Bagi mereka Aku jenius, padahal aku bodoh
Sekilas
melihatku, orang pasti mengira aku ini adalah gadis genius. Apalagi ketika
mereka tahu aku dalam sekilas kegiatan ataupun organisasi, mereka akan bilang,
aku ini gudangnya ide. Karena tak sedikit ide-ide segar diluar dugaan
teman-teman keluar dari mulutku. Ditambah lagi performanceku yang sering dibilang nyaris perfect dari ujung kepala
hingga ujung kaki. Tentu mereka akan terkecoh kalau aku ini punya segudang
prestasi di sekolah.
Padahal,
“Hahaha…
rangking kelas saja jarang aku dapat”
Sorot
mata elangku sering membuat orang-orang sedikit agak takut melihatku, apalagi
anak-anak. Masih ingat sekali kejadian anak tetangga yang takut padaku karena
kacamataku
“Hihi…
ini benar-benar aneh”
Kadang
aku sendiri merasa harus bagaimana ketika menghadapi anak-anak, semestinya yang
memiliki hati keibuan.
“Yah…!
Soal begini ini aku sering merasa takut dengan diri sendiri”
Tapi
apa kalian tahu, apa dibalik performanceku
yang seperti ini?
Ada
sebuah pengalaman yang membuatku merasa aneh dengan semuanya yang berhubungan
dengan seks.
Masih
ingat sekali bagaimana dulu waktu usia sekolah dasar. Paling benci jika jalan
dengan kakakku perempuan yang waktu itu belum memakai jilbab. Karena lekuk
payudara yang terlalu menonjol -maklumlah waktu itu dia masih usia belasan
tahun-. Itu membuat mataku terlalu jeli dengan setiap mata lelaki nakal yang
memandang atau kadang justru bersiul-siul. Itu benar-benar membuatku risih dan
tidak nyaman sama sekali.
Dan
rasanya aku masih ingat betul bagaimana mataku mendelik pada beberapa lelaki
yang senyum-senyum pada dua orang kakakku selepas turun dari becak. Waktu itu,
tanganku yang mungil langsung mencubit kecil kakakku. Sontak mereka tertawa
geli melihatku.
“Hadeuh…!
Benar-benar”
Dan
belakangan aku merasa benar-benar benci pada calon suami kakakku yang paling
dekat denganku. Karena dari situ aku merasa benar-benar sendiri berjuang.
Tapi
apa kalian tahu? Aku ini adalah gadis dungu yang menyebalkan. Hingga aku pun benci
dengan diri sendiri. Kebencian itu seakan tertancap kuat dalam benakku. Keluargaku
lah yang melemparkan panah itu hingga menusuk dalam benak pikirku.
Entah
kenapa aku sendiri tidak begitu mengerti kenapa segala sikap dan tingkah laku,
selalu saja mereka salahkan dan dianggap aneh.
Satu
hal yang tidak aku sukai dari mereka (keluargaku) adalah terlalu materalistis.
Apapun, selalu mereka perhitungkan dengan uang. Dan yang paling menjengkelkan
adalah tidak adanya keadilan.
Pemilik
keadilan adalah si kakak yang lebih tua dan lebih banyak berjuang membantu
mengais rejeki di warung nasi milik keluarga yang menjadi satu-satunya andalah
ekonomi keluarga kami untuk menghidupi keluarga kami berjumlah lebih dari
selusin.
Dari
situ aku berkeyakinan, bahwa suatu saat aku pasti bisa hidup tanpa
mengagung-agungkan uang dan mengeluhkan segala hal.
Dari
situlah sejak kecil aku memiliki teman imajiner yang selalu hadir di saat aku
sedih ataupun senang hingga remaja kini.
Saat
malam tiba, teman yang paling asyik adalah sekawanan bintang dan terkadang
redupnya rembulan beserta terpaan angin yang selalu mengelus pipiku.
Saat
siang, aku asyik mengamati segala gerak-gerik yang terjadi dengan imajinasiku.
Dari tiupan berita di layar televisi, sampai tingkah laku seorang guru saat
berdiri di depan kelas.
Jadilah
aku gadis introvert, karena apapun yang kukatakan pasti salah. Itulah yang aku
terima di keluargaku. Dan ternyata ini terbawa ke bangku sekolah.
Ya!
Aku lebih suka memandang keluar jendela ataupun sudut-sudut kelas daripada
membalas tatapan mata guruku. Aku merasa takut akan tatapan semua orang.
Termasuk tatapan ibu yang bagiku terlalu menyeramkan ketimbang tatapan harimau.
Dengan
memandang keluar jendela, aku lebih leluasa berfantasi dengan keterangan guru
di depan kelas, bahkan tak jarang pertanyaan-pertanyaan muncul berhamburan.
