Aku Sang Pemilih Makanan
Lidahku
rasanya cukup jeli mencicip makanan apapun, bahkan perutku tergolong pemilih
makanan mungkin. Seakan-akan mulutku terlebih dulu menyetop segala makanan yang
mempunyai rasa terlalu kuat dan pewarna yang terlalu mencolok, sementara aku
tak tahu kalau makanan itu sudah basi atau tidak.
“Hahaha…
benar-benar parah!”
Biar
begitu, tapi mataku seakan memiliki radar yang cukup teliti melihat
bintik-bintik tanda kadaluarsa.
Jadi
kadang aku ini rasanya seperti hidup di dunia yang berbeda meski sehari-hari
aku bergaul dengan mereka.
Sering
aku berpikir, “Anak-anak jagoan kelas itu apa nggak mikir kalau makanan semacam
itu tak baik untuk perut mereka?”
Makan
bakso yang sudah jelas mereka tahu bahwa vitcin itu tak baik untuk otak
mereka yang bagiku terlalu brilian.
Suatu
saat aku coba-coba ikut teman putri yang rame-rame beli soto warung belakang
sekolah. Kaldunya memang terasa lezat, benar-benar nikmat. Tapi tak berapa lama
aku mulai merasakan sakit kepala yang mulai menjalar lewat kening hingga
ubun-ubun.
Paginya
aku ikut teman-teman putri lagi beli soto untuk tidak menambah MSG didalamnya,
ternyata sakit kepala itu tak terjadi lagi.
Begitu
juga dengan makanan ringan instant yang dibungkus dengan harga antara Rp.500
hingga Rp.2500 dengan aneka rasa, Balado, BBQ dan Ayam baker. Begitu semua
masuk ke dalam perut, keningku mulai berdenyut-denyut pusing tak karuan. Aku
pikir temanku pun sama, tapi ternyata waktu diam-diam ku selidiki tak ada yang
merasakan pusing hebat sepertiku.
Sejak
itu aku tahu, mungkin kadar MSG yang terkandung di dalamnya. Meskipun dalam
komposisi makanan tak menunjukkan adanya MSG, tapi ku pikir MSG sudah masuk ke
dalam bumbu Balado instant.
Aku
mulai pusing, apa yang harus aku makan? Sementara jajan di sekolah rata-rata
seperti itu. Kalau instant seringnya mengandung MSG, pewarna buatan dan pemanis
buatan. Sementara jajan pasar seperti gorengan juga seringnya membuat
tenggorokanku terasa panas, jika berlebih. Sedangkan seperti bakso, soto dsb,
sudah dipastikan mengandung MSG.
Semenjak
itu aku mulai paranoid dengan makanan yang mengandung MSG. Karena aku tahu, itu
tak cocok untuk kepalaku.
Sejak
duduk di bangku SD aku sudah punya penyakit Amandel, tapi bapak tak pernah
menyuruhku operasi. Selain biayanya mahal, aku juga paling fobi dengan yang
namanya jarum suntik, apalagi dengan peralatan medis.
“Mending
minum obat ketimbang disuntik,”
Makanya
aku paling hati-hati dengan yang namanya Es.
Siang
itu terik matahari membuat kepalaku terasa menguap, apalagi materi Qwert yang
belum aku ketahui penggunaannya membuat malas mengerti. Sementara pak Ahmad,
guru Matematika selalu menatapku penuh curiga;
“Seberapa
jauh pemahamanu tentang ini?”
Itu
yang membuatku benci, meski aku harus berkamuflase baik-baik didepannya.
Begitu
keluar pintu gerbang belakang sekolah. Mataku terpelotot melihat segelas es coklat bersama selembar roti
tawar. Aku tarik pergelangan tangan temanku sebangku, Ina namanya. Dia adalah
gadis miskin yang cerdik namun hatinya baik. Dan yang jelas, tak banyak tingkah
seperti cewek lainnya. Itulah yang aku suka darinya.
“Begitu
aku duduk, dua gelas lenyap masuk ke dalam perutku”
Ina
melotot, “Kau ini cewek apa cowok, Az?”
“Hmm…”
senyumku tersungging puas
Dia
masih memegang gelas berisi setengah es coklat sembari menikmati celupan roti
tawar ke dalam gelas.
Dan
hari itu berlalu begitu saja seperti hari-hari biasanya, meskipun tak begitu
baik untuk pemahamanku dengan beberapa materi yang nyaris seperti hilang dan
terselip dari ingatanku.
