Bagi mereka Aku jenius, padahal aku bodoh

 

 

Sekilas melihatku, orang pasti mengira aku ini adalah gadis genius. Apalagi ketika mereka tahu aku dalam sekilas kegiatan ataupun organisasi, mereka akan bilang, aku ini gudangnya ide. Karena tak sedikit ide-ide segar diluar dugaan teman-teman keluar dari mulutku. Ditambah lagi performanceku yang sering dibilang nyaris perfect dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tentu mereka akan terkecoh kalau aku ini punya segudang prestasi di sekolah.

Padahal,

“Hahaha… rangking kelas saja jarang aku dapat”

Sorot mata elangku sering membuat orang-orang sedikit agak takut melihatku, apalagi anak-anak. Masih ingat sekali kejadian anak tetangga yang takut padaku karena kacamataku

“Hihi… ini benar-benar aneh”

Kadang aku sendiri merasa harus bagaimana ketika menghadapi anak-anak, semestinya yang memiliki hati keibuan.

“Yah…! Soal begini ini aku sering merasa takut dengan diri sendiri”

Tapi apa kalian tahu, apa dibalik performanceku yang seperti ini?

Ada sebuah pengalaman yang membuatku merasa aneh dengan semuanya yang berhubungan dengan seks.

Masih ingat sekali bagaimana dulu waktu usia sekolah dasar. Paling benci jika jalan dengan kakakku perempuan yang waktu itu belum memakai jilbab. Karena lekuk payudara yang terlalu menonjol -maklumlah waktu itu dia masih usia belasan tahun-. Itu membuat mataku terlalu jeli dengan setiap mata lelaki nakal yang memandang atau kadang justru bersiul-siul. Itu benar-benar membuatku risih dan tidak nyaman sama sekali.

Dan rasanya aku masih ingat betul bagaimana mataku mendelik pada beberapa lelaki yang senyum-senyum pada dua orang kakakku selepas turun dari becak. Waktu itu, tanganku yang mungil langsung mencubit kecil kakakku. Sontak mereka tertawa geli melihatku.

“Hadeuh…! Benar-benar”

Dan belakangan aku merasa benar-benar benci pada calon suami kakakku yang paling dekat denganku. Karena dari situ aku merasa benar-benar sendiri berjuang.

Tapi apa kalian tahu? Aku ini adalah gadis dungu yang menyebalkan. Hingga aku pun benci dengan diri sendiri. Kebencian itu seakan tertancap kuat dalam benakku. Keluargaku lah yang melemparkan panah itu hingga menusuk dalam benak pikirku.

Entah kenapa aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa segala sikap dan tingkah laku, selalu saja mereka salahkan dan dianggap aneh.

 

 

Satu hal yang tidak aku sukai dari mereka (keluargaku) adalah terlalu materalistis. Apapun, selalu mereka perhitungkan dengan uang. Dan yang paling menjengkelkan adalah tidak adanya keadilan.

Pemilik keadilan adalah si kakak yang lebih tua dan lebih banyak berjuang membantu mengais rejeki di warung nasi milik keluarga yang menjadi satu-satunya andalah ekonomi keluarga kami untuk menghidupi keluarga kami berjumlah lebih dari selusin. 


 

Dari situ aku berkeyakinan, bahwa suatu saat aku pasti bisa hidup tanpa mengagung-agungkan uang dan mengeluhkan segala hal.

 

Dari situlah sejak kecil aku memiliki teman imajiner yang selalu hadir di saat aku sedih ataupun senang hingga remaja kini.

Saat malam tiba, teman yang paling asyik adalah sekawanan bintang dan terkadang redupnya rembulan beserta terpaan angin yang selalu mengelus pipiku.

Saat siang, aku asyik mengamati segala gerak-gerik yang terjadi dengan imajinasiku. Dari tiupan berita di layar televisi, sampai tingkah laku seorang guru saat berdiri di depan kelas.

Jadilah aku gadis introvert, karena apapun yang kukatakan pasti salah. Itulah yang aku terima di keluargaku. Dan ternyata ini terbawa ke bangku sekolah.

Ya! Aku lebih suka memandang keluar jendela ataupun sudut-sudut kelas daripada membalas tatapan mata guruku. Aku merasa takut akan tatapan semua orang. Termasuk tatapan ibu yang bagiku terlalu menyeramkan ketimbang tatapan harimau.

Dengan memandang keluar jendela, aku lebih leluasa berfantasi dengan keterangan guru di depan kelas, bahkan tak jarang pertanyaan-pertanyaan muncul berhamburan. Terutama soal sejarah, yang bagiku terkadang banyak tak logisnya ketimbang logis. Yang jelas urutan waktu yang tak beraturan membuatku sering bingung. 