Terutama soal sejarah, yang bagiku terkadang banyak tak logisnya ketimbang
logis. Yang jelas urutan waktu yang tak beraturan membuatku sering
bingung.
Sementara
entah kenapa juga pikiran itu seketika langsung melesat jauh melewati lorong
waktu terkadang bercabang membentuk ranting-ranting yang sedemikian rumit,
hingga tak jarang aku tertinggal mendengarkan keterangan guru. Aku selalu
terlambat memahami keterangan berikutnya.
Yah!
Lagi-lagi nampak ngalamun. Dan ditegur guru.
Itu
yang sering terjadi di ruang kelas SMP dulu.
Apakah
nanti di SMU akan sama begitu?
“Entahlah!!”
“Ngeri
rasanya mendengar SMU Negeri 1”
Jantung
serasa copot begitu hendak masuk gerbang Sekolah itu. Apalagi wajah-wajah
mereka terlihat cerdas di balik frame kacamata dan jam tangan yang serba
kemilau. Belum lagi tumpangan mereka yang rata-rata sepeda motor. Andaipun
sepeda, pasti sepeda bermerk.
Rasanya
hampir tak ada satu muridpun yang diantar dengan sepeda ontel tua dengan ayah
mereka.
Inilah
hari pertama yang paling mendebarkan sepanjang hidup. Masuk bangku Sekolah favorit di kota kelahiranku. Dimana
anak cerdas nan kaya kumpul jadi satu di sini.
Aku
merasa perlu mengencangkan sabuk kekuatan pikiran ketimbang memikirkan kenapa
dan kenapa mereka -keluargaku- begitu membenciku.
Toh
kata tetangga, aku ini bukan anak angkat.
Dan
satu lagi yang ingin aku tunjukkan pada keluargaku, bahwa aku ini bukanlah anak
goblok yang selalu mereka tudingkan padaku kepalaku dibanding dua orang
kakakku.
Tak
disangka-sangka hari pertama masuk, surat cinta dari seorang teman lelaki berupa
pesawat kertas mendarat di mejaku.
Lambat
tapi pasti, berita itu mengudara di kelas, terutama di kalangan teman perempuan
yang membaca surat itu.
Sementara
aku sendiri tak terlalu menggubris surat itu. Karena untuk masuk ke sekolah ini
saja, mati-matian aku bertaruh tiga tahun dengan keluargaku. Apalagai dari sisi
dana yang tidak sedikit menguras energi orang tua bekerja sebagai penjual nasi.
Itu
semua telah menutup semua mata indraku untuk tak tergiur dengan hal-hal konyol
seperti pacaran.
Saat
mendengar sekilas nama Edwin, aku mendegarnya sebagai nama Erwin.
Erwin
adalah teman lelaki SD dulu. Ia adalah lelaki keren pertama kali yang kukenal
sejak kelas 4.
Entah
bagaimana aku menjelaskan, firasatku mengatakan ia juga mencintaiku. Setahuku, dia
terlahir dari keluarga Broken seperti aku. Tapi setidaknya dibanding dia aku
masih lebih beruntung karena memiliki basic agama yang cukup.
Dan
aku kira, dia juga sekolah di sini. Meskipun aku tak yakin betul. Karena
dibanding aku, dia termasuk anak yang bodoh.
“Syuuutt!!”
surat pesawat itu mendarat lagi di bangkuku.
By
Edwin
Begitu
nama itu terbaca olehku di kedua sisi sayap pesawat, runtuhlah semangatku
begitu tahu yang sering disebut teman-teman itu bukanlah Erwin, melainkan
Edwin.
Meskipun
ada rasa ingin tahu bagaimana isi surat itu, tapi tanganku terasa begitu berat
sekedar bergerak. Dan aku sendiri tak begitu yakin dengan apa yang namanya
“cinta”, apalagi pacaran yang hanya sekedar bualan kosong memabukkan.
“Cinta,
tak ada bedanya dengan Narkoba, sekali aromanya tercium, sulit dihentikan”
Yah!!
Itulah yang pernah aku alami.
Aku
baru tahu belakangan apa itu makna cinta setelah seorang teman di SMP dulu mengecapku
sebagai lesbian atau gadis tak normal.
Mungkin
itu adalah kekesalan mereka yang tak pernah merespon surat cinta yang datang
berulang kali ke mejaku dari seorang teman lelaki beda kelas.
Sejak
itu aku tersentak, mencari tahu kebenaran yang mereka katakan.
Lamunanku
serasa kembali ke masa kelas 4 SD dulu aku. Saat aku terpesona dengan anak
baru. Anak lelaki keren yang pernah ku kenal, perfect dengan
penampilannya yang serba bersih nan rapi sepertiku.
Erwin,
begitu menyebut namanya perasaanku serasa tergetar dari ujung rambut hingga ujung
kaki.
