapun”
“Ada benarnya sikap ibumu itu”
“Saat ini yang ada dalam fikiranku adalah
secepat mungkin aku ikut Wisuda, dan secepat itu aku pergi”
“Bagaimana dengan kita”
“Aku tidak tahu, untuk itu secepat
mungkin kau…”
“Aku tidak butuh bantuanmu atau siapapun”
nadanya sedikit menukik
“Kalau begitu apa lebih baik kita
berhenti?”
“Berhenti gimana?”
Seketika mulutnya terkatup
“Tidak!” gurat merah mulai terlihat di
wajahnya “Benar apa kataku bukan”
“Ini tidak ada hubungannya dengan
seseorang, ini hanya tugas”
“Tugas?”
“Makanya aku bingung jalan denganmu”
“Kampus?”
“Maaf aku tak bisa…” tatapnya dalam,
ia mengalihkan pandangannya,
“Kau benar suka aku?”
Ia tersenyum datar
“Chik,”
Celoteh adiknya terdengar semakin jelas,
rupanya mereka mulai masuk di ruang
tengah. Segera Haqie beranjak pergi dengan rasa kesal. Sesampai di ruang itu
mereka terdiam mereka saling melirik satu sama lain,Ayu tersenyum menyambutnya.
“Mas Haqie kemana Mbak?”
“Keluar sebentar”
“O…”
Ibunya melirik piring yang masih penuh
“Aku masih kenyang, Bu” katanya
mendahului
“Haqie kemana?”
“Mas Haqie itu aneh, nggak datang
ditunggu-tunggu, sampai di sini malah ditinggal”
“Gimana dengan kuliahmu?” Ibu duduk di
sebelahnya, adik-adiknya mulai menyebar pergi.
“Baik, tapi aku sedih, proposalku di
tolak berkali-kali”
“Kenapa?”
“Entahlah, fikiranku sering kacau”
“Bermasalah dengan teman?”
Rena diam, fikirnya menerawang jauh.
@@@
Sepi, Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh
malam,Ayu di ruang TV memencet-mencet
tombol remote kontrol.
“Maaf Bu, sebenarnya aku belum berfikir
sejauh itu” nadanya berat
“Ibu tidak memaksamu cepat-cepat menikah,
tapi ibumu sendiri yang megatakan”
“Terus terang aku bingung dengan sikap
Haqie yang begitu. Apa jadinya kalau ibu tahu kalau menantunya tidak pernah
sholat”
Ibu tersenyum teduh “Masalah itu bisa di
benahi sambil jalan, Chik”
“Maksud ibu setelah menikah…”
“Yah!, Haqie memang keras kepala, dia
tidak bisa di nasehati dengan cara yang sedikit memaksa, semua tergantung
kesabaranmu. Seperti kemarin, kalian justru saling ribut, ujung-ujungnya dia
malas bicara”
“Kok…”
Ibu tertawa kecil “Dia satu-satunya yang
ikut Ibu selama ini, jadi tahu betul karakter dan gerak-gerik dia”
Mereka terdiam pandangannya tertuju pada
layar TV
“Perasaanmu sendiri gimana? ”
“Sulit ku ungkapkan Bu,”Ayu melirik, sebentar
ia tersenyum “Tapi ibu janji tidak
mengatakannya kan?”
“Ya-ya” Ibu tertawa
“Jujur, sebenarnya aku suka dengannya
sejak es-de”
Ibu tertawa geli
“Kenapa ibu tertawa?”
“Tidak, ternyata kalian saling suka, dulu
dia juga sering cerita soal kamu, dia sering memperagakan kamu kalau
marah-marah di depan kelas, gara-gara teman-temanmu tidak mau menulis,
sementara kamu capek sendirian menulis catatan dari guru di papan tulis”
Rena tersenyum geli “Ya, aku masih ingat
betul bahkan suatu hari Haqie kena sanksi berdiri di depan kelas gara-gara
kebanyakan gurau dan nggak mau menulis” sesaat wajahnya datar dan meriut aneh “Tapi aku sempat kecewa setelah
tahu kalau dia itu mantan morfinis”
“Apa?!, tidak, Haqie tidak pernah memakai
itu, kalau Rendra ibu percaya”
“O…Y-ya” katanya gugup teringat kata-kata
Haqie
“Ibu sangat berharap, ibu juga percaya
kedatanganmu dapat memluluhkan hatinya, karena setahu ibu paling lama dia
pacaran satu dua bulan, setelah itu putus dan ganti yang baru, tapi ini beda,
sepertinya dia serius, jadi tolong jangan kecewakan dia”
Mereka saling menatap lama, Ibu
merangkulnya erat-erat “Sabar ya anakku…”
@@@
Yogyakarta, 31 Desember 2003
Tepat pukul dua belas siangAyu turun dari
bus jurusan Yogya-Semarang di terminal Giwangan, dengan kepala sedikit
berdenyut ia melewati lorong pertokoan lantai dua, lantai licin nan mengkilap
membuat sepatu berdecit mengiringi langkahnya, tanpa satupun sampah yang
tercecer.
Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan
tangga dengan papan hijau kecil menggantung di atasnya bertuliskan sederet
angka-angka jalur angkutan kota. Terlihat ruang tunggu berdinding kacadengan
garis cat biru tua di sebelah sana.
“Secepat mungkin selesaikan kuliahmu
karena tahun-tahun mendatang kita akan ada panggilan ke Sulawesi” Kata KakIbert
terngiang jelas saat mengantarnya pulang.
“Gimana dengan Haqie…?,bagaimana dengan
kata-kata ibu semalam, apa jadinya kalau ibu tahu Haqie calon menantunya adalah
mantan morfinis, apa jadinya kalau KakIbert tahu Haqie bukan orang baik-baik…”
pandangnya lepas pada bus kota yang beruntun di mulut jalur bawah sana. Entah
kenapa tiba-tiba ia berbalik arah pada tangga di belakangnya Bus jurusan Wates.
Cepat-cepat ia menuruni tangga mengejar Bus, kosong, tanpa penumpang satupun
kecuali kondektur dan sopirnya yang dengan sengaja memencet-mencet klakson
terkekeh-kekeh dengan crew bus lain di luar.
Kepala semakin berdenyut oleh cuaca yang
kian menyengat. Bayangan Dani semakin jelas, harapnya secepat mungkin ia dapat
bertemu dengannya “Semoga saja ia ada di kost” fikirnya menenangkan.
Nyaris ia meloncat saat sebuah jari
mengetuk punggungnya “Ya Pak,”Ayu merogoh kantong, dan lelaki berbaju KOPATA
itu segera pergi.
Tepat di mulut perempatan halte, ia turun
melewati gang lebar. Nafasnya terputus-putus “Ini adalah pertama kalinya aku
datang ke kost-nya, semoga saja ia tak menertawakanku” langkahnya tegap.
