Hanya Masa yang Lalu
Arum
gelisah tak sabar di sepanjang perjalanan, bahkan ia tak sempat menawarkan
senyum pada orang-orang di sebelahnya, tatapan matanya jauh menerawang
kegelapan malam di luar jendela gerbong kereta yang seolah terlihat seperti
mimpi. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah mas Riza calon suaminya,
yang kini tengah terbaring di sebuah bangsal Rumah Sakit kota Bekasi.
Tiba-tiba
saja matanya membelalak saat angannya kembali tertuju pada layar kecil
Handphone-nya.
“Subhanallah?!!
Bagaimana ini?!!” angannya tanpa sadar, antara gugup, bingung dan gelisah. Ia
baru sadar bahwa ia belum tahu nomornya, pikirnya seketika memutus sambungan
itu.
“Hallo,
maaf ini siapa?” suara itu terdengar lembut di seberang sana.
Seketika
keringat dingin menjalar hingga genggaman tangannya.
Arum
sengaja membiarkan suara itu menyapanya dan memutus dengan sendiri. Dengan
segenap kekuatan dan keyakinan akan pilihan seseorang yang telah mengisi
hatinya, ia memencet beberapa tuts telphon genggamnya.
“Ass.
Ini Arum …, eh maaf tidak sengaja Hpku tadi kepencet nomormu” kata itu meluncur
tiba-tiba “Yah? Habis pulsaku …” pikirnya lagi.
“Arum?
Teman Dani itu kan? Yang benar?!!”
“Ya,
ini Arum teman Dani …”
“Sedang
apa di situ?”
“Dug!”
perasaan itu kembali gelisah, tapi bagaimanapun ini harus dikatakan “Dalam
perjalanan ke Bekasi, jenguk tunanganku yang kecelakaan”
Setengah
gelisah Arum menunggu balasan nomor itu, tapi hampir beberapa jam yang lalu SMS
itu tak kunjung datang hingga terdengar deritan panjang gerbong kereta
berhenti. Tepat di Stasiun Bekasi, orang-orang sudah mulai berjejal
berdesak-desakan menuju pintu keluar.
Hari
masih terlalu pagi, sesaat kegelisahan itu kembali menjalar hingga wajahnya
nampak pucat membayangkan calon suaminya tak lagi bisa berjalan dengannya.
Bayangan pesta pernikahan yang membahagiakan satu bulan mendatang itu berubah
menjadi bayangan suram yang menakutkan.
“Akankah
aku menderita seumur hidup bersama suami yang tak lagi berdaya, tanpa kaki?
Ataukah aku harus pergi meninggalkannya begitu saja, sementara ia sangat
mencintaiku. Ya Rabb… harus aku apakan nasib yang melandaku seperti ini? Apa
ini ulah kami yang memaksa kedua orang tua kami untuk menyetujui pernikahan
ini?” perlahan segelintir bening menitik dari sudut matanya yang layu.
“Apa
yang harus aku katakan saat bertemu dengan orang tuanya nanti? Padahal beberapa
hari yang lalu baru aku dengar, mereka mengolok-olokku yang memiliki background
adat daerah dengan perempuan materialis? Meski sebenarnya aku sendiri tak tahu
soal itu…” lagi-lagi langkahnya ragu memandang beberapa angkot berseliweran
yang harus ditumpanginya.
Sesaat
lamunannya kembali pada raut Rendra.
“Ah!
Kenapa kau hadir di saat seperti ini …” pikirnya menahan nafas dalam memandang
lepas pemandangan di luar jendela angkutan mini.
Hingga
sesaat bangunan Rumah Sakit itu muncul, kembali perasaannya ragu, kalut dan
gelisah. Antara keyakinan serta ketidakpastian berbaur meski kaki-kaki itu
seolah dibawah kesadarannya melangkah menuju sebuah kamar.