Dia
adalah cinta pertamaku yang masih tertanam kuat hingga detik ini.
Dan…
percaya atau tidak, aku tahu betul bagaimana perjalanan Erwin lewat mimpi sejak
mendapat julukan itu.
Entah
bagaimana, mimpi itu sering muncul tiba-tiba yang membuat kangenku terasa
begitu kuat.
Alhasil,
rasanya jadi semakin aneh karena tokoh imajiner yang sempat ku buat dulu itu,
ternyata benar-benar merasuk hingga kini.
“Benar-benar
Gila”
Dan…
“Slurrrpph…!!”
masa itu telah terlampau jauh
Edwin,
begitu aku sadar seketika. Bahwa Erwin benar-benar tidak ada di sini. Yang ada
hanyalah Edwin, dan bukan Erwin, si lelaki jangkung berhidung tinggi bermata
bulat.
Rasa
percaya diriku kini mulai terbangun. Bahwa aku ini bukanlah gadis buruk,
seburuk yang keluargaku katakan tentangku.
Karena
saking buruknya aku memandang diriku sendiri, sampai-sampai aku tak punya rasa percaya
diri untuk sekedar bercermin kecuali memastikan apakah seragamku benar-benar
rapi dan bersih.
Jadi
jangan bayangkan aku bisa bersolek seperti teman-teman cewek lainnya. Karena
bedak pun aku tak punya.
Jadi
rasanya aneh, jika ada seorang lelaki yang menaruh perhatian padaku. Bahkan aku
sering mengira, bahwa mereka sekedar ingin menertawakanku sebagai gadis bodoh
yang buruk rupa.
Itulah
pandanganku terhadap diriku dan orang lain. Selalu curiga dan curiga…
Hari
itu masa orientasi sekolah telah selesai. Dan pembagian kelaspun telah dimulai.
Aku merasa bebas ketika mendengar Edwin bukanlah satu kelas denganku. Bagiku
dia seperti debu yang membuat mataku kelilipan di saat aku harus memulai
berlari-lari kecil untuk lakukan marathon merebut prestasi yang lebih.
Benar-benar
menjengkelkan rasanya…
Karena
dia-lah namaku jadi berkibar di sekolah itu, bahkan dikalangan kakak senior.
Berita yang beredar, bahwa aku adalah pacarnya.
“Bah!!”
Kemarahanku
serasa meledak di ubun-ubun.
Semua
mata menatapku saat aku keluar dari kelas.
Begitu
pulang, diam-diam mereka menguntitku dari jauh sekedar mencari tahu alamat rumahku.
“Mereka
pasti akan mencemoohku, andai mereka tahu bahwa aku ini anak si penjual nasi di
pinggir jalan” pikiran negatifku kembali menjalar
Dengan
perasaan cemas dan keringat panas dingin, diam-diam aku berhasil menemukan
jalan kecil yang sulit diterabas motor.
“Yess!!”
teriakku bangga
Begitu
sampai di rumah, aku langsung nylonong masuk kamar, dan ku kunci rapat-rapat
dari dalam.
Ku
rebahkan badan, terasa begitu nyaman meski beralas kasur yang mulai menggumpal
keras.
Entah
kenapa perasaan senang bercampur degup jantung yang masih terasa berdebar-debar
membuat perasaan semakin tak jelas. Susah atau senang.
Perlahan
aku mendekati cermin persegi di sebelah jendela kaca itu.
Entah
kapan terakhir kalinya aku melihat wajahku di depan cermin, bahkan mungkin saja
ini adalah untuk yang pertama kalinya. Rasanya sungguh berat bercampur takut
dan malu pada diri sendiri.
“Apa
aku ini cantik?” pikirku sambil tersenyum takut dan malu
Sejak
saat itu aku mulai berani menatap diriku sendiri di depan cermin, seiring kesadaranku
pada teman-teman yang menerima kehadiranku dengan baik.
“Ya!
Sisi kesadaranku pada diri sendiri kini mulai terbangun”
“Hahaha…
rasanya aneh”
“Apa
wajah seperti ini yang dibilang cantik??” pikirku balik sembari curi-curi
pandang pada cermin.
Dan
kali ini kembali ku tatap lekat-lekat wajahku, entah kenapa kini nampak semakin
menyeramkan…
“Tatapan
mata elang” pikirku seakan menghakimi sorot mata yang nampak tajam dengan alis
mata yang tipis
“Imut,”
“Benarkah?!”
pikirku terngiang komentar salah seorang teman cewek yang jadi Mak Comblang Edwin
“Huh?!
Mereka nggak sakit mata kan?”