Sementara entah kenapa juga pikiran itu seketika langsung melesat jauh melewati lorong waktu terkadang bercabang membentuk ranting-ranting yang sedemikian rumit, hingga tak jarang aku tertinggal mendengarkan keterangan guru. Aku selalu terlambat memahami keterangan berikutnya.

Yah! Lagi-lagi nampak ngalamun. Dan ditegur guru.

Itu yang sering terjadi di ruang kelas SMP dulu.

Apakah nanti di SMU akan sama begitu?

“Entahlah!!”

“Ngeri rasanya mendengar SMU Negeri 1”

Jantung serasa copot begitu hendak masuk gerbang Sekolah itu. Apalagi wajah-wajah mereka terlihat cerdas di balik frame kacamata dan jam tangan yang serba kemilau. Belum lagi tumpangan mereka yang rata-rata sepeda motor. Andaipun sepeda, pasti sepeda bermerk.

Rasanya hampir tak ada satu muridpun yang diantar dengan sepeda ontel tua dengan ayah mereka.

Inilah hari pertama yang paling mendebarkan sepanjang hidup. Masuk  bangku Sekolah favorit di kota kelahiranku. Dimana anak cerdas nan kaya kumpul jadi satu di sini.

Aku merasa perlu mengencangkan sabuk kekuatan pikiran ketimbang memikirkan kenapa dan kenapa mereka -keluargaku- begitu membenciku.

Toh kata tetangga, aku ini bukan anak angkat.

Dan satu lagi yang ingin aku tunjukkan pada keluargaku, bahwa aku ini bukanlah anak goblok yang selalu mereka tudingkan padaku kepalaku dibanding dua orang kakakku.

Tak disangka-sangka hari pertama masuk, surat cinta dari seorang teman lelaki berupa pesawat kertas mendarat di mejaku.

Lambat tapi pasti, berita itu mengudara di kelas, terutama di kalangan teman perempuan yang membaca surat itu.

Sementara aku sendiri tak terlalu menggubris surat itu. Karena untuk masuk ke sekolah ini saja, mati-matian aku bertaruh tiga tahun dengan keluargaku. Apalagai dari sisi dana yang tidak sedikit menguras energi orang tua bekerja sebagai penjual nasi.

Itu semua telah menutup semua mata indraku untuk tak tergiur dengan hal-hal konyol seperti pacaran.

Saat mendengar sekilas nama Edwin, aku mendegarnya sebagai nama Erwin.

Erwin adalah teman lelaki SD dulu. Ia adalah lelaki keren pertama kali yang kukenal sejak kelas 4.

Entah bagaimana aku menjelaskan, firasatku mengatakan ia juga mencintaiku. Setahuku, dia terlahir dari keluarga Broken seperti aku. Tapi setidaknya dibanding dia aku masih lebih beruntung karena memiliki basic agama yang cukup.

Dan aku kira, dia juga sekolah di sini. Meskipun aku tak yakin betul. Karena dibanding aku, dia termasuk anak yang bodoh.

“Syuuutt!!” surat pesawat itu mendarat lagi di bangkuku.

 

By Edwin

 

Begitu nama itu terbaca olehku di kedua sisi sayap pesawat, runtuhlah semangatku begitu tahu yang sering disebut teman-teman itu bukanlah Erwin, melainkan Edwin.

Meskipun ada rasa ingin tahu bagaimana isi surat itu, tapi tanganku terasa begitu berat sekedar bergerak. Dan aku sendiri tak begitu yakin dengan apa yang namanya “cinta”, apalagi pacaran yang hanya sekedar bualan kosong memabukkan.

“Cinta, tak ada bedanya dengan Narkoba, sekali aromanya tercium, sulit dihentikan”

Yah!! Itulah yang pernah aku alami.

Aku baru tahu belakangan apa itu makna cinta setelah seorang teman di SMP dulu mengecapku sebagai lesbian atau gadis tak normal.

Mungkin itu adalah kekesalan mereka yang tak pernah merespon surat cinta yang datang berulang kali ke mejaku dari seorang teman lelaki beda kelas.

Sejak itu aku tersentak, mencari tahu kebenaran yang mereka katakan.

Lamunanku serasa kembali ke masa kelas 4 SD dulu aku. Saat aku terpesona dengan anak baru. Anak lelaki keren yang pernah ku kenal, perfect dengan penampilannya yang serba bersih nan rapi sepertiku.

Erwin, begitu menyebut namanya perasaanku serasa tergetar dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Dia adalah cinta pertamaku yang masih tertanam kuat hingga detik ini.