Sambutan
senyum kecut menyalaminya di depan pintu. Seorang ibu-ibu berusia lima puluh
tahunan itu mempersilahkannya masuk.
Seketika
mata itu berkaca-kaca saat menangkap seonggok badan yang terbaring tak berdaya,
berbalut selimut putih kebiru-biruan.
Raut
itu langsung ditangkap mas Riza, “Nggak apa-apa … paling dua minggu nanti sudah
bisa jalan lagi”
“Itu
tak mungkin, bagaimanapun yang namanya patah tulang, apalagi kaki pasti
membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk bisa jalan” pikir Arum carut
marut.
Senyum
itu terlalu sabar bagi Arum, senyum yang selalu membuatnya teduh dan tenang. Di
saat seperti itu, masih saja bisa tertawa terbahak-bahak dengan orang-orang
yang menjenguknya, namun begitu menangkap raut Arum yang selalu berkaca-kaca
seketika mas Riza diam.
“Ayolah…
ini bukan akhir segala-galanya, ini tandanya Allah masih sayang pada kita”
“Kalau
memang orang tua Mas tidak menyetujui hubungan kita, alangkah baiknya berhenti
sampai di sini…”
“Ini
semua butuh waktu… ini hanya kesalahpahaman
tentang tradisi daerah dan semua butuh pemahaman lebih jauh. Inilah tugas kita
sebagai anak bahwa apa yang dikatakan itu tidak benar”
Kembali
pikiran Arum melayang-layang, matanya tertuju pada gelombang awan putih yang
berderet-deret di luar jendela sana.
***
Pagi
kembali menyambut, pengunjung kembali berduyun-duyun berdatangan setelah jarum
jam menunjukkan pukul delapan. Sementara di sebuah bilik rumah sakit, tatapan
Riza berat meninggalkan kepergian Arum yang tengah berpamitan pada ibu Riza.
“Hati-hati
di jalan…” suaranya parau melepas jabatan tangan tunangannya. Dan Arum pergi
begitu saja tanpa pernah menoleh sedikitpun dengan raut tertunduk menahan isak
tangis.
Lagi-lagi
dirinya masih belum percaya jika mas Riza saat ini tak bisa berjalan.
***
Sore
itu langit kota Yogya nampak murung menyambut kedatangannya.
Hingga
sampailah di kontrakannya, dimana temannya pernah berkata, kelak rumah cantik
ini kau sewa saja dengan mas Riza. Ia tersadar dari lamunanya oleh suara
Handphone yang bergerit.
“Ass.
Bagaimana kabarmu pagi ini? Aku nggak percaya kalau kau ternyata sudah punya
tunangan”
“Dug!!”
lagi-lagi SMS itu datang, sesaat ia meyakinkan dirinya “Syukurlah, kau sudah
mengerti, semoga kau memahami hal ini, meski aku sendiri tidak yakin dengan apa
yang akan terjadi nanti. Oh, mas Riza… kenapa seperti ini jadinya…”
“Ya
Rabb… andai saja di dunia ini tak ada hutang budi, atau… andai saja aku tak
tahu hukum, sudah aku lupakan khitbah mas Riza detik ini juga. Bukankah
sejak dulu aku memang menunggu Rendra? Sementara dia seolah melambai-lambai di
depanku… menyambut kedatanganku… dan aku yakin ia menyambut cintaku…”
“Tinggal
di mana sekarang?” Sms itu datang lagi, pikiran Arum kembali gelisah seolah
ingin teriak
“Kenapa
kau datang dalam keadaanku yang sudah begini???” pikirnya antara kesal dan
kecewa “Dulu aku menunggu keatangan kabarmu. Aku berharap kau beri kabar meski
kau harus tanya alamatku kesana kemari ke teman-teman kost”
“Boleh aku main?” sms itu datang ke dua kalinya
Di
bawah kesadarannya ia membalas dan memperbolehkannya bertamu ke kost-kostannya.
Komentar
Posting Komentar