Sepi,
Ia menata nafasnya pelan, sekali jarinya
mengetuk, sapa itu terdengar dari dalam “Aku,Ayu”. Daun pintu seketika terbuka
sempit “Apa aku tidak salah lihat?” matanya keriyepan melongok.
“Sebentar,” katanya menutup kembali
pintu. “Kabar apa yang membuat tuan putri sudi datang kemari?” katanya menyilahkan
“Sori, berantakan,” katanya membereskan kertas-kertas yang bersebaran.
“Mulai garap proposal?”
“Nggak, Cuma iseng aja”
Sunyi, detak suara jam dinding terdengar
jelas,Ayu melirik sebuah tulisan yang berputar melayang-layang pada layar
komputer.
Dani melirik senyum
“Dan, tolong aku!”
“Tumben kau minta tolonga aku”
“Serius!”
Dani mengambil dua gelas pada raknya
warna abu-abu “Kau mau minum apa?”
“Terserah” ujarnya gelisah
“Kapan kau tiba di Yogya” tatapnya
menawarkan senyum “Rasanya senang sekali kau memohon bantuanku”
“Aku tidak main-main…” jarinya
menghentak-hentakkan lantai “Tolong…!”
ujarnya merengek seperti anak kecil “Ibu mendesakku serius dengan temanku itu”
“Teman?, teman yang bagaimana?” tawanya
mengelitik
Rena geragap, senyum Dani semakin lebar
“Maksudnya kekasihmu?”
Seketika rautnya merah padam,
Dani tertawa keras “Kamu ini semakin
lucu, mbok ya jangan terlalu polos begitu”
“Sudah anggap saja begitu!”
“Ada apa, jelaskan se-jelas-jelasnya,
biar aku tahu”
Rena mulai bercerita, sesekali matanya
berkaca-kaca, tapi ia terus menahannya, hanya suara ingusnya yang
terdengar.
“Hai!, kau ini ketawa apa menangis”
“Dua-duanya” usapnya “Berpura-puralah kau
ke rumah dan jadi kekasihku”
“Itu justru menambah masalah”
“Masalahnya saat ini…”
“Kenapa?, sebenarnya kau ini suka
dengannya tidak?”
“Aku tidak tahu, yang jelas aku belum
siap saat ini jika dipaksa menikah dengannya”
“Kenapa kau lanjutkan?”
Rena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal “Kau jangan tanya aku”
“Lalu tanya siapa?, kucing…?, Sapi apa
Kebo!” Dani semakin geli
“Ya…!,ya…!”
“Kau ini gimana?”
“Lho, kok cemberut begitu, jelek tau!”
“Terserah, pokoknya aku minta tolong”
Dani diam, pandanganAyu jatuh pada pangkuan, mulutnya seperti tengah
menyusun kata-kata
“Kenapa dulu kamu tidak hati-hati, sudah
aku peringatkan bukan?. Kalau kamu benar suka dengannya kenapa tidak lanjutkan
saja?”
“Kalau aku nikah dengannya gimana dengan
tugas ini?” tatapAyu dalam “Satu sisi aku mencintainya sisi lain aku cinta
negri ini dan merasa tanggung jawab dengan janjiku pada tugas itu”
“Sekarang kau pilih mana?” nadanya
menantang
“Kenapa tanya seperti itu?”
“Kamu ini membuatku bingung, kalau kau
suka dia kenapa nggak dijalani aja?”
“Waktu kita sudah dekat, kita dituntut
tenaga dan fikiran untuk negara ini, sisi lain ibu mendesakku serius dengan
dia”
“Terserah kau?!” nadanya kecut “Kenapa
sih, selalu menghubung-hubungkan masalah ini dengan masalah yang lain”
“Kau ini gimana?!, jelas-jelas pemerintah
menunjuk kita karena mereka butuh dan percaya pada kita, kita ini beruntung
Dan!”
Digaruk-garuknya kepala “Sudahlah, jangan
hiraukan urusan tugas nanti”
RautAyu kian dingin “Saya nggak tahu
sebenarnya jalan fikiranmu itu bagaimana?, lagipula apa kau nggak ingat
pengambilan sumpah setia dulu, tidak hanya ingkar pada Negara tapi juga Tuhan,
jangan-jangan kau buka…”
“Demi Allah” seketika mengangkat tangan
“Sadarilah Dan, apa yang kau cari di
dunia ini kecuali untuk memperbaiki keadaan negara kita yang kacau. Lihatlah
Tuhan mengobrak-abrik alam kita, apa kau nggak miris dengan keadaan ini”
“Sebenarnya aku juga berfikir begitu
Chik, tapi aku terlalu lelah dan bosan menunggu”
“Kau bosan karena nggak kerja, apa yang
sudah kau kerjakan selama ini kecuali hanya datang menjemputku tiap hari sabtu,
lalu apa manfaatnya?, kita punya target dan tujuan yang jelas”
“Tapi aku curiga dengan legalitas semua
ini”
“Legalitas apalagi maksudmu?, jelas-jelas
kita ini dibawah naungan Komisi Satu yang dibimbing langsung oleh Komisi
sepuluh yang berbasis Pendidikan. Siapapun orangnya kecuali orang bodoh pasti
setuju jika kebangkitan bangsa dan negara dimulai dari penyususnan Pendidikan
yang baik, semua ini memang butuh waktu yang lama, tapi menurutku sepuluh
ataupun dua puluh tahun proses kebangkitan sebuah negara bukanlah waktu yang
lama”
“Yang aku bingungkan kenapa keberadaan
kita mesti dirahasiakan?”
“Kekuatan kita masih terlalu lemah, kalau
saja kita terbuka dikhawatirkan ada oknum tertentu yang menyelusup dan
mengobrak-abrik sistem yang sudah kita bangun”
“Kalau yakin dengan diri kita kenapa
mesti khawatir sama pihak luar?”
“Aduh!, gimana kau ini…?, apa yang masuk
dikepalamu setiap pertemuan hari sabtu…”Ayu menukik kesal
“Jangan-jangan kita ini bagian dari
teroris?”
“Shh…t, berat!, bukannya sudah dijelaskan
berkali-kali apapun alasannya membunuh seseorang adalah hal yang dilarang oleh
Tuhan, saya rasa bukan al-Qur’an saja yang bilang begitu tapi juga kitab suci
agama lain”
Sunyi, Dani beranjak dan berdiri di
ambang pintu “Daripada kita pusing dengan
masalah itu gimana kalau denganku?”
“Sama halnya keluar kandang Macan, masuk
kandang Serigala” katanya segera beranjak
“Hei!, dengar dulu penjelasanku”
“Tidak,”
“Lalu kau ini suka siapa?”
“Tidak tahu, kau jangan mendesakku
seperti itu”
“Aneh, jangan-jangan…”
“Aku normal!!”