“Aagh…?!”
rebahku kesal menghempas
@@@
Awal
semester, daftar les dan ekstra kurikuler sekolah sudah aku padatkan 7 hari
berturut-turut. Dari les Matematika dan B. Inggris, sampai ekstra kurikuler
Komputer dan Karate.
Mungkin
bagi sebagian siswa itu terlalu melelahkan, tapi itulah aku yang terlalu
ambisius dan perfectionis mengelola waktu.
Bagiku,
waktu sehari 24jam terlampau singkat. Sampai-sampai agenda tidur 5-10 menit,
agenda nyapu dan ngepel serta memeras santan di sore hari pun aku perhitungkan
baik-baik.
Sementara
tinggi badan yang ku ukur setiap satu sampai dua minggu sekali masuk dalam
daftar perkembangan fisikku yang terus aku olah dengan olah raga yang aku ikuti. Meskipun secara
fisik ternyata aku tak sekuat anak-anak lainnya. Ini terbukti waktu di SMP
dulu. ada penjaringan lomba lari marathon sejauh 1,5km tingkat Kodya. Aku gagal
di tahap ke 3, karena ternyata nafasku terlalu pendek. Itu membuatku mundur
beraturan.
Dan
kini, aku ikut Karate. Kasusnya juga sama, nafas yang terlalu pendek membuatku
cepat lemas terutama saat lari pemanasan.
Senpai
bilang, aku harus makan daging dan buah-buahan yang banyak untuk mendapatkan
stamina yang bagus kalau menentang keras penggunaan multivitamin penambah stamina. Karena bagiku
itu tidak logis, sementara hanya akan merusak organ tubuh lainnya.
Meski
sempat terpatahkan, aku selalu mencoba dan mencoba untuk tetap eksis demi jaga
diri saat aku bekerja di luar jawa nanti, itu pikirku mengingat aku harus
diterima di IPB atau Jurusan Pertanian lainnya untuk mendapat pekerjaan di
Perhutani.
“Hahaha…
cita-cita semenjak SD”
Entah
bagaimana ceritanya, aku begitu terobsesi dengan tumbuh-tumbuhan dan keheningan
suasana di Hutan yang cenderung tenang dan sunyi.
Ya!
Aku sendiri senang sekali memperhatikan pertumbuhan tanaman atau hewan-hewan
yang hidup di bawahnya.
Usaha
orang tuaku adalah penjual nasi di pinggir jalan. Mereka sering membeli macam rempah-rempah
hingga satu becak penuh. Sementara aku lebih senang memperhatikan tunas daun
akar-akaran jahe, kunyit, laos dan juga bawang merah atau biji lombok yang
masih basah ketimbang bantu kupas untuk bumbu.
Kira-kira
sejak kelas 4 SD aku melakukan observasi unik ini. Dan semua yang aku tanam,
pasti tumbuh dengan baik.
Tapi
sayang, hidup di perkotaan tak memiliki lahan yang leluasa untuk melakukan itu.
Tanah dengan lebar kurang dari satu meter dan panjang tiga meter di pinggir
rumah itu sering keinjak mobil yang sering lewat di samping rumahku. Ya!
Meskipun aku beri pagar pembatas bambu, itu hanya sia-sia.
Perlahan
namun pasti aku mulai meninggalkan tanaman dan pupuk kompos yang aku tanam di
bawah daun-daunan seiring kesibukan kegiatan sekolah demi mengejar cita-citaku
sebagai seorang insinyur perhutani, yang konon ternyata Kakek dari ibu pun
adalah seorang Insinyur Perhutani plus saudagar kayu yang kaya raya.
Meski
sebenarnya ingin sekali punya waktu leluasa seperti SD dulu, memperhatikan
pertumbuhan akar dan daun bawang merah. Tapi rasanya itu mustahil mengingat aku
sekarang tak punya banyak waktu.
Semua
kegiatan di sekolah barangkali salah satu pelarianku menghindari kebisingan
rumahku yang kebetulan bersebelahan dengan pabrik penggergajian kayu dan
belakang Bengkel las, sementara depan gang yang hanya berjarak 20M itu adalah
jalan raya antar kota antar provinsi. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi di
sana.
Aku
bisa menyentuh buku-buku pelajaran dengan tenang di atas jam empat sore, saat
semua aktivitas pabrik berhenti total, meski desing suara kendaraan di jalan
raya terus bergilir yang sering membuatku ingin teriak.
Terkadang
aku merasa ingin stress mendengar kegaduhan tiap hari.
Aku
sempat heran dengan orang-orang di sekitarku, termasuk saudara dan tetanggaku
yang terlihat biasa-biasa saja mendengar itu semua.
Bahkan
saat kelas tiga, aku sempat protes pada pimpinan pabrik penggergajian kayu
untuk meletakkan mesin tidak di tembok seberang rumah meski hanya lewat
telephon. Dan itupun jika bapakku tahu, pastib akal ada rotan yang mendarat di
punggungku.