Dan… percaya atau tidak, aku tahu betul bagaimana perjalanan Erwin lewat mimpi sejak mendapat julukan itu.

Entah bagaimana, mimpi itu sering muncul tiba-tiba yang membuat kangenku terasa begitu kuat.

Alhasil, rasanya jadi semakin aneh karena tokoh imajiner yang sempat ku buat dulu itu, ternyata benar-benar merasuk hingga kini.

“Benar-benar Gila”

Dan…

“Slurrrpph…!!” masa itu telah terlampau jauh

Edwin, begitu aku sadar seketika. Bahwa Erwin benar-benar tidak ada di sini. Yang ada hanyalah Edwin, dan bukan Erwin, si lelaki jangkung berhidung tinggi bermata bulat.

Rasa percaya diriku kini mulai terbangun. Bahwa aku ini bukanlah gadis buruk, seburuk yang keluargaku katakan tentangku.

Karena saking buruknya aku memandang diriku sendiri, sampai-sampai aku tak punya rasa percaya diri untuk sekedar bercermin kecuali memastikan apakah seragamku benar-benar rapi dan bersih.

Jadi jangan bayangkan aku bisa bersolek seperti teman-teman cewek lainnya. Karena bedak pun aku tak punya.

Jadi rasanya aneh, jika ada seorang lelaki yang menaruh perhatian padaku. Bahkan aku sering mengira, bahwa mereka sekedar ingin menertawakanku sebagai gadis bodoh yang buruk rupa.

Itulah pandanganku terhadap diriku dan orang lain. Selalu curiga dan curiga…

Hari itu masa orientasi sekolah telah selesai. Dan pembagian kelaspun telah dimulai. Aku merasa bebas ketika mendengar Edwin bukanlah satu kelas denganku. Bagiku dia seperti debu yang membuat mataku kelilipan di saat aku harus memulai berlari-lari kecil untuk lakukan marathon merebut prestasi yang lebih.

Benar-benar menjengkelkan rasanya…

Karena dia-lah namaku jadi berkibar di sekolah itu, bahkan dikalangan kakak senior. Berita yang beredar, bahwa aku adalah pacarnya.

“Bah!!”

Kemarahanku serasa meledak di ubun-ubun.

Semua mata menatapku saat aku keluar dari kelas.

Begitu pulang, diam-diam mereka menguntitku dari jauh sekedar mencari tahu alamat rumahku.

“Mereka pasti akan mencemoohku, andai mereka tahu bahwa aku ini anak si penjual nasi di pinggir jalan” pikiran negatifku kembali menjalar

Dengan perasaan cemas dan keringat panas dingin, diam-diam aku berhasil menemukan jalan kecil yang sulit diterabas motor.

“Yess!!” teriakku bangga

Begitu sampai di rumah, aku langsung nylonong masuk kamar, dan ku kunci rapat-rapat dari dalam.

Ku rebahkan badan, terasa begitu nyaman meski beralas kasur yang mulai menggumpal keras.

Entah kenapa perasaan senang bercampur degup jantung yang masih terasa berdebar-debar membuat perasaan semakin tak jelas. Susah atau senang.

Perlahan aku mendekati cermin persegi di sebelah jendela kaca itu.

Entah kapan terakhir kalinya aku melihat wajahku di depan cermin, bahkan mungkin saja ini adalah untuk yang pertama kalinya. Rasanya sungguh berat bercampur takut dan malu pada diri sendiri.

“Apa aku ini cantik?” pikirku sambil tersenyum takut dan malu

Sejak saat itu aku mulai berani menatap diriku sendiri di depan cermin, seiring kesadaranku pada teman-teman yang menerima kehadiranku dengan baik.

“Ya! Sisi kesadaranku pada diri sendiri kini mulai terbangun”

“Hahaha… rasanya aneh”

“Apa wajah seperti ini yang dibilang cantik??” pikirku balik sembari curi-curi pandang pada cermin.

Dan kali ini kembali ku tatap lekat-lekat wajahku, entah kenapa kini nampak semakin menyeramkan…

“Tatapan mata elang” pikirku seakan menghakimi sorot mata yang nampak tajam dengan alis mata yang tipis

“Imut,”

“Benarkah?!” pikirku terngiang komentar salah seorang teman cewek yang jadi Mak Comblang Edwin

“Huh?! Mereka nggak sakit mata kan?”

“Aagh…?!” rebahku kesal menghempas

 

@@@

 

Awal semester, daftar les dan ekstra kurikuler sekolah sudah aku padatkan 7 hari berturut-turut. Dari les Matematika dan B. Inggris, sampai ekstra kurikuler Komputer dan Karate.