Dani tertawa keras “Siapa yang bilang kau
gila?”
“Hmgh…”
“Duduk dulu lah…”
“Ayo antar aku pulang, sore begini
angkutan sudah tidak aada yang lewat”
“Kau tidak takut Serigala?” selidiknya
geli
“Dalam keadaan mendesak seperti ini, tak
apalah Serigala jadi teman sebentar”
“Lalu gimana dengan permohonanmu”
“Dispensasi waktu”
“Lho?!” Dani geli
“Iya, kalau ada orang lain lebih baik
minta bantuan orang lain saja”
“Kalau tidak?” cegatnya
“Terpaksa aku terima jasamu, dengan satu
catatan, kau tidak boleh datang ke kampus-ku lagi”
“Hei-hei!, jadwalku hari sabtu ingat itu”
“Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh”
“Kau mau datang ke tempat itu sendiri?”
Rena terdiam
“Hanya untuk hari itu, tidak dengan hari lain” ia menoleh ke arahnya “O ya! dan
tolong hapus tulisan di komputermu itu” tunjuknya pada layar komputer.
Dani tertawa
“Itu kan komputerku, kenapa kamu melarangnya”
“Tapi itu
namaku, hak paten punyaku kau nggak boleh menulis tanpa seijin yang berwenang”
“Uh!..Uh!...,sebegitunya
tho?”
Chapter 6
Semarang,
3 Februari 2004
Sepi, sesekali kendaraaan melintasi depan
halaman rumah, dan beberapa orang tegur sapa pada Haqie.
“Chic, ibu pergi kondangan“ Ibu menutup
pintu memakaikan tali helm, orang tua itu tersenyum, mas fajar bujang tua itu
menunggunya di depan pintu. Saat
beranjak pergi . senyum yang tak dapat dimengerti sejak dulu.
Ibu berpakaian sedikit menonjolkan lekuk
–lekuk tubuhnya. Wajah dan sorot mata keduanya
gersang dan kering.
Lampu teras rumah terlalu terang. Haqie
memadamkannya.
Gelap.
“Orang pasti mengira kita yang
tidak-tidak”Haqie kembali duduk di sebelahAyu.
“Kamu tidak ngantuk?, tidur di dalam
sana”
“Ngantuk seperti apapun aku takkan tidur”
Haqie tertawa “Nggak tak ada kamar”
“Ngeri…!”
“Macam-macam, fikiranmu itu yang kotor…”
nadanya ketus “Kalau ada niatan sudah dari dulu” pandangnya lurus gurat,
sekilas tatapannya sedih “Rasanya baru kemarin seorang datang mengajakku pergi,
waktu itu aku baru fly dengan teman-teman, sekalipun aku tak mau dia tetap menungguku sampai jam 1 malam, kau
tahu?, uh…, andai saja aku mau, sekarang
aku sudah punya anak…” tawanya getir.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan
lebih, jalanan mulai sepi tak satupun kendaraan melintas, lampu-lampu depan
rumah redup menerangi deretan rumah kecil yang sedikit menjorok ke dalam, mataAyu
sayu tersapu udara malam yang kian berat.
Haqie muncul membawakan selimut dan
menenggelamkan tubuhnya dalam-dalam.
“Kau mau pakai ini?” sodornya bantal
kecil lepek
“Lebih baik tidur di dalam saja,”
“Tidak”
“Di sini kau kedinginan”
“Tidak apa”
Rena membenjat mata membenarkan posisi
duduk
Sunyi,
Diam-diam mata Haqie mulai lekat
”Hai! jangan tidur,” gedornya keras “Ayo
cerita…”
“Ya sudah, kamu yang cerita” suaranya
lemah menahan kantuk
“Shht…”
Bulan kuning keemasan muncul di balik
mega tipis, setitik bintang berkerlipan di angkasa.
Ia tersenyum menengadah “Selesai belajar
biasanya aku duduk sendiri di luar
sambil menghitung bintang, menyapa angin, menatap rembulan, rasanya
begitu damai saat mereka hadir di malam itu. Menangis, tertawa, cerita, kadang
juga diskusi pada bintang-bintang di langit. Itu semua lebih menarik ketimbang
berbagi cerita dengan saudara-saudaraku” tatapnya teduh ke angkasa “Sementara
Allah menjadi tempat pengaduan kami semua. Kebosanan, kegelisahan, dan
kesemrawutan hidup yang membuat dunia ini makin aneh“ ia menarik nafas dalam ”
Ini semua bermula dari keluarga, aku benci orang tua yang selalu
mengatasnamakan norma agama lalu seenaknya dia perlakukan anak”
“Bukannya perintah agama memeng begitu?”
“Tidak, agama tidak mengajarkan begitu,
yang ku tahu hubungan keduanya harus
timbal balik”
“Dalam keluarga, masalah seperti itu
sudah biasa Chik,” matanya sayu
“Kalau biasa, kenapa kau mesti
rebut-ribut dengan orang tuamu?“ tukasnya sedikit menukik ”Kadang aku berfikir,
hal yang paling menyeramkan adalah memiliki keluarga”
Sontak mulutnya melongo
“Gimana dengan kita…?!”
Rena menatap sedih
“Entah…,”
Sunyi, angin dingin menghembus membuat
mata makin berat “Apa kau tahu, apa saja yang ku adukan pada bintang?” liriknya
selintas dan menengadahkan wajahnya pada langit kian pekat “Dulu aku sering membicarakanmu, sejak kelulusan
itu”
Haqie tersenyum lembut “Sungguh?!, kau
suka aku!”
Senyumnya tipis memalingkan wajah, ia
menuangkan segelas air dingin
Haqie menjulurkan selimut menutupi kakiAyu
”Kau tidur di dalam saja, di sini banyak nyamuk”
Matanya segar saat air itu menyentuh
tenggorokan dan menjalar ke urat sarafnya.