Aku
merasakan kehidupan di sana benar-benar terlalu keras, termasuk sikap dan
perilaku keluargaku yang gampang meledak marah. Dan aku kira itu adalah imbas
dari pengaruh kebisingan lingkungan yang seakan-akan tidak pernah mereka
sadari.
Itulah
serentetan alasan, mengapa aku terlalu ambisius ingin menjadi Seorang Insinyur
Perhutani sejak lulus SD.
Simpel,
bisa hidup dengan tenang menyatu dengan keheningan dan bersahabat dengan alam.
Sejak
lulus SD, aku merasa pertarungan untuk mengejar mimpi itu begitu mulai terasa,
apalagi menginjak bangku SMU ini.
Seakan
aku ini sudah pasti diterima di IPB dan langsung bekerja di Perhutani. Jadi
segala daya upaya aku persiapkan baik-baik.
Dari
seni bela diri, B. Inggris, Komputer dan Pramuka yang kebetulan di sekolahku
belum ada ekstra Pecinta Alam. Jadi, mau tak mau aku harus tahu betul bagaimana
medan yang akan aku hadapi.
Hampir
dikata, tak ada hari libur untukku. Karena hari Minggu pun menjadi ajang
bersih-bersih Sekolah yang sudah menjadi agenda utama sejak dulu di sekolah
itu.
SMU
Negeri 1 di mataku dulu seperti Monster yang siap menggilas setiap muridnya.
Tapi begitu masuk, aku merasakan keramahan dan kenyamananku hingga terkadang
aku merasa malas pulang ke rumah. Bagaimanapun, dibanding rumahku, sekolah
lebih terasa hening dan nyaman.
Biasanya
saat jam pelajaran usai di hari itu, aku sering berlama-lama duduk di kelas
yang telah kosong dan sepi. Sambil memandang sudut kelas yang terasa sejuk
dengan cat hijau pupus yang dipenuhi dengan poster peraga di beberapa sudut.
Ini
aku lakukan karena keterangan guru terasa lebih cepat ketimbang pencernaan
visualisasiku yang sering bercabang kemana-mana, sehingga sering menimbulkan
pertanyaan bahkan sanggahan yang sebetulnya harus segera ku tanyakan pada guru
bidangnya.
Hari
itu pikiranku kacau terbawa suasana tadi pagi yang bertengkar dengan kakakku
karena seharusnya bantu goreng tempe melainkan garap PR karena semalam capek ketiduran
selesai latihan Karate di sekolah.
Meski
berulangkali aku tepis semua pikiranku yang kacau, tapi selalu saja kekacauan
itu datang di saat aku harus memvisualisasikan semua keterangan guru. Jadilah
hari ini adalah hari yang sial, semua nilai latihanku di kelas mendapat nilai
buruk.
Rasanya
ingin lari atau pergi jauh dari rumah, tapi lagi-lagi bayangan kekerasan dan
pelecehan seks yang seringkali menimpa seorang gadis di luar sana terbayang di layar
tv, membuatku mengurung semua niatku untuk kabur dari rumah.
Entah
bagaimana tiba-tiba bisikan yang lama tak pernah ku dengar itu kembali datang
seakan memberiku dukungan kuat.
“Ya!
Aku yakin ini pasti bisa aku lalui” jawab batinku mengamini apa yang ia katakan.
Aku
duduk seorang diri di mejaku deretan tengah sebelah jendela. Tak lama hembusan
angin menerpa wajah seakan berkata;
“Hai!
Kenapa kau??”
Bibirku
tersenyum teringat kebiasaanku dulu yang kini mulai aku tinggalkan, menikmati
hembusan angin malam seorang diri di samping rumah.
Nafas
ku tarik dalam dan ku hempas kuat seakan memudarkan semua kepenatan pikirku
yang melantur kemana-mana.
Kupandangi
lekat-lekat semua sisi ruangan yang seakan memandangku pilu.
“Kenapa
kau??” Tanya mereka lagi
“Aku
ingin pergi” jawab batinku
“Kenapa?”
“Aku
lelah hidup”
“Kau
pikir dengan pergi, masalah akan berhenti di situ?”
“Ya-ya-ya!
Silahkan kalian katakan kalau aku ini hanya pecundang” batinku seakan pasrah
lelah oleh teriakan ruangan
“Siapa
yang bilang begitu?”
“Kau
kesepian?”
“Ya,
aku merasa bertarung sendiri hadapi hidup ini, dan aku lelah”
“Mereka
semua tak pernah mengerti bahasa kalian ataupun binatang dan tumbuh-tumbuhan”
“Bukankah
dulu kau sering tertawa bersama daun-daun yang bergerak tertiup angin saat kau
buang air besar di WC rumah yang tak beratap?”