Mungkin bagi sebagian siswa itu terlalu melelahkan, tapi itulah aku yang terlalu ambisius dan perfectionis mengelola waktu.

Bagiku, waktu sehari 24jam terlampau singkat. Sampai-sampai agenda tidur 5-10 menit, agenda nyapu dan ngepel serta memeras santan di sore hari pun aku perhitungkan baik-baik.

Sementara tinggi badan yang ku ukur setiap satu sampai dua minggu sekali masuk dalam daftar perkembangan fisikku yang terus aku olah dengan  olah raga yang aku ikuti. Meskipun secara fisik ternyata aku tak sekuat anak-anak lainnya. Ini terbukti waktu di SMP dulu. ada penjaringan lomba lari marathon sejauh 1,5km tingkat Kodya. Aku gagal di tahap ke 3, karena ternyata nafasku terlalu pendek. Itu membuatku mundur beraturan.

Dan kini, aku ikut Karate. Kasusnya juga sama, nafas yang terlalu pendek membuatku cepat lemas terutama saat lari pemanasan.

Senpai bilang, aku harus makan daging dan buah-buahan yang banyak untuk mendapatkan stamina yang bagus kalau menentang keras penggunaan  multivitamin penambah stamina. Karena bagiku itu tidak logis, sementara hanya akan merusak organ tubuh lainnya.

Meski sempat terpatahkan, aku selalu mencoba dan mencoba untuk tetap eksis demi jaga diri saat aku bekerja di luar jawa nanti, itu pikirku mengingat aku harus diterima di IPB atau Jurusan Pertanian lainnya untuk mendapat pekerjaan di Perhutani.

“Hahaha… cita-cita semenjak SD”

Entah bagaimana ceritanya, aku begitu terobsesi dengan tumbuh-tumbuhan dan keheningan suasana di Hutan yang cenderung tenang dan sunyi.

Ya! Aku sendiri senang sekali memperhatikan pertumbuhan tanaman atau hewan-hewan yang hidup di bawahnya.

Usaha orang tuaku adalah penjual nasi di pinggir jalan. Mereka sering membeli macam rempah-rempah hingga satu becak penuh. Sementara aku lebih senang memperhatikan tunas daun akar-akaran jahe, kunyit, laos dan juga bawang merah atau biji lombok yang masih basah ketimbang bantu kupas untuk bumbu.

Kira-kira sejak kelas 4 SD aku melakukan observasi unik ini. Dan semua yang aku tanam, pasti tumbuh dengan baik.

Tapi sayang, hidup di perkotaan tak memiliki lahan yang leluasa untuk melakukan itu. Tanah dengan lebar kurang dari satu meter dan panjang tiga meter di pinggir rumah itu sering keinjak mobil yang sering lewat di samping rumahku. Ya! Meskipun aku beri pagar pembatas bambu, itu hanya sia-sia.

Perlahan namun pasti aku mulai meninggalkan tanaman dan pupuk kompos yang aku tanam di bawah daun-daunan seiring kesibukan kegiatan sekolah demi mengejar cita-citaku sebagai seorang insinyur perhutani, yang konon ternyata Kakek dari ibu pun adalah seorang Insinyur Perhutani plus saudagar kayu yang kaya raya.

Meski sebenarnya ingin sekali punya waktu leluasa seperti SD dulu, memperhatikan pertumbuhan akar dan daun bawang merah. Tapi rasanya itu mustahil mengingat aku sekarang tak punya banyak waktu.

Semua kegiatan di sekolah barangkali salah satu pelarianku menghindari kebisingan rumahku yang kebetulan bersebelahan dengan pabrik penggergajian kayu dan belakang Bengkel las, sementara depan gang yang hanya berjarak 20M itu adalah jalan raya antar kota antar provinsi. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi di sana.

Aku bisa menyentuh buku-buku pelajaran dengan tenang di atas jam empat sore, saat semua aktivitas pabrik berhenti total, meski desing suara kendaraan di jalan raya terus bergilir yang sering membuatku ingin teriak.

Terkadang aku merasa ingin stress mendengar kegaduhan tiap hari.

Aku sempat heran dengan orang-orang di sekitarku, termasuk saudara dan tetanggaku yang terlihat biasa-biasa saja mendengar itu semua.

Bahkan saat kelas tiga, aku sempat protes pada pimpinan pabrik penggergajian kayu untuk meletakkan mesin tidak di tembok seberang rumah meski hanya lewat telephon. Dan itupun jika bapakku tahu, pastib akal ada rotan yang mendarat di punggungku.