“Kita sama-sama dibesarkan dalam keluarga
Broken, pelampiasanmu ke kanan dan aku
ke kiri, tapi kau masih beruntung”
“Alur hidup tak bisa disangka, siapa tahu
saat ini kita seperti ini besok kita jadi orang sukses. Tapi saat ini aku tak
menginginkan apapun, kecuali lelah dan
pasrah, biarkan Dia bicara apa untukku”
“Aku ingat temanku SMU”
“SMU buangan?!” tawanya meledak
“Hmmh…., kau masih ingat teman-temanku di
foto itu?, mereka semua adalah anak orang konglomerat, tapi hidupnya tragis”
pandangannya lepas “Dari ke-delapan orang itu hanya aku dan temanku yang masih
utuh, itu-pun fikirannya sedikit kurang, entah kemana dia sekarang, terakhir
kali aku melihat dia duduk-duduk dengan pengamen di Simpang Lima. Padahal
ayahnya salah satu pemegang saham terbesar di kota Semarang” matanya menerawang
jauh “Entah kemana mereka semua, kadang aku kesepian, karena dulu kami selalu
bersama. Kau masih ingat yang memakai hem kotak-kotak kecil paling depan?”
tatapnya getir ”Terakhir aku menjenguknya, dia sudah tidak ingat apapun
termasuk aku, kata susternya saraf
otaknya sudah rusak dan ingatan dia tidak akan pulih sama sekali, kau masih
ingat anak yang memakai jaket hitam di atas motor?, entah apa pekerjaannya
orang tuanya sering keliling luar negri, dia mati karena kecelakaan selesai
pakai, dan yang duduk di belakangnya, dia meninggal karena kucelakaan,
kepalanya pecah terseret roda trailer, anak yang memakai jaket hitam, kabarnya
dia di pondok Rehaban, dia anak buah pengedar no 3 tingkat nasiaonal, kabarnya
sekarang dia di Palembang. Lelaki paling pojok duduk di atas motor dia yang
sering bersamaku mati karena Over Dosis, kasusnya sama seperti kasusku, dan
yang terakhir memakai topi hitam dia
mati dalam percobaan kami”
“Percobaan?” tanyanya aneh
“Ya, percobaan dulu yang pernah aku
ceritakan itu”
“Sejak kelas berapa kau kenal drug?”
“Kelas II SMP, pamanku sendiri yang
menawarkan”
Rena mengernyit aneh “Kau percaya mimpi?”
“Mimpi?’
“Ya, waktu SMP aku sering mimpi aneh
tentangmu, ku pikir itu biasa makanya aku tak pernah menghiraukan”
“Gimana
teman-temanmu di sekolah?”
“Sekolahanku memang terkenal sekolah
preman, tapi penampilan kami biasa” sorot mata Haqie lurus“ sewaktu SMP,
rumahku dekat dengan terminal, selesai sekolah dari pada jenuh dengar ibu bertengkar aku sering
nongkrong di sana, itu yang mempercepat kami dalam berinteraksi satu sama lain”
“Tidak dimarahi Ayahmu?”
“Tak satupun keluargaku yang tahu,
lagipula ibu sering bentrok dengan ayah, entah apa masalahnya”
Rena bengong,” Pantas saja, ibumu sempat
bingung, waktu aku bicara soal itu”
“Mereka hanya tahu kalau aku suka minum, itu
pun disaat-saat ada masalah keluarga”
“Bukan hanya itu, tapi…entahlah!!” tangannya menghempas dan menghabiskan sisa air di gelas “Aku sering
bingung dengan keadaanku seperti ini” alisnya berkirut-kirut “Percaya atau
tidak, cuma kamu satu-satunya yang kumiliki, hanya itu. Tapi aku sering merasa
kasihan, orang sepertimu tidak pantas jalan denganku, masa depanku tidak jelas
masa laluku terlalu menyeramkan, aku
tidak bisa beri apa-apa seperti orang yang pernah kau ceritakan” sorot matanya
dalam ”Kau bisa cari orang selain aku kan?”
“Apa itu pemecahan yang baik?”
” Rasanya sayang, orang sepertimu hidup
dengan orang sepertiku, langkahmu masih panjang, kau punya segalanya”
“Title?!, Keluarga?, apanya yang bisa aku
andalkan, kuliahku bukan semata karena ingin sekolah melainkan karena
keterpaksaaan tidak betah tinggal di rumah. Dan jurusan yang aku ambil adalah bukan bidang yang aku senangi, kau
kira hidup seperti itu menyenangkan?” nadanya menukik, kernyitnya semakin tebal “Saat itu aku putus asa, entah harus lari
kemana, lingkungan dan keluarga semakin tak bersahabat” matanya menerawang jauh
“Aku masih ingat pertama kali hengkang dari desa itu gara-gara kerusuhan yang
terus mengguncang daerahku tahun 97/98, hampir tiap sore suara tembakan
terdengar di sana-sini, orang-orang kampung keluar dari rumah dengan membawa
senjata tajam, mulai pukul tiga sore jalanan sepi, tak satupun warga yang berani keluar rumah,
toko-toko warga cina tutup, pasar-pasar sepi,
mencekam, tak ada tegur sapa tiap orang yang lewat, setelah itu aku
pergi ke Solo ku pikir kota keraton adalah tempat aman, ternyata belum ada satu
tahun kota itu kembali membuatku trauma kejadian di desaku. Puncaknya Mei 98,
kota itu hangus, langit biru cerah dengan gelombang awan putihh dalam sekejap
digantikan asap hitam tebal membumbung memadati udara kota. Saat itu aku
benar-benar pasrah menjalani hidup ku paksakan pindah ke Yogya meskipun
sebenarnya aku tak begitu senang karena yang ku tahu bintik hitam kota itu
dalam hal pergaulan. Tahun pertama, terror bom mencuat di tiap sudut kota
termasuk kampusku yang sering mendatangkan penjinak bom” katanya menahan nafas
dalam “Kau pikir kehidupan seperti itu enak?. Hidup memang melelahkan dan
memang kejam, tapi lebih kejam lagi jika kita menganiaya hidup kita sendiri”
Malam kian larut jalanan sepi dan
lengang,Ayu memalingkan wajah dari sorotan lampu mobil merkuri dari jauh
meluncur cepat, beberapa pemuda yang nongkrong di jembatan ujung sana mulai
berpencar.
“Chik, kita nikah saja” potong Haqie
sekenanya
Rena melongo “Aku belum berfikir sejauh
itu, aku masih ingin lanjutkan stady-ku”
“Kapan kita nikahnya kalau fikiranmu
terus begitu”
Rena tertawa “Tidak tahu yang jelas
nikahku usia 25, usiaku masih 22, selesai
S-1 usia 23, setahun meniti karir , setahun kemudian sekolah lagi
pertengahan semester aku nikah, usia 26 punya anak satu dan usia 30 punya anak 4 orang, kau tahu?, karena usia
30 ini sudah tidak bagus lagi lahirin anak”
“Enak saja kau bilang, emang siapa yang
memberimu anak”
“Aku?”
“Ya, tapi tanpaku kau tidak bisa punya
anak”
“Di dunia ini lelaki bukan cuma kamu
kalau kau tidak mau ya sudah,”
Haqie berfikir serius “Tapi Chik, kau
tidak malu denganku?”
“Tentu saja malu, perempuannya S-2,
laki-lakinya cuma tamatan SMU, itu pun SMU buangan”
“Bukan, bukan buangan!, tapi tepatnya SMU
preman”
Rena cekikikan”Sudah begitu, lumayan
kalau cakep, “matanya melirik “Hitam, kurus, wajahnya selalu kucel”
“Hm…, tapi kau suka aku bukan?”