Seettt…!
Ingatan
itu kembali muncul,
Aku
tersenyum dalam hati.
“Masih
ingat kau ternyata!”
Tiba-tiba
sapuan angin dari luar jendela seakan menamparku
“Plash!!”
sadarku
Perlahan
ku masukkan semua bukuku dengan tangan yang kini mulai terasa dingin dan bulu
kuduk yang mulai merkidik.
“Sreett!!”
aku lari keluar dengan sedikit nafas ngap-ngap
Tak
ku sangka dua orang anak lelaki masih berdiri di ujung lantai paling barat
sebelah pintu tangga. Mereka masih tampak terlihat asyik ngobrol sambil
menunjuk-nunjuk kaos bola.
“Huufft…”
sedikit lega, masih ada orang ternyata.
Firasatku
mengatakan Edwin masih menunggu di lantai bawah sana. Tapi itu ku tepis begitu
saja.
Aku
melenggang turun dengan perasaan sedikit aneh tentang celoteh ruang kelas tadi.
“Jangan-jangan
aku ini sudah gila?” selintas pikirku saat melenggang turun menuju parkiran
Begitu
masuk lorong pakir, aku lihat sepedaku sudah terjepit dua sepeda motor. Sepi,
tak ada seorang pun di sana kecuali dua orang tadi dan pak Bon penjaga sekolah
yang mulai menutup pintu-pintu kelas.
Tak
lama dua orang anak lelaki tadi turun dan masuk lorong parkir mengambil
motornya. Aku sedikit lega melenggang pergi menuntun sepeda miniku yang sedikit
kuno.
Ada
sedikit keengganan pulang waktu ku tarik sepedaku keluar pintu gerbang sekolah.
Tanpa ku komando pikiranku, seketika ku belokkan roda masuk ke area parkir
masjid raya samping sekolah.
Hening,
hanya bapak-bapak yang masih duduk-duduk di serambi masjid. Sebagian ada yang
masih serius membaca buku atau alQur’an di dalam sana.
Jarum
jam lemari di sudut sana menunjukkan pukul 14.05 WIB. Aku masuk ruang putri
yang hanya bersekat kain yang tingginya kira-kira 5cm di atas kepalaku.
Rasa
kantuk kini mulai bergelayut menyelimuti mataku seiring kesenyapan di dalam
masjid.
Tiba-tiba,
“Tar…!!”
gendang telingaku terasa seperti pecah mendengar lengkingan muadzin lewat loud
speaker tepat di atas dinding tempat aku bersandar.
Aku
tergeragap bangun begitu teringat les Komputer siang itu di sekolah.
Entah
sudah berapa lama aku tertidur di sini? Di atas lembaran karpet yang sedikit
agak kasar dari kelihatannya.
“Apa
kata teman-teman nanti begitu tahu aku belum ganti baju” pikiran perfect
ku pun mencuat
Tanpa
pikir panjang kakiku terdorong untuk secepat itu lari keluar masjid. Begitu
sampai di luar kepalaku mulai berdenyut-denyut saat sepedaku tidak ada di
tempatnya.
Anemiaku
nampaknya mulai kambuh. Ku sisir halaman sekitar masjid dengan pandangan mataku
yang mulai kabur
“Sepedaku
hilang?!” teriak batinku
Dalam
sekejap keringat dingin dan gemetar merayap di sekitar punggung dan leherku
hingga genaplah sampai kaki terasa berat bergerak.
“Allah
ya Robbi… apa Kau ini nggak pernah sayang padaku?”
Seraya
berontak sekaligus bertumpu memohon saat kupastikan sepeda hijau itu tak ada di
sana.
Mataku
perlahan mulai terasa berkaca-kaca, terbayang makian apa lagi yang akan aku
terima di rumah nanti.
Tiba-tiba
nampak wajah yang tak asing lagi bagiku di sudut halaman masjid depan gerbang
sekolah. Edwin dan teman-teman.
“Sial,
anak itu lagi” gerutuku kembali menyelinap masuk dan kuhapus air mataku.
Aku
kembali duduk bersimpuh di ruang putri sembari menahan air mataku agar tak lagi
menutup bola mataku, apalagi sampai jatuh. Sepertinya itu aib sekali kalau
sampai terjadi.
Ku
tarik nafas lelah sekaligus pikiran berkecamuk tak karuan.
“Allah
ya Robbi, kepada siapa lagi harus ku memohon…??” pekikku menjerit
Tiba-tiba
terdengar sayup-sayup suara orang tertawa, itu adalah suara Edwin dan
kawan-kawannya.
Kembali
pikiran itu kacau berantakan tak karuan teringat waktu semakin dekat, sementara
belum sholat Ashar.