Aku merasakan kehidupan di sana benar-benar terlalu keras, termasuk sikap dan perilaku keluargaku yang gampang meledak marah. Dan aku kira itu adalah imbas dari pengaruh kebisingan lingkungan yang seakan-akan tidak pernah mereka sadari.

Itulah serentetan alasan, mengapa aku terlalu ambisius ingin menjadi Seorang Insinyur Perhutani sejak lulus SD.

Simpel, bisa hidup dengan tenang menyatu dengan keheningan dan bersahabat dengan alam.

Sejak lulus SD, aku merasa pertarungan untuk mengejar mimpi itu begitu mulai terasa, apalagi menginjak bangku SMU ini.

Seakan aku ini sudah pasti diterima di IPB dan langsung bekerja di Perhutani. Jadi segala daya upaya aku persiapkan baik-baik.

Dari seni bela diri, B. Inggris, Komputer dan Pramuka yang kebetulan di sekolahku belum ada ekstra Pecinta Alam. Jadi, mau tak mau aku harus tahu betul bagaimana medan yang akan aku hadapi.

Hampir dikata, tak ada hari libur untukku. Karena hari Minggu pun menjadi ajang bersih-bersih Sekolah yang sudah menjadi agenda utama sejak dulu di sekolah itu.

SMU Negeri 1 di mataku dulu seperti Monster yang siap menggilas setiap muridnya. Tapi begitu masuk, aku merasakan keramahan dan kenyamananku hingga terkadang aku merasa malas pulang ke rumah. Bagaimanapun, dibanding rumahku, sekolah lebih terasa hening dan nyaman.

Biasanya saat jam pelajaran usai di hari itu, aku sering berlama-lama duduk di kelas yang telah kosong dan sepi. Sambil memandang sudut kelas yang terasa sejuk dengan cat hijau pupus yang dipenuhi dengan poster peraga di beberapa sudut.

Ini aku lakukan karena keterangan guru terasa lebih cepat ketimbang pencernaan visualisasiku yang sering bercabang kemana-mana, sehingga sering menimbulkan pertanyaan bahkan sanggahan yang sebetulnya harus segera ku tanyakan pada guru bidangnya.

Hari itu pikiranku kacau terbawa suasana tadi pagi yang bertengkar dengan kakakku karena seharusnya bantu goreng tempe melainkan garap PR karena semalam capek ketiduran selesai latihan Karate di sekolah.

Meski berulangkali aku tepis semua pikiranku yang kacau, tapi selalu saja kekacauan itu datang di saat aku harus memvisualisasikan semua keterangan guru. Jadilah hari ini adalah hari yang sial, semua nilai latihanku di kelas mendapat nilai buruk.

Rasanya ingin lari atau pergi jauh dari rumah, tapi lagi-lagi bayangan kekerasan dan pelecehan seks yang seringkali menimpa seorang gadis di luar sana terbayang di layar tv, membuatku mengurung semua niatku untuk kabur dari rumah.

Entah bagaimana tiba-tiba bisikan yang lama tak pernah ku dengar itu kembali datang seakan memberiku dukungan kuat.

“Ya! Aku yakin ini pasti bisa aku lalui” jawab batinku mengamini apa yang ia katakan.

Aku duduk seorang diri di mejaku deretan tengah sebelah jendela. Tak lama hembusan angin menerpa wajah seakan berkata;

“Hai! Kenapa kau??”

Bibirku tersenyum teringat kebiasaanku dulu yang kini mulai aku tinggalkan, menikmati hembusan angin malam seorang diri di samping rumah.

Nafas ku tarik dalam dan ku hempas kuat seakan memudarkan semua kepenatan pikirku yang melantur kemana-mana.

Kupandangi lekat-lekat semua sisi ruangan yang seakan memandangku pilu.

“Kenapa kau??” Tanya mereka lagi

“Aku ingin pergi” jawab batinku

“Kenapa?”

“Aku lelah hidup”

“Kau pikir dengan pergi, masalah akan berhenti di situ?”

“Ya-ya-ya! Silahkan kalian katakan kalau aku ini hanya pecundang” batinku seakan pasrah lelah oleh teriakan ruangan

“Siapa yang bilang begitu?”

“Kau kesepian?”

“Ya, aku merasa bertarung sendiri hadapi hidup ini, dan aku lelah”

“Mereka semua tak pernah mengerti bahasa kalian ataupun binatang dan tumbuh-tumbuhan”

“Bukankah dulu kau sering tertawa bersama daun-daun yang bergerak tertiup angin saat kau buang air besar di WC rumah yang tak beratap?”