“Ya, terpaksa”
“Ow!, kau ini biar begini banyak yang mau
denganku”
“Ya!, Monyet, Kerbau, Kucing, sebangsa
itulah…,yang takut air, tidak pernah mandi. Sudah begitu masuk Mal saja tidak PD. Kau ini
pantasnya masuk lorong saja!”
Awalnya Haqie cengingisan, melihat wajahAyu
reaksinya berubah ia diam.
“Tapi Haq, aku salut kok,”
Ia diam tanpa reaksi
“Kau termasuk orang yang hebat, jarang
sekali orang yang sudah kecanduan apalagi pernah Over Dosis bisa berhenti
total. Kau ini sebenarnaya lebih cerdas ketimbang aku, tapi kau malas, dunia
ini akan berubah hanya dengan kekuatan dan kemauanmu sendiri kok Haq,”Ayu
tersenyum melihat Haqie yang tenang “Percaya tidak?!, kau ini sebenarnya
ganteng, tapi penampilanmu kacau, cobalah sedikit rapi, sisir rambutmu. Kalau
kau benar-benar ingin berubah lihatlah celah-celah di depanmu, jangan pernah
menoleh ke belakang selagi kau belum benar-benar berhasil, aku yakin kau bisa”Ayu
mengucek-ucek matanya yang pedih, “Haq,
selama beberapa bulan kita tidak bertemu aku sering punya firasat buruk.
Pertama kali aku mimpi ke rumahmu malam-malam, tapi sampai di sana adik-adik
dan ibumu acuh melihat ku, sampai aku
pulang pun mereka tak menghiraukanku, waktu itu hanya kau yang mengantarku
sampai depan rumah, yang keduanya waktu aku hendak mengangkat piring kosong
seketika piring itu terbelah jadi dua sisi”
“Ah, kau selalu saja begitu”
“Tapi itu aneh?”
“Kau jangan berfikir macam-macam, itu
hanya kebetulan”
“Tapi…”
“Bicara yang lain saja”
Rena murung
“Sudah…!, buktinya ibuku tetap baik”
sejenak ia nampak serius “Tapi itu kebalikan?”
“Maksudnya?”
“Tidak apa-apa. Aku tidak tahu semua itu
tergantung ada padamu, sepertinya kesepakatan ibu sudah bulat, dia tidak
membolehkan bertemu denganmu lagi, apalagi untuk jalan seperti ini, lagipula
aku lelah membelamu mati-matian di depan beliau dan teman-temanku, kau tahu?,
aku capek berbohong”
“Kau sendiri” Haqie menuangkan air ke
gelasAyu kosong
“Aku?,”Rena menggeleng “Sekarang aku
hanya menunggu wisudaku”
“Kau jadi pergi selesai wisuda nanti?”
“Rasanaya cukup lama aku asing dengan
orang tuaku, bagaimanapun aku ingin menemaninya setidaknya setahun, setelah itu
aku harus pergi. Mengenai hubungan kita semua ada di tanganmu, kalau kau belum
juga sadar apa boleh buat, lebih baik aku mengorbankan perasaan sendiri
ketimbang menentang dan mengecewakan hati ibu”
“Kau tega meninggalkan aku?”
Rena menggigit-gigit bibirnya menatap
dalam “Berdoalah…”
@@@
Yogyakarta, Maret 2004
Siang menjelang dhuhur lelaki dengan
sweater kelabu berdiri di depan kelas. Dua tangannya terlipat memandang ke
lantai bawah, udara berhembus menggerak-gerakkan pohon angsana yang berderet
sepanjang jalandepan kampus, gelombang awan putih berderet dengan background
langit biru cerah. Terlihat sepi gedung seberang sana, nampaknya aktifitas
masih berjalan dalam kelas.
Saat bunyi bel berdering, pintu-pintu
kelas terbuka lebar mahasiswa berjubel keluar dari ruang itu.
Langkah yang semangat, tiba-tiba terhenti
oleh sosok lelaki itu, ia menunggu teman-temannya jalan mendahuluinya, lelaki
itu menoleh mengembangkan senyum, setengah malasAyu melangkah.
Suasana mulai lengang sepanjang jalan
teras gedung itu.
Ditariknya nafas itu dalam-dalam ”Hari
ini kau tidak masuk, sudah lama menunggu”
‘’Baru lima menit”
‘’Hari ini kita ada acara, mereka
memintaku menjemputmu”
Rena diam memandang lepas
“Ayo, kita ke kantin, setelah itu kita
akan berangkat ke sana” langkahnya cepat, ”Besok kau ada acara”
“Ada”
“Ukm?”
“Kenapa kau selalu mendikteku?”
“Aku tidak mendiktemu, hanya ingin tahu,
tidak boleh”
“Nanti malam aku ada acara di kaliurang”
“Kau lebih mementingkan mana, negara atau
sekedar acara hura-hura”
“Kenapa selalu saja begitu, bagiku ini
sama penting. Acara ini yang menghandle aku dan…”
“Terserah kau”
“Kau selalu melegitimasikan kepentinganmu
atas nama negara”
“Kepentinganku?”
“Okey, aku ikut, tapi nanti malam tolong
antar aku ke kaliurang”
“Kita lihat suasana nanti”
“O, ya? kita mampir ke kost-ku dulu,
setelah itu kita akan ke sana”
“Langkah mereka cepat menuju parkiran
sementara wajahAyu makin berkirut-kirut. nah aku bilang apa,ini hanya siasat
dia saja untuk mengambil waktuku”
“Tiba-tiba ia terhenti sewaktu hendak
memakai helm benarkan itu letak jilbabmu, katanya sembari nangkring di atas
motor ia menebarkan senyum”
Rena tersadar letak jilbab-nya
belingsutan di hembus angin, yang ada hanya rasa kesal, tapi bagaimana caranya
ia tak bisa mengelak. Sepatah dua patah kata dijawab sekedarnya. Apa jadinya
kalau KakIbert tahu kalau aku datang dengan Dani “Tapi…, selama ini apa
hubungannya dia denganku, biar saja!”. Dia bukan lelaki biasa, tutur katanya
menenagkan hati yang” tindak-tanduknya menenagkan sopan, tidak mungkin dia mau
jalan denganku sungguh, sepertinya dia bukan sembaranagn suka dengan perempuan
uh, kenapa orang ini mesti mendekatiku.
Langit mulai gelap, saat itu keduanya
keluar dari kost-kostan dani, menjelang isya mereka sampai di depan rumah itu,
Seperti tak percaya dari jauh kakIbert
mengembangkan senyumnya, ia duduk di kursi panjang depan gedung itu,
Ia berdiri menjabat tangan tangannnya
melingkar ke pundak dani yang lebih pendek darinya, selintas ia melihat lirikan KakIbert ke arahnya,
Orang-orang itu tersenyum akrab menjabat
tanganAyu penuh hangat, mereka telah siap menunggu acara dimulai.