“Pulang
naik apa” pikirku sejenak lemas
“Yah!
Jalan lagi”
“Berapa
menit???” jeritku berharap bisa berlari cepat layaknya adegan film yang
dipercepat.
Kakiku serasa ada yang mendorong kuat untuk
berdiri, hingga tak peduli aku melintasi depan masjid yang kebetulan Edwin dan
kawan-kawan duduk di tangga atas batas lepas sandal.
“Hai!
Belum pulang?” sapanya
Aku
jawab hanya dengan anggukan dan senyum sekilas berjalan di sampingnya begitu
saja.
“Naik
apa?” tanyanya lagi
“Angkutan
umum” jawabku sedikit gemetar bercampur panas dingin
Aku
pergi berlalu begitu saja dengan perasaan mulai cemas terbayang makian yang
bakal mendarat di telingaku. Sementara sekujur tubuhku seakan ada selaput awan tipis
yang menghangatkan hingga rasa nyeri tak begitu terasa sakit.
Selangkah
dua langkah aku ayunkan kakiku melewati trotoar yang bergelombang oleh galian.
“Haakh…
negeri ini terlalu buruk” loncatan pikir saat kakiku terkilir oleh batu
kerikil.
Sewaktu
duduk di bangku SD dulu, aku bangga menjadi anak Indonesia. Negeri yang
melimpah kekayaan alam, dari darat hingga laut, masyarakat yang beragam budaya
dari ujung Sabang hingga Merauke. Perlahan namun pasti citra di benakku mulai
pecah hingga menjadi kepingan-kepingan mimpi buruk yang mengerikan tentang
birokrasi negeri ini yang sudah terlalu akut seiring pecahnya Orde Baru.
Berita-berita
di layar Tv itu rasanya terlalu memekakkan telingaku.
“Kring-kring!”
nyaris saja aku meloncat dari lamunanku mendengar bel sepedaku
Terlihat
Edwin tertawa geli waktu tahu aku kaget melihat sepedanya ia naiki.
Bingung,
entah apa yang aku katakan. Yang jelas, suasana hatiku yang beku mendadak pecah
berkeping-keping menjadi butiran-butiran salju terasa dingin.
Ia
bersama satu orang temannya yang naik motor. Kalau nggak salah, itu adalah
motor Edwin.
Aku
hanya diam tanpa senyum atau reaksi apapun memandang sepeda itu. Tak lama ia
turun dan memberikan sepeda dengan raut yang masih cengar-cengir.
“Trimakasih”
“Lain
kali hati-hati kalau parkir sepeda depan masjid” katanya
Sebenarnya
aku merasa terpukul dengan perkataan itu, tapi mulutku rasanya sulit benar mengatakan
permintaan maaf hingga ia pun pergi begitu saja meninggalkan rasa salahku.
“Benar-benar
anak yang buruk, tak tahu sopan santun dan sungguh memalukan” pikirku lelah dan
pergi cepat menerabas angin jalanan yang mulai sepi
@@@
Pagi
ini awan putih bergumul di atas langit biru menandakan cuaca hari ini akan
cerah. Udara masih terasa segar saat sorot matahari terasa begitu hangat
menembus seragam abu-abuku.
Sekarang
adalah hari sabtu, hari di mana semua mata pelajaran terasa relaks, termasuk
kelas A,B, dan C jadi satu olah raga di lapangan alun-alun depan sekolah yang
bersebelahan dengan masjid raya.
Cukup
banyak semangat, karena hari ini pula aku diperbolehkan makan rendang otot sapi
masakan ibu yang sudah 3 hari ini belum juga laku.
Ada
semacam keyakinan, bahwa suatu saat kelak, anak penjual nasi pinggir jalan pun pasti
bisa jadi orang besar, pikirku semangat. Teringat bapak ibu yang selalu bangun jauh
sebelum subuh untuk memasak nasi sembari sujud pada Allah.
Bapakku
adalah bapak yang paling baik sedunia. Meskipun ia seorang diktator yang keras,
tapi aku acungkan jempol sepuluh atas dorongan semangat yang selalu dihembuskan
kepadaku yang dibilang sebagai anak idiot oleh ibu dan kakak-kakakku.
Masih
ingat betul bagaimana ayah meniupkan doa-doa ke telingaku saat tidur. Mungkin
itu adalah upaya beliau pada keanehan sikap dan perilakuku selama ini yang
sering menyebalkan di lingkungan keluarga.
Di
lingkungan kami, kesopanan dan ketaatan pada orang yang lebih besar selalu
diutamakan. Dan bagaimanapun itu adalah hal aneh, makanya aku sering menentang
kebijakan keluarga yang bagiku itu tak adil.
Itulah satu alasan yang membuatku sering disalahkan, aku bikin onar.