Seettt…!

Ingatan itu kembali muncul,

Aku tersenyum dalam hati.

“Masih ingat kau ternyata!”

Tiba-tiba sapuan angin dari luar jendela seakan menamparku

“Plash!!” sadarku

Perlahan ku masukkan semua bukuku dengan tangan yang kini mulai terasa dingin dan bulu kuduk yang mulai merkidik.

“Sreett!!” aku lari keluar dengan sedikit nafas ngap-ngap

Tak ku sangka dua orang anak lelaki masih berdiri di ujung lantai paling barat sebelah pintu tangga. Mereka masih tampak terlihat asyik ngobrol sambil menunjuk-nunjuk kaos bola.

“Huufft…” sedikit lega, masih ada orang ternyata.

Firasatku mengatakan Edwin masih menunggu di lantai bawah sana. Tapi itu ku tepis begitu saja.

Aku melenggang turun dengan perasaan sedikit aneh tentang celoteh ruang kelas tadi.

“Jangan-jangan aku ini sudah gila?” selintas pikirku saat melenggang turun menuju parkiran

Begitu masuk lorong pakir, aku lihat sepedaku sudah terjepit dua sepeda motor. Sepi, tak ada seorang pun di sana kecuali dua orang tadi dan pak Bon penjaga sekolah yang mulai menutup pintu-pintu kelas.

Tak lama dua orang anak lelaki tadi turun dan masuk lorong parkir mengambil motornya. Aku sedikit lega melenggang pergi menuntun sepeda miniku yang sedikit kuno.

Ada sedikit keengganan pulang waktu ku tarik sepedaku keluar pintu gerbang sekolah. Tanpa ku komando pikiranku, seketika ku belokkan roda masuk ke area parkir masjid raya samping sekolah.

Hening, hanya bapak-bapak yang masih duduk-duduk di serambi masjid. Sebagian ada yang masih serius membaca buku atau alQur’an di dalam sana.

Jarum jam lemari di sudut sana menunjukkan pukul 14.05 WIB. Aku masuk ruang putri yang hanya bersekat kain yang tingginya kira-kira 5cm di atas kepalaku.

Rasa kantuk kini mulai bergelayut menyelimuti mataku seiring kesenyapan di dalam masjid.

Tiba-tiba,  

“Tar…!!” gendang telingaku terasa seperti pecah mendengar lengkingan muadzin lewat loud speaker tepat di atas dinding tempat aku bersandar.

Aku tergeragap bangun begitu teringat les Komputer siang itu di sekolah.

Entah sudah berapa lama aku tertidur di sini? Di atas lembaran karpet yang sedikit agak kasar dari kelihatannya.

“Apa kata teman-teman nanti begitu tahu aku belum ganti baju” pikiran perfect ku pun mencuat

Tanpa pikir panjang kakiku terdorong untuk secepat itu lari keluar masjid. Begitu sampai di luar kepalaku mulai berdenyut-denyut saat sepedaku tidak ada di tempatnya.

Anemiaku nampaknya mulai kambuh. Ku sisir halaman sekitar masjid dengan pandangan mataku yang mulai kabur

“Sepedaku hilang?!” teriak batinku

Dalam sekejap keringat dingin dan gemetar merayap di sekitar punggung dan leherku hingga genaplah sampai kaki terasa berat bergerak.

“Allah ya Robbi… apa Kau ini nggak pernah sayang padaku?”

Seraya berontak sekaligus bertumpu memohon saat kupastikan sepeda hijau itu tak ada di sana.

Mataku perlahan mulai terasa berkaca-kaca, terbayang makian apa lagi yang akan aku terima di rumah nanti.

Tiba-tiba nampak wajah yang tak asing lagi bagiku di sudut halaman masjid depan gerbang sekolah. Edwin dan teman-teman.

“Sial, anak itu lagi” gerutuku kembali menyelinap masuk dan kuhapus air mataku.

Aku kembali duduk bersimpuh di ruang putri sembari menahan air mataku agar tak lagi menutup bola mataku, apalagi sampai jatuh. Sepertinya itu aib sekali kalau sampai terjadi.

Ku tarik nafas lelah sekaligus pikiran berkecamuk tak karuan.

“Allah ya Robbi, kepada siapa lagi harus ku memohon…??” pekikku menjerit

Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara orang tertawa, itu adalah suara Edwin dan kawan-kawannya.

Kembali pikiran itu kacau berantakan tak karuan teringat waktu semakin dekat, sementara belum sholat Ashar.

“Pulang naik apa” pikirku sejenak lemas

“Yah! Jalan lagi”

“Berapa menit???” jeritku berharap bisa berlari cepat layaknya adegan film yang dipercepat.  