@@@
Yogyakarta, April 2004
Sebenarnya ia sudah tahu kalau Haqie
sudah tidak di rumah lagi, tapi sekedar mengobati rasa kangennya ia
memencet-mencet nomor telphon rumahnya, dan menutupnya saat telphon itu
terangkat.
Malam itu ia keluar dari KBU dengan
sedikit rasa lelah, kadang ia berjingkat-jingkat sambil menikmati udara malam.
Biarlah apa kata orang tentang aku,malang
nian nasibku, malam minggu begini jalan sendiri.Ayu melirik senyum kendaraan
yang berlalu-lalang sepasang insan.
Di kota ini alasan untuk pacaran
sebenarnya bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan lingkungan yang
mendesaknya untuk berbuat begitu, yah! Setidaknya tidak dibilang kuper.
Teringat sebuah komitmen yang pernah ia
ikrarkan semenjak kelas satues-em-pe, tepatnya saat ia dikejar-kejar lelaki
cover boy sekolah. Hanya study oriented , tidak untuk yang lain,
senyumnya kecut.
Ia berjalan menyusuri sepanjang trotoar
jembatan sungai gajah wong. Angin yang datang berembus dari arah selatanterasa
sejuk menerpa wajah.
Gelap.
Gemerlap lampu-lampu berderet sepanjang
deretan pertokoan ujung sana terlalu indah menghiasai malam. Lalu lalang sepeda
motor mulai ramai saat malam mulai pekat, sebuah becak nongkrong di ujung
jembatan menuju lampu traffic light.
Kerlap-kerlip rumah penduduk berjubel di
jembatan bawah sana. Konon kabarnya terlalu rawan berjalan sendiri melewati perkampungan
itu,-lokasi pramuria kelas teri-. Namun di ujung sana terlihat sebuah menara
kecil sarana peribadatan umat muslim setempat. Dari bangunanya sepertinya masih
baru dengan cat hijau muda sedikit terang dibawah lampu neon. Miris, tak
apalah, memang mungkin harus begitu, perubahan memang membutuhkan proses, siapa
tahu dari komplek lokalisasi berubah perkampungan orang beriman. Matanya menerawang jauh. Sesekali hembusan angin
menerpa wajah mengibas-kibaskan jilbabnya yang menjulur.
“Dimana dia sekarang…, sedang apa dia,
bagaimana keadaan keluarga nya. Apa dia akan kembalai seperti dulu lagi?,
tidak, tidak mungkin”
Bayangan wajah ibunya muncul, sebenarnya
ia cantik, namun begitu wajahnya terlihat gersang dan kering, bukan karena
kurang make-up ataupun ekonomi yang memburuk, tapi air wudlu. Seperti umat
islam yang lainnya yang menjalankan ibadah sholat, sekalipun sebenarnya ia tidak cantik, namun terlihat menarik oleh
basuhan air wudlu, tergambar wajah keteduhan setiap orang yang memandangnya.
Orang tidak bisa membohongi bahwa ia adalah islam dan beriman, karena kontak
batin selalu ada saat bertemu antara satu dengan yang lain.
Sesaat ia pucat teringat peristiwa malam
di rumah kecil itu, ia pergi bersama seorang lelaki yang sepertinya tidak jauh
dari umur Haqie anaknya. “Apa benar itu pekerjaan yang dilakukan ibu?” fikirnya
menerawang
Berkali-kali suara klakson etrdengar dari
arah belakang,Ayu menoleh “Hai non, sendiri ya?” sebuah suara dari belakang,
lelaki itu mensejajarkan motornya.
“Itu tandanya aku gadis setia, tidak
seperti cewekmu dibawa kabur lelaki lain dan bunting” tukasnya kesal.
Laki-laki itu tak menghiraukannya “Makanya kalau punya pacar tidak usah
jauh-jauh, seperti di Yogya tidak ada lelaki saja. Malam minggu begini paling
juga dia jalang sama perempuan lain, kau ini seperti tidak tahu lelaki saja”
“Bilang saja kau ngajak jalan aku”
“Pfhuh!!, PD benar kau ini. Hai non
dengar ya, sekarang aku sudah ada kecengan cakep”
“Alah ngaku saja kenapa, aku hafal
lai-laki sepertimu” cibirnya “Dan paling juga tidak ada lelaki lain akhirnya
mau jalan denganmu”
“Enak saja!”
Tawanya ironi “Ya sudah pergi sana”
Laki-laki itu tertawa lebar, tawa yang
tidak disukai
“Sudah pergi!”gertaknya kesal
“Hu…, kasihan kali kau,” tawanya keras
“Bilang saja jomblo” lirihnya seraya meluncur cepat, meninggalkan suara …memekakkan telinga.
Yakin sepenuhnya, Haqie bukanlah lelaki
seperti yang dikatakan lelaki sialan itu.
Sebuah jari menotok pundaknya,Ayu
merajut.
“Sendirian?” tanya perempuan itu,
sebelahnya lelaki berwajah legam tersenyum hanya terlihat giginya yang putih.
“Hmm…” senyumnya dipaksa
Mereka pamit segera mendahului langkahnya.
Rena meneguk rasa sesak. Entah kenapa
tiba-tiba pundaknya terguncang, tawanya tersendat-sendat
“Lucu sekali mereka, begitu mudahnya
mengobral cinta pada orang yang sebenarnya tak disukai”
Chapter 7
Pekalongan, Januari 2005
Siang itu suasana keluargaAyu kian
mencekam, tak jarang ayahnya meledak-ledak amarahnya, kalau sudah begini tak
jarang perabotan rumah rusak karenanya.
Kertas-kertas berhamburan tak rapi
memenuhi tiap sudut kamar. Demamnya semakin tinggi, ia meringkuk di balik
selimut tebal, kalau sudah begini apa yang bisa diperbuatnya kecuali hanya
pasrah, ia membiarkan kertas-kertas itu bersebaran di sana, barangkali berapa
jam kemudian ia sembuh, cepat-cepat ia bisa memeriksanya satu-persatu
kesalahan-kesalan yang tercetak.
Bunyi suara telephon mengingatkan akan
Haqie, kakak memanggilnya dari ruang tengah.
“Apa Haqie ke tempatmu?” suara itu
gelisah
“Tidak,”
“Tidak ada kabar?”
“Sudah hampir setengah tahun ini tidak
pernah ada kabar darinya Bu,”
“Pergi kemana dia…” keluhnya lirih
“Ada apa Bu…?”
“O…, t-tidak”
“Ada masalah apa?, bagaimana kabar
adik-adik,”
“Baik,”
Suara itu tiba-tiba saja terputus
“Membuat ulah apa lagi dia?” gagang itu
digeletakkannya lagi “Kenapa orang itu selalu saja berbuat seperti itu, membuat
orang selalu was-was dan tidak tenang” kepalanya makin berdenyut.