Meskipun
akhir-akhir ini aku mulai sadar, bahwa aku adalah anak yang terlalu peka. Peka
pada suara, terutama nada suara ibu dan kakakku yang tak bisa lembut karena
harus berebut dengan kebisingan suara mesin pabrik penggergajian kayu sebelah selama
6 hari berturut-turut.
Itu
belum lagi suara tv yang hampir tiap malam mereka tonton menjadikanku ingin meledak
marah karena tak bisa konsentrasi belajar.
Peka
pada perilaku mereka yang cenderung tergesa-gesa dan hampir tak ada kelembutan
sedikitpun, menurutku. Dan itu menjadikan aku cepat tersinggung lalu marah.
Peka
dengan perasaan.
Akhir-akhir
ini seorang teman lelaki luar sekolah yang belakangan datang tak diduga-duga
saat malam tiba. Itu membuatku benar-benar risih. Rasanya ingin ku lempar jauh
orang itu ke got, karena kakakku terus menggedor pintu kamar hingga akhirnya PR
ku mendarat di angka merah.
“Kring-kring!!”
Nyaris
saja bunyi bel sepeda membuatku kesrempet mobil yang melintas dari arah depan
yang membuyarkan lamunan pagi di jalan.
Sudah
aku tepiskan sepedaku nyaris menabrak trotoar, tapi bel sepeda it terus saja
bikin risih telingaku.
“Reseh
banget ini orang??” pikirku menoleh
Lagi-lagi
wajah imut berkulit sawo matang itu membuatku terhenyak. Seketika laju sepeda
ku percepat hingga terdengar tawa mereka.
“Sialan!”
gerutuku merasa begitu lugu
Begitu
hampir dekat sekolah, laju sepeda kembali ku perlambat. Aku merasa bebas dari
beban yang membuatku risih. Pikirku.
Begitu
masuk lorong parkiran, tiba-tiba wajah itu muncul lagi.
“Benar-benar
seperti hantu” pikirku merinding dan berjalan cepat keluar dari lorong itu tanpa
sapaan apapun.
Saat
itu jam olah raga gabungan tiga kelas segera tiba. Kebetulan kelas A dan C main
Basket bersama.
Entah
bagaimana mataku menyorot risih pada teman-teman perempuan yang mulai gatel
menyapa kehadiran Edwin si anak pejabat itu. Ia layaknya seorang pangeran yang
bebas memilih tuan putri.
“Benar-benar
memuakkan” pikirku merasakan gerak-geriknya
Aku
emang paling benci mencium aroma berbau pejabat yang dalam mind setku
sebenarnya mereka layaknya seorang pembantu kami, tapi kenapa mereka malah
diagung-agungkan?
Dan
yang sering mengacak-acak pikiranku adalah kenapa dan kenapa negeri ini banyak
orang miskin, sementara aku tahu bahwa negeri ini melimpah ruah kekayaan alam.
“Azra!”
Semua
menoleh ke arahku, aku bingung dibuatnya.
“Giliranmu!”
bisik teman cewek di sebelahku
Ku
pandang bola orange bergaris-garis hitam itu. Beberapa kali aku mendrible dan
memasukkan ke dalam keranjang di ujung papan itu. Tak ada yang lewat, kecuali
satu kali.
“Sip!”
ujar pak Edy
“Izah!”
Lagi-lagi
si cewek crewet yang ingin selalu tampil cantik itu membuat mataku risih,
selain baju olah raganya yang ngepres, terlihat pula gelambir lemak, hingga
ketika meloncat terasa seperti per yang mental dari skoknya.
Telingaku
mulai risih begitu mendengar bisik-bisik teman cowok yang mengatakannya seperti
drum. Tanpa pikir panjang aku dekati mereka, salah satu diantaranya adalah
Edwin.
“Kau
bilang apa tadi?”
Mereka
terkejut begitu sadar aku berdiri di depan mereka.
“Memangnya
kenapa?”
“Kita
nggak menertawakanmu”
“Kau
tahu? Dia itu perempuan, sama sepertiku”
“Camkan
baik-baik itu…” kataku dengan muka beku pergi begitu saja
“Oo…h,
gebetanmu marah itu” suara itu lirih kutangkap
Teman-teman
cewek yang melihatku hanya senyum-senyum geli.
Saat
itu Izah selesai, aku nimbrung teman-teman cewek lainnya yang sedang bermain-main
memasukkan bola ke dalam keranjang.
@@@
Nampaknya
Edwin tahu semua gerak-gerik yang ku lakukan, dan aku semakin tak peduli.
Apalagi belakangan bela diri Karate yang ku ikuti semakin membuatnya terkesima.
Gadis macam apa sebenarnya aku ini. Karena sama sekali aku tak pernah dekat
dengan seorang teman lelaki.
Komentar
Posting Komentar