 Kakiku serasa ada yang mendorong kuat untuk berdiri, hingga tak peduli aku melintasi depan masjid yang kebetulan Edwin dan kawan-kawan duduk di tangga atas batas lepas sandal.

“Hai! Belum pulang?” sapanya

Aku jawab hanya dengan anggukan dan senyum sekilas berjalan di sampingnya begitu saja.

“Naik apa?” tanyanya lagi

“Angkutan umum” jawabku sedikit gemetar bercampur panas dingin

Aku pergi berlalu begitu saja dengan perasaan mulai cemas terbayang makian yang bakal mendarat di telingaku. Sementara sekujur tubuhku seakan ada selaput awan tipis yang menghangatkan hingga rasa nyeri tak begitu terasa sakit.

Selangkah dua langkah aku ayunkan kakiku melewati trotoar yang bergelombang oleh galian.

“Haakh… negeri ini terlalu buruk” loncatan pikir saat kakiku terkilir oleh batu kerikil.

Sewaktu duduk di bangku SD dulu, aku bangga menjadi anak Indonesia. Negeri yang melimpah kekayaan alam, dari darat hingga laut, masyarakat yang beragam budaya dari ujung Sabang hingga Merauke. Perlahan namun pasti citra di benakku mulai pecah hingga menjadi kepingan-kepingan mimpi buruk yang mengerikan tentang birokrasi negeri ini yang sudah terlalu akut seiring pecahnya Orde Baru.

Berita-berita di layar Tv itu rasanya terlalu memekakkan telingaku.

“Kring-kring!” nyaris saja aku meloncat dari lamunanku mendengar bel sepedaku

Terlihat Edwin tertawa geli waktu tahu aku kaget melihat sepedanya ia naiki.

Bingung, entah apa yang aku katakan. Yang jelas, suasana hatiku yang beku mendadak pecah berkeping-keping menjadi butiran-butiran salju terasa dingin.

Ia bersama satu orang temannya yang naik motor. Kalau nggak salah, itu adalah motor Edwin.

Aku hanya diam tanpa senyum atau reaksi apapun memandang sepeda itu. Tak lama ia turun dan memberikan sepeda dengan raut yang masih cengar-cengir.

“Trimakasih”

“Lain kali hati-hati kalau parkir sepeda depan masjid” katanya 

Sebenarnya aku merasa terpukul dengan perkataan itu, tapi mulutku rasanya sulit benar mengatakan permintaan maaf hingga ia pun pergi begitu saja meninggalkan rasa salahku.

“Benar-benar anak yang buruk, tak tahu sopan santun dan sungguh memalukan” pikirku lelah dan pergi cepat menerabas angin jalanan yang mulai sepi

 

@@@

 

Pagi ini awan putih bergumul di atas langit biru menandakan cuaca hari ini akan cerah. Udara masih terasa segar saat sorot matahari terasa begitu hangat menembus seragam abu-abuku.

Sekarang adalah hari sabtu, hari di mana semua mata pelajaran terasa relaks, termasuk kelas A,B, dan C jadi satu olah raga di lapangan alun-alun depan sekolah yang bersebelahan dengan masjid raya.

Cukup banyak semangat, karena hari ini pula aku diperbolehkan makan rendang otot sapi masakan ibu yang sudah 3 hari ini belum juga laku.

Ada semacam keyakinan, bahwa suatu saat kelak, anak penjual nasi pinggir jalan pun pasti bisa jadi orang besar, pikirku semangat. Teringat bapak ibu yang selalu bangun jauh sebelum subuh untuk memasak nasi sembari sujud pada Allah.

Bapakku adalah bapak yang paling baik sedunia. Meskipun ia seorang diktator yang keras, tapi aku acungkan jempol sepuluh atas dorongan semangat yang selalu dihembuskan kepadaku yang dibilang sebagai anak idiot oleh ibu dan kakak-kakakku.

Masih ingat betul bagaimana ayah meniupkan doa-doa ke telingaku saat tidur. Mungkin itu adalah upaya beliau pada keanehan sikap dan perilakuku selama ini yang sering menyebalkan di lingkungan keluarga.

Di lingkungan kami, kesopanan dan ketaatan pada orang yang lebih besar selalu diutamakan. Dan bagaimanapun itu adalah hal aneh, makanya aku sering menentang kebijakan keluarga yang bagiku itu tak adil.  Itulah satu alasan yang membuatku sering disalahkan, aku bikin onar.