Telephon itu berdering saat kakinya
hendak melangkah pergi
“Chik, tolong katakan pada Haqie cepat
pulang, Ibu khawatir ia akan melakukan sesuatu, tolong cari dan nasehati dia
Chik,”
“Dimana dia sekarang?”
“Ibu tidak tahu, tapi sepertinya dia akan
ke rumah ayahnya”
“Ke tempat nenek atau …”
“Ibu tidak tahu,! Tolong cari dia secepat
mungkin, tenangkan hatinya, ibu yakin hanya kata-katamu yang mau dia dengar
Chik,”
“Sebenarnya ada apa Bu?”
“Entahlah, malam itu dia datang
marah-marah memukuli ibu dan mengobrak-abrik semua barang-barang”
“Bagaimana dengan adik-adik”
“Malam itu juga Rendra pergi entah
kemana, dan Pipit diboyong tante ke Jakarta, Hani pergi dengan laki-laki siapa
juga ibu tidak tahu”
“Ibu tidak melarangnya”
“Malam itu fikiran ibu kalut dengan
amukan Haqie, dia marah-marah seperti orang kerasukan”
“Tolong cari dia Chik, ibu takut…”
“Tapi Bu,…” kepalanya makin mendenyut,
keringatnya panas dingin, pandangannya berputar-putar “Aku tidak enak badan”
Dan
lagi besok nanti malam aku mesti ke Yogya untuk persiapan ujian pendadaran”
“Kapan wisudamu?”
“Mungkin sekitar enam
bulan lagi”
“Masih lama kenapa pulang?”
“Ibu sudah tidak mampu biayai kost,
lagipula mata kuliahku sudah selesai semua kok Bu,”
“Jadi sekarang kau di rumah terus?”
“Ya,”
Sepi,
“Ibu…, ibu tidak apa-apa?”
“Tidak,”
Ibu terus berkeluh, namun tiba-tiba suara
itu terputus.
Pandangannya seperti hendak terjungkir,
kepenatan menumpuk sempurna di kepalanya. Ia jatuh tak sadarkan diri.
@@@
Pagilaran;Pekalongan,
Februari 2005
Siang di perkebunan teh Pagilaran yang
konon katanya terjadi sengketa antara pihak warga setempat dengan Universitas
Gajah Mada Yogyakarta masalah tanah itu. Entah kenapa selalu saja masalahnya
begitu.
Dari atas nampak deretan biru dataran
tinggi dengan selaput awan tipis. Barisan pohon teh hijau segar memenuhi
ketinggian bukit. Arsiran pohon cemara tegak lurus seperti dalam lukisan.
Sementara hawa dingin makin menggigit saat mentari condong ke arah barat.
Rena melipat dua tangannya di atas meja
gelondongan kayu yang di gergaji rata dalam gardu. Sorot matanya teduh
memperhatikan Haqie yang mondar-mandir meninju-ninju dinding gardu.”Kau
mengajakku kemari cuma suruh dengar umpatanmu?”
Lagi-lagi Haqie menggerutu tak jelas.
“Sudah ku katakan kalau ada masalah
katakan dengan jelas”
“Chic!,” ia mendesis perih “Kita pergi
saja dari kota ini”
KeningAyu berlipat-lipat, “Tengkar lagi
sama ayahmu?”
“Tidak, tapi aku membunuh ibuku”
Rena tertawa kecil,”Pertama ayahmu, kedua
ibumu, jangan –jangan yang ketiga aku”
“Haq, duduk sini” tangannya menepuk
gelondongan kayu di sebelahnya “Kau masih
dengar kata-kataku tidak?”
Setengah kesal Haqie menghempaskan
duduknya.
“Jernihkan dulu fikiranmu, tenangangkan
hati kita bicara baik-baik”
Haqie membungkuk lelah,
Rena menunggu beberapa menit, Haqie mulai
angkat suara” Ayo ceritakan dari awal”
“Ibuku…”
Rena mengernyit setengah menebak,
“Ibuku main dengan laki-laki lagi”
“Dengan siapa?
“Siapa lagi kalo bukan si kunyuk itu”
“Bukannya kau sudah tahu sejak awal?”
“Sudah kau bilang! Jangan main di depan
anak-anaknya!!. Masih banyak tempat-tempat sepi lain, terserah mau di kebun,
kuburan atau pinggir sungai!”
“Lho kok?, malah mendukung” tawanya geli
“Aku sudah muak melihat tingkah ibu”
tandas Haqie geram.”Waktu kami belum terusir dari rumah itu, lagi-lagi ibu
ribut sama orang kampung gara-gara laki-laki (suami orang)” tinjunya kesal
“Berkali-kali aku peringatkan, tetap saja?!, dan kali ini… di depan mataku
sendiri, di depan kontarakan itu”
“Haq, sekarang jelas kan?, ibu dan ayahmu
sama saja, seharusnya kau bisa memandang dari dua belah pihak, mungkin ayahmu
keras karena ibumu begitu begitu juga sebaliknya ayah…”Ayu memandang lurus
”Sejak awal aku sudah curiga pada ibu tak pernah berkomentar macam-macam
walaupun aku begadang di rumahmu sampai larut”
“Aku malu Chik, mau taruh mana mukaku!”
“Cobalah kau pikir ulang. Ibu menjanda
selama bertahun-tahun sendiri menghidupi enam orang anak, jauh dari familiy,
nggak punya usaha sendiri ditambah lingkunganmu yang mendukung untuk begitu,
gimana seandainya itu ada di posisimu, jelas naluri seorang perempuan butuh perlindungan, kasih sayang”
“Kita semua menyayangi ibu Chik, berapa
kali aku gagalkan panggilan kerja di
luar kota karena aku khawatir ibu”
Rena
menarik nafasnya panjang ” Bukan, bukan itu yang ku maksud” jelasAyu datar “Aku
faham, aku ngerti maksudmu, tapi dia butuh…”
“Mereka sudah nikah kyai, kenapa tidak
pernah kompromi pada anak-anaknya. Dia ngaku setelah semalam aku pukuli”
“Kau merasa hebat?!”
“Biar saja kau bilang apa, sudah aku
peringatkan berapa kali jangan di depan rumah!”
“Lho Haq, kemarin kita juga begadang
sampai subuh didepan kontrakanmu”
“Memangnya kita berbuat apa, jelas-jelas
kau nggak tidur karena takut aku”
Bercak-bercak tetesan air di aspal
pertanda hujan mulai turun. Angin dari perbukitan terasa menusuk lewat celah
kain serat wol,Ayu menggigil kedinginan, sementara Haqie nangkring di atas
motor.
SepertinyaAyu tengah berfikir keras. Jika
dirunut dari sil-silah keduanya, sepertinya ada hal yang tidak seimbang.