Ya!
Guru B.Indonesia itu membuatku gembira mendongkrak rasa kepercayaan diriku
sekaligus menjadikanku risih dan sedih.
Beliau
memang terlihat lebih muda dan ganteng dibanding beberapa guru lainnya di
sekolah. Tapi menurutku itu tak terlalu menarik, bahkan perasaan friendly
bersamanya pun jadi mulai terganggu.
Dia
menyodorkan selembar foto ukuran 3x4 di mejaku saat teman-teman masih mencatat
tulisannya di papan.
Dia
bilang, “Kenalkan kakakmu ya?”
“Huegk??”
Beberapa
teman sebelah yang mendengar hanya senyam-senyum, bahkan ada yang dehem-dehem.
“Heegfh…!”
Benar-benar
risih, meskipun ada sedikit rasa senang. Yang itu artinya, berarti kakakku itu
cantik-cantik, dan ingat! Bukan aku.
Ternyata,
belakangan aku mendengar guru PPKn pun begitu, dia diam-diam suka pada kakakku.
Mereka tahu karena kakakku sering ikut jualan di warung saat sore dan malam
hari.
Aku
tahu karena beberapa hari terakhir dia sering titip salam pada kakakku,
“Yang
mana?“ pikirku
Banyak
orang yang bilang, dua orang kakakku emang jadi idola di bangku kuliahnya. Tak
heran jika mereka punya banyak teman, baik laki ataupun perempuan. Sementara
aku???
Dari
sana perasaanku semakin menciut, bahkan pertahanan sekedar mendapat pujian dari
bapak ibu semakin tipis seperti sehelai kapas yang mampu ditiup oleh angin
kecil.
Sudah
Jelek, goblok, durhaka pada orang tua lagi, tak punya teman.
“Apalagi
yang bisa aku banggakan dari diriku?”
Perasaanku
mulai semakin menutup. Bahkan seakan ku kunci rapat-rapat semua kepedulianku
terhadap lingkungan sekitar.
Aku
merasa, inilah aku…
Si
wajah beton yang sulit tertawa, begitu julukan ku tujukan pada diriku sendiri.
Begitu
sampai di rumah, aku lupa menyampaikan foto guruku pada dua orang kakakku yang
saat ini duduk di semester 7 dan 9. Bukan apa-apa, karena aku mulai merasakan
tenggorokanku mulai sakit saat untuk menelan makan siang.
Diam-diam
Bapak menebakku sehari tadi minum es terlalu banyak. Meski aku mengelak
berusaha bohong, tapi dia hanya tertawa.
Ya!
Bapak adalah orang kedua terjeli yang pernah ku kenal setelah nenek (ibu dari
bapak). Dia selalu menarik kedua ujung kain di tepi jahitan pakaian yang hendak
dibeli, untuk memastikan seberapa kuat jahitan baju itu dan seberapa bagus
kualitas kain pakaian itu. Hanya itu, tak peduli seberapa mahal atau murah
pakaian itu, pasti akan dia tawar, meskipun tak sepelit ibu menawar.
Begitu
juga dengan sepatu yang akan dibeli untuk anak-anaknya. Yang ia lihat pertama
adalah tepi sepatu itu, bukan bagus atau jeleknya sepatu itu.
Barangkali
itu ia warisi dari ibunya yang berprofesi sebagai tukang jahit yang cukup
terkenal semenjak tahun ’30an.
Ya!
Nenekku adalah penjahit yang sangat jeli untuk masalah pakaian. Bahkan aku
bilang, beliau adalah orang yang paling kreatif untuk segala urusan rumah. Dari
sekedar membuat kue, ketrampilan batik tulis, hingga membuat macam-macam model
pakaian, tanpa mengukur panjang badan pelanggan. Dan anehnya, pasti pas! dan
jahitannya pun sangat awet.
Unik
bin ajaib.
Makanya
tubuhku, sejak kecil tak pernah gemuk, tapi juga tak pernah kurus. Karena sejak
kecil, aku tergolong anak penikmat susu segar, otot dan tulang sapi serta
maniak ikan laut.
Tapi anehnya, hidungku ini paling buta untuk
mengenali sesuatu. Termasuk bau kentut seseorang atau bau makanan yang sudah
basi. Dia bisa berfungsi hanya saat-saat tertentu saja. Dan itu aku tak bisa
membedakan mana yang bau wangi, mana yang bau busuk dan mana yang bau gosong.
Komentar
Posting Komentar