Meskipun akhir-akhir ini aku mulai sadar, bahwa aku adalah anak yang terlalu peka. Peka pada suara, terutama nada suara ibu dan kakakku yang tak bisa lembut karena harus berebut dengan kebisingan suara mesin pabrik penggergajian kayu sebelah selama 6 hari berturut-turut.

Itu belum lagi suara tv yang hampir tiap malam mereka tonton menjadikanku ingin meledak marah karena tak bisa konsentrasi belajar.

Peka pada perilaku mereka yang cenderung tergesa-gesa dan hampir tak ada kelembutan sedikitpun, menurutku. Dan itu menjadikan aku cepat tersinggung lalu marah.

Peka dengan perasaan.

Akhir-akhir ini seorang teman lelaki luar sekolah yang belakangan datang tak diduga-duga saat malam tiba. Itu membuatku benar-benar risih. Rasanya ingin ku lempar jauh orang itu ke got, karena kakakku terus menggedor pintu kamar hingga akhirnya PR ku mendarat di angka merah.

“Kring-kring!!”

Nyaris saja bunyi bel sepeda membuatku kesrempet mobil yang melintas dari arah depan yang membuyarkan lamunan pagi di jalan.

Sudah aku tepiskan sepedaku nyaris menabrak trotoar, tapi bel sepeda it terus saja bikin risih telingaku.

“Reseh banget ini orang??” pikirku menoleh

Lagi-lagi wajah imut berkulit sawo matang itu membuatku terhenyak. Seketika laju sepeda ku percepat hingga terdengar tawa mereka.

“Sialan!” gerutuku merasa begitu lugu

Begitu hampir dekat sekolah, laju sepeda kembali ku perlambat. Aku merasa bebas dari beban yang membuatku risih. Pikirku.

Begitu masuk lorong parkiran, tiba-tiba wajah itu muncul lagi.

“Benar-benar seperti hantu” pikirku merinding dan berjalan cepat keluar dari lorong itu tanpa sapaan apapun.

Saat itu jam olah raga gabungan tiga kelas segera tiba. Kebetulan kelas A dan C main Basket bersama.

Entah bagaimana mataku menyorot risih pada teman-teman perempuan yang mulai gatel menyapa kehadiran Edwin si anak pejabat itu. Ia layaknya seorang pangeran yang bebas memilih tuan putri.

“Benar-benar memuakkan” pikirku merasakan gerak-geriknya

Aku emang paling benci mencium aroma berbau pejabat yang dalam mind setku sebenarnya mereka layaknya seorang pembantu kami, tapi kenapa mereka malah diagung-agungkan?

Dan yang sering mengacak-acak pikiranku adalah kenapa dan kenapa negeri ini banyak orang miskin, sementara aku tahu bahwa negeri ini melimpah ruah kekayaan alam.

“Azra!”

Semua menoleh ke arahku, aku bingung dibuatnya.

“Giliranmu!” bisik teman cewek di sebelahku

Ku pandang bola orange bergaris-garis hitam itu. Beberapa kali aku mendrible dan memasukkan ke dalam keranjang di ujung papan itu. Tak ada yang lewat, kecuali satu kali.

“Sip!” ujar pak Edy  

“Izah!”

Lagi-lagi si cewek crewet yang ingin selalu tampil cantik itu membuat mataku risih, selain baju olah raganya yang ngepres, terlihat pula gelambir lemak, hingga ketika meloncat terasa seperti per yang mental dari skoknya.  

Telingaku mulai risih begitu mendengar bisik-bisik teman cowok yang mengatakannya seperti drum. Tanpa pikir panjang aku dekati mereka, salah satu diantaranya adalah Edwin.

“Kau bilang apa tadi?”

Mereka terkejut begitu sadar aku berdiri di depan mereka.

“Memangnya kenapa?”

“Kita nggak menertawakanmu”

“Kau tahu? Dia itu perempuan, sama sepertiku”

“Camkan baik-baik itu…” kataku dengan muka beku pergi begitu saja

“Oo…h, gebetanmu marah itu” suara itu lirih kutangkap

Teman-teman cewek yang melihatku hanya senyum-senyum geli.

Saat itu Izah selesai, aku nimbrung teman-teman cewek lainnya yang sedang bermain-main memasukkan bola ke dalam keranjang.   

 

@@@

 

 

 

 

 

 

 

Nampaknya Edwin tahu semua gerak-gerik yang ku lakukan, dan aku semakin tak peduli. Apalagi belakangan bela diri Karate yang ku ikuti semakin membuatnya terkesima. Gadis macam apa sebenarnya aku ini. Karena sama sekali aku tak pernah dekat dengan seorang teman lelaki.

 

  

 

Komentar