Keluarga dari ibu dan ayahnya, keduanya bertolak belakang, ibu dengan
backgraund kental nilai-nilai religius, sementara dari ayahnya amburadul, salah
satu paman dari ayahnyalah yang pertama kali menawarkan pil extachy. Keduanya
sama dari keluarga kaya.
Konon keduanya melarikan diri karena
tidak direstui oleh dua pihak keluarga, untuk itu mereka melarikan diri keluar
kota, dan melahirkan Haqie, beberapa tahun mereka pulang mendapat restu dari
dua belah pihak dan menikah resmi. Entah bagaimana dan apa penyebabnya terjadi
perceraian setelah adiknya yang terakhir lahir. Untuk itu ibunya pergi
meninggalkan kota itu dan singgah dirumah neneknya.
“Setelah ini rencanamu pulang kan?
“Mendadak wajahnya memerah “Tidak aku
tidak akan pulang selagi ibu belum menyuruhku pulang”
“Rena tertawa geli “Ngaku anak preman,
tapi begitu saja…”
“Biar Ibu tahu rasa”
“Lho!, bukannya terbalik”
“Keterlaluan kalau dia nggak mencariku”
”Anak mama gimanapun tetap anak mama!,
kalau sudah berani keluar rumah
seharusnya berani bilang say good by, tanpa embel-embel apapaun,
itu namanya baru gentle”
“Ya?!, kau harus pulang,”
“Sebelum dia menyuruhku pulang”
“Kemarin ibu menyuruhmu pulang”
“Bohong!”
“Lho…?!” liriknya geli,
“Muka mu kenapa?, kau kecelakaan lagi?!”
“Ya, seandainya saja trailer itu mau
menggilasku, aku nggak usah lihat muka ibu lagi”
“Lho kenapa nggak jadi?”
“Ya!, ada yang menolongku tadi”
“Kalau kau mau aku bisa bantu”Ayu berdiri
di atas balokan kayu itu menghadap ke tebing bawah sana “Sini!” katanya sambil
melongok-longok jurang di bawah gardu
Haqie mengernyit aneh”Kau suruh aku bunuh
diri?”
“Bukannya tadi nggak jadi mati?”
“Kau mau aku mati?”
”Kalau itu maumu…?, bukannya tadi kau
bilang begitu?”Ayu menurunkan kakinya “Aneh…? pengecut sepertimu kenapa masih
hidup?”
Rena mengamati luka itu ”Sudah kau beri
obat apa tadi?”
“Belum,”
“Lalu?”
“Biar saja begini”
“Kau bisa terinfeksi”
“Paling juga nggak mati”
Rena menggeram turun dari gardu ”Itu ada
sungai kecil di sana” tunjukAyu ke bawah jurang dengan ketinggian 5-6 meter
dari aspal.
“Tega bener kau menyuruhku turun, badanku
saja sakit semua”
“Buktinya kau masih bisa sampai kemari”
“Sudah biarkan saja begini”
“Cepat aku antar kau turun”
“Tapi bantu aku ya?” senyumnya memohon
Rena menoleh ke kanan dan ke kiri
memungut dua batang ranting sedikit basah oleh rintik gerimis ”Ayo!” katanya mulai turun
“Buat apa kau bawa kayu itu”
“Kau bilang aku suruh membantumu” ia
tertawa “Kenapa?”Ayu menahan tongkat “Ayo
pegangi tongkat ini” katanya menoleh ke arah Haqie.
Ia
terus berdiri “Aku tidak mau turun kalau pakai tongkat itu, bisa-bisa
lukaku terkena kulit batang kayu malah infeksi”
“Tidak, kalau kau hati-hati”
“Aku mau kalau kau pakai tanganmu”
“Macam-macam, cepat! atau aku tonjok
sekalian lukamu itu pakai ini” katanya menyodorkan ranting itu
Melihat sikap Ayu yang sedikit geram, Haqie turun mengikutinya.
Jalan itu licin dan sempit, nyaris Haqie
terperosok ke semak-semak, tapi ia malah menertawakannya.
“Dasar cewek!” katanya berdiri memperhatikan
Ayu mendekati sungai kecil dengan air bening itu.
“Bersihkan dengan ini” Ayu menyodorkan
sapu tangan ke arahnya
“Tapi tanganku yang satunya masih sakit”
“Kau mau aku pakai kayu ini?!” Ayu
mencibir
Dahinya berkerut.
“Kalau aku yang kecelakaan, mungkin
sekarang sudah sekarat terbaring di kamar dan tak bisa berbuat apa-apa” fikirAyu
“Kau ngebut?!”
Haqie diam, meradang kesakitan
Rena mendekatinya “Mana aku bantu
bersihkan”
Haqie menyodorkan sapu tangannya
“Pelan saja Chik!” teriaknya kesal
“Ini tandanya kau kuwalat sama
orang tua” katanya sedikit menyorong keras ke arah lukanya
“Auw! Kalau kau tidak bisa pelan biar aku
bersihkan sendiri saja!”
“Nanti kita cari obat di jalan”
“Tidak mau, biar saja begini” sahutnya
kesal
“Ya sudah,”
Derit suara binatang terdengar bersahutan
dibalik batang pohon-pohon menjulang, sementara siulan burung melompat dari
satu dahan ke dahan lainnya.
Mereka diam menengadahkan wajahnya pada
tiga ekor burung kecil di sarangnya, sementara induknya melompat kesana kemari
membawa seutas tali kayu dengan paruh dan melilitkan di sarangnya.
“Aku iri pada burung kecil itu”
“Seandainya saja orang tua kita seperti
induk burung itu, pasti kehidupan kita tidak akan seperti ini”
“Dan aku tak akan pernah menjadi seorang
morfinis”
“Ya, aku tak perlu repot-repot sekolah
keluar kota hanya mencari ketenangan hidup”
“Tapi Chik,” suaranya terhenti ”Andai
saja hidup kita sama enaknya, kita tidak akan pernah bertemu lagi, karena kamu
tidak akan pernah mimpi tentang aku dan
menyuratiku”
Rena menoleh “Dan mungkin sebaliknya aku
akan sepertimu karena ternyata STM Perhutani yang aku idam-idamkan sejak dulu
ternyata terkenal dengan sex-bebasnya”
Haqie tersenyum menerabas belantara hutan
“Benar katamu, semua itu ada hikmahnya. Kadang memang Tuhan itu baik, tapi
kadang juga buat kita mangkel” lesung pipitnya muncul ”Tapi aku akan
mengakui masa laluku, karena semua itu adalah bagian dari kehidupanku,
hikmahnya aku bisa ketemu gadis yang ku impi-impikan sejak dulu” tatapnya penuh
makna
Rena tersenyum
Keduanya terhanyaut dalam keheningan dan
kedamaian suasana perbukitan the itu.
Komentar
Posting Komentar